Meski Tak Direncana, Bisa #blusukanedan Kulik R.S. Al-Irsyad dan Hotel Kemajuan
Ada cara-cara sederhana yang diam-diam justru menyimpan makna dalam, dalam hidup. Di tengah kebiasaan merayakan ulang tahun dengan gemerlap dan keramaian, selalu ada pilihan lain yang lebih senyap, namun justru lebih bermakna, yakni: merayakan dengan kehadiran, dengan kebersamaan, dan dengan rasa syukur yang mendalam.
Sebagian orang memilih merayakan ulang tahun bukan dengan pesta yang riuh, melainkan dengan kue sederhana dan lilin-lilin kecil yang ditiup sambil melangitkan harapan dalam suara lirih. Bukan kemeriahannya yang dicari, melainkan maknanya yang ingin direngkuh.
Ia memilih suasana yang hangat dengan duduk lesehan bersama di hamparan karpet, berbagi cerita, dan menyadari bahwa usia yang bertambah bukan sekadar angka, melainkan kesempatan untuk bersemangat kembali dan belajar bersyukur.
Begitulah kiranya suasana yang menyelimuti perayaan ulang tahun Agris Rizki N.F. di kawasan Ampel, Surabaya, bersama kawan-kawan PSL (Pernak-Pernik Surabaya Lama), komunitas pemerhati arsitektur lawas beserta pernak-perniknya.
Sore itu, langkah kaki kami mengarah ke Noor Ayla Arabic Resto. Sebuah tempat yang tak hanya menawarkan hidangan, namun juga pengalaman rasa khas Timur Tengah. Aroma rempah telah menyambut sejak pintu dibuka, seolah menjadi salam pembuka yang hangat.
Aroma itu seperti mengundang percakapan tanpa perlu kata. Satu per satu dari kami, dua belas orang seluruhnya, hadir membawa cerita masing-masing, lalu menyatukannya dalam suasana yang hangat dan bersahaja.
Di gelaran karpet itu, Agris, panggilan akrabnya, duduk dengan senyum yang tak berlebihan, namun cukup untuk menjelaskan bahwa hari itu ia maknai lebih dalam. Ulang tahun, dalam pertemuan ini, bukan lagi sekadar momentum personal.
Namun, ia menjelma menjadi ruang bersama untuk mengingat bahwa hidup ini selain ditopang oleh Allah SWT, namun juga ditopang oleh banyak hal lain, yakni: oleh orangtua dan saudara, oleh teman, oleh waktu, serta oleh kesempatan yang sering datang tanpa kita rencanakan.
Hidangan demi hidangan tersaji. Dua nampan Nasi Ayla: perpaduan nasi kebuli, nasi mandhi, dan nasi biryani, lengkap dengan daging kambing dan ayam yang empuk serta bumbu yang meresap. Tak ketinggalan aneka gulai, sambosa, roti maryam, dan minuman segar dengan sentuhan rempah khas.
Pun lebih dari sekadar makanan, yang terasa adalah bagaimana hidangan menjadi medium untuk mempererat kebersamaan. Tawa kecil, celetukan ringan, hingga obrolan yang mengalir tanpa arah jelas, semuanya membentuk satu hal sederhana namun berharga. Rasa hadir sepenuhnya.
Dalam suasana seperti itu, rasa syukur menemukan bentuknya yang paling sederhana. Ia tak datang dari kata-kata yang disusun rapi, melainkan dari kesadaran bahwa kebersamaan ini tak selalu bisa diulang. Menyatukan tak sepenuhnya mudah, semua punya waktu dan kesibukan masing-masing.
Pun kita menyadari bahwa waktu yang terus berjalan, ada pertemuan yang tak selalu bisa dijadwalkan ulang. Maka, duduk bersama di karpet sambil lesehan, dalam satu waktu yang sama, menjadi kemewahan yang sering luput kita sadari.
Azan Maghrib pun menyapa. Langkah kami beralih menuju Rumah Sakit Al-Irsyad Surabaya yang baru. Di sana, kami menunaikan salat Maghrib berjamaah. Suasana berubah menjadi lebih hening, lebih khusyuk. Jika sebelumnya dipenuhi tawa dan percakapan, kini yang hadir adalah hening yang menenangkan.
Yakni sebuah jeda yang mengingatkan bahwa di tengah segala kesibukan dan perayaan, selalu ada ruang untuk kembali menunduk, mengakui keterbatasan, dan menyerahkan harap kepada Yang Maha Mengatur.
Perjalanan tak berhenti di sana. Kami melintas skybridge, menuju bangunan lama Rumah Sakit Al-Irsyad. Ada bagian lain dari tempat itu yang menyimpan jejak waktu. Kami menyusuri sudut-sudutnya, dan dinding-dinding yang seolah menyimpan cerita masa lalu.
Yakni, tentang pasien yang berharap sembuh kepada Yang Maha Penyembuh, tentang tenaga medis yang berjibaku, dan tentang kisah-kisah lama yang tersimpan dalam ingatan Hamid Nabhan, keturunan dari salah satu pendiri Hotel Kemajuan, yang kami bertemu tanpa rencana.
Lantas momen eksplorasi itu menghadirkan sensasi yang berbeda: antara terpana dan takjub, setiap tempat menyimpan cerita yang tak selalu bicara. Dan dalam keheningan ruang-ruang itu, kami seperti diajak mendengar perjalanan waktu yang tak pernah benar-benar pergi.
Ketika senja mulai meremang, kami keluar rumah sakit itu dan menyusuri Jalan K.H. Mansyur, Ampel. Cahaya lampu perlahan menggantikan sinar matahari. Aktivitas warga tetap berjalan, namun nuansanya terasa berbeda, lebih tenang, lebih reflektif.
Maka, seolah petang itu ikut mengajak siapa saja untuk berjalan lebih pelan dan melihat lebih dalam. Hamid Nabhan menemani langkah kami. Sesekali ia berhenti di depan bangunan rumah lawas, lalu bercerita tentang Ampel: tentang sejarahnya, tentang perubahan yang ia saksikan dari waktu ke waktu.
Cerita-cerita itu menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Bumi Ampel yang kami pijak bukan sekadar ruang geografis, melainkan ruang sejarah yang hidup. Perjalanan sore itu ditutup dengan ajakan yang tak terduga, mengulik Hotel Kemajuan, sebuah hotel legendaris di kawasan tersebut.
Bangunannya berdiri dengan karakter kuat, seolah menolak dilupakan oleh zaman. Pun di antara dinding-dindingnya, kami seperti diingatkan bahwa setiap jejak masa lalu selalu punya cara untuk tetap hidup, selama ada yang bersedia mengenangnya.
Di sana, kami kembali menyadari, waktu memang terus berjalan, namun jejaknya tetap tinggal bagi siapa saja yang mau mengliknya. Pada akhirnya, ulang tahun Agris tak lagi tentang dirinya semata. Ia menjadi titik temu bagi banyak hal: kebersamaan, sejarah, spiritualitas, dan rasa syukur.
Hari itu mengajarkan satu hal sederhana yang sering terlupa, kebahagiaan tak selalu harus dicari jauh-jauh. Ia bisa hadir dalam pertemuan yang tulus, dalam langkah yang pelan, dalam percakapan yang apa adanya.
Pun mungkin, di situ salah satu cara memaknai dari bertambahnya usia. Bukan tentang seberapa banyak yang telah kita capai, melainkan seberapa dalam kita mampu merasakan, menghargai, dan mensyukuri setiap momen yang diberikan.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang berjalan ke depan, namun juga tentang tahu kapan harus berhenti sejenak untuk menyadari bahwa kita sudah cukup, bahwa kita tak sendiri, dan bahwa rasa syukur selalu punya jalan untuk pulang. (Ali Muchson)
Biar Foto Bicara
Ketika Ulang Tahun Menjadi Jalan Pulang Rasa Syukur – Suatu Sore di Ampel































