Ibn al-Nafis, Perintis Besar Ilmu Kedokteran

  • TOKOH
Ibn al-Nafis, Perintis Besar Ilmu Kedokteran
Share this :

Jejak Panutan Seri 18
Oleh: Wahyu D. dan Ali Muchson

Dalam sejarah panjang peradaban manusia, ada tokoh-tokoh yang bekerja dalam sunyi, namun gagasannya menggema melintasi abad. Salah satunya adalah Ibn al-Nafis, seorang cendekiawan Muslim yang dikenal luas sebagai dokter ulung pada abad pertengahan. Di tengah atmosfer intelektual dunia Islam yang sedang berkembang, ia menorehkan penemuan penting dalam ilmu kedokteran yang kelak menjadi pijakan bagi perkembangan medis modern.

Nama lengkapnya adalah Alauddin Abu al-Hasan Ali ibn Abi Hazm al-Qarasyi al-Dimasyqi. Ia lahir pada 1213 M di Damascus dan hidup hingga 1288 M. Dalam tradisi ilmiah Islam, ia dikenal sebagai salah satu ilmuwan besar abad ke-7 Hijriah. Kepakarannya bukan hanya pada praktik kedokteran, namun juga pada berbagai disiplin ilmu lain hingga tata bahasa Arab.

Tumbuh di Masa Kebangkitan Ilmu

Ibn al-Nafis lahir pada masa pemerintahan Salahuddin Al-Ayyubi dan penerus dinasti Ayyubiyah, sebuah periode yang dikenal sebagai masa kebangkitan intelektual di dunia Islam. Pada masa itu, pembangunan lembaga pendidikan dan rumah sakit berkembang pesat, terutama di kota-kota besar seperti Damaskus dan Kairo.

Perhatian besar pemerintah terhadap ilmu kesehatan membuat dunia kedokteran berkembang subur. Rumah sakit bukan hanya tempat merawat pasien, namun juga pusat pembelajaran bagi para calon dokter. Lingkungan inilah yang mendorong Ibn al-Nafis untuk mendalami berbagai literatur medis klasik, terutama karya-karya tokoh besar seperti Ibn Sina dan Galenus.

Ia mempelajari secara mendalam kitab Tasyrihul Qanun karya Ibn Sina dan menuliskan komentar ilmiah terhadapnya. Namun sebagai ilmuwan yang kritis, ia tak sekadar menerima teori-teori lama. Ia mengujinya kembali melalui pengamatan dan analisis yang lebih sistematis.

Penemuan Besar tentang Peredaran Darah

Salah satu kontribusi terbesar Ibn al-Nafis adalah penjelasannya tentang sirkulasi darah melalui paru-paru. Dalam karyanya yang monumental, ia menolak teori Galenus yang menyatakan bahwa darah berpindah langsung dari bilik kanan ke bilik kiri jantung melalui pori-pori tak terlihat di sekat jantung.

Menurut Ibn al-Nafis, darah dari bilik kanan jantung justru mengalir menuju paru-paru, bercampur dengan udara, lalu kembali ke jantung melalui pembuluh lain. Konsep ini dikenal sebagai sirkulasi paru (pulmonary circulation), sebuah gagasan yang baru diakui secara luas di Barat berabad-abad kemudian.

Ahli sejarah kedokteran mencatat bahwa penemuan ini merupakan lompatan penting dalam ilmu fisiologi. Sejarawan medis menyatakan:

“Ibn al-Nafis was the first to provide a correct description of pulmonary circulation.” (Pormann & Savage-Smith, 2007)

Sayangnya, manuskrip yang memuat gagasan ini lama tersembunyi dan baru ditemukan kembali pada tahun 1924 di Berlin. Penemuan ulang tersebut membuat dunia ilmiah menyadari bahwa ilmuwan Muslim telah lebih dahulu menjelaskan mekanisme sirkulasi paru sebelum ilmuwan Eropa pada abad modern.

Penelitian modern bahkan menegaskan bahwa penjelasan Ibn al-Nafis merupakan kritik ilmiah terhadap teori klasik Galenus. Seorang peneliti sejarah sains menulis:

“Ibn al-Nafis rejected Galen’s idea of invisible pores in the heart and proposed a new explanation of blood passing through the lungs.” (Fancy, 2013)

Karier dan Dedikasi Ilmiah

Setelah meniti karier di Damaskus, Ibn al-Nafis kemudian diundang ke Cairo untuk mengembangkan praktik kedokterannya. Di kota ini ia bekerja di sejumlah rumah sakit besar, termasuk Rumah Sakit al-Nasiri dan al-Manshuri.

Tak hanya merawat pasien, ia juga mendidik banyak dokter muda yang kemudian menyebarkan tradisi medis Islam ke berbagai wilayah. Dalam tradisi intelektual Islam, rumah sakit pada masa itu memang berfungsi sebagai institusi pendidikan medis yang sangat maju.

Selain menjadi dokter, Ibn al-Nafis juga dikenal sebagai ulama yang saleh dan tekun beribadah. Integritas moralnya tercermin dalam kisah menjelang akhir hayatnya. Ketika sakit, beberapa rekannya menawarkan obat yang dicampur alkohol. Ia menolak dengan tegas seraya berkata bahwa ia tak ingin menghadap Tuhan dengan sesuatu yang terlarang di dalam tubuhnya.

Karya dan Pemikiran

Karya paling terkenal Ibn al-Nafis adalah Syarh Tasyrih al-Qanun, sebuah komentar atas bagian anatomi dalam Al-Qanun karya Ibn Sina. Dalam kitab tersebut ia membahas berbagai aspek penting dalam ilmu kedokteran, mulai dari anatomi hewan, teknik operasi, hingga uraian detail tentang organ tubuh manusia.

Ia juga menulis berbagai risalah lain tentang kesehatan, diet, penyakit, serta penjelasan istilah medis. Karya-karyanya menunjukkan bahwa kedokteran Islam pada masa itu telah berkembang dengan pendekatan ilmiah yang sistematis.

Yang paling menonjol adalah keberaniannya mengkritik teori-teori lama dan mendorong para dokter untuk tak menerima pengetahuan secara dogmatis. Baginya, ilmu pengetahuan harus terus berkembang melalui pengamatan dan pemikiran kritis.

Warisan yang Melampaui Zaman

Ibn al-Nafis wafat pada tahun 1288 M di Kairo. Menjelang akhir hidupnya, ia mewakafkan rumah, harta, dan perpustakaan pribadinya kepada rumah sakit tempat ia bekerja. Sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa baginya ilmu pengetahuan adalah amanah bagi kemanusiaan.

Dalam sejarah kedokteran, ia sering dijuluki “Ibn Sina kedua”, bukan sekadar karena keluasan ilmunya, namun juga karena pengaruhnya yang besar terhadap perkembangan medis dunia.

Kisah hidupnya mengingatkan bahwa peradaban dibangun oleh mereka yang tak hanya cerdas, namun juga memiliki keberanian intelektual untuk mempertanyakan pengetahuan lama. Dari ruang-ruang belajar di Damaskus hingga rumah sakit di Kairo, Ibn al-Nafis telah meninggalkan warisan yang menegaskan satu hal, yakni ilmu pengetahuan selalu bergerak maju melalui keberanian berpikir.

Daftar Pustaka

  1. Fancy, N. (2013). Science and religion in Mamluk Egypt: Ibn al-Nafīs, pulmonary transit and bodily resurrection. Routledge.
  2. Hakiem, M. L. (1998, January 16). Jejak para panutan. Surya.
  3. Pormann, P. E., & Savage-Smith, E. (2007). Medieval Islamic medicine. Edinburgh University Press.
  4. Wikipedia contributors. (n.d.). Ibn al-Nafis. Retrieved from https://ms.wikipedia.org/wiki/Ibn_al-Nafis_al-Dimashqi.

Featured image
Source: https://www.semanticscholar.org/paper/Ibn-al-Nafis-%281210%E2%80%931288%29%3A-The-First-Description-of-Loukas-Lam/e4c2c4d41a7bfd9ef3dfd32a808b7f3361d621e2

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *