Pagi selalu datang tanpa gaduh. Ia tak menuntut apa pun selain kesediaan kita untuk melangkah rutin. Pada waktu pagi yang masih lengang, ketika udara bening dan jalanan belum sepenuhnya terbangun, saya memilih jalan kaki untuk olahraga. Membiarkan tubuh bekerja, napas menemukan iramanya, dan pikiran berhenti tergesa di jalan depan Universitas Terbuka (UT) Surabaya.
Sementara gawai di genggaman tangan tak sekadar sarana komunikasi dan bersosial media, melainkan perpanjangan perhatian: lewat kameranya yang tak cukup canggih, namun berjasa buat saya merawat rasa, untuk menangkap dan mengabadikan hal-hal kecil yang kerap luput dari perhatian orang.
Sebenarnya memotret itu bisa dilakukan kapan, di mana, dan dalam suasana apa saja, baik indoor maupun outdoor. Ketika sedang berada di outdoor atau di luar ruang, alam seisinya akan menjelma menjadi panggung maha luas. Tak terbatas. Apa pun bisa menjadi objek sekaligus subjek foto yang dapat kita bidik.
Banyak hal sederhana di sekitar kita sebagai objek dan/atau subjek yang bisa dieksplorasi menjadi karya fotografi. Pada pokoknya, sesuatu yang menarik di mata kita, jika dipotret dengan segenap rasa, dengan sepenuh perhatian, akan menjadi “foto yang berbicara.” Meski orang lain mungkin menganggapnya tak bernilai apa-apa.
Hampir setiap pagi pukul 05.00, saya start jalan kaki di jalan depan UT Surabaya, lokasi yang menjadi rute jalan pagi. Cuaca cukup bagus, meski di cakrawala timur awan tipis menutup matahari. Cahaya pagi berpendar lembut dari balik awan, memantulkan warna merah muda dan keunguan. Udara terasa bersih, dan pagi seperti sedang ingin berbicara dengan suara pelan.
Bagi saya, jalan kaki demi tubuh yang bugar. Tubuh bergerak menjaga metabolisme, napas mengalir lebih panjang. Dalam sepekan, 5-6 kali pagi melangkahkan kaki sekitar satu jam. Walau langkah dan jaraknya tercatat di Strava, namun di balik angka-angka itu, ada sesuatu yang tak pernah bisa dicatat oleh aplikasi apa pun, yakni rasa hadir sepenuhnya di dalam momen.
Sebab jalan kaki pagi bukan hanya tentang tubuh yang bergerak, melainkan juga tentang jiwa yang diberi ruang. Ada rekreasi kecil di dalamnya. Menyongsong sunrise, menikmati udara pagi yang masih bersih, bertegur sapa dengan orang yang berpapasan, atau sekadar saling mengangguk sambil tersenyum. Hal-hal sederhana, namun justru di situlah kehidupan terasa bermakna.
Tak memulu jalan, pun memotret menjadi perpanjangan dari cara saya menyapa pagi. Apa pun yang menarik mata bisa menjadi subjek: cahaya sunrise, bunga hias, bunga liar di pinggir jalan, bunga tanaman merambat, jamur yang mekar, serangga, hingga seekor bekicot yang berjalan di aspal basah. Alam, dengan segala kerendahhatiannya, dan keanekaragamannya, selalu menyediakan kejutan kecil bagi siapa pun.
“Jika bertemu bekicot, setelah saya memotretnya, biasanya saya seberangkan ke arah pinggir jalan yang ia tuju.” Ada rasa kasihan jika makhluk kecil itu harus berakhir hidup lantaran dilindas roda kendaraan atau terinjak pejalan kaki lain. Barangkali, dari situ pula saya belajar bahwa memotret sesuatu tak sekadar menangkap gambar, justru pada “guru kecil” bekicot saya belajar berempati dan mengolah rasa.
Dulu, ada pohon sebatang kara, ‘lonely tree’, di lahan kosong sebelah selatan gedung UT Surabaya. Pohon itu sangat ikonik, ia jadi subjek foto saat sunrise. Namun ketika lahan itu digunakan untuk lapak berjualan ternak Iduladha tahun lalu, pohon tersebut ditebang. Tumbang. Lantaran tumbangnya pohon itu, kini subjek foto pun bergeser sasaran lain.
Kini sasaran beralih ke gedung RS Eka Candrarini, rumah sakit milik Pemkot Surabaya di kawasan Surabaya Timur. Juga gedung UPN Jawa Timur di kejauhan, dan menara masjid di kompleks perumahan menjadi penanda lanskap baru. Dari situ kita belajar, bahwa perubahan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup, bahkan dalam hal sesederhana objek dan subjek foto.
Jamur Barat Mengoda Mata
Musim hujan saat ini membawa subjek lain. Jamur barat (Lepista nebularis atau Clitocybe nebularis). Pagi itu, jamur barat mekar di sela rerumputan, tumbuhan kecil yang memiliki hidup yang singkat. Ia bisa layu begitu cepat, atau dipetik orang untuk diolah menjadi masakan. Masa hidup yang cepat berakhir itu menggelitik perhatian saya untuk segera mengabadikan.
Lintasan jalan pagi dari depan UT MERR hingga perempatan traffic light Gunung Anyar sejauh 550 meter. Pergi-pulang berarti 1,1 kilometer. Biasanya saya menempuh empat hingga lima kali PP dalam satu jam.
Namun pagi itu, baru dua kali PP ketika mata saya menangkap jamur yang sedang mekar sempurna, saya berhenti. Dalam benak saya berkata: “Jalan pagi bisa dilakukan setiap hari, tetapi memotret jamur tidak. Ia hadir musiman, dan tak pernah menunggu lama.” Apalagi jamur hanya tumbuh subur di musim hujan saja. “Sayang sekali jika terlewatkan begitu saja!” pikir saya.
Pagi ini semakin menjadi heboh, ketika saya bertemu Pak dr. Bandji dan Pak Wandi, kebetulan beliau berdua juga pehobi fotografi. Saya rela target jalan pagi tak terpenuhi, asal saya dapat menangkap momen atau memotret sesuatu yang menurut saya cukup langka. Akhirnya, bersama beliau berdua, kami memotret jamur barat.
Motret makro acapkali perlu kecermatan menentukan angle, maklum subjek jamur tentu kecil, dan berada di permukaan tanah atau rerumputan. Jika perlu memang harus ‘dlosoran’ di rumput demi mendapatkan angle yang tepat. Tak cukup sekali dua kali klik. Alhasil, kami pun kerap menjadi perhatian orang atau pengendara yang sedang lalu lalang ketika kami sedang ‘dlosoran’.
Dalam tulisan ini, saya tak berbicara bagaimana teknik memotret sunrise atau detail memotret subjek tertentu seperti jamur. Fokus tulisan ini bukan pada ‘how to’, melainkan pada bagaimana memanfaatkan momen. Seperti peribahasa lama yang relevan: “Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.”
Satu kali melakukan aktivitas tertentu, kita bisa mendapatkan beberapa hal sekaligus. Jalan kaki pagi untuk menjaga tubuh tetap sehat, sementara memotret memberi ruang bagi hobi untuk berkarya. Langkah menguatkan raga, klik kamera merawat rasa dan memberi makna.
“Memotret sunrise, sunset, makro, dan keindahan alam yang lain, kemudian mewartakannya itu sama halnya kita sebagai “sales” Allah SWT untuk mengajak mengagumi dan mengagungkan ciptaan-NYA. Masyaallah,” tutur Pak dr. Banji.
*
Barangkali, di sanalah letak kebahagiaan kecil yang sering kita abaikan. Bukan pada hal besar yang gemerlap, melainkan pada kesediaan untuk berjalan rutin, membuka mata, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk menikmati hidup.
Pada akhirnya, pagi mengajarkan saya satu hal sederhana: hidup tak selalu menuntut kita untuk berlari atau mengejar sesuatu yang besar. Kadang, cukup dengan melangkah pelan, membuka mata, dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk benar-benar hadir.
Di antara napas yang teratur, langkah yang berulang, dan bidikan kamera gadget, saya belajar berdamai dengan ritme hidup bahwa sehat tak hanya soal tubuh, bahagia tak selalu tentang capaian, namun hikmah acapkali hadir bersembunyi pada hal-hal kecil yang kita temui tanpa sengaja. Qodratullah. (Ali Muchson).
Biarkan Foto Bicara
Menyusuri Pagi: “Sehat dengan Langkah, Merawat Rasa dengan Bidikan”
Foto dengan Gadget realme XT
Sunrise dan Pernak-Perniknya




























Motret Jamur
















Featured image by: dr. Bandji