Pengetahuan Tanpa Karakter Sungguh Miris

Pengetahuan Tanpa Karakter Sungguh Miris
Share this :

“Knowledge without chatacter,” adalah salah satu dari kutipan tujuh dosa sosial menurut Mahatma Gandhi. Adapun lengkapnya tujuh doa sosial Gandhi mengatakan, “Seven social sins: politics without principles, wealth without work, pleasure without concience, knowledge without chatacter, commerce without morality, science without humanity, and workship without sacrifice.”

Mengapa hanya Knowledge without chatacter, atau ‘pengetahuan tanpa karakter’ yang menjadi sorotan? Pengetahuan yang dimaksud di sini dalam konteks pendidikan. Ada keprihatinan jika apa yang disampaikan Gandhi lebih dari seabad akan menghantaui pendidikan kita. Sementara masih sering didengar kasus seperti siswa melakukan buliying, tawuran, merokok di sekolah, membolos, atau tindak penyimpangan lain.

Sementara sebagian orang beranggapan bahwa pada zaman digital saat ini intelektual jauh lebih penting dari segalanya. Segala sesuatu berkait dengan kehidupan hanya bertumpu pada aspek intelektualitas. Senyatanya, realitas yang terjadi di masyarakat menunjukkan bahwa bukan hanya penguasaan aspek intelektual saja yang menunjang kesuksesan seseorang.

Aspek kecerdasan emosi, sosial dan spiritual turut andil pula terhadap keberhasilan seseorang. Jadi, pendidikan karakter itu penting. Untuk itu, konsep yang dikenalkan Ki Hajar Dewantara adalah momong, among, dan ngemong jangan diabaikan. Konsep yang kemudian menjadi tiga prinsip kepemimpinan di Taman Siswa yakni “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Kata momong, dalam bahasa Jawa berarti merawat, sedangkan among yang berarti memberi contoh dan yang terakhir adalah ngemong yang berarti proses untuk mengamati. Dilihat dari makna, ketiga kata di atas tak dapat dipisahkan, ketiganya adalah berkesinambungan yakni dalam konteks membahas tentang dunia pendidikan anak, lebih tepatnya lagi tentang pola asuh anak.

Jika makna ketiga kata itu digabung, menjadi pengertian bahwa totalitas orangtua mendidik anak adalah merawat anak dengan kasih sayang yang tulus, memberikan contoh perilaku yang baik, dan mengawasi atau mengamati perilaku anak. Tragisnya, lantaran kedua orangtua sibuk bekerja, biasanya anak diasuh oleh kakek neneknya, baby sitter, atau dititipkan ke TPA (Tempat Penitipan Anak).

Barangkali kita perlu mencermati lebih dalam lagi sebagian lirik lagu Indonesia Raya. Yakni lagu kebangsaan Indonesia yang selalu dinyanyikan ketika pengibaran bendera merah putih, maupun pada acara-acara formal lainnya. Ada pesan tak sekadar tersirat namun justru tersurat yang hendak disampaikan lirik ”Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya Untuk Indonesia Raya.”

Lirik tersebut mestinya tak sekadar dinyanyikan saja tanpa berupaya memahami makna yang terkandung. Padahal, jauh-jauh para pendiri negeri ini telah mengamanatkan betapa pentingnya membangun setiap jiwa manusia Indonesia, khusunya para pemudanya sebagai generasi penerus estafet pembangunan bangsa, di samping mereka kuat secara fisik.

Pengetahuan Tanpa Karakter Sungguh Miris
Implementasi dari salah satu pembentukan karakter siswa

Peran Penting Guru

“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Prinsip dasar ini di sekolah Taman Siswa dikenal sebagai Patrap Triloka, yang artinya di depan menjadi panutan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang memberikan motivasi. Intinya, konsep pendidikan itu mengutamakan cinta dan kasih sayang. Mendidik, sebagai mana dilakukan para guru idealnya seperti layaknya kepada anak-anaknya sendiri.

Ing ngarsa sung tuladha, seseorang guru harus bisa memberi teladan atau contoh tentang kebaikan. Teladan menjadi kata kunci peran penting seorang guru dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM). Selain itu, ketika KBM berlangsung seorang guru dituntut dapat membimbing dan mengarahkan agar tujuan pembelajaran tercapai. Guru adalah sosok sebagai panutan siswa.

Ing madya mangun karsa, di tengah-tengah siswa, guru memiliki peranan penting untuk menstimulus agar tumbuh kembang prakarsa dan ide siswa di dalam proses pembelajaran. Kehadiran di dalam kelas, guru dapat memfasilitasi dengan beragam metode dan strategi sehingga potensi yang dimiliki siswa dapat berkembang secara optimal. Imbasnya, tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Sedangkan, Tut wuri handayani, yakni tidak hanya di dalam kelas, di luar kelas pun atau diistilahkan ‘dari belakang’ seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan kepada siswa. Sehingga kata kunci sukses dan tercapainya tujuan pembelajaran adalah belajar tuntas, berkelanjutan, dan bermakna dalam kehidupan siswa.

*

Peran penting guru, yakni kehadirannya turut turun tangan dalam kemajuan suatu bangsa, sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki karakter melalui nilai-nilai luhur. Sehingga menghasilkan pribadi siswa yang beradab, bermartabat, tanggung jawab, berguna, dan berpengaruh di masyarakat. Selain itu, mampu bertanggung jawab atas kehidupan sendiri, orang lain, kehidupan berbangsa dan bernegara.

Satu gambaran jika ilmu pengetahun dikuasai tetapi tanpa dibekali karakter, yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Sungguh miris. Bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki adalah pemanfaatan ilmu fisika tanpa nurani. Begitu pula dengan bom white phospor dalam konflik bersenjata Israel vs. Palestina di Jalur Gaza, mematikan para perempuan dan anak-anak. Belum lagi di sejumlah perang yang lain, seperti Rusia vs. Ukraina.

You may also like

6 thoughts on “Pengetahuan Tanpa Karakter Sungguh Miris”

    1. Mas Santoso A.,
      Inggih, sudah waktunya generasi kekinian perlu dipertajam penanaman budi pekerti selain memperdalam science untuk bekal
      menghadapi persaingan global.
      Matur nuwun atas apresiasi Panjenengan.
      Tetap sehat bersama keluarga besar.

  1. Avatar
    Endang Sulistijorini

    Semoga generasi emas benar- benar terwujud pada saatnya nanti…dan Guru- guru dengan berbekal kunci sukses tersebut, sangat berperan dalam mewujudkannya…. Aamiiin

    Bagus Pak Ali…alhamdulillah

    1. Bu Endang Sulistijorini,

      Inggih, sebenarnya Ki Hajar Dewantara pun sudah memberikan landasan pendidikan kita, utamanya pendidikan karakter.
      Mau jadi bangsa maju sampai sundul langit pun, pendidikan karakter jangan diabaikan.
      Matur nuwun atas apresiasi Panjenengan, Bu.
      Tetap sehat-sehat selalu bersama keluarga besar Panjenengan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *