Refleksi 118 Tahun Kebangkitan Nasional: Bangsa yang Bangkit, atau Mungkin Rakyat Merasa Kian Terhimpit?

Refleksi 118 Tahun Kebangkitan Nasional: Bangsa yang Bangkit, atau Mungkin Rakyat Merasa Kian Terhimpit?
Share this :

Sebuah Renungan untuk Memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-118.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tak sekadar agenda seremonial tahunan yang dipenuhi upacara dan slogan kebangsaan yang mainstream, yang sudah lazim. Lebih dari itu, Harkitnas merupakan ruang refleksi untuk menengok kembali perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam membangun kesadaran kolektif sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat.

Di tengah-tengah dinamika zaman yang terus berubah, semangat kebangkitan nasional yang diperingati hari ini, tanggal 20 Mei 2026, seharusnya tak berhenti sebagai catatan sejarah yang tempo dulu semata, melainkan terus hidup dalam sikap, kebijakan, dan tindakan nyata seluruh elemen bangsa.

Momentum penting tersebut berawal dari lahirnya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, 118 tahun yang lalu. Organisasi ini didirikan oleh para pelajar School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) dengan tokoh-tokoh penting seperti dr. Soetomo dan dr. Wahidin Sudirohusodo.

Kehadiran Boedi Oetomo menjadi penanda tumbuhnya kesadaran baru di kalangan pribumi bahwa perjuangan melawan penjajahan tak dapat dilakukan secara terpisah-pisah. Perjuangan harus dibangun melalui persatuan, pendidikan, dan kesadaran kebangsaan.

Dari titik itulah, Hari Kebangkitan Nasional kemudian diperingati sebagai simbol bangkitnya semangat persatuan dan perjuangan bangsa Indonesia. Kemudian pemerintah Indonesia menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Penetapan tersebut dilakukan Presiden Soekarno untuk memperingati lahirnya kesadaran nasional bangsa Indonesia.

Di samping itu, dimaksud pula untuk mengenang jasa para tokoh bangsa yang telah menanamkan gagasan tentang pentingnya identitas nasional dan persatuan rakyat Indonesia. Semangat itulah yang kemudian menjadi fondasi penting bagi lahirnya perjuangan menuju kemerdekaan.

Pada tahun 2026, peringatan Harkitnas mengusung tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”. Tema tersebut mengandung pesan mendalam bahwa generasi muda merupakan aset strategis bangsa yang harus dijaga, dibimbing, dan diperkuat kualitasnya.

Mengapa? Hal itu lantaran dalam diri anak-anak muda tersimpan energi harapan masa depan Indonesia, baik dalam bidang pendidikan, teknologi, sosial, budaya, maupun pembangunan nasional secara keseluruhan yang berlandaskan keadilan sosial.

Tema tersebut juga mengingatkan bahwa menjaga generasi muda tak hanya soal menyediakan pendidikan formal, melainkan juga membangun karakter, moralitas, daya kritis, dan kepedulian sosial. Di era digital yang serba cepat ini, generasi muda menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Arus informasi yang tak terbendung, budaya instan, polarisasi sosial, hingga tekanan ekonomi menjadi bagian dari realitas yang harus mereka hadapi setiap hari. Karena itu, semangat gotong royong, persatuan, dan optimisme perlu terus diperkuat agar bangsa ini tak kehilangan arah di tengah perubahan global.

Rentang waktu 118 Tahun

Peringatan Harkitnas tahun ini merupakan peringatan yang ke-118. Sebuah rentang waktu panjang telah dilalui sejak gagasan kebangkitan nasional pertama kali digaungkan. Namun, perjalanan panjang tersebut juga memunculkan pertanyaan reflektif: apakah amanat para pendiri bangsa benar-benar telah terwujud dalam kehidupan Indonesia hari ini?

Pertanyaan itu terasa relevan ketika masyarakat masih menyaksikan berbagai persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Kondisi ekonomi yang belum merata, penegakan hukum yang kerap dipertanyakan, ketimpangan keadilan bagi masyarakat kecil, hingga dinamika politik yang sulit ditebak menjadi kenyataan yang memunculkan kegelisahan sosial.

Belum lagi berbagai kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kepentingan rakyat, sehingga memunculkan maraknya demo, sebuah pertanda mungkin rakyat merasa kian terhimpit. Di tengah situasi tersebut, semangat kebangkitan nasional seolah kembali diuji: apakah bangsa ini masih mampu menjaga idealisme tentang keadilan sosial dan kesejahteraan bersama?

Meski demikian, di sisi lain adanya suatu tuntutan bahwa Hari Kebangkitan Nasional seharusnya tak hanya dipandang sebagai momentum untuk mengeluhkan keadaan. Harkitnas justru perlu dimaknai sebagai pengingat bahwa bangsa ini pernah bangkit dari keterpurukan dan penjajahan melalui kesadaran bersama.

Para pendiri Boedi Oetomo tak mewariskan kemewahan ataupun kekuasaan. Mereka mewariskan keberanian berpikir, semangat belajar, dan keyakinan bahwa perubahan dapat diperjuangkan bersama-sama. Dalam konteks hari ini, kebangkitan nasional juga berarti keberanian untuk tetap berharap dan bekerja bagi bangsa, bahkan ketika keadaan terasa belum baik-baik saja.

Upaya membangun kebangkitan nasional pada akhirnya membutuhkan keteladanan dari pemerintah dan para pemimpin negara, di samping tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Semangat itu hadir dalam hal-hal sederhana: menjaga persatuan di tengah perbedaan, menghargai pendidikan, menolak dan memberantas korupsi, membangun kepedulian sosial, serta terwujudnya keadilan yang merata.

Karena itu, memperingati Hari Kebangkitan Nasional tak sekadar mengenang sejarah masa lalu, melainkan menyalakan kembali kesadaran bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas generasi yang hari ini sedang tumbuh.

Jika “tunas bangsa” gagal dijaga, maka kedaulatan negara dimungkinkan perlahan akan melemah. Sebaliknya, jika generasi muda tumbuh dengan pendidikan yang baik, karakter yang kuat, dan rasa cinta terhadap bangsa, maka Indonesia akan tetap memiliki harapan untuk berdiri teguh menghadapi tantangan zaman.

Di usia ke-118 tahun Harkitnas, bangsa ini mungkin belum sepenuhnya mencapai cita-cita ideal sebagaimana diimpikan para pendiri bangsa. Namun, jika semangat untuk memperbaiki diri masih hidup, kepedulian terhadap sesama tetap dijaga, dan generasi muda masih memiliki ruang untuk tumbuh dengan baik, maka harapan tentang Indonesia yang lebih adil, bermartabat, dan berdaulat akan menemukan jalannya. (Ali Muchson)

Featured image by: ChatGPT

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *