Jejak Panutan Seri 19
Oleh: Wahyu D. dan Ali Muchson
Sejarah sering memperlihatkan para raja dengan mahkota kekuasaan di kepala, namun tak selalu dengan cahaya pengetahuan di pikirannya. Kekuasaan dan intelektualitas sering berjalan di jalur yang berbeda.
Seorang penguasa biasanya disibukkan oleh politik, perang, dan urusan negara. Namun dalam beberapa lembar sejarah Islam, ada tokoh yang berhasil menyatukan dua dunia itu sekaligus: dunia kekuasaan dan dunia ilmu. Salah satunya adalah Abu al-Fida, seorang raja yang sekaligus cendekiawan.
Nama lengkapnya panjang: Ismāʿīl bin ʿAlī bin Maḥmūd bin Muḥammad bin ʿUmar bin Shāhanshāh bin Ayyūb bin Shādī bin Marwān. Ia lahir di Damascus pada November 1273 dan wafat di Hama pada 27 Oktober 1331.
Sedangkan dalam sejarah, ia dikenal sebagai ahli geografi, sejarawan, pangeran dari dinasti Ayyubi, sekaligus gubernur Hamah pada masa Mamluk Sultanate. Sosok ini adalah contoh langka seorang pemimpin yang tak hanya memerintah wilayah, namun juga memetakan dunia pengetahuan.
Di sisi lain, keluarga besar Bani Ayyub dikenal dalam sejarah Islam karena dua jasa besar: mempersatukan dunia Islam yang terpecah dan memimpin perjuangan mengusir tentara Salib dari wilayah-wilayah Muslim. Dalam tradisi keluarga seperti itulah Abul Fida’ tumbuh.
Sejak usia muda, ia sudah mengenal kerasnya medan peperangan. Ketika berumur dua belas tahun, ia ikut bersama ayahnya dalam ekspedisi militer di wilayah utara Suriah. Lima tahun kemudian ia terlibat dalam pertempuran di Tarablis yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan pasukan Salib. Pada usia sembilan belas tahun, ia kembali turun ke medan perang dalam pertempuran besar di Akka.
Pengalaman-pengalaman itu membentuknya sebagai prajurit sekaligus pemimpin. Ketika usianya memasuki masa dewasa, ia diangkat menjadi putra mahkota wilayah Hamah pada tahun 710 H. Dua tahun kemudian, ia resmi menjadi penguasa dengan gelar Al-Malik al-Mu’ayyad, yang berarti “raja yang dikuatkan”.
Namun kisah Abul Fida’ tak berhenti pada pedang dan politik. Di balik kehidupan militernya, ia juga tenggelam dalam dunia buku. Berbeda dengan kebanyakan penguasa yang menjauh dari ruang belajar, Abul Fida’ justru merasa akrab dengan para ulama dan cendekiawan. Ia tak hanya menjadi pelindung para ilmuwan, namun juga seorang penuntut ilmu yang tekun.
Ia mempelajari berbagai disiplin keilmuan: fiqih, tafsir Al-Qur’an, ushul fikih, tata bahasa Arab, hingga sastra. Selain itu ia juga mendalami filsafat, logika, astronomi, bahkan ilmu kedokteran. Menariknya, ketertarikannya pada filsafat tak membuatnya meninggalkan akidah. Ia tetap berpijak pada kerangka pemikiran Islam yang kokoh.
Dalam sejarah intelektual Islam, para penulis sering membandingkannya dengan khalifah Abbasiyah, Al-Ma’mun, seorang penguasa yang terkenal sebagai pelindung ilmu pengetahuan. Banyak sejarawan bahkan mencatat bahwa setelah Al-Ma’mun, hampir tak ada raja yang mampu memadukan kepemimpinan politik dengan kedalaman intelektual seperti yang dilakukan Abul Fida’.
Oleh sebab itu, ketenaran Abul Fida’ terutama lahir dari karya-karyanya dalam bidang sejarah dan geografi. Dua bidang ini membuat namanya dikenal luas dalam dunia ilmiah. Salah satu karya monumentalnya adalah Tarikh al-Mukhtashar fi Akhbar al-Bashar, sebuah sejarah universal yang mencatat perjalanan umat manusia sejak masa awal hingga zamannya.
Karya ini ditulis sebagai kelanjutan dari karya sejarah besar milik Ali ibn al-Athir dan disusun dalam bentuk kronik tahunan yang sistematis. Dalam kitab tersebut, Abul Fida’ membagi pembahasan menjadi dua bagian besar.
Adapun bagian pertama membahas sejarah dunia sebelum Islam: kisah para nabi, kerajaan Persia, Mesir kuno, serta bangsa-bangsa lain. Sementara bagian kedua mengulas sejarah Islam sejak masa Nabi Muhammad hingga peristiwa-peristiwa yang terjadi menjelang akhir hidupnya.
Berkat pendekatan tersebut, membuat karyanya menjadi semacam peta besar sejarah manusia, bukan hanya sejarah umat Islam semata. Sedangkan di bidang geografi, Abul Fida’ menulis karya terkenal berjudul Taqwim al-Buldan. Buku ini berusaha menggambarkan dunia sebagaimana dipahami para sarjana pada abad pertengahan.
Dalam karya tersebut, ia menyusun daftar kota-kota utama dunia lengkap dengan koordinat lintang dan bujur, kondisi iklim, serta berbagai keterangan geografis lainnya. Karya ini juga banyak memanfaatkan pengetahuan para ilmuwan sebelumnya seperti Ptolemaeus dan al-Idrisi.
Sebuah penelitian modern tentang karya ini menyebutkan bahwa tulisan Abul Fida’ memberikan gambaran penting mengenai kota-kota, pusat ilmu, serta kehidupan sosial di berbagai wilayah dunia Islam pada masa itu. Para peneliti mencatat bahwa ia sering menyoroti keberadaan para ulama dan pusat pembelajaran di kota-kota yang ia sebutkan. Dalam kajian akademik disebutkan:
“Abu al-Fida highlights the presence of scholars and centers of learning in several cities… illustrating the intellectual life of the regions he described.” (Malaysian Journal of Science)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa bagi Abul Fida’, geografi bukan sekadar soal peta dan jarak. Ia juga melihat kota-kota sebagai ruang peradaban, tempat ilmu berkembang dan manusia membangun kebudayaan.
Menariknya, karya-karya Abul Fida’ tak berhenti beredar di dunia Islam. Tulisan-tulisannya diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa sejak abad ke-17. Melalui karya-karyanya, para orientalis dan sejarawan Barat mulai mengenal tradisi historiografi Islam yang kaya. Ini menunjukkan bahwa karya seorang ulama sekaligus raja dari kota Hamah mampu menjembatani dunia pengetahuan lintas peradaban.
Sayangnya, sebagaimana sering terjadi dalam sejarah intelektual Islam, banyak manuskripnya yang tersebar di berbagai perpustakaan dunia, dari Timur Tengah hingga Eropa, dan tak semuanya mudah diakses oleh masyarakat Muslim sendiri.
Kisah Abul Fida’ mengingatkan kita bahwa kekuasaan tak selalu harus mematikan intelektualitas. Dalam dirinya, mahkota tak menutup ruang belajar, dan pedang tak menghalangi pena. Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin dapat menjadi penjaga ilmu, bahkan pencipta karya-karya yang melintasi zaman.
Dalam dunia yang sering memisahkan antara politik dan pengetahuan, sosok seperti Abul Fida’ menjadi pengingat, keduanya sebenarnya dapat berjalan berdampingan. Barangkali itulah warisan paling berharga dari seorang raja dari Hamah ini, yakni kekuasaan yang disertai ilmu akan meninggalkan jejak lebih panjang daripada kekuasaan yang hanya bersandar pada kekuatan.
Daftar Pustaka
- Gibb, H. A. R. (1986). Abu al-Fidā’. In P. Bearman, T. Bianquis, C. E. Bosworth, E. van Donzel, & W. P. Heinrichs (Eds.), The Encyclopaedia of Islam (New ed., Vol. 1). Leiden, Netherlands: Brill.
- Hakiem, M. L. (1998, January 17). Jejak para panutan. Surya.
- Wikipedia contributors. (2026). Abulfeda. In Wikipedia, The free encyclopedia. Retrieved March 16, 2026, from https://en.wikipedia.org/wiki/Abulfeda.
- Zhuzbayeva, U., Zhanakova, N., Noyanov, Y., Sailan, B., & Arynov, Z. (2025). Taqwim al-Buldan by Abu al-Fida as a source on medieval geography of Khwarazm and Transoxiana. Journal of Al-Tamaddun, 20(1), 201–212. https://doi.org/10.22452/JAT.vol20no1.15.
Featured image
Source: https://tr.wikipedia.org/wiki/Eb%C3%BC%27l-Fid%C3%A2 , (edited to black & white).
