Ibnu Batutah: Jejak dan Denyut Peradaban dari Maghrib hingga Samudra Pasai

  • TOKOH
Ibnu Batutah: Jejak dan Denyut Peradaban dari Maghrib hingga Samudra Pasai
Share this :

Jejak Panutan Seri 8
Oleh: Wahyu D. dan Ali Muchson

Ada orang bepergian untuk berdagang, berlayar demi taklukkan wilayah, pun ada melangkah lantaran gelisah oleh rasa ingin tahu. Ibnu Batutah, tergolong yang terakhir itu. Ia tak sekadar musafir, juga saksi hidup peradaban. Dari Maghrib hingga ke Timur jauh, dari gurun Afrika Utara hingga pesisir Nusantara, langkahnya menjelma titian penyambung belahan dunia yang sebelumnya saling asing.

Nama lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah Al-Lawati At-Tanji bin Batutah. Ia lahir di Tangier, wilayah Maghrib (Maroko sekarang), pada 703 H/1304 M. Ia tumbuh dalam keluarga terdidik yang kuat dalam tradisi fikih Maliki. Sejak kecil ia disiapkan untuk menjadi qadhi, hakim agama, sebuah profesi terhormat pada zamannya.

Namun takdir memberi jalan lain. Usia sekitar 22 tahun (720 H/1325 M), ia meninggalkan kampung halaman untuk beribadah haji ke Makkah. Dalam sebuah catatan, ia menyatakan tekadnya tak kembali sebelum menjelajahi dunia dalam rentang panjang. Perjalanan haji itu bukan akhir, melainkan awal dari rihlah (perjalanan, pengembaraan) yang berlangsung hampir tiga dekade.

Perjalanannya bermula dari Afrika Utara menuju Kairo dan Syam, lalu ke Hijaz. Seusai berhaji, ia melanjutkan langkah ke Irak dan Persia, kembali lagi ke tanah suci, lalu bergerak ke Yaman dan Afrika Timur. Ia mengunjungi Oman dan Bahrain, bahkan menunaikan haji hingga tiga kali berturut-turut dalam fase-fase berbeda pengembaraannya.

Di Iskandariyah ia bertemu seorang sufi bernama Syekh Burhanuddin yang mendorongnya meluaskan horizon perjalanan hingga India, Sind, dan Cina. Seolah mendapat legitimasi spiritual, Ibnu Batutah kian mantap menembus batas-batas geografis.

Ia mencapai Anatolia, Kaukasus, Bulgaria, bahkan Konstantinopel. Dari Asia Tengah ia bergerak menuju Afghanistan dan India pada 734 H. Di India ia menetap sekitar delapan tahun dan dipercaya Sultan Delhi sebagai qadhi. Di sana ia menyaksikan kemegahan sekaligus kompleksitas politik kerajaan Muslim di anak benua.

Keinginan terbesarnya adalah melihat Cina. Ia diutus sebagai duta, membawa hadiah untuk kaisar. Meski sempat mengalami musibah kapal karam, ia akhirnya tetap menembus jalur Asia Tenggara. Ia singgah di Kepulauan Maladewa, menikah dan menetap sementara di sana, sebelum melanjutkan perjalanan melalui Bengal, hingga Samudra Pasai

Di Sumatra, ia mencatat keberadaan Kesultanan Samudra Pasai, dan memuji kesalehan Sultan al-Malik al-Zahir. Catatannya tentang wilayah ini menjadi salah satu referensi awal mengenai perkembangan Islam di Nusantara. Persinggahan Ibnu Batutah memperlihatkan Nusantara bukanlah pinggiran sejarah, melainkan simpul pertemuan pedagang, ulama, dan kekuasaan sejak abad ke-14.

Dalam karyanya yang monumental, Rihla, ia menggambarkan negeri-negeri yang disinggahi dengan detail: adat istiadat, tata busana, makanan, arsitektur, hingga struktur sosial politik. Sejarawan modern seperti Tim Mackintosh-Smith menyebut bahwa catatan Ibnu Batutah adalah “a priceless first-hand account of the medieval Islamic world in its astonishing diversity.”

Keberagaman itulah yang membuat rihlah-nya menjadi dokumen sosiologis sekaligus kultural yang tak ternilai. Sementara itu, dalam pengantar terjemahan Inggrisnya, H. A. R. Gibb menegaskan bahwa karya Ibnu Batutah “provides a unique picture of a cosmopolitan Islamic civilization bound together by faith, trade, and scholarship.”

Kutipan tersebut menegaskan satu hal, yakni dunia Islam abad pertengahan bukan dunia yang terpecah, melainkan jaringan kosmopolitan yang saling terhubung, dan Nusantara berada di dalamnya. Setelah menuntaskan perjalanan panjang, sekitar 29 tahun, Ibnu Batutah kembali ke Maroko dan menetap di Fez pada masa Sultan Abu Inan Al-Jazair.

Atas perintah Sultan Abu Inan Al-Jazair tersebut, kisah pengembaraannya didiktekan kepada seorang sastrawan istana, Ibnu Juzai, lalu dibukukan dengan judul lengkap Tuhfat al-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa ‘Aja’ib al-Asfar.

Dari situlah dunia mengenalnya. Ironisnya, pengakuan luas di Barat baru datang berabad-abad kemudian, ketika para orientalis menerjemahkan karyanya ke bahasa Prancis dan Inggris. Sejak itu, namanya disejajarkan dengan pengembara besar lain seperti Ibn Jubayr, bahkan melampaui dalam jarak tempuh dan cakupan wilayah.

Membaca kembali catatan Ibnu Batutah tentang wilayah ini menghadirkan kesadaran reflektif: bahwa identitas kita sebagai bangsa maritim dan masyarakat Muslim memiliki akar historis yang panjang. Islam datang bukan dalam sunyi, melainkan melalui jejaring global yang hidup.

Ibnu Batutah bukan hanya pengelana ruang, namun juga penjelajah makna. Ia menempuh ribuan mil bukan demi peta, melainkan demi pengalaman. Rihlah-nya mengajarkan bahwa dunia adalah madrasah atau sekolah terbuka, dan setiap perjumpaan adalah pelajaran.

Ketika ia menjejakkan kaki di Samudra Pasai, barangkali ia tak pernah membayangkan bahwa berabad-abad kemudian, namanya akan dibaca ulang oleh generasi yang mencari jejak peradaban. Pengembaraannya telah usai. Namun kisahnya tetap berjalan, menyapa siapa pun yang percaya bahwa perjalanan bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perluasan jiwa.

Daftar Pustaka

  1. Gibb, H. A. R. (Trans.). (1958–2000). The travels of Ibn Battuta, A.D. 1325–1354. Cambridge: Hakluyt Society.
  2. Hakiem, M. L. (1998, January 20). Jejak para panutan. Surya.
  3. Ibn Battuta. (2002). The Rihla (The journey) (T. Mackintosh-Smith, Ed.). London: Picador.
  4. Mackintosh-Smith, T. (2001). The Travels with a Tangerine: A journey in the footsteps of Ibn Battutah. London: John Murray.
  5. Wikipedia contributors. (n.d.). Ibnu Batutah. Dalam Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Diakses dari (https://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Batutah)

Featured image
File foto: Handmade_oil_painting_reproduction_of_Ibn_Battuta_in_Egypt,_a_painting_by_Hippolyte_Leon_Benett.
Ibnu Batutah (kanan) di Mesir, ilustrasi karya Léon Benett dalam sebuah buku yang terbit pada 1878

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *