Dari Dadakan Sebagian Anggota PSL (Pernak-Pernik Surabaya Lama)
Cicipi Menu 10 Regentstraat
Di tengah geliat revitalisasi kawasan Kota Lama Surabaya, hadir sebuah ruang baru yang tak hanya menawarkan pengalaman kuliner, namun juga menghadirkan perjalanan sejarah sebuah bangunan. Namanya 10 Regentstraat, sebuah destinasi heritage dining yang berdiri anggun di Jalan Kebon Rojo No. 10 Surabaya.
Agaknya salah satu giat khas PSL, yakni kegiatan bertagar #blusukanedan, tak hanya di Kota Surabaya, pun di berbagai kota lain. Lebih-lebih ini di Kota Surabaya, awalnya lewat whatsapp dari satu dua orang, lalu melebar dan jadilah kegiatan mendadak. Tentu tak hanya #blusukanedan sebagai pemerhati bagunan lawas, biasanya dengan pernak-pernik kulinernya. Seperti di 10 Regentstraat, Jumat (8/5/2026) petang.
Di tempat ini, aroma makanan berpadu dengan jejak masa lalu. Dinding-dinding tua, jendela besar bergaya kolonial, hingga atmosfer bangunan yang sarat sejarah menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi para pengunjung. Datang ke 10 Regentstraat bukan sekadar untuk makan, melainkan juga untuk menyusuri ingatan kolektif Kota Surabaya yang tersimpan di setiap sudut bangunannya.
Nama “10 Regentstraat” sendiri diambil dari nama jalan pada masa kolonial Belanda, yakni Regentstraat, serta nomor bangunan yang kini digunakan. Nama itu dipertahankan sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas historis kawasan. Dahulu, jalan ini menjadi salah satu kawasan penting di pusat pemerintahan dan aktivitas kota. Kini, ia kembali hidup dengan wajah baru tanpa melepaskan akar sejarahnya.
Bangunan yang kini menjadi 10 Regentstraat berada tepat di kawasan yang dahulu berhadapan dengan Kebon Rojo, taman kota yang pada era kolonial dikenal sebagai Stadstuin. Dari luar, karakter arsitektur kolonial masih terasa kuat. Bukaan jendela besar, struktur bangunan tinggi, serta detail-detail lama dipertahankan dengan hati-hati.
Proses pemanfaatan kembali bangunan tersebut dilakukan melalui pendekatan adaptive reuse, yakni menghidupkan fungsi baru tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat pada bangunan tersebut.
Konsep yang diusung 10 Regentstraat adalah heritage dining, memadukan konservasi bangunan bersejarah dengan pengalaman kuliner modern. Pengunjung dapat menikmati beragam menu Nusantara dan peranakan dalam suasana klasik yang estetik dan elegan.
Beberapa menu yang dihadirkan di antaranya bitterballen, klappertaart, karedok, hingga minuman legendaris Limun Cap Badak. Perpaduan menu tersebut seolah merepresentasikan perjalanan panjang Surabaya sebagai kota pelabuhan yang sejak dahulu menjadi titik pertemuan berbagai budaya.
Restoran yang melakukan soft opening pada 1 Mei 2026 ini cepat menarik perhatian warga Surabaya maupun wisatawan. Tak sedikit pengunjung datang bukan hanya karena penasaran dengan menu yang ditawarkan, namun juga karena ingin merasakan sensasi menikmati ruang sejarah yang dihidupkan kembali.
Metamorfosis Fungsi Bangunan Cagar Budaya
Namun, pesona 10 Regentstraat sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari sejarah panjang bangunan yang ditempatinya. Bangunan ini bukan sekadar gedung tua biasa, melainkan saksi perjalanan Surabaya lintas zaman.
Dalem Kadipaten Soerabaia: Awal Sebuah Sejarah
Merujuk buku Soerabaia Tempoe Doeloe Jilid I karya Dukut Imam Widodo, bangunan di kawasan Regentstraat ini dahulu merupakan Dalem Kadipaten Soerabaia, rumah dinas Regent atau Bupati Surabaya pada awal tahun 1800-an.
Bangunan tersebut ditempati hingga tahun 1881. Pada masa itu, keberadaannya sangat strategis karena berhadapan langsung dengan Kebon Rojo, Taman Kota atau Stadstuin yang menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat kolonial. Sebagai rumah dinas bupati, bangunan ini tentu menjadi ruang penting dalam denyut pemerintahan Surabaya tempo dulu.
Pernah Menjadi Sekolah Tempat Soekarno Menimba Ilmu
Memasuki tahun 1881, fungsi bangunan berubah menjadi Hoogere Burger School (HBS), sekolah menengah elite pada masa kolonial Belanda. HBS menempati bangunan ini hingga tahun 1923.
Di sinilah salah satu fragmen sejarah besar Indonesia pernah berlangsung. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tercatat pernah menempuh pendidikan di HBS Surabaya sekitar tahun 1915–1921, meskipun beberapa sumber lain menyebut tahun 1916–1922.
Membayangkan Soekarno muda berjalan di lorong-lorong bangunan ini menghadirkan kesadaran bahwa sejarah besar sering kali lahir dari ruang-ruang yang tampak biasa. Gedung tua ini pernah menjadi tempat tumbuhnya gagasan, pendidikan, dan semangat kebangsaan.
Pada tahun 1923, HBS dipindahkan ke kawasan Ketabang, yang kini menjadi kompleks SMAN 1, 2, 5, dan 9 Surabaya.
Markas Polisi hingga Kantor Pos Besar
Setelah HBS pindah, bangunan ini sempat difungsikan sebagai Hoofdcommissariat van Politie atau Markas Kepala Komisaris Polisi Surabaya sekitar tahun 1923 hingga 1926. Menariknya, pada masa itu tak terjadi perubahan besar pada bentuk bangunan. Struktur dan susunannya tetap dipertahankan sebagaimana ketika menjadi Dalem Kadipaten maupun gedung sekolah HBS.
Transformasi besar terjadi ketika bangunan ini kemudian direnovasi menjadi Hoofdpostkantoor atau Kantor Pos Besar Surabaya. Renovasi dimulai sekitar tahun 1926 dan selesai pada 1928, dirancang oleh arsitek G.P.J.M. Bolsius dari Departement Burgerlijke Openbare Werken (BOW) Batavia.
Pada fase ini, wajah arsitektur bangunan mengalami penyesuaian dengan gaya oriental klasik. Bentuk atap melengkung setengah lingkaran serta penggunaan kaca besar di atas pintu utama menjadi salah satu ciri khasnya. Nilai sejarah dan arsitekturnya kemudian diakui secara resmi ketika bangunan ini ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Walikota Surabaya No. 188.45/251/402.104/1996.
Menjadi Saksi Masa Pendudukan Jepang dan Revolusi
Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini tetap difungsikan sebagai kantor pos. Namun, babak paling heroik terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Para pejuang PTT (Post, Telefoon en Telegraaf) berupaya merebut gedung tersebut dari tangan Jepang. Sekitar awal Oktober 1945, gedung Kantor Pos Surabaya akhirnya berhasil diambil alih oleh pegawai pos pribumi.
Dalam proses perjuangan itu, dua pegawai PTT, yakni Soepojo dan Soeprapto, gugur. Nama mereka kini diabadikan melalui plakat di bagian dalam gedung utama sebagai penanda bahwa bangunan ini bukan hanya saksi sejarah administratif, namun juga saksi perjuangan kemerdekaan.
Belum genap satu bulan berada di tangan bangsa Indonesia, gedung Kantor Pos Kebon Rojo kembali diambil alih tentara Sekutu pada 25–26 Oktober 1945, sehari setelah pasukan Sekutu mendarat di Surabaya. Setelah pertempuran besar 10 November 1945 berlalu, bangunan ini kembali digunakan sebagai layanan pos bagi masyarakat Surabaya.
Dari Pos Bloc hingga 10 Regentstraat
Perjalanan bangunan ini terus berlanjut. Pada November 2023, kawasan tersebut dihidupkan kembali melalui konsep Pos Bloc Surabaya, sebuah ruang kreatif yang memadukan UMKM, kuliner, seni, dan pertunjukan musik. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk menghidupkan kawasan Wisata Kota Lama.
Pos Bloc pun menghadirkan pendekatan adaptive reuse yang menjaga bangunan tua tetap hidup dan relevan dengan zaman. Dari sinilah kemudian lahir 10 Regentstraat pada awal Mei 2026, melanjutkan estafet pemanfaatan ruang sejarah menjadi ruang publik yang lebih dekat dengan generasi masa kini.
Pada akhirnya, 10 Regentstraat bukan sekadar restoran heritage. Ia adalah contoh bagaimana bangunan cagar budaya dapat terus hidup tanpa kehilangan jiwanya. Fungsi boleh berubah, namun ingatan dan nilai sejarahnya tetap dirawat.
Di tengah arus modernisasi kota yang begitu cepat, kehadiran ruang seperti 10 Regentstraat mengingatkan bahwa sejarah tak selalu harus disimpan dalam museum yang sunyi. Sejarah juga bisa hadir di meja makan, dalam percakapan hangat, dalam aroma kopi dan makanan.
Pun dalam jejak langkah-langkah kecil pengunjung yang tanpa sadar sedang berjalan di atas jejak panjang perjalanan Surabaya. Barangkali, di situlah makna sesungguhnya dari pelestarian heritage, yakni bukan sekadar menjaga bangunan tetap berdiri, melainkan menjaga agar ingatan kolektif sebuah kota tetap hidup dan terus memiliki makna bagi generasi berikutnya.
Referensi
- Soerabaia Tempoe Doeloe Jilid I — karya Dukut Imam Widodo.
- Data Cagar Budaya Pemerintah Kota Surabaya: Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya – Kantor Pos Kebonrojo
https://disbudporapar.surabaya.go.id/adinda/portaldata/cagarbudaya/detail/kantor-pos-kebonrojo
Biar Foto Bicara
10 Regentstraat: Metamorfosis Dalem Kadipaten Soerabaia
Menjadi Destinasi Heritage Dining di Kota Lama Surabaya

































