Menghindarkan Diri dari Angkara Murka di Tengah Kebisingan Zaman
“Banyak orang mengira bahwa spiritualitas adalah soal konfrontasi gagah berani melawan hawa nafsu, namun Mangkunegara IV justru mengajarkan kita untuk ‘mingkur’ dari ‘angkoro’, sebuah strategi menghindar, mundur dan menjauh untuk menang.”
Di tengah gemuruh kehidupan yang kerap dipenuhi berisik validasi diri, menonjolkan ego, dan ingin paling benar, karya sastra leluhur Nusantara hadir laksana oase di padang gersang. Salah satu mahakarya yang filosofinya mampu menembus batas zaman adalah Serat Wedhatama, buah pena spiritual dan intelektual dari K.G.P.A.A. Mangkunegara IV.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV (3 Maret 1811 – 2 September 1881) adalah Adipati keempat Mangkunegaran, memerintah dari tahun 1853 sampai 1881. Lahir dengan nama Raden Mas Sudira. Mangkunegara IV adalah anak ketujuh dari Kanjeng Pangeran Harya Hadiwijaya I dan Bandara Raden Ajeng Sekeli yang merupakan anak dari Mangkunegara II.
Serat Wedhatama tersebut jelas bukan sekadar tumpukan petuah usang; ia adalah sebuah grand design, sebuah peta jalan perjalanan spiritual dan pembentukan karakter manusia seutuhnya, yang dalam tradisi kearifan Jawa disebut sebagai jalma suluk.
Mangkunegara IV dengan sangat bijak sengaja meletakkan frasa “Mingkar-mingkuring angkara” sebagai kunci pembuka gerbang Serat Wedhatama. Pesan sakral ini bertahta pada bagian Pupuh (Tembang) Pangkur, tepat di baris (gatra) kesatu pada bait (pada) kesatu pula.
Menariknya, saat membuka gerbang mahakarya ini, sang pujangga yang juga seorang raja dan pertapa batin tersebut tak memulainya dengan dogma langit yang bergemuruh. Pun jauh dari sikap menakut-nakuti dengan kepedihan dan siksa, juga tak menjanjikan pahala.
Sebaliknya, beliau justru membukanya dengan sebuah ajakan kesadaran untuk menundukkan diri sendiri dengan mingkar-mingkur atau dengan istilah yang lazim mingkuri angkoro . Kiranya ini bukti nyata kematangan olah rasa dan olah batin yang melampaui sekat-sekat teori dan logika awam.
Secara harfiah, mingkuri berarti menjauh atau menghindar, sementara angkoro merujuk pada angkara murka: ego, hawa nafsu, dan dorongan destruktif. Namun, jika dimaknai lebih dalam, mingkuri angkoro bukan sekadar menjauhi kejahatan luar, melainkan tentang menjauh dari sisi gelap yang hidup di dalam diri sendiri.
Di samping itu, penempatan tersebut mengandung filosofi mendalam, yakni: setinggi apa pun ngelmu luhung (ilmu luhur) yang dipelajari, dan sedalam apa pun pemahaman agama yang dikuasai, semuanya tak akan pernah bisa merasuk ke dalam relung batin apabila “wadahnya” masih dikuasai oleh angkara.
Mengapa “Mingkur”, Bukan “Nglawan”?
Terkait mingkuri, timbul pertanyaan menarik, “Mengapa dalam Pupuh Pangkur tak menggunakan kata “nglawan atau melawan”, melainkan “mingkur atau menjauh”? Dalam bahasa Jawa, mingkuri berasal dari kata dasar mungkur, berarti, menjauhkan diri, atau meninggalkan, membelakangi, atau mundur.
Dalam kearifan lokal Jawa, istilah mingkuri ini kerap kali dikaitkan dengan konteks moral, yaitu menjauhkan diri atau menghindarkan diri dari lelaku yang dikendalikan oleh angkara atau hawa nafsu, kebiasaan buruk, atau hal-hal negatif. Maka, mingkuri tentu beda konteks dengan nglawan.
Pada saat kita nglawan atau melawan, posisi kita itu dalam kondisi kesadaran yang rendah, emosi justru ikut bermain, dan ego semakin memuncak. Akhirnya, kita bukan mengalahkan angkara, melainkan justru menjadi bagian dari angkara itu sendiri.
Untuk itu, seyogyanya pendekatan lebih merendah, yakni: kenali lalu menjauh, sadar lalu tak ikut arus. Seperti melihat api, orang bijak tak akan memukul api itu karena hanya akan membuatnya semakin berkobar; ia memilih mundur agar tak terbakar.
Di dunia hari ini, barangkali banyak konflik terjadi bukan lantaran kurangnya ilmu pengetahuan, melainkan karena kurangnya kesadaran diri. Debat yang tak berujung, merasa paling benar, dan fanatisme buta, semua berakar pada angkara yang tak disadari telah mengendalikan diri.
Karena Angkara, Kebaikan Jadi Topeng
Tragedi seseorang kerap kali bermula lantaran ia jarang melihat dirinya sebagai sumber masalah. Kita lebih mudah menunjuk kesalahan pihak luar daripada mengakui kekacauan di dalam diri. Angkara ini sering muncul dalam bentuk yang paling halus dan berbahaya. Ia tak selalu hadir dengan wajah garang, melainkan dengan memakai topeng “kebaikan”.
Menghujat atas nama keyakinan, menghakimi atas nama kebenaran abu-abu, merasa lebih suci dari orang lain, adalah bentuk angkara yang sangat halus. Sering kali seseorang tak menyadari, saat ia merasa paling benar, di situ ia justru paling jauh dari kebenaran. Sebab, kebenaran sejati itu bersifat tenang; ia tak butuh berisik, apalagi merendahkan sesama.
Maka, mingkuri angkoro adalah langkah awal dalam laku kesadaran. Titik mulainya bukan pada meditasi yang hening atau teori yang muluk, melainkan pada kemampuan untuk ‘sadar’. Sadar saat emosi mulai naik, saat ingin merasa paling benar, dan saat ingin menyerang orang lain. Itulah momen untuk mundur sedikit, diam sejenak, dan tak membiarkan diri hanyut dalam arus nafsu.
Menaklukkan angkoro bukan sekadar anjuran moralitas semata-mata; ia adalah “langkah nol spiritual” yang menjadi syarat mutlak. Tanpa fondasi ini, kecerdasan hanya akan melahirkan arogansi, adigang (kekuatan) adigung (kekuasaan) adiguna (kepintaran), dan agama rentan menyempit sekadar menjadi alat pembenar diri.
Harmoni Ilmu, Seni, dan Nilai Ketuhanan
Kemegahan makna mingkuri angkoro ini akan semakin terasa resonansinya apabila kita menyelami bait (pada) pertama Pupuh Pangkur tersebut secara utuh. Lirik aslinya tidak hanya membawa muatan filosofis yang berat, namun juga dibalut dengan estetika sastra yang melembutkan hati. Adapun liriknya sebagai berikut:
Mingkar-mingkuring angkara,
(Menghindarkan diri dari angkara)
Akarana karanan mardi siwi,
(Bila akan mendidik putra)
Sinawung resmining kidung,
(Dikemas dalam keindahan syair)
Sinuba sinukarta,
(Dihias agar tampak indah)
Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung,
(Agar tujuan ilmu luhur ini tercapai)
Kang tumrap ning tanah Jawa,
(Yang berlaku di tanah Jawa)
Agama ageming aji.
(Agama pegangan/pelindung utama para pemimpin)
Di sini terlihat visi yang utuh, yakni upaya menghindar dari angkara yang didedikasikan untuk mendidik generasi penerus (mardi siwi). Ajaran yang berat ini disampaikan melalui kelembutan seni (sinawung resmining kidung) agar lebih mudah diterima hati nurani.
Sedangkan puncak Pupuh Pangkur dari naskah Serat Wedhatama tersebut menyatukan kedalaman ilmu kehidupan dengan agama sebagai ageming aji, pakaian kemuliaan batin yang menjaga muruah atau kehormatan diri manusia.
Secara umum Serat Wedhatama merupakan falsafah kehidupan, seperti bertenggang rasa, bagaimana menganut agama secara bijak, menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi orang berwatak ksatria. Serat ini terdiri atas 100 pada (bait, canto) Tembang Macapat, dibagi dalam lima lagu (pupuh), yaitu: Pangkur (14 pada, I – XIV), Sinom (18 pada, XV – XXXII), Pocung (15 pada, XXXIII – XLVII), Gambuh (35 pada, XLVIII – LXXXII), dan Kinanthi (18 pada, LXXXIII – C).
*
Pada akhirnya, Serat Wedhatama adalah cermin raksasa bagi kita yang hidup di era orang serba terburu-buru. “Mingkar mingkuring angkara” berarti bersedia menghindar dari angkara, kesombongan, dan laku negatif dalam kehidupan. Pemenang sejati bukan ia yang berhasil menundukkan dunia dengan kekuatan, kekuasaan dan kepintaran, melainkan yang telah tuntas menaklukkan dirinya sendiri.
Maka untuk merasakan getaran magis dari olah rasa Mangkunegara IV ini, kita dapat menyimak pelantunan tembangnya yang syahdu di kanal YouTube Tiyang Jawi. Meresapi nada dan liriknya dapat menjadi laku kontemplasi yang menuntun kita kembali pada kesadaran hakiki sebagai manusia. (Ali Muchson)
Daftar Referensi
- Mangkunegara IV. Serat Wedhatama. Versi digital diakses melalui Ruhcitra: https://ruhcitra.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/11/wedatama.pdf. Diakses pada 18 April 2026.
- TIYANG JAWI. (2020, 20 Oktober). TEMBANG PANGKUR dan Artinya | Mingkar-mingkur ing Angkara [Video]. YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=JPlMAQX2fEo. Diakses pada 18 April 2026.
- Wikipedia. Mangkunegara IV. https://id.wikipedia.org/wiki/Mangkunegara_IV. Diakses pada 18 April 2026.
Featuring image:
https://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Mangkunegara_IV,_Southeast_Asian_and_Caribbean_Images,_Leiden_University_Libraries-KITLV.jpg
