PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya

PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
Share this :

Membersamai Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL), komunitas pemerhati arsitektur lawas dengan kegiatan khasnya bertagar #blusukanedan, di kawasan Jalan Sumatra dan Jalan Irian Barat Surabaya. Di sana terdapat bekas Konsulat Rusia, sekolah legendaris di bawah naungan Yayasan DAPENA, hingga bangunan flat atau rumah susun lawas di Jalan Irian Barat, Minggu (17/5/2026).

Langit Surabaya pagi yang beranjak siang itu terasa terik menyengat. Panas memantul dari aspal jalan, polusi kendaraan bermotor, dan bias dari dinding-dinding bangunan berkaca. Namun, suhu kota yang menyentuh kulit tak menyurutkan langkah para peserta #blusukanedan untuk berjalan kaki menyusuri kawasan lama yang punya cukup banyak cerita.

Di sela peluh, semilir angin sesekali datang dari rindangnya pepohonan di kawasan Gubeng itu, menghadirkan suasana yang justru membuat perjalanan terasa akrab dan reflektif. Langkah demi langkah seakan membuka kembali lembar-lembar memori kota yang diam-diam masih bertahan di tengah riuh modernisasi Surabaya.

Bangunan Konsulat Rusia, Jejak Perang Dingin di Surabaya

Kota selalu menyimpan lapisan sejarah. Sebagian hadir dalam bentuk monumen megah, sebagian lain tersembunyi di sudut jalan yang tampak biasa. Di Surabaya, sejarah tak hanya berbicara tentang perjuangan kemerdekaan atau bangunan kolonial semata, melainkan juga tentang bagaimana kota ini pernah terhubung dengan percaturan politik dunia pada era Perang Dingin.

Di tengah lalu lintas padat dan deretan pepohonan di kawasan Gubeng, berdiri sebuah bangunan di Jalan Sumatra No.116–118 yang mungkin luput dari perhatian banyak warga kota. Sekilas, bangunan itu tampak sebuah rumah besar peninggalan kolonial biasa. Arsitekturnya yang kaku seolah menyamarkan kisah panjang yang pernah hidup di balik tembok-tembok tuanya.

Namun, di balik rerimbunan semak belukar, gerbang berkarat, dinding-dinding kusam yang diselimuti sarang laba-laba, atap rapuh yang mulai bocor, serta pohon ambar berusia ratusan tahun, tersimpan fragmen sejarah yang menghubungkan Surabaya dengan dinamika geopolitik dunia pada era Perang Dingin.

Tak banyak orang mengetahui bahwa bangunan tersebut pernah menjadi Konsulat Rusia di Surabaya. Keberadaannya menjadi penanda bahwa Kota Pahlawan pernah menempati posisi penting dalam peta diplomasi global antara blok Timur dan Barat pada abad ke-20.

Sebagai kota pelabuhan terbesar kedua di Indonesia, Surabaya sejak lama memiliki posisi strategis. Pada masa kolonial Hindia Belanda, kawasan Jalan Sumatra tergolong sebagai lingkungan elite Eropa. Salah satu bukti di kawasan ini masih ada peninggalan bangunan lawas, seperti juga ada Kolam Renang Brantas yang resmi dibuka pada 21 Maret 1925.

Keberadaan konsulat asing di Surabaya bukanlah hal baru. Jepang, Belanda, Inggris, hingga sejumlah negara lain pernah membuka kantor perwakilan di kota ini. Maka ketika Uni Soviet membuka konsulatnya di Surabaya pada masa hubungan hangat Indonesia–Soviet di era Presiden Soekarno, hal itu menjadi bagian dari lanskap internasional kota pelabuhan ini.

Surabaya saat itu bukan sekadar kota dagang. Kota ini merupakan pusat maritim penting, basis angkatan laut, sekaligus simpul perdagangan internasional. Dalam konteks Perang Dingin, posisi tersebut memiliki nilai strategis bagi Uni Soviet.

Hubungan Indonesia dan Uni Soviet mencapai masa keemasan pada dekade 1950–1960-an. Presiden Soekarno menjalin hubungan erat dengan Moskwa sebagai bagian dari politik luar negeri bebas aktif Indonesia.

Uni Soviet memberi bantuan besar kepada Indonesia, mulai dari pembangunan infrastruktur hingga pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Pada masa itulah pengaruh Soviet mulai terasa di berbagai kota besar Indonesia, termasuk Surabaya.

Beberapa sumber internasional menyebut kantor diplomatik Soviet di Surabaya pernah berada di Jalan Diponegoro sebelum kemudian berpindah ke Jalan Sumatra No.116–118. Meski arsip detailnya masih terbatas, keberadaan gedung konsulat ini menunjukkan bahwa Surabaya memiliki arti penting dalam hubungan bilateral kedua negara.

Pada era itu, diplomat Soviet, staf asing, hingga tamu internasional kemungkinan pernah keluar-masuk gedung tersebut. Dari ruang-ruang di dalamnya, komunikasi diplomatik berlangsung di tengah dunia yang sedang terbelah antara blok Barat dan blok Timur. Di tempat yang kini tampak sunyi itu, pernah berlangsung percakapan-percakapan penting yang terhubung dengan dinamika politik global.

Kini, nama Konsulat Rusia di Jalan Sumatra nyaris tak lagi terdengar. Aktivitas diplomatik Rusia di Surabaya disebut berhenti sekitar tahun 1990, menjelang runtuhnya Uni Soviet pada 1991. Namun bangunannya masih berdiri, meski tampak tak terawat. Hingga kini, bangunan tersebut disebut masih berada di bawah kewenangan Kedutaan Besar Rusia.

Di tengah modernisasi kota, gedung itu seolah menjadi fragmen waktu yang tertinggal. Ia bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu perubahan geopolitik dunia, yakni mulai dari era Perang Dingin, runtuhnya Uni Soviet, hingga berubahnya wajah diplomasi internasional.

Ironisnya, jejak sejarah semacam ini belum banyak dikenal publik Surabaya sendiri. Padahal, bila ditelusuri lebih jauh, keberadaan bekas Konsulat Rusia membuka narasi menarik tentang bagaimana kota ini pernah menjadi titik pertemuan berbagai kepentingan global.

Selama ini, pembicaraan mengenai bangunan heritage di Surabaya sering berhenti pada aspek arsitektur kolonial, estetika, atau fungsi ekonomi kawasan lama. Padahal, terdapat dimensi lain yang tak kalah menarik, yakni rekam diplomasi dan politik internasional yang pernah hadir di ruang kota.

Bekas Konsulat Rusia di Jalan Sumatra menjadi salah satu penandanya. Bangunan itu menunjukkan bahwa Surabaya pernah menjadi bagian dari percakapan dunia, tempat berbagai kepentingan global bersinggungan pada era Perang Dingin.

Dalam konteks sejarah perkotaan, tempat semacam ini penting karena memperlihatkan bagaimana ruang kota menyimpan jejak lintas zaman. Karena itu, penelusuran terhadap bangunan lama sejatinya bukan sekadar pencarian data sejarah, melainkan juga upaya menjaga ingatan kolektif sebuah kota.

Sayangnya, dokumentasi mengenai bekas Konsulat Rusia masih sangat minim. Arsip foto, catatan diplomat, maupun dokumen sejarahnya belum banyak yang dapat diakses publik. Bisa jadi, sebagian arsip tersimpan di Rusia, Belanda, atau koleksi pribadi yang belum terpublikasi.

Karena itu, penelusuran terhadap bangunan ini sebenarnya bukan sekadar nostalgia sejarah. Ia merupakan upaya menyelamatkan ingatan kota di tengah gempuran pembangunan dan kehidupan modern.

Surabaya membutuhkan lebih banyak cerita tentang ruang-ruang yang pernah membentuk identitasnya. Bukan hanya gedung megah yang sudah mainstream, melainkan juga bangunan tua yang menyimpan kisah diplomasi, hubungan antarnegara, dan perubahan dunia. Kota tak hanya dibangun oleh belantara beton dan jalan raya, tetapi juga oleh ingatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Mungkin banyak warga Surabaya telah berkali-kali melewati Jalan Sumatra tanpa pernah menyadari bahwa kawasan itu pernah menjadi salah satu penanda era Perang Dingin di Surabaya. Barangkali justru di situlah menariknya sejarah kota: ia kerap bersembunyi di tempat-tempat yang tampak biasa.

Beberapa data mengenai bekas Konsulat Rusia dan/atau Uni Soviet di Surabaya masih bersifat fragmentaris, yakni parsial dan belum menyeluruh. Bangunan diperkirakan didirikan pada awal abad ke-20, yakni antara dekade 1900-an hingga 1920-an.

Karena itu, penelusuran sejarah bangunan ini masih sangat terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut melalui arsip surat kabar lama, foto udara dan peta kolonial, arsip diplomatik Indonesia–Uni Soviet, hingga wawancara sejarah lisan dengan warga sekitar kawasan Jalan Sumatra dan Darmo.

Bangunan tua di Jalan Sumatra itu mengingatkan bahwa sejarah sering kali tak hadir dengan suara keras. Ia bertahan diam-diam di balik tembok tua, di sela denyut kota yang terus bergerak, menunggu untuk kembali dibaca dan dimaknai. Ketika sebuah kota mau merawat memorinya, sejarah tak lagi sekadar masa lalu, melainkan cermin untuk memahami identitas dan perjalanan sebuah peradaban.

SD, SMP, dan SMA DAPENA

Sejarah sekolah ini bermula pada tahun 1955, berkaitan dengan peristiwa Irian Barat. Pemerintah Indonesia saat itu mengeluarkan kebijakan bahwa anak-anak WNI keturunan tak diperkenankan belajar di sekolah asing dengan program Belanda atau sekolah Concordant di Surabaya.

Sekolah-sekolah tersebut kemudian ditutup oleh Pemerintah Republik Indonesia. Penutupan itu menyebabkan banyak anak kehilangan tempat belajar. Para orangtua merasa sangat terbebani. Di antara mereka terdapat nama-nama seperti dr. Go Lam Djoen, Gerda Tan Kian Hok, Tan Hay Siang (Fajar Notonegoro), Tjioe Bian Gwan (Tjipto Biantoro), dan Mr. Oe Siang Djie (Setya Dharma).

Didorong oleh kebutuhan yang mendesak, maka para orangtua tersebut sepakat bergerak untuk mendirikan sebuah yayasan pendidikan sebagai tempat penampungan bagi anak-anak yang kehilangan akses belajar mereka.

Dalam sebuah pertemuan di Jalan Ketabang Surabaya, di kediaman dr. Go Lam Djoen, diputuskan nama yayasan yang akan didirikan. Oleh Mr. Oe Siang Djie, yayasan tersebut diberi nama “Yayasan DANA PERGURUAN NASIONAL” atau “DAPENA”. Yayasan itu resmi berdiri di Surabaya pada 16 Desember 1957 melalui Akta Notaris Sie Kwan Ho Nomor 75.

Hingga kini, SD, SMP, dan SMA DAPENA masih berdiri di Jalan Sumatra No.112–114 Surabaya, sementara Play Group (PG) dan Taman Kanak-Kanak (TK) berlokasi di Jalan Dinoyo 33 Surabaya.

Lebih dari sekadar institusi pendidikan, DAPENA menjadi penanda bagaimana pendidikan pernah lahir dari situasi krisis dan kecemasan sosial. Di balik bangunan sekolah yang kini tampak biasa, tersimpan semangat gotong royong para orangtua yang berupaya menjaga masa depan anak-anak mereka di tengah perubahan politik dan sosial pada masa itu.

Flat atau Rusun Lawas di Jalan Irian Barat

Tak banyak yang mengetahui bahwa di Surabaya terdapat rumah susun tua yang hingga kini masih berpenghuni. Menurut cerita warga, rumah susun tersebut dibangun sekitar tahun 1950-an dan dimiliki oleh dua pihak, yakni PT Dok dan Perkapalan Surabaya serta PTPN.

Meski belum ditemukan dokumen valid yang secara pasti menjelaskan usia bangunan ini, kondisi fisiknya seolah menjadi penanda waktu. Dinding-dinding yang dicat putih tampak kusam, dipenuhi lumut, dan menghitam oleh debu yang lama menempel. Beberapa kaca terlihat pecah, sementara bagian atap mulai lapuk dimakan usia.

Saat berkunjung ke rusun empat lantai itu pada siang hari, suasana sunyi terasa begitu kuat. Tak banyak tanda kehidupan tampak di sana. Tidak terdengar suara anak-anak bermain, tak terlihat pula warga yang bercengkerama di pelataran seperti lazimnya suasana rumah susun pada umumnya.

Agaknya kini mungkin hanya tersisa sedikit penghuni, sebab rombongan #blusukanedan PSL pun tak memiliki akses untuk masuk lebih jauh ke dalam area bangunan.

Kesunyian itu justru menghadirkan kesan reflektif, bangunan tua bukan hanya tentang fisik yang menua, melainkan juga tentang perubahan zaman yang perlahan menggeser denyut kehidupan sebuah ruang. Rusun lawas di Jalan Irian Barat seolah menjadi pengingat bahwa kota terus bergerak maju, sementara sebagian jejak masa lalunya tertinggal dalam diam membeku.

*

Di tengah laju modernisasi yang terus mengubah wajah Surabaya, perjalanan menyusuri Jalan Sumatra dan sekitarnya menghadirkan kesadaran, sebuah kota sesungguhnya dibangun tak hanya oleh gedung-gedung baru dan jalan yang semakin sesak, melainkan juga oleh jejak-jejak sejarah yang masih bertahan di sudut-sudutnya.

Bekas Konsulat Rusia, sekolah DAPENA, hingga rusun lawas di Jalan Irian Barat memperlihatkan bahwa setiap bangunan menyimpan lapisan cerita: tentang diplomasi dunia, perjuangan pendidikan, hingga kehidupan masyarakat kota yang perlahan berubah oleh zaman.

Melalui langkah kecil seperti #blusukanedan bersama PSL, ruang-ruang lama yang nyaris terlupakan kembali diajak berbicara. Bangunan tua tak sekadar benda diam yang rapuh menua, namun saksi perjalanan manusia dan perkembangan kota.

Di samping itu, juga tentang perubahan sosial, dan dinamika sejarah yang pernah membentuk Surabaya hingga hari ini. Dari sana, kita belajar merawat kota tak hanya soal membangun yang baru, melainkan juga menjaga ingatan agar generasi mendatang tetap mengenal akar sejarah kotanya sendiri.

Sebab ketika sebuah kota kehilangan memorinya, ia perlahan kehilangan sebagian identitasnya. Namun ketika ingatan kolektif terus dirawat, kota akan tetap hidup, bukan hanya sebagai ruang fisik, melainkan juga sebagai ruang cerita yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Referensi

  1. Detikjatim. https://www.detik.com/jatim/berita/d-8390140/sejarah-kolam-renang-brantas-cagar-budaya-surabaya-kini-tinggal-nama
  2. Buku Pengabdian 7 Windu. 2013. Yayasan DAPENA.
  3. Pemerintah Kota Surabaya. https://surabaya.go.id?. Daftar Perwakilan Negara Asing di Surabaya.
  4. KF Map Indonesia – Consulate of Uni Soviet](https://kfmap.asia/embassy/consulate-of-uni-soviet-13248?. Data lokasi konsulat Uni Soviet di Surabaya.
  5. Wikipedia – Consulate-General of Japan, Surabaya. https://en.wikipedia.org/wiki/Consulate-General_of_Japan%2C_Surabaya?. Riwayat kawasan diplomatik Jalan Sumatra Surabaya sejak era kolonial.

Biarkan Foto Bicara
Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya

Bangunan Bekas Konsulat Rusia

PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
Foto: Wildan Arief
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya

Sekolah DAPENA Jalan Sumatra 112-114

PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
Foto: Wildan Arief
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
Foto: Wildan Arief
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya

PG-TK DAPENA Jalan Dinoyo 33

PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
Foto: Wildan Arief
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
Foto: Wildan Arief
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya

Flat atau Rumah Susun Jalan Irian Barat

PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya
PSL #blusukanedan: Menyusuri Jejak Memori Kota di Jalan Sumatra Surabaya

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *