SURABAYA â Pemerintah Kota Surabaya bersama Komunitas Surabaya Juang Indonesia dan Komunitas Pecinta Sejarah Surabaya kembali menyelenggarakan Parade Surabaya Juang 2026 pada Minggu, 1 November 2026.
Dengan mengusung tema âSuroboyo Waniâ, parade kepahlawanan ini dimulai dari kawasan Tugu Pahlawan dan berakhir di Alun-Alun Surabaya, dengan melintasi sejumlah ruas jalan bersejarah di pusat kota.
Diselenggarakan sejak 2009, Parade Surabaya Juang tak sekadar agenda tahunan dalam menyambut Hari Pahlawan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan gerakan budaya untuk menjaga dan merawat memori kolektif bangsa, sekaligus mewariskan jiwa keberanian, semangat perjuangan, dan kecintaan terhadap tanah air kepada generasi penerus.
Melalui seni pertunjukan, teatrikal sejarah, kostum perjuangan, serta keterlibatan berbagai elemen masyarakat, parade ini menjadi ruang publik untuk menghadirkan kembali sejarah perjuangan bangsa. Sejarah tak hanya dikenang sebagai cerita masa lalu, namun juga dihidupkan sebagai sumber nilai, pembelajaran, dan inspirasi bagi kehidupan masa kini.
Berawal dari Gerakan Budaya Berpakaian Pejuang
Heri Lentho, founder Yayasan Surabaya Juang, menuturkan bahwa Parade Surabaya Juang lahir pada 2009. Pada awal perkembangannya, gerakan ini mendorong tumbuhnya budaya berpakaian pejuang di kalangan pelajar dan aparatur sipil negara (ASN) Kota Surabaya sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa.
âSeiring waktu, gagasan tersebut berkembang menjadi parade kepahlawanan yang melibatkan berbagai elemen, yakni: komunitas sejarah, seniman, pemuda, pelajar, veteran, dan berbagai unsur masyarakat,â lanjutnya.
Gerakan mengenakan atribut perjuangan ini tak sekadar simbol atau kostum seremonial. Di balik pakaian para pejuang tersimpan pesan mendalam tentang keberanian mengambil sikap, kesediaan berkorban, solidaritas sosial, serta tanggung jawab dalam menjaga kemerdekaan, pungkas seniman pemilik nama asli Heri Prasetyo.
Dalam perjalanannya, Parade Surabaya Juang tumbuh menjadi salah satu ruang ekspresi kebudayaan yang mempertemukan sejarah, seni, pendidikan, dan partisipasi masyarakat. Sebuah ikhtiar bersama untuk menjadikan peringatan Hari Pahlawan tak hanya sebagai seremoni tahunan, melainkan momentum pembelajaran sejarah yang hidup dan bermakna.
âSuroboyo Waniâ: Dari Semangat Perjuangan Menuju Tanggung Jawab Masa Kini
Tema âSuroboyo Waniâ pada Parade Surabaya Juang 2026 mengangkat kembali karakter keberanian Arek-Arek Suroboyo yang mencapai salah satu puncaknya dalam Pertempuran 10 November 1945. Pahlawan boleh menjadi bagian dari masa lalu, namun keberaniannya tak boleh ikut berlalu.
Keberanian tersebut tak semata-mata dimaknai sebagai keberanian mengangkat senjata. Jiwa itu tumbuh dari karakter masyarakat yang egaliter, guyub, pantang menyerah, serta memiliki solidaritas kuat ketika menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
Semangat tersebut juga tercermin dalam ungkapan bondo nekat atau bonek: mengerahkan seluruh modal yang dimiliki, baik ilmu, tenaga, pikiran, persaudaraan, keyakinan, maupun karakter, untuk menghadapi tantangan dan bertanggung jawab atas pilihan perjuangan.
Dalam konsep Parade Surabaya Juang 2026, nilai keberanian itu dihadirkan melalui kisah Sugiarto, pemain Persebaya era 1930-an yang dikenang karena meninggalkan lapangan sepak bola untuk turut mempertahankan Surabaya dan kemerdekaan Indonesia.
Kisah Sugiarto menjadi simbol bahwa perjuangan tak hanya milik mereka yang berada di medan pertempuran. Setiap orang memiliki ruang dan kesempatan untuk mengambil bagian. Generasi terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan republik ini dengan pengorbanan jiwa dan raga.
Nah, di pundak generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, kebudayaan, olahraga, kreativitas, ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Karena itu, âSuroboyo Waniâ menjadi ajakan agar keberanian tak berhenti sebagai slogan, melainkan menjelma menjadi tindakan nyata: wani belajar, wani (berani) berkarya, wani berprestasi, wani menjaga persaudaraan, dan wani bertanggung jawab terhadap masa depan kota.
Menghadirkan Sejarah di Ruang Publik
Parade Surabaya Juang 2026 dirancang sebagai perjalanan dramatik yang menghadirkan kembali rangkaian peristiwa perjuangan, mulai dari kisah tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan hingga perlawanan Arek-Arek Suroboyo dalam mempertahankan Republik Indonesia.
Berdasarkan rancangan kegiatan, parade menempuh jarak sekitar 2,5 kilometer, dimulai dari Tugu Pahlawan pukul 14.30 WIB dan berakhir di kawasan Alun-Alun Surabaya atau Balai Pemuda. Sejumlah titik di sepanjang rute akan menjadi ruang pertunjukan teatrikal sejarah, termasuk kawasan Gedung Siola dan depan Hotel Majapahit.
Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia, mengatakan bahwa adegan pembuka di Tugu Pahlawan mengangkat kisah Sugiarto yang meninggalkan lapangan sepak bola untuk bergabung dalam perjuangan mempertahankan Surabaya. Sementara itu, di kawasan Siola, teatrikal menghidupkan kisah perjuangan Tentara Genie Pelajar (TGP) serta pertahanan Tunjungan.
Beranjak ke depan Hotel Majapahit, tambahnya, parade dirancang menghadirkan prosesi penghormatan kepada Bendera Merah Putih sebagai pengingat atas perjuangan dan pengorbanan para pendahulu bangsa.
âRangkaian kegiatan kemudian berlanjut hingga kawasan Balai Pemuda, dengan berbagai atraksi yang merefleksikan semangat Pertempuran 10 November 1945,â pungkas salah satu dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Parade ini melibatkan berbagai elemen masyarakat Surabaya, antara lain: veteran, TNI dan Polri, Paskibraka, komunitas pecinta sejarah, pelajar, pemuda, komunitas seni, dan kelompok masyarakat lainnya, serta reenactor dari berbagai kota di antaranya dari: Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Malang, Madura, Tulungagung, Trenggalek, Ngawi, Boyolali, Solo, Klaten,Yogyakarta, Magelang, Temanggung, Bandung, Jakarta, Banyuwangi, dan Bali. Bahkan seorang penulis dari Belanda, Lise Zurne, turut meliput Parade Surabaya Juang.
Melalui perpaduan parade, musik, puisi, kostum perjuangan, dan teatrikal, sejarah dihadirkan secara lebih dekat kepada masyarakat, terutama generasi muda. Jalanan kota pun menjelma menjadi panggung bersama, tempat ingatan sejarah dirawat, nilai kepahlawanan dipelajari, dan semangat perjuangan diwariskan lintas generasi.
Merawat Ingatan, Membangun Masa Depan
Bagi Surabaya, Hari Pahlawan tak hanya sebagai momentum untuk mengenang pertempuran pada November 1945. Peringatan ini juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali makna keberanian, persatuan, dan tanggung jawab kebangsaan di tengah perubahan zaman.
Parade Surabaya Juang menempatkan kebudayaan sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Melalui keterlibatan masyarakat, sejarah tak berhenti di monumen, buku, ataupun upacara peringatan, namun hadir dalam pengalaman bersama yang dapat dipelajari, dirasakan, dan dimaknai oleh setiap generasi.
Semangat kepahlawanan diharapkan terus menjadi energi untuk membangun Surabaya sebagai kota yang berkarakter kuat, berprestasi, berbudaya, serta memiliki kepedulian terhadap kehidupan bersama.
Pada akhirnya, pesan Parade Surabaya Juang 2026 terangkum dalam satu keyakinan: keberanian para pahlawan tak boleh berhenti sebagai kenangan, namun harus terus hidup dalam sikap dan tindakan generasi penerusnya.
Dari Tugu Pahlawan menuju Alun-Alun Surabaya, Parade Surabaya Juang 2026 tak sekadar perjalanan barisan di jalan raya. Lebih dari itu, parade ini merupakan perjalanan memori kolektif untuk meneguhkan kembali jati diri Surabaya sebagai Kota Pahlawan sekaligus mengingatkan bahwa setiap zaman memiliki tantangan dan medan perjuangannya sendiri.
Ini Ungkapan Anak Muda
Maulana Rifky Hidayatullah (18), anggota komunitas Magelang Kembali (MK), mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam kegiatan Parade Surabaya Juang 2026 memberinya banyak pengalaman dan wawasan tentang sejarah perjuangan bangsa. Baginya, kegiatan semacam ini bukan sekadar kesempatan untuk hadir dan menyaksikan peragaan sejarah, melainkan juga ruang belajar untuk mengenal lebih dekat perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan.
Ia mengaku telah dua kali mengikuti kegiatan di Surabaya. Tahun lalu, ia menghadiri peringatan Hari Armada 2025 di Komando Armada II Surabaya. Tahun ini, ia kembali datang untuk ambil bagian dalam Parade Surabaya Juang 2026. Keduanya selalu bersama kedua orangtuanya.
âSaya merasa terharu. Ternyata, bukan hanya saya bersama ayah dan ibu yang datang dari luar Kota Surabaya. Ada begitu banyak reenactor dari berbagai kota di Jawa, Bali, bahkan daerah lainnya yang turut hadir. Ini menunjukkan bahwa semangat untuk mengenal dan merawat sejarah tidak hanya tumbuh di Surabaya, tetapi juga di berbagai daerah,â tutur siswa kelas XII SMA Negeri 1 Kota Magelang tersebut.
Lebih dari itu, Rifky mengaku bangga melihat anak-anak muda seusianya turut mengambil bagian dalam upaya merawat ingatan sejarah. Mereka hadir dengan beragam peran, mulai dari memerankan sosok pejuang, terlibat dalam aksi teatrikal, hingga mendukung berbagai kegiatan yang menjadi bagian dari Parade Surabaya Juang 2026.
Baginya, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan semacam ini menegaskan bahwa merawat sejarah bukan semata-mata mengenang masa lalu, melainkan juga menyiapkan generasi muda untuk bertanggung jawab terhadap masa depan.
âDengan menambah wawasan tentang sejarah Pertempuran Surabaya 1945, saya semakin memahami betapa besar perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan. Sebagai generasi muda, saya semakin menghargai jasa-jasa mereka. Karena itu, mari kita lebih giat belajar dan mempersiapkan diri agar kelak dapat mengisi kemerdekaan sesuai dengan profesi dan kemampuan masing-masing,â pungkasnya.
Sekilas Pertempuran Front Embong Malang dan Kisah Soegiarto
Surabaya pada November 1945 tak sekadar sebuah kota yang tengah menghadapi gempuran tentara Sekutu. Kota ini menjelma menjadi medan pertaruhan harga diri dan martabat bangsa. Di antara deru kendaraan tempur, ledakan bom, dan desingan peluru, terselip kisah keberanian para pejuang yang mempertahankan setiap jengkal tanah air dengan segala keterbatasan.
Dari Front Embong Malang hingga kawasan Surabaya Timur, jejak perlawanan Pasukan L-1 dan pengorbanan seorang mantan pemain Persebaya bernama Soegiarto menjadi bagian dari mozaik sejarah yang patut dikenang. Sebuah kisah tentang keberanian yang melampaui zaman, sekaligus pengingat bahwa kemerdekaan selalu menuntut pengorbanan untuk dipertahankan.
Perlawanan Pasukan L-1
Pertempuran Surabaya bukan sekadar catatan tentang perlawanan bersenjata, melainkan kisah tentang keberanian, harga diri, dan tekad sebuah bangsa untuk mempertahankan kemerdekaan. Di balik dentuman meriam dan desingan peluru, tersimpan kisah para pejuang yang rela mempertaruhkan jiwa demi menjaga tanah air agar tak kembali jatuh ke tangan penjajah.
Kisah ini diawali dengan gelora perlawanan rakyat Surabaya yang berkobar melalui siaran radio dan pidato Bung Tomo. Suara yang menggema itu membangkitkan keberanian, menyatukan tekad, sekaligus mengobarkan semangat Arek-Arek Suroboyo untuk menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial. Seruan perjuangan bukan lagi sekadar kata-kata, melainkan panggilan untuk berdiri dan mempertahankan kemerdekaan.
Pada 10 November 1945, tepat pukul 06.00, tentara Inggris melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kota Surabaya melalui darat, laut, dan udara. Kota yang telah menjadi simbol perlawanan itu berubah menjadi medan pertempuran. Para pejuang Republik bertahan dengan segala kemampuan yang dimiliki, menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih unggul.
Inggris yang semula sesumbar dapat menaklukkan Surabaya dalam tiga hari ternyata harus menghadapi perlawanan sengit selama berminggu-minggu. Pertempuran yang mereka perkirakan berlangsung singkat justru menjelma menjadi perjuangan panjang yang menguras tenaga, persenjataan, dan nyawa.
Salah satu episode perlawanan yang menggambarkan sengitnya pertempuran tersebut terjadi di Front Embong Malang. Pada 22 November 1945, patroli tentara Inggris bergerak menyusuri kawasan Embong Malang, Orange Hotel, hingga Tunjungan. Kedatangan mereka disambut perlawanan Pasukan L-1 yang bermarkas di Hotel Sarkies.
Dengan memanfaatkan saluran pembuangan air dan selokan di sepanjang sisi selatan Jalan Embong Malang, para pejuang membangun kubu-kubu pertahanan untuk menghadang gerak maju musuh. Namun, perlawanan itu memancing kedatangan bala bantuan tank Inggris. Setelah pertempuran sengit, Hotel Sarkies akhirnya jatuh ke tangan musuh.
Pasukan L-1 terpaksa mundur ke arah Jalan Diponegoro untuk melakukan konsolidasi di sekitar Rumah Sakit Katolik. Tiga pejuang gugur, sementara sejumlah kubu pertahanan dan sebuah Bren Carrier hancur. Embong Malang menjadi saksi bahwa setiap jengkal tanah Surabaya dipertahankan dengan pengorbanan.
Sosok Soegiarto
Di tengah berkecamuknya pertempuran, muncul pula kisah Soegiarto, seorang pemuda asal Ngaglik yang pernah dikenal sebagai pemain Persebaya pada era 1930-an. Ia bukan sekadar olahragawan, melainkan bagian dari generasi yang memilih untuk tak tinggal diam ketika kemerdekaan bangsanya terancam.
Pengalamannya membela Persebaya dalam kompetisi di Jakarta dan Solo pada masa pendudukan Jepang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun, ketika perang memanggil, sepatu bola yang dahulu menemaninya berlari di lapangan harus berganti dengan senapan.
Soegiarto melebur dalam Pasukan Pertahanan Pemuda Kantor Kota dan turut memperkuat garis pertahanan di kawasan Kapasan hingga Van Sandict-Straat, yang kini dikenal sebagai Jalan Residen Sudirman, Surabaya.
Ketika tentara Inggris berhasil menguasai Alun-Alun Contong dan bergerak ke arah selatan Kapasan, pasukan pemuda berupaya menahan laju serangan di kawasan Tambaksari. Selama berjam-jam mereka bertahan di garis pertahanan Van Sandict-Straat, meskipun persediaan amunisi semakin menipis.
Namun, gempuran musuh akhirnya meruntuhkan barikade pertahanan. Dalam situasi yang semakin terdesak, Soegiarto dan rekan-rekannya tetap bertahan. Bagi mereka, mempertahankan Surabaya sama artinya dengan menjaga kehormatan dan masa depan generasi yang akan datang.
Di medan itu, keberanian tak lagi diukur dari siapa yang memiliki senjata paling kuat, melainkan dari siapa yang bersedia bertahan ketika segala kemungkinan untuk selamat semakin menipis.
Perlawanan di sektor Surabaya Timur akhirnya menelan korban jiwa. Soegiarto bersama sejumlah anggota Pasukan Pertahanan Pemuda Kantor Kota gugur di medan pertempuran. Mereka menjadi bagian dari bunga bangsa yang mengorbankan masa muda demi kemerdekaan.
Jenazah para pejuang dimakamkan secara massal di seberang Lapangan Canalaan, kawasan yang dahulu dikenal sebagai Taman Remaja Surabaya dan kini menjadi Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
Di tempat peristirahatan terakhir itu, nama-nama yang mungkin tak seluruhnya tercatat dalam lembaran sejarah tetap menyimpan makna besar bagi perjalanan bangsa. Mereka telah pergi, namun keberanian dan pengorbanannya tak semestinya ikut terkubur bersama jasad mereka.
Jatuhnya Kota Surabaya ke tangan tentara Inggris pada Desember 1945 bukanlah akhir dari perjuangan. Ketika kota telah dikuasai dan kemudian diserahterimakan kepada Belanda pada 1946, api perlawanan justru menjalar ke berbagai wilayah pedalaman, pedesaan, gunung, dan hutan.
Perjuangan mempertahankan kemerdekaan terus berlangsung melalui berbagai medan dan pengorbanan, hingga Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada Desember 1949.
Pertempuran Front Embong Malang dan kisah Soegiarto menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tak pernah hadir sebagai hadiah. Ia lahir dari keberanian, persatuan, dan pengorbanan mereka yang memilih berdiri ketika tanah air berada dalam ancaman.
Ada yang namanya tercatat dalam sejarah, ada pula yang hanya dikenang melalui kisah dan jejak perjuangannya. Namun, semuanya memiliki tempat yang sama dalam ingatan memori kolektif bangsa ini.
Kini, ketika generasi penerus tak lagi harus mengangkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan, perjuangan itu menemukan bentuknya yang berbeda. Merawat ingatan sejarah, menjaga persatuan, menghargai pengorbanan para pendahulu, dan mengisi kemerdekaan dengan karya serta tanggung jawab adalah bagian dari tugas kebangsaan.
Sebab, sejarah bukan sekadar peristiwa yang telah berlalu. Sejarah adalah ingatan yang harus terus dihidupkan, agar keberanian masa lalu menjadi inspirasi bagi masa kini dan penunjuk arah bagi masa depan. Surabaya boleh jatuh dalam pertempuran, namun semangat perjuangannya tak pernah menyerah. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
