PSL Menelusuri Muasal Mojowarno, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno,
dan Rumah Sakit Kristen Mojowarno
Membersamai PSL (Pernak-Pernik Surabaya Lama) dalam acara dadakan bertajuk “PSL Goes to Mojowarno”. Kegiatan “Goes to….”, adalah kegiatan khas PSL bertagar #blusukanedan di berbagai kota lain, tak Cuma di Surabaya. Goes to Mojowarno, blusukan menelusuri sejarah muasal Mojowarno, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, dan Rumah Sakit Kristen Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Minggu (27/7/2025) siang.
Rombongan PSL Goes ‘dadakan’ to Mojowarno terdiri atas 14 orang anggota yang didampingi langsung oleh Ketua PSL, Chrisyandi Tri Kartika. Di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno rombongan PSL diterima oleh jajaran Pengurus Majelis Jemaat, yakni Kusno Rohadi dan Pdt. Adriyanto, serta pegiat sejarah Mojowarno, yaitu Wiryo Widianto dan Lukius Juniandri.
#BkusukanEdan ini mencoba menelusuri kembali jejak awal muasal pemukiman Mojowarno, dengan menyoroti peran Karolus Wiryoguno sebagai pionir dalam pembukaan Hutan Keracil. Di samping juga mengulik sejarah Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, dan Rumah Sakit Kristen Mojowarno. Saya mencoba merangkum narasi ini, baik dari sumber referensi juga dari penutur pegiat sejarah setempat.

Selayang Pandang Muasal Mojowarno
Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan cermin yang memantulkan nilai-nilai keberanian, ketekunan, dan visi jauh ke depan. Di balik berdirinya sebuah komunitas, sering kali tersembunyi kisah pengorbanan dan tekad yang melampaui batas zaman.
Salah satu kisah semacam itu hadir dari sebuah tempat di lereng Pegunungan Anjasmoro, yang kini dikenal sebagai Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Mojowarno mungkin tak sepopuler kota-kota besar, namun di sanalah jejak peradaban komunitas Kristen pribumi pertama di Jawa menyala dari hutan belantara yang dahulu bernama Hutan Keracil.
Pun di sini kita mengenang Karolus Wiryoguno, seorang tokoh visioner yang memilih jalan sunyi membangun masa depan dari akar yang nyaris tak terlihat. Dalam kondisi penuh keterbatasan, Karolus tidak hanya memimpin perjalanan fisik menuju wilayah baru, tetapi juga perjalanan spiritual dan sosial menuju pembentukan identitas komunitas.
Wiryo Widianto, salah satu keturunan Karolus Wiryoguno, menuturkan bahwa Karolus Wiryoguno tidak memulai dari lahan subur, melainkan dari lebatnya rimba; tidak pula dengan kekuatan senjata, melainkan semangat gotong royong dan iman yang mengakar kuat.
Bersama rombongannya, Karolus Wiryoguno menebas belantara, membangun rumah, menanam bahan pangan, dan meletakkan batu pertama bagi peradaban Mojowarno dan sekitarnya yang kini masih berdiri kokoh, lanjut pegiat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, sekaligus pegiat sejarah Mojowarno.
“Karolus Wiryoguno merupakan salah satu tokoh sentral dalam pembukaan Hutan Keracil yang kemudian menjadi pemukiman Kristen pertama di wilayah Mojowarno, yang saat itu masih termasuk wilayah Mojokerto. Bersama rekannya, Samodin Simson, dan 87 orang lainnya (66 orang dewasa dan 21 anak-anak),” imbuhnya.
Mengutip buku Mojowarno & Komunitas Multikultural Tahun 1864-1931 karya Fendy Suhartanto, Karolus Wiryoguno memimpin rombongan yang berangkat dari Surabaya menuju selatan Distrik Mojoagung. Tujuan mereka adalah membuka wilayah baru sebagai tempat tinggal dan lahan pertanian bagi komunitas Kristen.
Perjalanan dilakukan pada 20 April 1844, dengan membawa surat pengantar dari Residen Surabaya yang ditujukan kepada Asisten Residen Mojokerto. Meskipun dokumen tersebut kini tidak ditemukan, arsip kolonial menyebutkan bahwa pada masa itu, Residen Surabaya adalah D.F.W. Pietermaat, dan Asisten Residen Mojokerto adalah H.A. Tromp.
Setibanya di Mojokerto, Karolus segera mengurus administrasi dan membeli berbagai perlengkapan, seperti alat pemotong pohon serta bahan makanan, yang dibutuhkan untuk membuka hutan. Keesokan harinya, rombongan melanjutkan perjalanan ke Mojoagung dan bermalam di rumah Kepala Desa Miyagan (Karang Bulak).
Pada 21 April 1844, mereka mencapai Hutan Keracil. Di tempat inilah Karolus Wiryoguno bertemu dengan Ditotruno, dan keduanya kemudian bekerja sama membuka hutan untuk dijadikan kawasan pemukiman. Proses pembukaan dilakukan secara bertahap melalui empat fase utama sebagai berikut:
Tahap I (1844–1846): Permukiman Awal di Barat Sungai Jiken
Pada tahap awal ini, Karolus Wiryoguno membuka kawasan Mojowangi, sementara Ditotruno membuka Mojowarno, keduanya terletak di sebelah barat Sungai Jiken. Rumah-rumah sementara dibangun dari kayu hasil penebangan hutan, dan mereka mulai menanam tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Proses ini dilakukan secara gotong-royong, mencerminkan budaya kerja kolektif khas masyarakat Jawa kala itu.
Tahap II (1847–1848): Perluasan Wilayah dan Pembentukan Mojoroto
Pada fase kedua, pembukaan wilayah meluas ke sebelah timur Sungai Jiken. Karolus Wiryoguno mendirikan permukiman baru bernama Mojoroto, yang terletak di utara Mojowangi. Mojowangi sendiri diteruskan oleh Eliasar Kunto dan kelompoknya. Pada tahap ini, pembagian wilayah semakin sistematis dan pemukiman mulai tertata, mengubah kawasan hutan lebat menjadi desa-desa awal yang layak huni.
Tahap III (1849–1850): Pembangunan Infrastruktur dan Penguatan Komunitas
Tahap ini ditandai dengan pembangunan jalan besar yang menghubungkan kawasan pemukiman dengan Mojoagung, serta pembangunan bendungan Mojoanyar dan saluran irigasi untuk mendukung kegiatan pertanian. Karolus turut terlibat dalam proyek strategis ini guna mempermudah mobilitas penduduk dan distribusi hasil pertanian.
Jalan besar ini bukan hanya penting bagi komunitas Kristen Mojowarno, tetapi juga menunjang kepentingan pemerintah kolonial dalam pengembangan wilayah hinterland, terutama sektor perkebunan seperti tebu, misalnya yang dikelola oleh NV. Seloredjo.
Tahap IV (1851–1874): Ekspansi Wilayah dan Lahirnya Desa-Desa Baru
Pada tahap keempat, pembukaan wilayah meluas ke utara dan barat Sungai Jiken. Rekan Karolus Wiryoguno , Singotruno, membuka Desa Mojojejer, sementara Muso Jebus Wiryosentono, putra Karolus Wiryoguno, melanjutkan pembukaan lahan ke arah timur, tepatnya di lereng Pegunungan Anjasmoro.
Selama lebih dari dua dekade, terbentuklah desa-desa baru seperti nDadi, Nglebak, Pulonasir, Jurangbang, Pulosari, Segitik, Ngrimbi, dan Mutersari. Mojowarno, yang pada awalnya berada di tengah hutan belantara, kini telah dikelilingi oleh permukiman-permukiman baru dan berkembang menjadi pusat komunitas yang hidup dan dinamis.
Peran Karolus Wiryoguno sangat signifikan, tambah Wiryo Widianto, baik sebagai pemimpin rombongan pionir Kristen maupun sebagai penggerak pembangunan kawasan secara bertahap. Ia tak hanya membuka lahan dan mendirikan tempat tinggal, namun juga berkontribusi dalam penataan wilayah, pembentukan desa, serta pembangunan infrastruktur yang menjadi fondasi berdirinya komunitas Mojowarno.
“Warisan perjuangan Karolus Wiryoguno dilanjutkan oleh anak, Muso Jebus Wiryosentono, menjadikan Mojowarno sebagai salah satu pusat penting komunitas Kristen di Jawa pada abad ke-19. Semoga semangat yang diwariskan Karolus Wiryoguno menjadi inspirasi bagi generasi kinii dalam membangun masa depan berpihak pada nilai, visi, dan kemanusiaan,” pungkas Wiryo Widianto, salah satu keturunan dari dari garis Muso Jebus Wiryosentono.
Para tokoh yang membuka Hutan Keracil (Mojowarno awal tahun 1844-1854), di antaranya yaitu:
Hutan Dagangan (kelak menjadi Desa Mojowarno): Ditotruno, Yakub, Enos bersama pemukim sebelumnya dari Kertorejo dan Ngoro.
Desa Dagangan berganti nama menjadi Desa Mojowarno atas usul Karolus Wiriogoena bersamaan Babad Desa Mojowangi tahun 1847.
Desa Mojowangi: Karolus Wiriogoena bersaudara (55 orang) dilanjutkan Eliasar Koento.
Desa Mojoroto: Karolus bersaudara.
Desa Mojojejer: Simeon Sëbroeng.
Desa Mojokembang: Artèman dan Gisek Simson.
Desa Mojodukuh: Natanael, Boas, Lepi dan Artèman.

Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno
GKJW Mojowarno merupakan salah satu gereja tertua di Indonesia dan memiliki peran penting dalam perkembangan Kekristenan di Jawa Timur. Gereja ini berakar pada misi zending yang dibawa oleh misionaris dari Belanda pada abad ke-19. Penyebaran Kekristenan di Jawa Timur dimulai dengan kedatangan misionaris dari Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG).
NZG adalah sebuah lembaga penginjilan dari Belanda, pada awal abad ke-19. Pada tahun 1845, seorang misionaris bernama Johannes Emde menjadi tokoh penting dalam penyebaran ajaran Kristen di daerah Surabaya dan sekitarnya. Murid-muridnya kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Jombang.
Mengutip dari buku karya Fendy Suhartanto berjudul “Mojowarno & Komunitas Multikultural Tahun 1864-1931”, kedatangan bangsa Eropa lewat misi keagamaan cukup menarik untuk dikaji. Kehadiran mereka tidak selalu berkonotasi negatif. Mereka hadir membawa beragam manfaat yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Baik dari aspek sosial, budaya, kesehatan, dan pendidikan.
Termasuk, kehadiran orang-orang Eropa di daerah pedalaman Jawa Timur, yakni Mojowarno. Daerah yang menjadi salah satu pusat misi keagamaan bangsa Eropa. Mojowarno pun tumbuh dan berkembang dengan beragam karakteristik sosial-budaya. Tempat bertemunya beragam kelompok sosial, seperti penduduk pribumi, bangsa Eropa, China, dan bangsa Arab.
Sebelum berdirinya Mojowarno sebagai pusat pemukiman dan komunitas Kristen, bukan berarti tidak ada orang-orang beragama Kristen di daerah ini. Di sebelah selatan Hutan Keracil, kemudian menjadi Mojowarno kini, sudah ada penganut Kristen yang menetap di tempat itu. Tepatnya di wilayah Ngoro, yang dihuni oleh Coenraad Laurens Coolen beserta pengikutnya sejak tahun 1827.
Pada tahun 12 Desember 1843 ada peristiwa pembaptisan pertama murid Coolen yaitu pak Dasimah dan Singotuno di gereja Surabaya yang mempengaruhi banyak murid Coolen yang lain termasuk Kyai Paulus Tosari dkk tertarik mengikuti jejaknya pada tahun berikutnya. Para pengikut ini diusir dan menyebar ke luar Ngoro.
Selain alasan baptis ada beberapa orang yang diusir karena kesalahan lain ( karena menipu Coolen) seperti yang dialami Ditotruno, Yakub, dan Enos-Paq-Midi. Mereka diusir dan pergi ke hutan Dagangan ( selatan Ngoro ) yang telah dihuni oleh beberapa orang dari Kertorejo dan Ngoro untuk berdukuh di sana.
Selanjutnya pada tahun 1844-1850 berdatangan teman-teman lain sesama murid Coolen yang berasal dari Sidoarjo dan membuka hutan Kracil sebelah utara hutan Dagangan (area Gereja ke utara) yang kelak menjadi desa : Mojowarno, Mojowangi, Mojoroto, Mojojejer, Mojokembang dan Mojodukuh yang masyarat seluruh desa ini dinamakan Jemaat Kristen Mojowarno mula-mula.
Kemudian Paulus Tosari mengikuti jejak temannya Singotruno pergi ke Surabaya untuk mendapat pembaptisan yang dikoordinir Johannes Emde (1774-1859) pada tanggal 12 September 1844. Setelah baptis dia pindah ke Sidoarjo dan menjadi pendeta keliling Jawa Timur. Selanjutnya dia bergabung dengan teman-temannya sesama murid Coolen di jemaat Mojowarno dan menjadi pendeta Jawa pertama di sini.
Paulus Tosari berkontribusi memimpin jemaat Kristen Jawa di Mojowarno. Ia merupakan pendeta Jawa pertama dari kalangan masyarakat pribumi yang mampu mendekatkan agama Kristen dengan tradisi masyarakat lokal. Jemaat Mojowarno berdiri pada 9 Juli 1851.

Rumah Sakit Kristen Mojowarno
Rumah Sakit Kristen Mojowarno ini semula dinamakan Zendings Ziekenhuis te Mojowarno yang didirikan pada 6 Juni 1894. Hingga perang kemerdekaan Republik Indonesia dan sempat pula rumah sakit ini dipakai sebagai Rumah Sakit Pertahanan Surabaya di Mojowarno, karena Rumah Sakit Simpang Surabaya harus dipindahkan kegiatannya berhubung dengan masuknya tentara sekutu di Kota Surabaya.
Banyaknya korban perang yang dirawat di rumah sakit ini, baik tentara maupun para sukarelawan tidak dapat ditemukan data datanya, karena ikut dibumihanguskan bersama sama gedung rumah sakit dan arsip-arsip lainnya pada tahun 1948, yang pada waktu itu harus mundur dari daerah Jombang. Sebagian besar peralatan kedokteran diungsikan ke daerah daerah yang masih dikuasai oleh Republik Indonesia dan dipakai untuk menolong penderita penderita korban perang.
Lukius Juniandri, pegiat sejarah Mojowarno, menjelaskan bahwa, pada tahun 1949 rumah sakit ini dibangun kembali dari puing-puing yang tersisa oleh warga Greja Kristen Jawi Wetan Jemaat Mojowarno dengan dukungan moral dari para sesepuh, Majelis Jemaat, Majelis Daerah dan Majelis Agung GKJW.
Hal itu, selain dorongan masyarakat ingin berobat dan dirawat di Mojowarno, lanjutnya, juga karena warga setempat ingin menolong dan melayani di bidang kesehatan. Sejak itu, rumah sakit ini dinamakan Rumah Sakit Kristen Mojowarno, sebagaimana dikutip dari “Sejarah Rumah Sakit Kristen Mojowarno” yang diterbitkan oleh Panitia Peringatan 130 Tahun Rumah Sakit Kristen Mojowarno Tahun 2024.
Suatu yang masih dapat disaksikan sampai sekarang bahwa di bagian belakang atau bagian timur dari rumah sakit masih ada sisa-sisa kehancuran, dan itu dapat dikatakan sebagai suatu tanda bahwa rumah sakit ini pernah mengalami penghancuran, tambah pria yang sebagai wak media juga.
“Biar sisa-sisa tersebut sebagai suatu Kenangan Sejarah Rumah Sakit Kristen Mojowarno dalam keikutsertaannya di waktu perang Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia,” pungkas Lukius Juniandri.
Dalam perkembangan berikutnya, Rumah Sakit Kristen Mojowarno membangun diri secara bertahap dengan bantuan dari berbagai pihak. Pada tahun 1992 Rumah Sakit Kristen Mojowarno telah mempunyai Master Plan Gedung jangka wakta 20 tahun yang dibuat hasil kerjasama dengan Universitas Kristen Petra Surabaya dan Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.
Salah satu pelaksanaan dari hasil master plan ini dibangunnya garasi dan renovasi Kamar Operasi & Radiologi. Demikian juga perihal pengadaan alat alat kedokteran, Rumah Sakit Kristen Mojowarno mendapatkan bantuan dari Pemerintah cq. Departemen Kesehatan berupa alat alat Laboratorium dan Radiologi serta kendaraan ambulance yang telah diterima pada tahun 1982.
Di samping sumbangan sarana dan peningkatan sumber daya manusia dari Gereja dan lembaga-lembaga Gereja Mitra GKJW. Dalam pengembangan program rumah sakit sangat membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama masyarakat dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Sehingga, pelayanan kerumahsakitan dapat bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat di daerah Mojowarno dan sekitarnya.

Rumah Gubug Pentjeng
Selain rombongan berkunjung di dua objek utama, yakni Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, dan Rumah Sakit Kristen Mojowarno, peserta juga diajak singgah di Rumah Gubug Pentjeng. Menurut Wiryo Widianto, Gubug Pentjeng adalah rasi bintang penunjuk arah selatan. “Rumah kakek-nenek saya berada di utara (Jw. – omah lor), ini rumah ini tanah milik kakek-nenek saya di selatan (Jw. – omah kidul). Bintang selatan : Lintang Gubug bentuknya Salib.”
Selain itu, juga singgah di rumah arsitektur kuno, bangunan peninggalan sekitar tahun 1900 an, yakni di rumah Mbah Wiryo Prayitno yang dibangun pada tahun 1914, dan rumah di seberang jalan yaitu rumah ayah Wiryo Prayitno bernama Wiryo Muso Sentono (anak dari Karolus Wiryoguno) yang dibangun pada tahun 1900. Sebelahnya juga rumah putranya bernama Wiryodirono, serta rumah-rumah di sekitarnya adalah rumah anak cucu Karolus Wiryoguno.
*
Empat belas perserta PSL Goes dadakan to Mojowarno, yakni: Hartono Widjaja, Yoshi W. Sujoso, Sylvi Mutiara, Stefanus Nuradhi, dr. Dhini, Adreeanto, Citra Rachman, Rimbun Vidi Rahman, Yudi Djaelani Chrisyandi Tri Kartika, Wiwied A. Widyastuti, Kanu Tegar, Agris Riski Nur Fitriansyah, dan Ali Muchson.
Ketua PSL Chrisyandi Tri Kartika mengatakan babwa kegiatan dengan tagline #blusukanedan di Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, dan Rumah Sakit Kristen Mojowarno, yakni blusukan sambil pepotoan demi mengulik dan mengabadikan hingga detail tentang bangunan cagar budaya. Pun bertujuan melihat dari dekat untuk memperoleh wawasan dan pengalaman baru bagi para anggota, yang semua adalah pemerhati bangunan kuno. Atas nama rombongan, ia menyampaikan terima kasih kepada jajaran pengurus.
“Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno, dan Rumah Sakit Kristen Mojowarno, bangunan yang sarat muatan sejarah yang masih megah hingga saat ini. Dengan berbagai pernak-pernik di dalamnya memberi gambaran budaya masa lalu. Kedua bangunan ini sangat layak sebagai sarana edukasi, tak hanya bagi masyarakat sekitar namun juga bagi masyarakat dari berbagai daerah Nusantara, bahkan mancanegara,” pungkas Pustakawan di Universitas Ciputra Surabaya. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
Karolus Wiryoguno dan Perintisan Mojowarno sebagai Sentra Kekristenan Pribumi
di Jawa
Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Mojowarno




























Rumah Sakit Kristen Mojowarno



























Rumah Gubug Pentjeng dan Rumah Keturunan Karolus Wiryoguno


















