Bahasa adalah cermin kepribadian. Melalui diksi atau kata-kata yang kita pilih, orang lain tak hanya memahami apa yang kita pikirkan, namun juga menilai siapa diri kita. Setiap kata membawa makna, membangun kesan, bahkan dapat memengaruhi hubungan antarmanusia. Karena itu, kebijaksanaan dalam memilih diksi menjadi salah satu ukuran kedewasaan seseorang dalam bertutur.
Dalam https://kbbi.web.id/, diksi/dik·si/ n Ling, pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).
Dalam ilmu bahasa, diksi adalah pilihan kata yang digunakan seseorang untuk menyampaikan gagasan, pendapat, maupun perasaannya. Sekilas diksi tampak sebagai persoalan teknis kebahasaan. Padahal, pilihan kata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap makna, suasana, dan penerimaan sebuah pesan.
Memilih diksi yang tepat bukan sekadar soal ketepatan makna, melainkan juga mencerminkan tingkat pendidikan, kedewasaan berpikir, kepekaan sosial, dan empati, serta karakter penuturnya. Seseorang dapat dinilai arif atau sebaliknya salah satunya dari cara ia memilih kata ketika berbicara.
Bagi pejabat publik, tokoh masyarakat, pemuka agama, pendidik, maupun figur yang menjadi perhatian masyarakat, kehati-hatian dalam memilih diksi menjadi semakin penting. Setiap ucapan mereka memiliki jangkauan yang luas, mudah direkam, disebarluaskan, dan dikomentari oleh publik. Oleh sebab itu, setiap kata yang diucapkan seyogianya dipertimbangkan secara matang.
Menariknya, perhatian publik tak hanya tertuju pada substansi ucapan seorang tokoh, namun juga pada pilihan katanya. Salah satu komentar di akun Instagram @julia_4j (21 Juli 2026) menunjukkan bagaimana masyarakat kini semakin peka terhadap persoalan diksi. Akun @dimsum_cileungsi_bogor menanggapi komentar @sarahlitta dengan menulis demikian:
“Kenapa milih katanya ‘binatang’, ya? Padahal kalau orang Jawa mengiaskan sesuatu yang belum dipahami itu sama makanan. ‘PU kui panganan opo, to?’ (PU itu makanan apa?). Kayaknya lebih enak didengar ya kalau seperti ini. Kan mau nyemplung di bidang itu diibaratkan mau ‘makan’ bidang tersebut. Ah, tapi mau bahas diksi-diksi pejabat sekarang kayak udah capek banget.”
Terlepas dari benar atau tidaknya pendapat tersebut, komentar itu memperlihatkan bahwa masyarakat tak hanya menilai isi sebuah pernyataan, namun juga kehalusan bahasa yang digunakan. Dalam budaya Jawa, misalnya, ungkapan yang dianalogikan dengan “makanan” dapat terdengar lebih ringan dan tak merendahkan dibandingkan penggunaan kata “binatang”.
Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan satu kata saja dapat melahirkan kesan yang sangat berbeda. Diksi bukan sekadar persoalan linguistik, melainkan juga persoalan etika, empati, dan penghormatan terhadap mitra bicara.
Beberapa ungkapan yang pernah memicu kontroversi di ruang publik, seperti “Ndamu”, “Londo Ireng”, atau “PU itu binatang apa?”, dipandang oleh banyak orang sebagai pilihan diksi yang kurang tepat karena dapat dimaknai merendahkan, melecehkan, atau tak menghargai mitra bicara maupun kelompok tertentu, terlebih jika ditujukan kepada masyarakat yang menjadi pihak yang dilayani.
Terlepas dari konteks yang melatarbelakanginya, pilihan kata semacam itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan melukai perasaan orang lain. Lebih jauh lagi, ucapan yang tak bijak dapat mengikis rasa hormat, mengurangi kepercayaan publik, dan mengaburkan substansi pesan yang sebenarnya ingin disampaikan.
Di era media sosial, sebuah ucapan dapat menyebar dalam hitungan detik. Ketika diksi yang digunakan dinilai negatif, kritik bahkan kecaman dapat bermunculan dari berbagai arah. Pada akhirnya, dampak buruk itu justru kembali kepada penuturnya. Pepatah, “Mulutmu, harimaumu.”, tetap relevan hingga hari ini: setiap kata mengandung konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan.
Oleh sebab itu, membiasakan diri bertutur dengan santun, menggunakan diksi yang tepat, serta menghormati norma yang berlaku dalam masyarakat merupakan sikap yang patut dijaga. Bahasa yang baik bukan hanya memperjelas pesan, namun juga membangun rasa saling menghormati, menciptakan suasana yang kondusif, dan menghadirkan kesejukan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pada akhirnya, kata-kata bukan sekadar rangkaian bunyi. Kata-kata adalah cermin kepribadian. Sebelum berbicara, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kata-kata yang akan kita ucapkan membawa manfaat, menjaga martabat, dan mempererat persaudaraan, atau justru sebaliknya. Sebab, acap kali seseorang dikenang bukan karena banyaknya kata yang diucapkan, melainkan karena kebijaksanaan dalam memilihnya.
Namun, kebijaksanaan dalam memilih diksi tak hanya tuntutan bagi pejabat publik atau tokoh masyarakat. Setiap orang memikul tanggung jawab yang sama dalam menjaga lisan dan tutur katanya. Orangtua membentuk karakter anak melalui kata-kata yang mereka ucapkan. Guru mendidik murid dengan bahasa yang menginspirasi. Pemimpin membangun kepercayaan melalui tutur kata yang menyejukkan.
Bahkan di media sosial, setiap pengguna sesungguhnya sedang mempertaruhkan integritasnya melalui pilihan kata yang ia tuliskan. Sebab itu, semakin luas pengaruh seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya dalam memilih diksi. Namun, sekecil apa pun ruang kita berbicara, setiap kata tetap memiliki daya untuk menyatukan atau memecah, menguatkan atau melukai.
“Sebab, pada akhirnya, manusia lebih sering diingat bukan karena kerasnya suara yang ia tinggikan, apalagi sambil menggebrak meja, melainkan karena kebijaksanaan kata-kata yang ia pilih.” (Ali Muchson)
Referensi
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Diksi. Tersedia pada: https://kbbi.web.id/diksi. Diakses 29 Juli 2026 pukul 13.05 WIB.
Featured image: ChatGPT/Image
