Komunitas Seni Budaya Nusantara, sebuah komunitas para seniman, menyelenggarakan even bertajuk “Pagelaran Seni Budaya: Art & Culture in Harmony.” Acara digelar di Halaman Masjid Muhammad Cheng Hoo, Jalan Gading Nomor 2 Surabaya. Acara dibuka oleh Bapak Ust. Hasan Basri, S.Sos.i (Ketua Pelaksana Harian YHMCHI) pada Sabtu, tanggal 29 November 2025, pukul 15.30 hingga pukul 20.00 WIB.
Pada sore itu, kawasan sekitar Masjid Muhammad Cheng Hoo yang dikenal dengan arsitektur khas Tionghoa-Islam tersebut berubah menjadi ruang perjumpaan seni yang hangat dan penuh warna, seakan menyambut siapa saja untuk merayakan harmoni budaya.
Budi Bi, pegiat Komunitas Garis Gathuk yang sekaligus penggagas pagelaran ini, menuturkan bahwa kegiatan tersebut merupakan sebuah upaya merayakan Seni & Budaya Surabaya melalui kolaborasi lintas komunitas. Gagasannya lahir dari kerinduan untuk melihat para pelaku seni bertemu dalam satu wadah yang tidak hanya menampilkan kreativitas, tetapi juga memperkuat jejaring persaudaraan antarseniman.

“Gagasan ini kemudian disambut oleh Bapak Rasmono (Ketua Komunitas Seni Budaya Nusantara), untuk menggelar acara tersebut di Halaman Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya, serta mendapat respons baik oleh Bapak Oei Tjing Yen (Sekretaris YHMCHI). Dukungan ini membuat ide yang semula hanya percikan kecil berubah menjadi gerakan kebudayaan yang lebih luas, mempertemukan berbagai unsur masyarakat,” tuturnya.
Pagelaran ini, lanjutnya, ke depannya direncanakan menjadi agenda berkala, sebagai ruang temu untuk mempererat persaudaraan antarseniman melalui ekspresi seni budaya. Pada edisi perdana ini, pengunjung disuguhkan penampilan istimewa, yakni unjuk Live Painting, yang menjadi magnet utama sekaligus simbol kebersamaan kreatif di antara para perupa.
“Unjuk Live Painting dituangkan di kanvas berukuran 1 x 4 meter oleh delapan pelukis Komunitas Garis Gathuk. Setiap guratan kuas para pelukis tak hanya menghadirkan visual, tetapi juga menorehkan pesan tentang persatuan dalam keberagaman. Sedangkan hasil karya mereka nantinya akan dipersembahkan sebagai kenang-kenangan untuk Masjid Cheng Hoo,” lanjut Budi Bi.

Selain unjuk Live Painting, tambah Budi Bi, acara dimeriahkan pula oleh berbagai penampilan pendukung, di antaranya: Taichi Performance, Musik Angklung, Musik Keroncong, Tari Remo, Monolog Puisi, Wing Chun Demo, Fashion Show Miss Tionghoa Indonesia, serta puluhan Bazaar Kuliner Nusantara dengan cita rasa khas dari berbagai daerah. Kehadiran ragam seni ini menjadikan suasana pagelaran hidup, dinamis, dan menggambarkan kekayaan budaya Nusantara yang sesungguhnya.
“Melalui acara ini, masyarakat Surabaya diajak untuk melihat, menikmati, dan mengapresiasi kekayaan seni dan budaya Nusantara; berbeda-beda namun saling melengkapi. Bahwa seni bukan hanya tontonan, melainkan jembatan yang menyatukan manusia dari berbagai latar. Karena dalam keberagaman, kita menemukan harmoni; dan dalam harmoni, perbedaan adalah perekat yang menguatkan persatuan,” pungkasnya. (Ali Muchson)

Featured image : Foto Garis Gathuk
