Di tengah derasnya perubahan kota modern, selalu ada sekelompok orang yang percaya bahwa masa lalu tak boleh dibiarkan hilang begitu saja. Bangunan-bangunan tua, kampung lawas, sumur kuno, makam leluhur, hingga tradisi membatik bukan sekadar benda atau aktivitas biasa, melainkan jejak ingatan kolektif yang membentuk identitas sebuah kota.
Kesadaran itu yang terus dirawat oleh sebagian anggota komunitas PSL (Pernak-Pernik Surabaya Lama), komunitas pemerhati bangunan kuno, kampung lawas, serta berbagai kearifan lokal di Surabaya. Melalui kegiatan bertajuk #blusukanedan, tak sekadar berjalan-jalan menyusuri sudut kota, namun menelusuri sejarah, mengulik cerita, dan menghidupkan kembali memori yang nyaris terlupakan.
Pada Minggu, 10 Mei 2026, rombongan PSL kembali menggelar #blusukanedan dengan menyusuri kawasan Kampung Kranggan VII, Kelurahan Bubutan, Kecamatan Bubutan, Kota Surabaya. Kawasan ini menyimpan banyak cerita tentang denyut kehidupan masyarakat kampung lawas Surabaya yang masih bertahan di tengah himpitan belantara beton modernisasi kota.
Tujuan pertama rombongan adalah di Kampung Batik Okra. Di tempat sederhana yang berbagi ruang dengan Balai Rukun Warga (RW) 01 Kranggan, peserta #blusukanedan disambut oleh sosok hangat bernama Ridi Sulaksono, seorang purnawirawan TNI AU yang kini dikenal sebagai pembatik sekaligus penggerak warga Kampung Kranggan untuk belajar membatik.
Bagi Ridi, batik tak sekadar kain bercorak. Batik adalah ruang belajar, media bercerita, sekaligus cara menjaga identitas kampung agar tak lenyap ditelan zaman. Melalui setiap motifnya, tersimpan upaya warga untuk merawat ingatan tentang sejarah dan kehidupan kampung mereka sendiri.
Nama “Okra” sendiri ternyata memiliki makna yang unik. Selain merupakan akronim dari “Orang Kranggan”, nama itu juga merujuk pada tanaman okra yang ditanam warga setempat. Tanaman tersebut memiliki beragam manfaat dan kemudian menjadi bagian penting dalam identitas kampung maupun motif batik yang mereka kembangkan.
Nama “Okra” sendiri ternyata memiliki makna yang unik. Selain merupakan akronim dari “Orang Kranggan”, nama itu juga merujuk pada tanaman okra yang ditanam warga setempat. Tanaman tersebut memiliki beragam manfaat dan kemudian menjadi bagian penting dalam identitas kampung maupun motif batik yang mereka kembangkan.
“Unsur tanaman okra hampir selalu hadir dalam motif Batik Okra,” tutur Sony panggilan akrabnya, yang juga sebagai Ketua RW 01 Kampung Kranggan, kepada peserta #blusukanedan.
Menurutnya, batik tak harus selalu dipahami sebagai bahan busana semata, namun dapat berkembang menjadi medium edukasi budaya dan sejarah. Banyak motif Batik Okra justru merekam kehidupan tempo dulu, mulai dari sosok Gajah Mada, Raja Airlangga, pasar tradisional, situs-situs kampung lawas, hingga peristiwa bersejarah seperti Pertempuran 10 November 1945.
Di tangan Ridi dan para pembatik Kampung Kranggan, kain berubah menjadi lembaran narasi. Setiap guratan ‘malam’ bukan hanya menghadirkan keindahan visual, namun juga menyimpan cerita tentang Surabaya yang turut mewarnai kehidupan pada masa lampau.
Ridi menjelaskan, melalui motif-motif tersebut, generasi muda, terutama Gen Z, dapat mengenal kembali kehidupan yang tak pernah mereka jumpai. Pasar-pasar tradisional, suasana kampung lama, maupun peristiwa sejarah menjadi lebih mudah dipahami ketika dituangkan dalam bahasa visual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
“Lewat batik, kita bisa bercerita kepada generasi muda, terutama Gen Z, dan generasi berikutnya tentang Surabaya tempo dulu,” jelas sosok yang gaya bicaranya ‘ceplas-ceplos’ sebagai ‘Arek Suroboyo’.
Perjalanan Batik Okra sendiri berkembang tak lepas dari dukungan berbagai pihak. Ridi menyebut keterlibatan mahasiswa dari berbagai kampus seperti Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Negeri Surabaya, hingga Universitas Widya Mandala Surabaya turut membantu mengenalkan Batik Okra kepada publik yang lebih luas.
Dukungan dari jajaran Pemerintah Kota Surabaya, biro perjalanan wisata, dan berbagai komunitas juga membuat Batik Okra mulai dikenal hingga mancanegara. Karya-karya mereka kini telah dikoleksi wisatawan dari Belanda, Jepang, Australia, Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara lainnya.
Meski demikian, Ridi berharap Batik Okra mendapatkan legalitas hak cipta sebagai identitas budaya Kampung Kranggan. Baginya, perlindungan hukum penting agar warisan lokal tak mudah diklaim pihak lain, ataupun hilang tanpa jejak.
“Perlu dukungan nyata dari berbagai pihak untuk pengurusan mendapatkan legalitasnya, sehingga menjadi kebanggaan warga Kampung Kranggan” ungkapnya bernada penuh harap.
Dari Kampung Batik Okra, rombongan PSL melanjutkan perjalanan menuju “Rumah Gede”, kediaman keluarga H. Soedrajad, salah satu keturunan saudagar Kampung Kranggan V. Rumah tua itu masih menyimpan nuansa arsitektur masa lampau dengan berbagai detail, dan pernak-pernik propertinya yang menghadirkan gambaran tentang kehidupan keluarga-keluarga saudagar Surabaya di masa silam.
Di sela-sela lorong kampung, rombongan juga menengok Makam Buyut Kuning di area masjid kampung, dan sumur besar yang dipercaya telah ada sejak lama bahkan ratusan tahun lalu. Tempat-tempat seperti itu mungkin tampak sepele bagi sebagian orang, namun justru di sanalah tersimpan lapisan sejarah yang membentuk karakter sebuah kampung.
Blusukan kemudian berlanjut mampir ke bekas Penjara Koblen, lalu menuju GPIB Immanuel Surabaya di Jalan Pirngadi Surabaya. Gereja bersejarah tersebut menjadi salah satu saksi perkembangan Surabaya pada masa kolonial.
Bangunan gereja itu memiliki sejarah panjang. Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Dina Broers pada 29 Juni 1920. Gereja ini dibangun oleh Abraham Christoffel Coertsz dengan nama Boeboetan Kerk, sebelum akhirnya diresmikan oleh Ds. J. A. Broers pada 24 Desember 1922.
Di tengah suasana terik Surabaya, peserta blusukan diajak memahami, Surabaya tak hanya tentang belantara beton yang menusuk langit, kesibukan jalan raya, dan pusat perbelanjaan modern. Kota ini dibangun dari lapisan sejarah panjang: dari kampung-kampung tua, rumah-rumah sederhana, tradisi warga, hingga kisah orang-orang yang diam-diam menjaga warisan budaya dengan penuh cinta.
Kegiatan #blusukanedan PSL tak sekadar agenda jalan-jalan komunitas, ia menjadi pengingat bahwa merawat kota tak selalu harus dimulai dari proyek besar. Kadang, menjaga ingatan bisa dimulai dari langkah-langkah kecil: mendengar cerita warganya, memotret bangunan tua, mendokumentasikan tradisi kampung, atau sekadar peduli bahwa sejarah pernah hidup di tanah yang kita pijak hari ini.
Sebab sebuah kota akan kehilangan roh atau jiwanya ketika generasi mudanya tak lagi mengenal akar sejarah kotanya sendiri. Dan melalui #blusukanedan khas giat PSL seperti inilah, Surabaya perlahan diajak berdialog kembali dengan masa lalunya, agar masa depan kota ini tak tumbuh tanpa ingatan kolektif warganya. (Ali Muchson)
Biar Foto Bicara
BlusukanEdan PSL: Menyusuri Jejak Kampung Lawas Kranggan Surabaya
Foto oleah: Wildan Arif dan Ali Muchson


















































