Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”

  • KULINER
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Share this :

“Kualitas tidak lahir dari kecepatan,
tetapi dari kesadaran menikmati setiap proses.” – Kroesel Kyo Philosophy

Di tengah zaman yang menuntut segalanya serba cepat: kopi instan, percakapan singkat, dan waktu yang terus dipadatkan, Kroesel Kyo hadir sebagai sebuah jeda yang disadari. Ia mengajak kita kembali pada hakikat menikmati: menunggu, bertemu secangkir kopi, menghirup aromanya perlahan, dan meresapi rasa tanpa tergesa.

The Art of Slow Indulgence bukan sekadar slogan, melainkan sikap hidup bahwa kualitas, sebagaimana secangkir kopi, ia lahir dari kesabaran, kehadiran penuh, dan keberanian untuk tidak terburu-buru. Berada di Kroesel Kyo, setiap momen kecil, kala pertama cangkir disentuh hingga sisa rasa di lidah, menjadi ruang kontemplasi. Yakni, tempat siapa pun kembali berdamai dengan waktu yang selama ini ia kejar tanpa henti.

Dengan slogan The Art of Slow Indulgence, Kroesel Kyo lahir dari semangat untuk memperlambat langkah di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, pun di tengah beban hidup yang mendera. Sejenak menikmati kopi, percaya bahwa setiap tegukan kopi bukan sekadar rasa, melainkan momen untuk kembali hadir-menikmati waktu, bukan dikejar olehnya.

Dhahana Adi, owner outlet Kroesel Kyo, menuturkan bahwa “Kroesel” (baca: Krusel) merupakan akronim dari Krukah Selatan (huruf “u” menggunakan ejaan Van Ophuijsen atau ejaan lama “oe”), adalah nama jalan, (Jalan Krukah Selatan, yang terletak di Surabaya, tepatnya di Kelurahan Ngagelrejo, Kecamatan Wonokromo.

“Kroesel, yakni tempat ide awal akan aktivitas perkopian ini berusaha diwujudkan dengan segala dinamikanya,” tuturnya saat Grand Opening Kroesel Kyo di Food Hall Kyo Society Apartement, Jalan Raya Panjang Jiwo Permai Surabaya, Sabtu (13/12/2025) siang.

“Kyo” merupakan sebuah kata dari bahasa Jepang yang berarti “ibu kota” atau “esensi”. Ia melambangkan pusat harmoni antara rasa, estetika, dan ketenangan. Kata tersebut melengkapi nama sebuah apartemen di Surabaya yang terinspirasi dari tempat hunian bernuansa Jepang, “Kyo Society”, yakni tempat Kroesel membuka outlet baru, lanjut Ipung, sapaan akrabnya.

Dengan konsep “Japanese-inspired coffee corner for mindful indulgence”, tambahnya, Kroesel Kyo mengangkat nilai slow living, yakni menikmati hal-hal sederhana dengan penuh kesadaran, tanpa kehilangan sentuan modern dan estetika. Pun Kroesel Kyo bukan sekadar takeaway coffee corner, tetapi mindful stopover, tempat orang berhenti sejenak untuk merasa.

“Di samping nama-nama menu disesuaikan dengan nuansa istilah ‘je-Jepang-an’, Kroesel Kyo juga menyajikan Van Dillem Coffee. Kopi legend dari perkebunan di lereng Gunung Wilis,” pungkas penulis buku Surabaya Punya Cerita.

Pada kesempatan yang sama, Totok Sudarmanto, salah satu pengunjung, mengatakan bahwa lokasi Kroesel Kyo letaknya staregis, gampang dicari. Begitu masuk Food Hall Kyo Society Apartement langsung tampak. Menu-menunya enak dengan harga yang ramah dompet, utamanya saya suka croissant ice cream-nya.

“Tak kalah penting juga sih. Selain telah cicipi kopi Van Dillem dan menu Kroesel Kyo, saya terkesan dengan suasana Food Hall Kyo Society Apartement itu nyaman sekali. Tak sekadar cocok buat ‘me time’, tentu cocok buat santai bersama orang terkasih, juga bersama keluarga, teman, dan atau komunitas,” pungkas sosok guru di SD Dapena Surabaya.

Selain Kroesel Kyo, di Food Hall Kyo Society Apartement, Jalan Raya Panjang Jiwo Permai Surabaya, ada pula outlet-outlet lain yang menyajikan menu kekhasan dan andalan mereka. Di antaranya ada outlet Bee Juice, outlet Pemadam Kelaparan, outlet Nena, outlet Kaku Ramen, Siomay Memey, dan lain-lain. Kroesel Kyo open pukul 08.00, dan close pukul 20.00.

Sekilas tentang Van Dillem Coffee

Kopi Van Dillem adalah produk kopi yang ditanam di lereng Gunung Wilis dengan ketinggian 900 mdpl. Lokasi berada di Desa Dompyong, Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Perkebunan kopi yang melegenda pada masanya ini meliputi area seluas 200 ha, di kawasan tersebut juga berdiri pabrik pengolahan kopi dengan kapasitas proses 5 ton/jam.

Perkebunan dan pabrik pengolahan kopi ini didirikan pada tahun 1928 oleh seorang warga Belanda bernama Meneer Van Dillem. Sejarah mencatat, peristiwa menakjubkan bahwa pada saat Jepang membom kawasan ini. semua bangunan hancur, hanya pabrik processing kopi ini yang tetap berdiri kokoh dan masih tetap bisa difungsikan.

Pada mulanya, green bean dari perkebunan ini tidak pernah diizinkan dan atau dijual keluar. Setelah bertahu-tahun, akhirnya kini Kroesel Kyo telah memperolehnya, dan diizinkan untuk me-roasting sendiri serta bisa Anda nikmati di Kroesel Kyo (@kroeselkyo).

*

Pada akhirnya, Kroesel Kyo bukan hanya tentang menu ala ‘je-Jepang-an’ dan secangkir kopi Van Dillem yang sarat sejarah, atau sudut estetik bernuansa Jepang di tengah kota Surabaya. Ia adalah perjumpaan antara masa lalu dan kini, antara rasa dan makna, antara hiruk-pikuk dan ketenangan. Di ruang itulah tradisi dan kesadaran modern saling menyapa, menghadirkan pengalaman minum kopi sebagai laku batin, bukan sekadar kebiasaan.

Di setiap tegukan, terselip pengingat sederhana: bahwa hidup, seperti kopi yang diracik dengan sepenuh perhatian, paling nikmat ketika dinikmati perlahan, dengan kesadaran, rasa syukur, dan waktu yang dibiarkan mengalir apa adanya. Sebab hanya dengan melambat, manusia benar-benar belajar hadir, mendengar dirinya sendiri, dan menghargai makna di balik setiap proses. (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”

Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”
Kroesel Kyo: “The Art of Slow Indulgence”

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *