Saat Kekasaran Mendapat Tepuk Tangan dan Tawa

  • EDUKASI
Saat Kekasaran Mendapat Tepuk Tangan dan Tawa
Share this :

Tentang Kata-Kata, Keteladanan, dan Tanggung Jawab di Ruang Publik

Ada kalanya kita lupa bahwa kata-kata tak sekadar rangkaian bunyi yang selesai ketika keluar dari mulut. Kata-kata dapat tinggal lebih lama dan menjelma menjadi kesan daripada suara yang diucapkannya. Ia bisa menyentuh hati, membangun semangat, namun juga dapat melukai, merendahkan, bahkan meninggalkan jejak yang sulit dihapus.

Karena itu, ruang publik semestinya menjadi tempat untuk menyampaikan gagasan dengan bahasa yang santun, sekalipun terdapat perbedaan pendapat. Kritik atau sekadar mengingatkan jika memang berdasar pada data maupun fakta boleh tajam, namun ketika meresponsnya tak harus dengan kata-kata kasar.

Ketegasan tak mesti disampaikan dengan bahasa bernada umpatan. Sebab, cara seseorang memilih kata sering kali memperlihatkan bagaimana ia menghargai orang lain sekaligus bagaimana ia menempatkan dirinya sendiri.

Yang perlu dihindari adalah kebiasaan melontarkan kata-kata kasar di ruang publik, terlebih ketika kata-kata itu disampaikan dengan nada merendahkan, ekspresi penuh kemarahan, atau gestur yang memperkuat maknanya. Itu tak sekadar persoalan gaya berbicara. Di hadapan banyak orang, ucapan semacam itu dapat berubah menjadi pertunjukan panggung yang dianggap wajar.

Ironisnya, ketika seseorang melontarkan kata-kata kasar dalam sebuah forum, sebagian orang justru menyambutnya dengan tepuk tangan dan tawa. Padahal, tepuk tangan dapat dimaknai sebagai bentuk persetujuan. Tawa pun dapat membuat sesuatu yang semestinya dikoreksi terasa seperti lelucon yang layak diulang.

Di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri, yakni apakah setiap sesuatu yang mengundang tawa memang pantas ditertawakan? Apakah sesuatu yang mendapat tepuk tangan otomatis menjadi benar? Memilih sikap diam barangkali lebih baik, itu sebagai pertanda sikap keprihatinan.

Keberanian untuk mengingatkan justru merupakan bagian dari kedewasaan. Tak perlu dengan kemarahan. Cukup dengan mengingatkan bahwa ada batas antara ketegasan dan kekasaran, antara keberanian berbicara dan kebebasan melukai perasaan orang lain.

Terlebih apabila kata-kata itu datang dari seorang pemimpin, tokoh masyarakat, pemuka agama, atau figur yang memiliki pengaruh luas. Masyarakat tak hanya mendengarkan apa yang dikatakannya, namun juga melihat bagaimana ia mengatakannya. Lalu, berkesimpulan seberapa kualitas sosoknya.

Wibawa seorang pemimpin, tokoh masyarakat, dan pemuka agama maupun figur yang memiliki pengaruh luas bukan semata-mata lahir dari jabatan atau kekuasaan yang pegang, melainkan juga dari kemampuan menjaga tutur kata, sikap, dan penghormatan kepada sesama.

Pada era digital seperti sekarang, ruang publik pun telah berubah. Ia tak lagi sekadar ruangan yang dibatasi dinding. Sebuah ucapan dapat direkam, diunduh, dibagikan, dikomentari, lalu beredar jauh melampaui batas tempat dan waktu dari sejak ketika ucapan itu kali pertama dilontarkan.

Audiensnya pun bukan hanya orang-orang yang berada di dalam forum, pengikut, pendukung, atau orang-orang yang memiliki pandangan sama. Anak-anak sekolah, para santri, Gen Z, Gen Alpha, maupun generasi, bahkan mereka yang tak mengenal sosok tersebut pun dapat menyaksikannya.

Mereka sedang belajar. Mereka membutuhkan contoh dari orang-orang dewasa. Lebih-lebih dari figur yang seharusnya menjadi sosok yang memiliki sikap keteladanan. Anak-anak tak hanya belajar dari nasihat yang diucapkan, namun juga dari perilaku yang mereka dapat dan lihat, yang bersliweran di media sosial.

Lalu, apa yang akan mereka pelajari apabila figur yang seharusnya menjadi teladan justru memperlihatkan kebiasaan berbicara kasar, merendahkan, atau tak mampu mengendalikan diri? Jika itu yang dilihat, tanpa disadari bukankah kita sedang mengajarkan bahwa kekasaran adalah cara yang sah untuk menunjukkan kekuasaan?

Tulisan ini lahir dari sebuah keresahan. Bukan untuk menunjuk siapa yang paling salah atau siapa yang paling benar, melainkan sebagai pengingat bagi kita semua. Negeri ini membutuhkan semakin banyak figur yang arif dalam berbicara, bijak dalam bersikap, dan mampu menjaga kewibawaan tanpa harus merendahkan orang lain.

Sebab, seorang pemimpin semestinya tak meninggalkan kata-kata yang kemudian menjadi bahan olok-olokan bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin seharusnya meninggalkan keteladanan yang membuat masyarakat ingin belajar, bukan sekadar bahan untuk ditertawakan dengan tepuk tangan.

Ada pepatah sederhana: ketika kita melempar bola ke dinding, bola itu pun akan kembali kepada kita. Begitu pula dengan kata-kata. Apa yang kita lontarkan kepada orang lain, suatu ketika dapat memantul kembali dan menampar muka kepada diri kita sendiri.

Maka, sebelum kata-kata, apalagi kata-kata kasar terlepas dari mulut, barangkali ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya: ā€Apakah ucapan ini akan membuat suasana menjadi lebih baik, atau justru menciptakan kegaduhan-kegadukan?ā€

Lantaran pada akhirnya, cara kita berbicara bukan hanya tentang orang lain yang mendengarnya. Ia juga merupakan cermin tentang siapa diri kita. Sebab, dari kata-kata yang kita pilih, orang lain dapat membaca nilai, sikap, dan cara kita menghargai sesama. Hidup di dunia saja tak langgeng, apalagi hanya kekuasaan. (Ali Muchson)

Featured image: by ChatGPT/alisson

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *