Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi, namun Diperjuangkan dengan Jiwa dan Pengorbanan

  • EDUKASI
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Share this :

Perwakilan Roode Brug Soerabaia Turut Menghadiri Undangan Tasyakuran
Harvetnas Tahun 2026

SURABAYA — Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak berhenti setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Justru setelah kemerdekaan diproklamasikan, bangsa Indonesia menghadapi rangkaian pertempuran dan tekanan diplomasi untuk mempertahankan eksistensi Republik Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Ketua LVRI Kota Surabaya Kolonel (Purn.) Gitoyo, S.E., M.M. dalam sambutannya pada Tasyakuran Hari Veteran Nasional ke-77 Tahun 2026 di Gedung LVRI, Jalan Mastrip, Surabaya, Kamis (20/8/2026) pagi.

Menurut Gitoyo, kedatangan pasukan Sekutu ke Indonesia pada awalnya bertujuan melucuti tentara Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II. Namun, situasi berkembang menjadi konflik ketika Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia.

Melihat gelagat Belanda tersebut, maka rakyat pun melakukan perlawanan di berbagai daerah, antara lain melalui Palagan Ambarawa, Bandung Lautan Api, hingga Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

“Perjuangan itu tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui diplomasi,” tuturnya.

Di tengah situasi tersebut, ibu kota Republik Indonesia dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946. Perjuangan diplomatik kemudian melahirkan Perjanjian Linggarjati, yang memuat pengakuan de facto Belanda atas wilayah Republik Indonesia yang meliputi Jawa, Madura, dan Sumatra. Namun, kesepakatan tersebut tidak serta-merta menghentikan konflik.

Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947 hingga 5 Agustus 1947 kembali menguji ketahanan Republik. Perjanjian Renville kemudian melahirkan situasi politik dan wilayah yang semakin sulit bagi Indonesia.

Ketegangan kembali memuncak ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada 19 Desember 1948 hingga 5 Januari 1949, Belanda menguasai Yogyakarta. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, serta sejumlah pemimpin Republik ditangkap dan diasingkan.

Namun, kata Gitoyo, penangkapan para pemimpin negara bukan berarti Republik Indonesia telah berakhir. Perlawanan terus berlangsung. Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi salah satu bukti bahwa Republik masih ada dan perjuangan belum padam.

Perjuangan bersenjata kemudian berjalan beriringan dengan diplomasi. Persetujuan Roem-Royen pada 7 Mei 1949 membuka jalan bagi kembalinya Pemerintah Republik ke Yogyakarta dan dilanjutkan dengan Konferensi Meja Bundar.

Salah satu peristiwa penting dalam perjuangan bersenjata terjadi dalam Serangan Umum Surakarta pada 7–10 Agustus 1949. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu landasan historis penetapan 10 Agustus sebagai Hari Veteran Nasional.

Bagi Gitoyo, rangkaian sejarah tersebut memberikan satu pelajaran penting: kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil dari keberanian, pengorbanan, persatuan, dan keteguhan hati.

Karena itu, ia mengajak generasi penerus tidak sekadar menghafal nama pertempuran dan tanggal sejarah. Yang jauh lebih penting adalah memahami nilai perjuangan di baliknya.

“Semangat perjuangan tidak boleh berhenti pada generasi kami. Tugas generasi sekarang adalah meneruskan perjuangan itu dengan cara mengisi kemerdekaan, menjaga persatuan, dan membangun Indonesia,” pungkasnya.

Di situlah makna veteran, menurut Gitoyo, tidak hanya berhenti sebagai bagian dari masa lalu. Para veteran adalah pengingat bahwa sebuah bangsa dapat berdiri tegak karena pernah ada generasi yang bersedia mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk mempertahankan kemerdekaan.

Kini, ketika peperangan telah berganti menjadi tantangan pembangunan, nilai perjuangan itu tetap relevan: pantang menyerah, menjaga persatuan, dan bekerja untuk Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Mayor Infanteri Iwandono, S.H., Komandan Koramil Kecamatan Karangpilang, Surabaya, mewakili Komandan Kodim Surabaya, mengatakan bahwa peran TNI saat ini tidak hanya berkaitan dengan pertahanan dalam menghadapi ancaman militer, namun juga diwujudkan melalui berbagai operasi militer selain perang (OMSP) yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat.

“Di antaranya membantu pemerintah memantau harga gabah di tingkat petani, mengawasi stabilitas harga kebutuhan pokok, mendukung Bulog dalam upaya menekan harga beras, pembangunan sumur bor untuk membantu ketersediaan air bagi masyarakat, serta terlibat dalam penanganan berbagai bencana,”lanjutnya.

Masih menurut Iwandono, keterlibatan tersebut merupakan bagian dari komitmen TNI untuk selalu hadir di tengah masyarakat dan membantu pemerintah menghadapi berbagai persoalan yang berdampak langsung terhadap kehidupan rakyat.

“Semangat pengabdian itu merupakan bentuk kesinambungan nilai perjuangan para veteran. Jika dahulu para pejuang mempertahankan kemerdekaan melalui perjuangan bersenjata, maka pada masa kini pengabdian diwujudkan melalui kerja nyata, kepedulian sosial, serta upaya menjaga ketahanan dan kesejahteraan masyarakat, pungkasnya.

Acara kemudian ditutup dengan penyerahan penghargaan dari LVRI Pusat kepada sejumlah veteran yang dinilai berhak menerima penghargaan berdasarkan Surat Keputusan Ketua LVRI Pusat. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara

Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi
Perwakilan Roode Brug Soerabaia Turut Menghadiri Undangan Tasyakuran
Harvetnas Tahun 2026
Ketua LVRI Surabaya: Kemerdekaan Tidak Diraih Sekali Jadi

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *