Menemukan Diri dalam Perjalanan Kreatif Sembilan Perupa
Seni rupa pada akhirnya bukan hanya tentang apa yang tampak di atas kanvas. Di balik garis, warna, bentuk, dan tekstur, selalu ada perjalanan panjang seorang seniman dalam mengenali dirinya, membaca kehidupan, serta menemukan cara untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain.
Karena itu, setiap karya dapat menjadi semacam jejak perjalanan, yakni sebuah rekaman tentang pengalaman, kegelisahan, pencarian, sekaligus cara pandang terhadap dunia. Dalam setiap jejak visual itu, tersimpan pula dialog batin antara seniman dengan dirinya sendiri, dengan lingkungan yang dihayatinya, dan dengan zaman yang terus berubah.
Semangat itulah yang terasa dalam pameran bersama bertajuk Persona Kelana yang dibuka di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85, Surabaya, Sabtu (15/8/2026), pukul 16.00 WIB. Pameran ini mempertemukan sembilan perupa dengan latar belakang, pengalaman, karakter, serta kecenderungan artistik yang beragam.
Kesembilan perupa tersebut adalah Aliet, Ami Tri, Budi Bi, Arik Siswoyo, Henry Siswanto, Rasmono Sudarjo, Faith Shamayim, Inge W. Benjamin, dan Yulistianto (Joel). Mereka datang dengan perjalanan kreatif masing-masing, lalu bertemu dalam satu ruang pameran tanpa harus kehilangan identitas personal. Peserta termuda usia 17 tahun, dan yang paling senior usia 82 tahun. Seni adalah perjalanan tak mengenal batas usia.
Persona Kelana seperti sebuah ruang temu bagi berbagai karakter artistik. Tak ada tuntutan untuk menyatukan seluruh karya dalam satu corak visual. Sebaliknya, keberagaman justru dibiarkan tumbuh dan berbicara melalui bahasa masing-masing perupa.
Dalam pengertian sederhana, persona dapat dipahami sebagai karakter atau identitas yang ditampilkan seseorang kepada dunia. Sementara kelana mengandung pengertian perjalanan, sebuah proses bergerak dari satu pengalaman menuju pengalaman berikutnya.
Lebih lanjut ketika keduanya dipertautkan menjadi satu frasa, maka Persona Kelana menjadi metafora tentang perjalanan seorang seniman dalam membentuk, menemukan, sekaligus terus menguji identitas kreatifnya.
Setiap perupa membawa ruang masing-masing ke dalam pameran. Ruang itu dibangun melalui pilihan objek, warna, teknik, komposisi, maupun gagasan yang lahir dari pengalaman personal. Dengan demikian, karya-karya yang hadir tak sekadar menjadi benda visual, namun juga semacam pintu yang memungkinkan pengunjung memasuki dunia pemikiran dan pengalaman masing-masing seniman.
Keberagaman tersebut menjadi kekuatan utama pameran. Ada karya yang mengajak pengunjung menikmati eksplorasi bentuk dan warna, ada yang berangkat dari penghayatan terhadap budaya, sementara karya lainnya merefleksikan kehidupan sehari-hari dan pengalaman manusia. Perbedaan pendekatan itu justru menciptakan percakapan visual yang menarik ketika seluruh karya hadir berdampingan dalam satu ruang.
Di sinilah Persona Kelana menemukan maknanya. Sembilan perjalanan yang berbeda tak harus menuju tujuan yang sama. Justru karena berbeda, masing-masing perjalanan memberikan perspektif baru. Goresan, teknik, pilihan warna, serta cara setiap perupa memandang objek menjadi bagian dari mosaik yang memperkaya pengalaman apresiasi.
“Persona Kelana adalah kisah perjalanan kreatif dari sembilan seniman yang saling melengkapi dalam satu ruang, satu waktu, dan satu pameran bersama,” ujar Ami Tri, salah satu peserta pameran.
Pameran ini menghadirkan 50 lukisan, dua karya instalasi, serta 243 karya Budi Bi yang dicetak pada kertas concord dengan ukuran kartu pos (postcard). Keragaman medium dan bentuk penyajian tersebut semakin memperlihatkan bahwa perjalanan kreatif tak selalu memiliki satu jalan. Ada banyak kemungkinan yang dapat ditempuh untuk menerjemahkan gagasan menjadi karya.
Bagi publik, perjumpaan dengan karya-karya tersebut dapat menjadi pengalaman yang lebih dari sekadar melihat lukisan. Pengunjung diajak berhenti sejenak, mengamati, merasakan, kemudian membangun tafsirnya sendiri. Sebuah karya boleh jadi berbicara tentang pengalaman senimannya, namun ketika hadir di hadapan publik, ia dapat menemukan makna baru melalui pengalaman setiap orang yang melihatnya.
Pada titik itu, seni menjadi ruang dialog. Seniman berbicara melalui karya, sementara penikmat menjawabnya melalui pengalaman, ingatan, dan tafsir masing-masing. Tak selalu diperlukan penjelasan panjang untuk memahami sebuah karya. Kadang-kadang, perasaan yang muncul ketika berdiri di hadapan sebuah lukisan justru merupakan bagian paling jujur dari proses apresiasi.
Lantaran Persona Kelana itu tak hanya merayakan keberadaan sembilan perupa, namun juga merayakan perjalanan itu sendiri. Perjalanan untuk terus mencoba, bereksplorasi, menemukan bentuk baru, dan sesekali mempertanyakan kembali apa yang selama ini diyakini sebagai identitas artistik.
Pameran ini terbuka bagi pecinta seni, komunitas kreatif, media, akademisi, pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum. Kehadiran publik menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah karya, sebab seni tak benar-benar selesai ketika ia meninggalkan studio dan dipasang di ruang pamer. Ia baru memulai perjalanan berikutnya ketika berjumpa dengan mata, pikiran, dan perasaan pengunjung dan/atau penikmat karya.
“Mari hadir dan menjadi bagian dari perjalanan kreatif sembilan perupa dalam Persona Kelana,” pungkas Ami Tri.
Pada akhirnya, Persona Kelana mengingatkan bahwa setiap manusia sesungguhnya adalah pejalan. Kita tumbuh dari pengalaman, dibentuk oleh perjumpaan, dan terus mencari makna di sepanjang perjalanan. Bagi para perupa, pencarian itu menemukan jalannya melalui karya. Bagi penikmat karya, perjalanan tersebut mungkin menemukan gema yang berbeda dalam diri masing-masing.
Sebab, sebagaimana sebuah perjalanan tak pernah benar-benar berhenti pada satu tempat, kreativitas pun selalu membuka kemungkinan untuk melangkah lebih jauh. Di antara kanvas, warna, bentuk, dan ruang pamer itulah sembilan perupa menorehkan ‘jejaknya’ bukan sebagai perjalanan yang seirama, melainkan sebagai sembilan persona yang terus berkelana mencari makna. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
Persona Kelana





















