Jejak Panutan Seri 11
Oleh: Wahyu D. dan Ali Muchson
Dalam perjalanan panjang peradaban Islam, ada sejumlah nama yang bukan sekadar menjadi saksi zaman, namun juga penjaga ingatan kolektif umat. Mereka menulis bukan hanya untuk generasinya sendiri, melainkan untuk masa depan yang bahkan belum mereka kenal. Salah satu sosok yang menempati posisi istimewa dalam tradisi itu adalah Ath-Tabari.
Dengan nama lengkap Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Amali Ath-Thabari (838 M/224 H- 923 M/310 H) atau lebih dikenal sebagai Ibnu Jarir Ath-Thabari adalah seorang sejarawan dan pemikir muslim dari Persia, lahir di daerah Amol atau Amuli, Thabaristan (sebelah selatan Laut Kaspia, kini wilayah Iran bagian utara).
Ia adalah seorang ulama besar yang dikenal sebagai mufasir, sejarawan, dan faqih dengan reputasi keilmuan yang sangat luas. Semasa hidupnya, ia belajar di kota Ray, Baghdad, kemudian Syam, dan juga di Mesir. Para ahli sejarah mencatat bahwa semasa hidupnya, ath-Thabari tak pernah menikah.
Ath-Thabari tumbuh pada masa yang sering disebut sebagai salah satu periode paling gemilang dalam sejarah intelektual Islam. Tradisi keilmuan berkembang pesat, majelis-majelis diskusi ramai, dan karya-karya ilmiah bermunculan dalam berbagai disiplin. Pada masa itu pula mazhab-mazhab besar dalam fikih mulai mengkristal dan memperoleh tempat dalam kehidupan umat.
Di bidang tafsir, pendekatan baru mulai berkembang melalui integrasi antara riwayat hadis dan pemikiran rasional. Kitab-kitab hadis mulai dikodifikasi secara sistematis. Di saat yang sama, karya-karya sejarah, strategi militer, ilmu bahasa, serta penerjemahan teks-teks Yunani, Persia, dan India turut memperkaya cakrawala intelektual dunia Islam.
Ath-Thabari hidup dalam rentang masa beberapa khalifah Abbasiyah, mulai dari Al-Mu’tasim, Al-Wathiq, Al-Mutawakkil, hingga Al-Muqtadir. Masa tersebut ditandai oleh dinamika politik yang tak selalu stabil, namun pada saat yang sama melahirkan iklim intelektual yang sangat subur.
Sejak muda ia telah menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan. Ia mempelajari berbagai disiplin seperti qira’at Al-Qur’an dan fikih, khususnya dalam tradisi mazhab Syafi’i. Namun dahaga intelektualnya tak berhenti pada satu tempat. Ia melakukan perjalanan ilmiah ke berbagai wilayah, termasuk Syam dan Mesir, demi memperluas wawasan.
Di Mesir ia berkesempatan bertemu sejumlah ulama besar dari kalangan Syafi’iyah, seperti Al-Rabi ibn Sulayman al-Muradi dan Ismail ibn Yahya al-Muzani, murid utama Muhammad ibn Idris al-Shafi’i. Pertemuan-pertemuan tersebut membuka ruang diskusi intelektual yang kaya, membahas persoalan hukum, teologi, dan pemikiran Islam.
Di negeri itu pula Ath-Thabari bertemu dengan seorang ulama yang sangat berpengaruh dalam pembentukan minat sejarahnya, yakni Muhammad ibn Ishaq ibn Khuzaymah. Melalui pertemuan ini, minatnya terhadap penulisan sejarah berkembang semakin kuat.
Perjalanan intelektualnya kemudian membawanya ke Baghdad, ibu kota kekhalifahan Abbasiyah yang pada masa itu menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia Islam. Kota ini menjadi ruang pertemuan para ulama, ahli bahasa, filsuf, dan ilmuwan dari berbagai wilayah. Di Baghdad inilah Ath-Thabari menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk belajar, mengajar, dan menulis.
Sebagai pribadi, ia dikenal sebagai ulama yang sangat wara’ (sikap berhati-hati) dan memiliki akhlak yang mulia. Bacaan Al-Qur’annya indah, kehidupannya sederhana, dan ia sangat berhati-hati dalam menerima pemberian dari penguasa atau siapa pun. Dalam menyampaikan pandangan keilmuan, ia terkenal berani dan tak segan mempertahankan apa yang ia yakini sebagai kebenaran.
Meski demikian, keberaniannya tak disertai kesombongan. Dalam berbagai forum diskusi ilmiah, ia dikenal rendah hati, santun dalam pergaulan, dan selalu menempatkan ilmu sebagai jalan untuk mendekat kepada kebenaran, bukan sebagai alat untuk meninggikan diri.
Produktivitas intelektualnya sangat mengagumkan. Ia menulis dalam berbagai bidang keilmuan: tafsir, hadis, qira’at, fikih, ushuluddin, sejarah, hingga bahasa dan sastra. Bahkan beberapa sumber juga menyebutkan keterlibatannya dalam pembahasan logika, retorika, matematika, dan kedokteran.
Namun dari sekian banyak bidang tersebut, ada tiga disiplin utama yang menjadi puncak kontribusinya: tafsir, sejarah, dan fikih. Dalam bidang tafsir, karya monumentalnya adalah Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an salah satu tafsir. Kitab ini sering dianggap sebagai paling penting dalam sejarah Islam.
Menurut Encyclopaedia of Islam, karya ini dipandang sebagai “the most important early commentary on the Qur’an that has survived in its entirety,” sebuah tafsir awal yang sangat lengkap dan berpengaruh dalam tradisi penafsiran Al-Qur’an.
Dalam bidang sejarah, ia menulis karya monumental Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, yang sering dikenal sebagai Tarikh al-Umam wal Muluk. Buku ini merupakan salah satu karya historiografi paling luas dalam dunia Islam. Sejarawan modern seperti Franz Rosenthal menyebut karya Ath-Thabari sebagai salah satu fondasi penting historiografi Islam klasik karena kelengkapan sumber dan ketelitiannya dalam menyusun peristiwa secara kronologis.
Ath-Thabari menyusun sejarah dengan metode yang sistematis. Ia menempatkan peristiwa berdasarkan tahun, bahkan sering menyebutkan bulan dan hari terjadinya peristiwa. Setiap kejadian ditempatkan dalam konteks situasi politik dan sosial pada zamannya, sehingga pembaca dapat memahami rangkaian peristiwa secara utuh.
Ia menuliskan sejarah para nabi, masa jahiliyah, sejarah Persia, Romawi, hingga periode Khulafaur Rasyidin dan dinasti-dinasti Islam. Dalam banyak hal, karya ini menjadi salah satu sumber utama bagi para sejarawan setelahnya.
Menariknya, Ath-Thabari juga menaruh perhatian besar pada sejarah Persia dan Romawi. Catatan-catatan tersebut menjadi sangat berharga karena menghimpun berbagai sumber yang sebelumnya tersebar dan belum tersusun secara sistematis.
Pengaruh karya-karyanya melampaui batas wilayah dan zaman. Sejak abad ke-14, karya sejarahnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Persia, kemudian ke bahasa Latin, Prancis, dan berbagai bahasa lainnya. Hal ini menunjukkan betapa luasnya pengaruh intelektual Ath-Thabari dalam tradisi historiografi dunia.
Setelah hampir sembilan dekade menjalani kehidupan yang sepenuhnya didedikasikan untuk ilmu, Ath-Thabari wafat di Baghdad pada tahun923 M/310 Hijriyah. Sepanjang hidupnya, ia hampir tak pernah berhenti membaca, menulis, dan mengajar.
Dari kehidupannya kita belajar bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya tentang mengumpulkan pengetahuan, namun juga tentang menjaga ingatan peradaban. Tanpa karya-karya seperti yang ditulis Ath-Thabari, banyak kisah masa lalu mungkin akan hilang ditelan waktu.
Melalui pena dan ketekunannya, ia tak hanya menuliskan sejarah. Ia menjaga agar umat tak kehilangan jejak perjalanan intelektualnya sendiri. Dan barangkali di situlah makna terbesar dari warisan seorang ulama besar, yakni menjaga agar masa lalu tetap berbicara kepada masa depan.
Daftar Pustaka
- Hakiem, M. L. (1998, January 8). Jejak para panutan. Surya.
- Rosenthal, F. (1968). A history of Muslim historiography (2nd ed.). Leiden: Brill.
- Tabari, M. ibn J. (1989–2007). The history of al-Tabari (Tarikh al-rusul wa al-muluk). Albany: State University of New York Press.
- Encyclopaedia of Islam. (2012). Al-Tabari. Leiden: Brill.
- Wikipedia contributors. (n.d.). Muhammad ibn Jarir al-Tabari. Wikipedia.
Featured image
Ilustrasi Potret Ath-Thabari/ AI Tabari Portrait/AI Tabari Artwork
