Jamasan Pusaka, Tradisi Memandikan Pusaka pada Bulan Suro

  • EDUKASI
Jamasan Benda Pusaka Bulan Suro
Share this :

Suro, merupakan bulan pertama yang mengawali dari dua belas bulan dalam penanggalan atau kalender Jawa. Adapun urutan lengkapnya yakni Suro, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal,Jjumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Selo, dan Besar.

Kalender Jawa merupakan sistem penanggalan yang sudah digunakan oleh Kesultanan Raja Mataram dan kerajaan-kerajaan lainya. Sistem kalender ini yakni dengan memadukan berbagai sistem penanggalan, di antaranya penanggalan Islam, Hindu dan penanggalan Julian atau penanggalan budaya Eropa.

Selain itu, bulan Suro sebagai bulan pertama dalam penanggalan Jawa, oleh sebagian masyarakat Jawa menganggap sebagai bulan keramat, penuh larangan, dan pantangan. Karena itu, masyarakat Jawa biasanya selalu menghindari bulan ini untuk melakukan hajatan besar, misalnya acara pernikahan, mendirikan rumah, dan lainnya.

Jamasan Benda Pusaka Bulan Suro

Tradisi Jamasan Pusaka

Jamasan pusaka sendiri berasal dari bahasa Jawa Kromo Inggil, atau tingkatan tertinggi dalam berbahasa Jawa, ‘Jamas’ mempunyai arti cuci, membersihkan atau mandi. Sedangkan kata ‘pusaka’ menjadi sebutan bagi benda-benda yang dikeramatkan atau dipercaya memiliki kekuatan tertentu.

Dalam budaya masyarakat Jawa, ada kebiasaan sebagian masyarakat, dan atau para kolektor pusaka, untuk merawat serta menghargai peninggalan nenek moyang yang berupa benda pusaka. Penghargaan itu dengan melakukan tradisi jamasan pusaka yang dimiliki.

Tradisi jamasan pusaka dilakukan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, jamasan pusaka merupakan tradisi mencuci benda-benda peninggalan nenek moyang. Benda-benda peninggalan sebagai pusaka akan dibersihkan pada tanggal 1 Suro, atau beberapa hari setelahnya.

Keris, tombak, kereta kencana, gamelan dan berbagai peralatan upacara merupakan benda-benda peninggalan yang dibersihkan dalam ritual jamasan pusaka Sebagian masyarakat Jawa meyakini bahwa jamasan pusaka menjadi cara untuk menghargai secara penuh peninggalan nenek moyangnya.

Tujuan jamasan pusaka , selain untuk memelihara kondisi pusaka, menjamas juga merupakan wujud pelestarian budaya. Dengan penjamasan itu supaya tidak karat dan korosi, karena jika karat dan korosi, maka keris itu lama kelamaan akan keropos. Jika rusak maka unsur seni dan keindahannya otomatis akan hilang.

Sementara itu, bagi sebagian masyarakat Jawa, benda-benda pusaka tersebut dianggap mempunyai kekuataan gaib atau ‘yoni’ yang akan mendatangkan berkah apabila dirawat dengan cara dibersihkan atau dimandikan. Bila tidak dirawat, maka yoni dalam pusaka tersebut akan pudar atau hilang.

Jamasan Benda Pusaka Bulan Suro - Samurai

Yoni dalam istilah perkerisan merupakan berkah dari Tuhan yang dimintakan oleh empu pada saat pembuatan keris, dengan ritual doa dan sesaji tertentu. Tradisi masyarakat Jawa pada jaman dulu yang kemudian berkembang untuk memuliakan yoni, para pemiliknya lantas melakukan ritual doa dan sesaji.

Perlakuan dengan doa mantra secara berkala, ditambah dengan pengepulan asap kemenyan dan sesajen tertentu, diyakini dapat menjaga keselarasan penyatuan isi keris atau yoni dengan bilah keris. Di samping juga ditujukan untuk menyelaraskan kecocokan yoni keris dengan sang pemiliknya.

Di Antara Cara Jamas Benda Pusaka

Tahapan pertama, keris direndam ke dalam air yang telah dicampur dengan lerak dan air jeruk nipis. Bisa juga direndam ke dalam air kelapa dan buah pace. Tujuannya, untuk melunturkan karat pada keris. Proses ini dinamakan proses mutih, membutuhkan waktu tiga hari hingga satu minggu, tergantung karat yang menempel pada keris.

Tahapan berikutnya, keris yang telah direndam, kemudian diangkat dan dibersihkan karatnya dengan menggunakan sikat halus. Setelah karat yang menempel dibersihkan, keris kemudian dikeringkan dan dilakukan tahapan selanjutnya, yang disebut proses warangan.

Warangan adalah merendam keris ke dalam larutan Arsenik Trioxide dan air jeruk nipis. Tujuannya, untuk membuat keris lebih awet dan mencegah adanya karat. Setelah diwarang, pamor keris akan berwarna putih. Bagian besi akan berwarna hitam, dan bajanya akan berwarna kelabu. Keris akan tampak lebih indah.

Jamasan Benda Pusaka Bulan Suro

Jamas Menjamas Boleh Kapan Saja

Hamid TN, pemerhati benda pusaka, menuturkan bahwa sebenarnya tidak hanya pada bulan Suro saja keris itu dibersihkan. Bilamana sudah kotor dan muncul karat, bisa sewaktu-waktu dibersihkan. Namun karena sudah menjadi tradisi setiap bulan Suro, maka hal itu boleh-boleh saja. Tradisi itu yang menurutnya sulit untuk dihilangkan.

“Ibaratnya Anda mempunyai koleksi cangkir, gelas dan keramik yang terpajang di sebuah bufet atau rak selama beberapa waktu lamamya, tentu kotor berdebu kan! Perlu dibersihkan. Nah, begitu pula cara pandang tentang jamasan pusaka. Tak harus menunggu bulan Suro, kapan pun bila dirasa sudah kotor, bolehlah dijamas,” tambahnya.

Menyinggung masalah yoni, Hamid TN menegaskan bahwa sebagai muslim, semua kekuatan itu bermuara dari ‘Laa hawla wa laa quwwata illaa billahil ‘aliyyil adziim’. Dalam keseluruhan urusan, di mana posisi seseorang tidak dapat melakukan apa pun dan tidak dapat menolak sesuatu hal atau tidak bisa mempunyai sesuatu kecuali atas kehendak Allah SWT.

Jamasan Benda Pusaka Bulan Suro

*

Peninggalan budaya dari masa lalu ini dapat menjadi jembatan untuk mengetahui kehidupan saat itu dan nilai-nilai luhur yang dianut nenek moyang. Dengan mengetahui masa lalu, kita dapat menyongsong masa depan yang lebih baik.

Bahkan dengan kekayaan peninggalan budaya dari masa lalu itu pula, anak cucu kita, generasi kekinian, dapat mempelajari untuk menguak banyak hal. Bukan masalah urusan ‘klenik’-nya, namun lebih ke arah mengagumi karya agung nenek moyang kita.
Yuukk…, kita jaga dan lestarikan….

#fotopusakasebagiandarikoleksipribadi

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *