Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”

Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Share this :

Kota Pati sebagai singgahan untuk menginap, sebagian ada yang menginap di rumah Eyang dari Mbak Sakuntala Verlista atau Mbak Lala, dan sebagian lainnya ada yang menginap di hotel. Usai makan pagi dengan nasi kotak menu ayam, rombongan yang terdiri atas 20 orang siap meluncur ke Kota Kudus. Lantaran pukul 08.00, Rohmat Hidayatullah, pegiat komunitas Lelana Kudus, telah menunggu di Alun-Alun Kudus, Sabtu (28/6/2025).

Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”, merupakan rangkaian tulisan hasil liputan dari semua obyek #BlusukanEdan PSL di Kota Kudus. Masing-masing obyek tertuang dalam subjudul, mulai dari obyek: Alun-Alun Kudus; Djamhari Sang Perintis Rokok Kretek; M. Atmo Widjojo Kudus, Bapak Saudagar Kretek; Langgar Bubrah Kudus; Nitisemito, Bapak Kretek Indonesia.

Lalu, Haji Mas Ashadie: Saudagar “Cap Delima” dari Kudus; Kompleks Makan Sunan Kudus: Rajah Kalacakra; Masjid Langgardalem; Joglo Pencu: Rumah Adat Kudus; Mengapa Warga Kudus Tak Sembelih Sapi Meski pada Iduladha – Menikmati Makan Siang dengan Soto Kebo di Rumah Bati-ku Kudus; dan Omah Kembar, Peninggalan Kejayaan Nitisemito, Raja Kretek.

Tulisan liputan ini selain bersumber dari apa yang dituturkan Rohmat Hidayatullah, pegiat komunitas Lelana Kudus, dan Yusak Maulana, pegiat komunitas Cerita Kudus Tuwa (CKT) yang juga keturunan H.M. Ashadie – Saudagar “Cap Delima” Kudus, juga dilansir dari beberapa referensi yang berasal dari media online. Berikut ulasan dari obyek-obyek tersebut:

Alun-Alun Kudus

Alun-Alun Lama Kudus atau Taman Menara kini, merupakan kawasan bersejarah di Kudus Kulon yang mencerminkan pergeseran fungsi ruang kota dari pusat pemerintahan era Sunan Kudus menuju ruang publik modern.

Rohmat Hidayatullah, pegiat komunitas Lelana Kudus, mengatakan bahwa pada abad ke-16, tata ruang Kudus dirancang dengan lima elemen utama: masjid, alun-alun, pendapa, pasar, dan penjara. Alun-Alun Lama dilengkapi pohon beringin sebagai simbol pengayoman. Konsep ini merefleksikan perpaduan nilai Islam dan budaya lokal dalam lanskap kota.

“Namun, sejak masa kolonial, pusat pemerintahan bergeser ke Simpang Tujuh,” lanjut Rohmat Hidayatullah, Sabtu (28/6/2025).

Keberadaan pohon beringin di sini menjadi salah satu bukti kuat jika Taman Menara itu dulunya adalah alun-alun di masa lalu. Sebab, pohon itu salah satu ciri arsitektur Alun-Alun Jawa, yakni memiliki makna mengayomi lantaran biasanya pohon beringin tumbuh besar dan daunnya lebat, serta rindang,tambahnya.

“Kini, setelah revitalisasi, taman ini tetap hidup dengan aktivitas warga seperti pertunjukan barongan, ziarah, dan kuliner. Pada momen keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad SAW, kawasan ini menjadi titik kegiatan spiritual dan sosial. Fungsi taman sebagai ruang budaya memperkuat identitas kota yang adaptif namun tetap berakar,” pungkasnya.

Djamhari Sang Perintis Rokok Kretek

Masyarakat Indonesia mengenal Kudus sebagai Kota Kretek. Di balik ketenaran industri rokok khas ini, ada sosok legendaris bernama Haji Djamhari (Haji Djamari), seorang asli Kudus yang diyakini sebagai perintis rokok kretek. Temuannya bermula bukan dari motif bisnis, melainkan dari upaya pribadi mencari kesembuhan, lalu menjelma menjadi penemuan penting dalam sejarah industri rokok.

Yusak Maulana, pegiat dari komunitas Cerita Kudus Tuwa (CKT), mengisahkan bahwa pada awalnya Pak Haji Djamari merasa sakit di bagian dada. Ia kemudian mengoleskan minyak cengkeh, dan merasa bahwa sakitnya telah reda. Pak Haji Djamari kemudian bereksperimen dengan cengkeh tersebut, merajangnya, mencampurnya dengan tembakau, lalu melintingnya menjadi sebuah rokok, Sabtu (28/6/2025).

“Setelah rutin menghisap rokok hasil karyanya, Djamari merasa sakitnya hilang. Ia menceritakan penemuannya, dan berita ini pun menyebar cepat. Permintaan rokok obat pun melonjak, dan Djamari melayaninya dengan penuh semangat. Karena saat dihisap cengkeh yang terbakar mengeluarkan bunyi keretek, kretek, kretek. Maka, rokok temuannya itu dikenal dengan nama rokok kretek,” lanjutnya.

Rokok kretek ini dibungkus dengan klobot atau daun jagung kering, dijual per ikat: sepuluh batang, tanpa selubung kemasani. Rokok kretek pun makin dikenal luas. Konon, Djamari meninggal pada tahun 1890. Identitas lengkap dan asal-usulnya masih samar hingga kini, namun temuannya terus hidup sebagai memori kolektif masyarakat Kudus, dan tonggak awal industri kretek di Indonesia, tambahnya.

“Semangat kebersamaan dan pelestarian budaya kembali diperlihatkan oleh Omah Dongeng Marwah (ODM), sebuah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kudus. Tahun ini, ODM memproduksi sebuah film pendek bertema kretek yang mengangkat kisah tokoh bersejarah Haji Djamhari, penemu rokok kretek asal Kudus,” pungkas Yusak Maulana.

M. Atmo Widjojo Kudus, Bapak Saudagar Kretek

M. Atmo Widjojo, atau juga dikenal sebagai M. Atmowidjodjo, adalah salah satu tokoh awal yang berperan penting dalam membentuk industri kretek di Kudus pada awal abad ke-20. Ia dikenal sebagai pendiri pabrik rokok Goenoeng Kedoe, yang berdiri sekitar tahun 1910.

Bersama nama-nama besar seperti Nitisemito (Bal Tiga), HM Muslich (Delima), H. Ali Asikin (Djangkar), Tjoa Khang Hay (Trio), dan M. Sirin (Garbis & Manggis), Atmo Widjojo termasuk dalam generasi pelopor yang membawa rokok kretek dari skala rumahan menuju industri yang lebih terorganisir dan terkemas, sebagaimana diceritakan Yusak Maulana, pegiat dkomunitas Cerita Kudus Tuwa (CKT).

“Meski informasi mengenai strategi bisnis atau kehidupan pribadinya tidak seterang Nitisemito, keberadaan Goenoeng Kedoe turut memperkuat identitas Kudus sebagai “Kota Kretek”. Perannya sebagai saudagar pribumi dalam geliat awal industri kretek memberi kontribusi nyata terhadap ekonomi lokal,” lanjutnya.

M. Atmo Widjojo berperan turut andil dan membuka jalan bagi berkembangnya merek-merek kretek lain di kemudian hari. Hingga kini, nama M. Atmo Widjojo tercatat sebagai bagian dari sejarah penting saudagar kretek Kudus yang ikut membentuk wajah industri tembakau Indonesia, sehingga Kudus sebagai Kota Kretek, pungkas Yusak Maulana, Sabtu (28/6/2025).

Langgar Bubrah Kudus

Keberadaan salah satu bangunan kuno yang diberi nama Langgar Bubrah menarik untuk dikulik. Lokasi bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya ini terletak tidak jauh dari Menara Kudus, yakni di Gang Tepasan, Desa Demangan RT 2 RW 4 Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Berdasar cerita beredar, usia bangunan ini lebih tua daripada Menara Kudus.

Arsitektur bangunannya pun berupa tumpukan batubata berwarna merah yang mengelilingi kompleks bangunan. Bangunan yang berbentuk joglo berwarna kecoklatan, selain batubata juga dilengkapi dengan ukiran kuno yang masih melekat. Serta dibagian luarnya terdapat menhir (bahasa Keltik) yang berarti batu panjang, atau juga lingga dan yoni, seperti yang diceritakan Rohmat Hidayatullah, pegiat komunitas Lelana Kudus

Langgar Bubrah, lanjutnya, berbentuk menara setengah jadi. Langgar ini memiliki panjang 4 meter, lebar 3 meter dan tinggi 2,5 meter. Bentuk lubang ventilasi memperlihatkan ciri ornamen meander/swastika dengan imbuhan motif bunga. Sedang pada dinding diukir dengan motif anyaman ranting dengan posisi vertikal. Selain materi bangunan dari bata merah, bentuk fasad bangunan ini mengingatkan pada Menara Kudus.

“Langgar, di jaman dahulu dikenal sebagai tempat ibadah umat muslim. Sementara bubrah yang berarti dalam bahasa jawa yakni hancur. Langgar Bubrah atau orang kuno menyebutnya Sigit Bubar ini dahulunya bekas masjid yang sudah tidak terpakai, bangunan tersebut simbol akulturasi budaya antara Hindu dengan Islam,” pungkas Rohmat Hidayatullah, Sabtu (28/6/2025).

Dilansir dari Wikipedia, Langgar Bubrah ini awalnya di bangun menyerupai Menara Kudus oleh Pangeran Pontjowati dalam kurun waktu semalam. Pangeran Pontjowati tidak sendirian, dia dibantu oleh wali lainnya. Memang tidak heran dengan kurun waktu satu malam tersebut. Karena yang membangun adalah para wali yang mempunyai karomah yang dianugerahkan oleh sang Khaliq.

Di samping itu, ada dua versi sejarah pembuatan Langgar Bubrah yang tidak selesai jadi utuh. Versi pertama, konon menurut cerita, masjid ini hendak dibangun seperti masjid Menara Kudus tetapi tatkala sedang dibangun ada orang yang sempat melihat roh jahat (Jw. kamanungsang), sehingga akhirnya pembangunan masjid tersebut dibatalkan.

Sedangkan versi kedua, menurut cerita yang berkembang di masyarakat, ketika Pangeran Pontjowati sedang menyelesaikan pembangunan masjid ini, waktu hampir menunjukkan subuh, tiba-tiba dia melihat seorang janda yang sedang menyapu. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat tersebut dan “nyabda” janda tersebut menjadi patung.

Hal itu, mengakibatkan pembangunan langgar ini tidak diselesaikan dan yang ada hanyalah bangunan yang berbentuk menara setengah jadi. Jika kita berkunjung ke Langgar Bubrah, kita akan melihat bentuk patung sangat kecil yang terpahat dalam batu besar di tempat tersebut.

Sekarang bangunan Langgar Bubrah telah mendapat perhatian dari Balai Pelestarian Pengelolan Purbakala, Jawa Tengah, yang telah menetapkan sebagai cagar budaya pada tanggal 4 September 2005. Situs ini termasuk Benda Cagar Budaya dari 68 yang tak bergerak yang telah mendapat surat keputusan dari Balai Pelestari Purbakala, dengan SK No 988/02.SP/BP3/P.IX/2006.

Nitisemito, Bapak Kretek Indonesia

‘Kota Kretek’ julukan yang melekat pada Kabupaten Kudus tak bisa terlepas dari peran sosok Nitisemito. Ia adalah Bapak Kretek Indonesia yang berasal dari kabupaten di pesisir utara Jawa tersebut. Rokok kretek di Indonesia lahir di Kudus, meski di awal mulanya bukan berasal dari tangan Nitisemito.

Yusak Maulana, pegiat komunitas Cerita Kudus Tuwa (CKT), mencerikan bahwa Haji Djamari (Djamhari) adalah penemu rokok kretek hasil campuran tembakau dan cengkih halus yang dibungkus kulit jagung kemudian dibakar. Bunyi kretek, kretek, kretek, yang dihasilkan dari pembakaran rokok yang dibungkus klobot tersebut menjadi asal-usul sebutan rokok kretek, Sabtu (28/6/2025).

Nitisemito, yang lahir di Kudus pada 1863 dengan nama kecil Roesdi, adalah putra dari H. Soelaiman, seorang lurah di Desa Jagalan, Kudus Kulon. Ia dikenal sebagai pengusaha bumiputra paling sukses dalam industri rokok kretek pada masa Hindia Belanda dan dijuluki Raja Kretek. Sosoknya bahkan disebut oleh Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai simbol pentingnya kontribusi rakyat kaya bagi kepentingan nasional Indonesia.

Dilansir dari www.historia.id/article/kisah-anak-lurah-jadi-raja-kretek-6kkzq, sebelum sukses di industri kretek, Nitisemito mencoba berbagai usaha seperti konfeksi, minyak kelapa, hingga jual beli kerbau. Ia juga bekerja sebagai sopir dokar sambil berjualan tembakau. Melihat banyaknya orang mengisap rokok klobot isi cengkeh di Kudus, ia mulai meracik dan melinting rokok sendiri secara manual. Inilah cikal bakal usaha kreteknya yang berkembang pesat.

Nitisemito menciptakan merek sendiri untuk rokoknya. Merek pertamanya “Kodok Mangan Ulo” kurang disukai pasar, sehingga ia menggantinya menjadi Cap Bal Tiga, lengkap dengan gambar bulatan tiga dan namanya. Ia memproduksi massal rokok kretek merek ini sejak 1906 dan mendirikan NV Bal Tiga Nitisemito pada 1908. Strategi pemasaran modern seperti label buatan Jepang, hadiah, dan promosi menjadikannya pelopor branding produk di Indonesia.

Meski tuna aksara, Nitisemito menjalankan perusahaan dengan manajemen modern. Ia memiliki armada besar: bus, truk, dan sedan untuk distribusi dan promosi. Sistem pendukung seperti bon bensin dan penginapan karyawan yang terintegrasi menunjukkan kecanggihan logistik dan kepeduliannya terhadap kesejahteraan pegawai.

Rokok Bal Tiga Nitisemito dipasarkan ke seluruh Indonesia. Di banyak tempat, bon dari perusahaan dapat ditukar langsung untuk bahan bakar atau penginapan di hotel mitra. Sistem ini mendorong efisiensi operasional dan menjadikan Bal Tiga sebagai pelopor sistem distribusi berbasis jaringan di era kolonial.

Namun kejayaan itu meredup saat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang menghantam industri dalam negeri. Produksi terhenti, bahan baku langka, dan wilayah distribusi terganggu. Pada 1953, Nitisemito wafat dan menyerahkan perusahaan ke anaknya, Soemadji Nitisemito.

“Sayangnya, dua tahun kemudian perusahaan Bal Tiga bangkrut. Lambat laun popularitas rokok Bal Tiga Nitisemito tergeser produk-produk rokok dari perusahaan lain. Meskipun demikian, Nitisemito tetap dikenang sebagai Bapak Industri Kretek Indonesia, pelopor industrialisasi dan pemasaran modern rokok kretek,” pungkas Yusak Maulana.

Haji Mas Ashadie: Saudagar “Cap Delima” dari Kudus

Di tengah deretan nama besar dalam sejarah industri kretek Indonesia, nama Haji Mas Ashadie mungkin nyaris tak terdengar. Namun bagi masyarakat Kudus, ia adalah salah satu pionir yang ikut menyalakan bara bisnis rokok kretek sejak awal abad ke-20. Lahir dengan nama Moersodo pada 1894, putra sulung dari Atmowidjojo. Ia mengganti namanya menjadi Ashadie setelah menunaikan ibadah haji pada 1913.

“Dari sini, babak baru kehidupannya sebagai saudagar kretek bermula. Ashadie memulai sebagai pengusaha dengan mendirikan Pabrik Rokok Cap Terong pada 1916, yang kelak lebih dikenal dengan nama Cap Delima. Meski memulai dari skala kecil, pabrik ini tumbuh pesat hingga mempekerjakan sekitar 4.000 buruh,” tutur Yusak Maulana, salah seorang keturunan H.M. Ashadie, Sabtu (28/6/2025).

Produksi rokok kretek hariannya, lanjut Yusak Maulana, mencapai empat juta batang rokok klobot. Sejumlah produk tersebut menyebar ke berbagai kota besar, mulai dari Semarang, Jakarta, hingga Banyuwangi dan Lampung. Di masa kejayaannya, Cap Delima menjadi salah satu merek kretek paling dikenal di Tanah Air.

Keberhasilan Ashadie tak lepas dari kiprahnya membangun kompleks rumah sekaligus kantor produksi di kawasan Demangan, Kudus. Bangunan bergaya klasik yang berdiri sejak 1931 itu bukan hanya menjadi pusat operasional bisnis, tetapi juga tempat bersejarah bagi keluarga besarnya, lanjut Yusak.

Di halaman yang cukup hangat matahari pagi, Yusak, begitu dia biasa disapa, kemudian bercerita tentang bangunan megah seluas kurang lebih 2.000 meter persegi yang berada di bilangan Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus ini. Berdasarkan penuturannya, di sinilah Ashadie tinggal serta mendirikan Pabrik Rokok (PR) Delima.

“Bangunan ini adalah salah satu bagian penting dari sejarah industri rokok di Kudus. Kantor ini selesai dibangun pada 1931, bertepatan dengan kelahiran H. Foead Ashadie, salah satu putra H.M. Ashadie,” terangnya sembari menunjuk sejumlah bangunan tua yang tampak masih berdiri kokoh di dekatnya.

Pembangunan kantor tersebut, lanjutnya, tak dibuat sekaligus; namun bertahap, sejalan dengan pembelian lahan yang juga dilakukan dalam beberapa fase. Dari segi bentuk bangunan, desainnya klasik menyesuaikan arsitektur yang berkembang saat itu. Kantor ini tak hanya jadi saksi bisu perjalanan industri rokok di Kudus, namun juga lekat dengan kehidupan pribadi HM Ashadie.

“Di jendela kantor masih tertera tulisan “Selamet Masoek” dan logo HMA, inisial dari Haji Mas Ashadie. Bahkan, pintu utama kantor dihiasi ukiran grafir logo Cap Delima yang dibuat sendiri oleh Ashadie, sebuah sentuhan pribadi yang mengisyaratkan kecintaan mendalam terhadap usahanya,” pungkas pegiat komunitas Cerita Kudus Tuwa (CKT).

Dilansir dari https://inibaru.id/adventurial/pabrik-rokok-delima-dan-masa-jaya-hm-ashadi-di-kudus? , bahwa lebih dari sekadar kantor, tempat ini menjadi ruang berkumpul keluarga, menjamu relasi bisnis, hingga menjadi lokasi pesta pernikahan anak-anak Ashadie. Dalam narasi keturunannya, bangunan tersebut menyimpan kenangan hangat dan menjadi simbol perjalanan hidup sang saudagar.

Di balik kesuksesan Cap Delima, Ashadie tak berjalan sendiri. Ia didampingi oleh dua perempuan tangguh: istri pertamanya, Mas’amah, yang selalu menanamkan nilai kerukunan dan doa dalam keluarga, serta Fatimah, perempuan keturunan Belanda asal Temanggung, yang dikenal sebagai Master Saus.

Fatimah memiliki keahlian meracik aroma khas saus tembakau yang menjadi rahasia cita rasa rokok kretek Cap Delima. Racikan saus tembakau buatannya disimpan di Gudang Murni, bangunan yang kini menjadi bagian dari Pondok Ma’had Muallimat sejak gudang tersebut berpindah tangan pada 2011.

Haji Mas Ashadie wafat mendadak pada 1952. Namun jejaknya masih terpatri kuat dalam sejarah industri rokok kretek Kudus. Potret dirinya masih terpajang di kediaman keluarga, menjadi pengingat abadi bahwa di balik kemasyhuran Kudus sebagai Kota Kretek, ada sumbangsih besar dari seorang saudagar yang bernama Ashadie, sang perintis Cap Delima.

Kompleks Makan Sunan Kudus: Rajah Kalacakra

Meski sudah memasuki era modern, di Kudus selama ini masih berkembang mitos bahwa pejabat atau penguasa yang berani melewati Jembatan Tanggulangin dan kawasan Menara Kudus akan lengser dari jabatannya. Sedangkan di kawasan Menara Kudus, yakni di pintu gerbang depan kompleks Masjid Menara Kudus.

Rohmat Hidayatullah, pegiat komunitas Lelana Kudus, menjelaskan bahwa mitos di pintu gerbang depan kompleks Masjid Menara Kudus itu tak terlepas dari kisah tentang Rajah Kalacakra yang dipasang Sunan Kudus. Konon, Kangjeng Sunan Kudus sangat tidak suka terhadap orang yang sok-sokan berkuasa, serta penguasa yang tak amanah.

Karena itu, lanjutnya, Kanjeng Sunan Kudus, memasang ajian Rajah Kalacakra di pintu masuk utama ke area Komplek Masjid Menara Kudus, dan juga area yang kelak menjadi makamnya. Siapa saja yang melintasi pintu yang terpasang Rajah Kalacakra itu, maka kesaktian, kedigdayaan, dan kekuasaannya akan luntur.

“Hingga kini dipercaya bahwa banyak pejabat yang enggan berziarah ke Makam Sunan Kudus maupun Masjid Menara, sebab mereka takut jabatannya akan luntur atau lengser. Rajah Kalacakra dipasang oleh Sunan Kudus sebagai upayanya memediasi konflik pewaris Dinasti Kerajaan Demak,” jelas Rohmat Hidayatullah, Sabtu (28/6/2025).

Penerus tahta berikutnya setelah wafatnya Pati Unus, sultan kedua Kesultanan Bintoro Demak, yakni Sultan Trenggono tidak didukung oleh kalangan internal. Pasalnya, ada dua sosok berkonflik, yakni Sultan Hadiwijaya dengan Aryo Penangsang. Keduanya menemui Sunan Kudus, Sunan menghendaki semua kembali pada titik nol yakni meninggalkan politik, jabatan atau kekuasaan, imbuhnya.

“Sunan Kudus memasang Rajah Kalacakra untuk menihilkan semua kekuatan, kedigdayaan dan kekuasaan bagi pihak yang berkonflik bisa melewati pintu rajah. Aryo Penangsang yang datang ke Sunan Kudus malah melewati pintu itu hingga hilang kesaktian, dan kedigdayaannya,” pungkas pegiat komunitas Lelana Kudus.

Masjid Langgardalem

Selain Masjid Menara Kudus, di Kota Kudus, pun ada masjid bersejarah yang cukup tua, yakni Masjid Langgardalem. Masjid ini berlokasi di Desa Langgardalem, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Banyak yang menyebut masjid ini dulunya adalah tempat tinggal Sunan Kudus. Bahkan konon, bangunan ini disebut lebih tua dari Menara Kudus.

Rohmat Hidayatullah, pegiat komunitas Lelana Kudus, menjelaskan bahwa terdapat kode tahun yang terukir pada batu di bagian lantai pintu depan masjid. Ukiran itu memiliki gambar mirip trisula yang dililit nagaatau diistilahkan dengan “trisulo pinulut nogo”. Trisulo melambangkan angka 3, pinulut melambangkan angka 6, dan nogo melambangkan angka 8.

“Urutan menyusun angkanya dibalik, jadi 863. Maka, diperkirakan Masjid Langgardalem didirikan pada tahun 863 H atau 1458 M. Ini menandakan bangunan Masjid Langgardalem lebih lama daripada Menara Kudus,” jelas Rohmat Hidayatullah, Sabtu (28/6/2025).

Masjid Langgardalem berjarak 200 meter dari Menara Kudus. Bangunan masjid tampak dengan atap perundak dihiasi mustoko. Di masjid ini banyak dihiasi dengan ornament-ornamen kuno yang antik dan unik. Hal ini dapat kita ketahui ketika masuk ke dalam Masjid Langgardalem, disambut dengan gapura tiga pintu. Masjid ini konon tempat tinggalnya Sunan Kudus, lanjutnya.

Bagian pintu utama berada di tengah, tambahnya, yang langsung terhubung dengan posisi imam. Kemudian pintu sebelah kanan mengarah ke pesantren dan pintu sebelah kiri menuju area wudu. Ruang utama masjid ini terdapat empat soko atau tiang kayu dengan umpak sebagai pondasinya. Selain itu, jendela kayu dengan model kuno.

“Keunikan lainnya, terdapat ukiran di beberapa dinding masjid. Ornamen Hindu-Budha yang terbalut dalam religi IsIam, menambah kesan akulturasi budaya yang digambarkan Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus. Hingga saat ini masih masjid ini masih dirawat dan difungsikan sebagai tempat ibadah oleh masyarakat sekitar,” pungkas pegiat komunitas Lelana Kudus.

Joglo Pencu: Rumah Adat Kudus

Di jantung Desa Langgardalem, Kecamatan Kota Kudus, berdiri anggun sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan budaya masyarakat Kudus. Rumah adat milik keluarga Ibu Fatkhawati ini dikenal luas dengan sebutan Joglo Pencu atau Joglo Kudus. Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan arsitektur yang memancarkan kekayaan nilai-nilai budaya dan spiritualitas yang telah berakar sejak berabad-abad lalu.

Dilansir dari https://jdih.kuduskab.go.id/file/SK_No__432_2-220-2023_ttg_BCB_RAK_Langgardaelm_2023_sign.pdf, Joglo Pencu ini telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Kabupaten oleh Pemerintah Kabupaten Kudus pada tahun 2023 dengan Surat Keputusan Bupati Kudus Nomor:432.2/220/2023 pada 8 September 2023. Penetapan ini menjadi bentuk pengakuan resmi atas pentingnya pelestarian rumah adat ini sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

Keistimewaan utama dari Rumah Adat Kudus ini terletak pada kemampuannya menyerap dan menyatukan unsur-unsur dari berbagai kebudayaan besar yang pernah berinteraksi di tanah Kudus. Perpaduan arsitektur dan ornamen rumah ini mencerminkan hasil akulturasi budaya Jawa (Hindu), Islam (Persia), Tionghoa (Cina), dan Eropa (Belanda).

Budaya Jawa-Hindu hadir melalui bentuk dasar rumah joglo dan tatanan ruang yang mengikuti konsep kosmologi Jawa, seperti pembagian ruang pendhapa, pringgitan, dalem, hingga senthong. Nuansa Islam (Persia) tergambar dari motif kaligrafi dan pengaruh nilai-nilai spiritualitas yang kuat dalam penempatan dan orientasi ruangan.

Sedangkan Pengaruh Tionghoa tampak jelas pada bentuk atap limasan dan ragam hias berupa ukiran awan, bunga teratai, dan naga yang menghiasi tiang maupun pintu rumah. Pun sentuhan Eropa, khususnya Belanda, muncul pada desain kaca patri, jendela berdaun ganda, serta penggunaan bahan bangunan seperti ubin yang bercorak khas.

Perpaduan ini tidak hanya memperindah tampilan rumah, tetapi juga menjadi simbol toleransi dan keterbukaan masyarakat Kudus dalam menerima berbagai unsur budaya luar tanpa kehilangan jati dirinya.

Secara fisik, Joglo Pencu memiliki ciri khas berupa atap joglo yang disebut “pencu”, yakni bentuk joglo bersusun yang lebih tinggi di bagian tengah dan meruncing ke atas. Atap ini mencerminkan filosofi spiritual: hubungan manusia dengan Tuhan (vertikal), serta hubungan antarsesama manusia (horizontal), yang harus dijaga dalam keseimbangan.

Interior rumah dipenuhi dengan ukiran-ukiran halus nan kompleks, yang mencerminkan tingkat keahlian pengrajin kayu Kudus yang sudah tersohor. Ragam hias tidak hanya menjadi ornamen visual, tetapi mengandung makna filosofis dan religius, seperti simbol keabadian, keseimbangan alam, dan harapan akan kehidupan yang harmonis.

Selain berfungsi sebagai rumah tinggal, rumah ini juga menjadi pusat kegiatan budaya dan tradisi masyarakat Kudus. Tidak jarang, rumah ini menjadi tempat berlangsungnya acara keagamaan, pengajian, kenduri, hingga kegiatan edukasi budaya yang melibatkan generasi muda.

Keluarga Ibu Fatkhawati sebagai pemilik rumah tidak hanya menjaga keutuhan fisik bangunan, tetapi juga terus merawat nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Ini menjadikan Rumah Adat Kudus bukan sekadar artefak arsitektural, tetapi juga sebagai ruang hidup yang penuh makna dan berdaya spiritual.

Mengapa Warga Kudus Tak Sembelih Sapi Meski pada Iduladha

Menikmati Makan Siang dengan Soto Kebo di Rumah Batik-ku Kudus

Salah satu kearifan lokal masyarakat Kabupaten Kudus itu masih bertahan hingga saat ini, yakni tak menyembelih sapi saat Iduladha, namun menggantikannya dengan kerbau. Sejarah di balik penyembelihan kerbau oleh masyarakat merujuk pada sikap Sunan Kudus, salah satu Walisongo. Hal itu untuk menghormati penduduk Kudus yang kala itu mayoritas masih beragama Hindu.

Sunan Kudus mengetahui betul, bahwa sapi merupakan hewan yang begitu dihormati dan dimuliakan oleh masyarakat Hindu. Lantaran itu, ia khawatir penyembelihan sapi dapat menyakiti mereka. Sunan Kudus melarang penyembelihan hewan ternak (sapi) oleh para pengikutnya agar tak menyinggung masyarakat Hindu yang hidup berdampingan di sekitarnya, seperti yang dijelaskan Rohmat Hidayatullah, pegiat komunitas Lelana Kudus.

Kenyataan ini menggambarkan upaya strategis Sunan Kudus menyebarkan agama Islam dengan penuh kasih sayang (rahmatan lil ’alamin) bagi masyarakat Kudus secara umum,” tulisnya. Ia menyebut bahwa garis dakwah Sunan Kudus bahkan menjadi ordonansi yang tak tertulis adalah kebijaksanaannya.

Realitas ini, lanjutnya, menunjukkan betapa Sunan Kudus menempuh strategi dakwah yang sarat dengan kelembutan dan welas asih, sejalan dengan semangat rahmatan lil ‘alamin bagi seluruh lapisan masyarakat Kudus. Dakwah beliau, meskipun tidak tertulis dalam aturan resmi, menjelma menjadi semacam pedoman moral yang mencerminkan kearifan dan kebijaksanaannya dalam menyebarkan ajaran Islam.

“Bentuk toleransi dan akulturasi tak hanya tak menyembelih sapi, namun arsitektur Masjid Al-Aqsha di Kudus juga sarat akan unsur-unsur Hindu,” pungkas pria pegiat komunitas Lelana Kudus, Sabtu (28/6/2025).

Omah Kembar, Peninggalan Kejayaan Nitisemito, Raja Kretek

Omah Kembar atau Rumah Kembar yang masih berdiri kokoh, meski sebagian tampak rapuh lantaran dimakan usia, adalah saksi peninggalan Nitisemito sebagai Raja Kretek asal Kudus, Jawa Tengah, ia berjaya di era 1922-1940. Omah Kembar itu berada di Jalan Sunan Kudus di Desa Demangan Kecamatan Kota, Kudus. Omah Kembar itu mengapit sisi barat dan timur Sungai Gelis.

Omah Kembar itu tidak lagi dihuni keluarga Nitisemito. Rumah itu dibiarkan kosong, di sisi timur tampak tertutup oleh pagar. Di sekitarnya pun terlihat dikelilingi rumput. Berbeda dengan Omah Kembar di timur, sisi barat terlihat tertutup oleh gerbang. Kondisi kedua rumah kembar ini sama-sama kosong tak dihuni lagi

Omah Kembar dibangun sekitar tahun 1926-an, namun tampak bangunan itu masih kokoh berdiri. Rumah itu dibuat untuk anak pertama dan kedua Nitisemito. Anak yang tua di Omah Kembar bagian timur, sedangkan anak yang muda di Omah Kembar sebelah barat, sebagaimana dijelaskan oleh Rohmat Hidayatullah, pegiat komunitas Lelana Kudus, Sabtu (28/6/2025).

“Kedua Omah Kembar itu dibangun seorang arsitektur orang Belanda. Ada balkon, kamar cuma dua, kamar mandi satu. Kemudian dapurnya panjang sama untuk jamuan makan. Ke belakang paviliun, saat ini masih utuh. Luasnya 6.000 meter. Omah Kembar ini seperti rumah kuno orang Eropa,” pungkas pria pegiat komunitas Lelana Kudus.

*

Chrisyandi Tri Kartika, Ketua PSL, saat menutup rangkaian “PSL Goes to Kudus” dengan tagline-nya #blusukanedan mengatakan bahwa acara ini tak sekadar jalan-jalan, namun juga mengulik keragaman aksitekturnya, juga budaya dan kearifan lokal setempat. Arsitektur kuno maupun budaya dan kearifan lokal sebagai akulturasi dari pengaruh budaya Hindu, budaya Islam dan maupun Eropa menarik untuk dikulik.

“#BlusukanEdan di Kota Kudus yang sarat sejarahnya adalah upaya menyadarkan masyarakat menghargai warisan budaya dan kearifan lokalnya. Kudus memiliki potensi selain sebagai sektor wisata sejarah, arsitektur, budaya dan kearifan lokal, juga dapat mengangkat ekonomi kreatif masyarakat sekitar. Seperti adanya berbagai oleh-oleh, sovenir dan pernak-pernik kerajinan tangan,” pungkas Pustakawan di Universitas Ciputra Surabaya.

Adapun anggota PSL yang terdaftar turut serta giat #BlusukanEdan dengan tajuk “PSL Goes to Kudus” yakni: Yoshi/Sylvi, Nuradhi, Citra, Imu, Engkong Hartono, Ali, Agris, Lala, dr. Dhini, Adree, Maya, Pak O, Ririe, Devi, Tegar, Ratri, Bojo Ratri, Totok, SPM, Nur B., dan Risma. (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”

Kota Pati, Jawa Tengah

Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”

Kota Kudus, Jawa Tengah

Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”
Kudus: Kota Kretek Punya Cerita dalam Rangkaian “PSL Goes to Kudus”

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *