Tingwe: ‘Linting Dewe’ Racik Tembakau Tak Hanya Tradisi Kalangan Tua, di Daerah Tertentu Kini Merambah Kaum Muda

Tingwe: ‘Linting Dewe’ Racik Tembakau Tak Hanya Tradisi Kalangan Tua, di Daerah Tertentu Kini Merambah Kaum Muda
Share this :

Saya jadi tercengang ketika Bayu Ardi Sanjaya atau @bagongsanjaya, pemandu wisata dari PPIPA (Pusat Informasi Pariwisata Parakan) atau @pippa.id sedang meracik tembakau di atas kertas papir sambil dibubuhi cengkeh, kemudian dengan cekatan ia melinting papir yang sudah terisi tembakau dan cengkeh di kedua telapak tangannya. Jadilah sebatang rokok, Sabtu (6/7/2024)

“Wah, sekeren Bayu Ardi Sanjaya koq ya masih mau tingwe. Mengapa gak merokok produk pabrikan, atau rokok elektrik seperti tren kebanyakan kaum muda saat ini?” pikir saya ketika usai blusukan Parakan Living Heritage dalam rangka #blusukanedan “PSL (Pernak-Pernik Surabaya) Goes to Parakan.”

Pun saya jadi teringat saat nge-camp di Embung Kledung, Kecamatan Kledung Kabupaten Temanggung, tengah April 2021 lalu, saat ikut “IndiHome – INDIGOWES VIRTUAL Bangkit Wisata Jateng – DIY”. Saat saya mencari minuman penghangat di sebuah warung di tengah dinginnya malam, sekawanan empat anak usia SD sedang asyik melinting tembakau, kemudian merokoknya. Pikir saya, anak seusia itu sudah lihai merokok? Heran.

Protes hanya saya pendam dalam hati. Barangkali itu sudah tradisi, dan ada semacam pembiaran dari orangtua. Yang saya tahu, salah satu dari mereka adalah anak dari pemilik warung itu. Di hawa dingin malam di Kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, menghisap rokok sebagai penghangat mungkin hal yang lumrah. Lagian, Temanggung terkenal penghasil tembakau terbesar dan terbaik. Saya jadi maklum.

Tingwe: ‘Linting Dewe’ Racik Tembakau Tak Hanya Tradisi Kalangan Tua, di Daerah Tertentu Kini Merambah Kaum Muda
Pelinting sedang menambah cengkeh di kertas papir yang sudah ada tembakau pilihan

Tingwe atau Linting Dewe

Merokok menjadi simbol status sosial dan kebebasan bagi sebagian masyarakat Indonesia. Dalam berbagai acara dan pertemuan sosial, merokok sering menjadi bagian dari ritual dan ungkapan identitas. Budaya merokok terus berkembang hingga menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat.

Ragam rokok mencerminkan keragaman preferensi konsumen, gengsi, metode produksi, dan karakteristik khusus yang membedakannya antara satu dengan lainnya. Dalam dunia pertembakauan, beberapa kategori rokok mencakup berbagai jenis produk dan varian cita rasa telah menjadi bagian integral dari pasar rokok global.

Seiring kebijakan pemerintah yang menaikkan cukai hasil tembakau (CHT) berlaku per 1 Januari 2024 di kisaran 10 persen, menjadikan sebagian penikmat rokok mempertimbangkan pentingnya menghidupkan kembali budaya kearifan lokal dan tradisi dahulu. Tingwe. Tingwe atau linting dewe adalah tradisi melinting atau menggulung rokok sendiri, dan untuk dikonsumsi sendiri.

Tingwe adalah keterampilan meracik jenis tembakau dan cengkeh pilihan yang telah dirajang lembut lalu digulung atau dibalut dengan kertas linting atau papir (cigarettes paper) menjadi sebatang rokok. Setiap hisapannya memiliki cita rasa khas. Selain karena bisa menentukan cita rasa sendiri, tingwe sebagai alternatif yang lebih affordable,” ujar pemandu wisata PPIPA (Pusat Informasi Pariwisata Parakan).

Tingwe: ‘Linting Dewe’ Racik Tembakau Tak Hanya Tradisi Kalangan Tua, di Daerah Tertentu Kini Merambah Kaum Muda
Seperangkat kelengkapan tingwe

Tingwe pun kini menjadi pilihan alternatif bagi penikmat rokok di tengah melangitnya harga rokok tahun ini. Di kalangan muda Kabupaten Temanggung, konon tingwe sudah biasa. Tingwe bukan sekadar sebuah praktik merokok, pun mencerminkan sejarah, nilai-nilai komunitas, dan kreativitas dalam cara individu berinteraksi dengan tembakau. Budaya tingwe sudah ada dari dulu.

Dulu, tingwe dianggap sebagai budaya orang tua, pelaku tingwe kebanyakan dari masyarakat pedesaan. Bahwa, rokok pabrikan adalah barang mahal. Kertas rokok yang digunakan pun klobot atau kulit jagung kering. Kini, tingwe jadi tren di kalangan anak muda, budaya ngelinting dewe oleh kaum muda dijadikan cara untuk tetap bisa ‘nyebul asap’ di tengah meroketnya harga rokok.

Jika hitung-hitungan dengan prinsip ekonomis, merokok dengan tingwe jika dibandingkan dengan rokok produk pabrikan tentu rokok tingwe jauh lebih hemat. Selain bebas memilih jenis tembakau dengan harga terjangkau, seseorang bisa memilih kenikmatannya sendiri. Maksudnya, ia bisa memilih jenis tembakau dan cengkeh sesuai seleranya, juga dengan aroma campuran lainnya seperti kelembak, dan lain-lain.

Pun kalau mau mengkaji secara mendalam, tingwe tak hanya menguntungkan bagi penikmat rokok, namun juga bagi petani tembakau. Tingwe menjadikan petani tembakau merasa menjadi pemilik dari hasil tanamnya sendiri. Mereka lebih bisa mengendalikan harga jual tembakaunya sendiri, dibanding jika hanya memenuhi kebutuhan raksasa produsen rokok. Harga sering jadi permainan.

Tingwe: ‘Linting Dewe’ Racik Tembakau Tak Hanya Tradisi Kalangan Tua, di Daerah Tertentu Kini Merambah Kaum Muda
Seperangkat kelengkapan tingwe beserta sebatang rokok tingwe

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *