Menunggu : Waktu Bukan Milik Individu, namun Milik Kolektif

Menunggu : Waktu Bukan Milik Individu, namun Milik Kolektif
Share this :

Mawar mondar-mandir di ruang tamu pada Sabtu sore. Sesekali menuju cendela lalu melongokkan kepalanya, melihat dengan nanar ke arah kiri kanan jalan di depan rumah. Tak lama kemudian kembali duduk di sofa, mengibaskan rambutnya, merapikan dandanan yang sebenarnya sudah rapi. Mengambil cermin kecilnya dari dalam tas, membuka lalu bercermin. Bedak dan lipstick belum berubah.

“Gimana sih Mas Bondan ini, sudah satu jam lebih aku duduk di ruang tamu, tapi belum datang juga?” guman Mawar dengan ekspresi kesal.

Kemudian ia beranjak dari sofa, berjalan ke pintu sambil menatap jarum jam tangan yang melingkar di kulit lengan kirinya yang kuning langsat. Sementara jarum jam tetap bergerak dan seakan mengejek lantaran sudah sekian kali berputar-putar, namun dirinya masih tetap terpaku di ruang tamu. Kesal, gusar, lelah, cemas, dan kecewa berkecamuk hingga menghapuskan rasa simpati dan empatinya.

Nah, ada satu pertanyaan, pernahkah Anda merasa seperti yang dirasakan Mawar, yakni kesal, gusar, cemas atau kecewa saat sedang menunggu kedatangan seseorang? Entah itu seseorang yang terkasih, saudara, teman atau sahabat, kolega atau partner usaha yang sudah janji akan bertemu pada waktu yang telah disepakati, namun tak kunjung memberikan kepastian apakah datang atau tidak.

Lain halnya, seperti dilansir dari Dream.id tentang Kebaikan Hati Pemilik Rumah Rela Menunggu 30 Menit di Dalam Mobil karena Ada Pemotor yang Berteduh di Depan Garasi, yang diunggah pada 8 Mei 2023. Pemilik rumah rela menunggu selama 30 menit di dalam mobil saat hujan deras, dan tak segera masuk ke dalam rumah karena di depan garasinya digunakan untuk tempat berteduh oleh driver ojek online.

Bagi pemilik rumah, menunggu selama 30 menit bukanlah perkara yang sulit jika dibandingkan dengan perjuangan driver ojek online itu dalam mencari rezeki di tengah hujan. Secara tidak langsung, dengan menunggu di mobil, sang pemilik rumah telah menyumbangkan waktunya dengan rela menunggu untuk membantu driver ojek online dalam melakukan pekerjaannya.

Sebaliknya, ketika melihat pemilik rumah tempatnya berteduh tiba, driver ojek online itu meminta maaf lantaran motornya menghalangi jalan mobil. Driver ojek online tersebut menunggu hujan reda sebab khawatir handphone yang dia gunakannya basah karena tak membawa jas hujan. Kisah inspiratif ini barangkali bisa membuka mata hati kita bahwa menunggu itu tak mesti membuat kesal dan kecewa, namun ada kemuliaan di baliknya.

Waktu Milik Kolektif

Seperti drama klasik karya Samuel Beckett, judul ‘Menunggu Godot’, adalah kisah yang membingkai ulang bahwa menunggu tak hanya sebagai prestasi ketahanan dan tabah, namun sebagai proses transformatif dan bermanfaat menjadi tempat pembentukan karakter. Godot melambangkan apa pun yang kita tunggu, nantikan, dan rindukan suatu ketidakpastian, tak harus jadi keputusasaan.

Pun pula, Godot mewakili simbol tentang apa yang mungkin terjadi di sisi lain dari suatu penantian. Hal ini menunjukkan bagaimana waktu mengalir detik demi detik, menit, jam, hari, dan tahun menunggu sesuatu yang kita inginkan. Menunggu menunjuk pada harapan dan masa depan. Sementara masa depan mungkin tak akan pernah datang, dan harapan mungkin tak akan pernah digapai.

Makna hidup tidak ditangguhkan sampai hal yang kita harapkan itu datang. Sebaliknya, pada saat menunggu, makna terletak pada kemampuan kita untuk mengenali bagaimana harapan itu tak membuat erosi mental, dan itu menentukan kualitas diri kita. Maka, perlu untuk mengkalibrasi ulang pengalaman kita tentang menunggu dari yang memberatkan akan menjadi berbuah keringanan.

Nyatanya, waktu yang kita miliki bukan hanya sebagai milik individu namun sebagai kolektif. Kesediaan untuk menerima waktu orang lain sama berharganya dengan waktu kita sendiri, meski betapapun berbedanya situasi. Jika kita mengubah perspektif dan melihat waktu kita saling terkait satu sama lain, maka kita semua mesti menginvestasikan waktu kita untuk keperluan orang lain juga.

Buktinya, ternyata kita pun rela menunggu antrean cukup waktu lama di kasir saat belanja di toko swalayan, di bank saat menunggu layanan dari teller, maupun di berbagai sistem antrean layanan lainnya. Ini pertanda kita mau menyisihkan waktu kita buat orang lain dengan menunggu. Seberapa kita harus terburu-buru, namun jika belum pada jatah gilirannya dilayani tentu kita harus sabar menunggu.

*

“Hakikat hidup itu memang menunggu, menunggu kita kapan berhenti menunggu,” seperti yang dikatakan Tere Liye.
“Kita pun sedang menunggu, sejatinya menunggu. Yakni, kita menunggu dijemputnya kereta keranda yang akan mengantarkan kita menuju ke keabadian, entah kapan tibanya? Hanya Allah yang Maha Tahu,” kata saya.

Featured Image from Pixabay.com

You may also like

2 thoughts on “Menunggu : Waktu Bukan Milik Individu, namun Milik Kolektif”

  1. Sabar menunggu melatih kesabaran. Bagi arek Suroboyo, antara yg menunggu dan yg ditunggu masih beresiko yg ditunggu. Penjelasannya. Nenunggu=menanti. Nanti(engkok), dinanti-nanti= diengkok-engkok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *