Ulang tahun selalu menjadi penanda perjalanan hidup, titik kecil yang menandai garis panjang penuh cerita. Ada suka yang menghangatkan, ada duka yang menempa, dan ada renungan yang menyadarkan betapa hidup adalah anugerah.
Bagi dr. Dhini, hari lahir yang dirayakan bukan sekadar bertambahnya usia, melainkan momentum untuk merawat rasa syukur, menghargai pencapaian, sekaligus bercermin pada hal-hal yang masih bisa diperbaiki, di Kokoon Hotel Surabaya, Sabtu (16/8/2025).
Kokoon Hotel Surabaya, dengan nuansa arsitektur peninggalan kolonial Belanda yang masih terjaga, menjadi saksi momen hangat ini. Begitu melangkah masuk ke dalam ‘The Arch Bistro’, ruang resto hotel, para tamu disambut dengan pencahayaan temaram yang lembut, berpadu kilau lampu gantung yang memantulkan nuansa klasik.
Dinding dengan penyekat antarruang bentuk melengkung, berpadu bata merah dan langit-langit ruang dengan kerangka kayu jati yang terekspos apik menghadirkan kesan elegan dan hangat. Pun penataan meja dan kursi dan berbagai aksesoris barang-barang lawas menciptakan suasana yang anggun sekaligus akrab.
Terletak di area Kota Tua Surabaya, dikenal sebelumnya sebagai salah satu distrik bisnis paling ramai di masa kolonial Belanda, Kokoon, dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan bisnis terkini dan ditujukan juga untuk wisatawan atau Anda yang ingin staycation saja, dengan menawarkan akomodasi kontemporer, fasilitas bergaya, dan keramahan khas Indonesia.
Lokasi hotel di Jalan Slompretan No. 26 Surabaya 60161, Jawa Timur, Indonesia. Yakni, dekat Jembatan Merah (Roode Brug) yang ikonik, Pelabuhan Tanjung Perak, serta Stasiun Kereta Api dan Pasar Atom yang cukup legend. Para tamu bisa dengan mudah menjelajah Kota Surabaya selama menginap di hotel ini, dan atau bersantai di area kolam renang atau di restoran.
Suasana semakin hidup ketika keluarga, kerabat, dan sahabat dekat turut hadir menyertai perayaan ulang tahun dr. Dhini. Riuh tawa, dan sapaan hangat membaur dengan denting piano yang dimainkan Engkong Hartono Widjaja. Suasana makin hidup.
Saat lagu-lagu perjuangan nuansa Agustusan dinyanyikan bersama, ruangan terasa penuh semangat, seolah kembali ke masa-masa tempo dulu. Tak hanya bernyanyi, beberapa tamu tampak bertepuk tangan mengikuti irama, menciptakan harmoni kebahagiaan.
Sembari bernyanyi, kehangatan bertambah dengan hidangan khas resto Kokoon Hotel. Di meja panjang tersaji berbagai hidangan Nusantara dan internasional yang kaya aroma rempah menggugah selera. Setiap suapan bukan sekadar santapan, melainkan bagian dari cerita kebersamaan yang sulit dilupakan.
Puncak acara tiba saat sebuah puding coklat berhias bunga-bungaan kecil dihadirkan ke hadapan dr. Dhini. Lilin menyala di atas kue itu, menyebarkan cahaya temaram yang lembut di wajah para tamu. Dengan senyum bahagia, dr. Dhini menutup mata sejenak, berdoa dalam hati, lalu meniup lilin diiringi tepuk tangan meriah.
”Lebih dari sekadar perayaan ulang tahun, momen ini menjadi ungkapan rasa syukur. Bersyukur atas kesehatan yang masih terjaga dan keluarga bak Keluarga Cemara, serta kesempatan berkarya, dan atas setiap detik kehidupan yang dianugerahkan Tuhan,” ujarnya sebelum memotong puding.
Satu potong kue pertama dipotong olehnya, lalu diberikan kepada orang terdekat sebagai simbol kasih sayang dan kebersamaan. Adegan sederhana namun penuh makna ini menjadi penegas bahwa ulang tahun bukan sekadar perayaan pribadi, melainkan juga wujud syukur dan cinta yang dibagikan kepada orang-orang terkasih.
Dalam suasana penuh cinta dan kebersamaan itu, dr. Dhini menunjukkan bahwa ulang tahun adalah jembatan menuju kedamaian batin, yakni mengajarkan senantiasa menerima hidup apa adanya, sambil tetap membuka diri untuk keberkahan yang lebih besar.
Seperti sebuah kutipan bijak, “Bersyukur mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup, dan cukup menjadi lebih dari bercukupan.”
Di Kokoon Hotel Surabaya yang sarat sejarah, ulang tahun dr. Dhini tak sekadar perayaan pribadi, melainkan cermin bagaimana rasa syukur mampu menyatukan kenangan, kebersamaan, dan harapan untuk hari esok yang lebih bermakna.
Chrisyandi Tri Kartika, Ketua Komunitas Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL), dalam sambutannya menegaskan bahwa menumbuhkan rasa syukur dalam keseharian bukan hal yang sederhana. Ada masa-masa ketika beban hidup terasa begitu berat, sehingga membuat kita sulit menemukan sisi terang dari perjalanan yang sedang dijalani.
“Bersyukur di saat seperti itu bukan berarti mengabaikan luka atau kesedihan. Justru rasa syukur hadir sebagai daya untuk menemukan makna terdalam di balik setiap kejadian, meski kadang sering diiringi oleh emosi yang bergejolak,” ungkapnya.
Menurut Chrisyandi, dengan perspektif semacam ini, rasa syukur menjadi jalan yang menuntun hati menuju ketenteraman, pun membuka pintu pada kehidupan yang lebih bermakna. Melalui bersyukur, kita belajar menerima kenyataan dengan apa adanya, serta memberi ruang bagi hadirnya kebaikan yang lebih besar, pungkas sosok dikenal sebagai Pustakawan di Universitas Ciputra Surabaya. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
Ulang Tahun dr. Dhini: Harmoni Syukur dan Kebersamaan
di Balik Nuansa Kolonial Kokoon Hotel






































































