SURABAYA â Kemerdekaan bukan sekadar peristiwa yang diperingati setiap bulan Agustus. Di balik merah putih yang berkibar dan gegap gempita perayaan Hari Kemerdekaan, ada ingatan tentang perjuangan yang semestinya terus dirawat agar tak terputus oleh pergantian generasi.
Kiranya kesadaran itu yang hendak dibangun Komunitas Roode Brug Soerabaia melalui giat bertajuk âPawai Agustusan 2026â yang digelar di pusat Kota Surabaya, yakni jalan kaki melintasi trotoar start dari Siola Jalan Tunjungan hingga finis di Jalan Sedap Malam-Balai Kota Surabaya, Sabtu (22/8/2026) petang.
Kegiatan tersebut merupakan agenda internal komunitas untuk turut menyemarakkan peringatan ke-81 Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus menjadi ruang bagi anggota untuk kembali menghidupkan ingatan tentang sejarah perjuangan bangsa.
Pawai dimulai dari depan Siola pukul 18.30, kemudian menyusuri Jalan Tunjungan hingga berakhir di kawasan Balai Pemuda sekitar pukul 20.30. Berbeda dengan pawai yang menggunakan badan jalan, kegiatan ini berlangsung jalan kaki menyusuri sepanjang trotoar. Dengan demikian, aktivitas komunitas tanpa mengganggu arus lalu lintas kendaraan maupun pengguna jalan lainnya.
Sekitar 30 hingga 50 orang anggota Roode Brug Soerabaia turut turun serta ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka hadir sebagai bagian dari komunitas, tanpa melibatkan unsur dari pihak luar komunitas.
Ketua Roode Brug Soerabaia, Satrio Sudarso, mengatakan kegiatan tersebut tak semata-mata dimaksudkan sebagai bentuk perayaan internal. Lebih dari itu, selain pawai menjadi bagian dari upaya komunitas untuk mengedukasi anggotanya, sekaligus mengajak masyarakat Surabaya untuk kembali mengingat sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Menurut Satrio, sejarah akan kehilangan maknanya apabila hanya berhenti sebagai catatan dalam buku atau tanggal yang berulang setiap tahun. Karena itu, menghadirkan kembali narasi sejarah di ruang publik menjadi salah satu cara untuk membangun kesadaran bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini memiliki perjalanan panjang dan pengorbanan yang sangat berat.
âTujuannya selain mengedukasi anggota, juga untuk mengedukasi dan membangunkan memori kolektif masyarakat Surabaya akan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, khususnya pada era Pertempuran Surabaya 1945,â ujar Satrio.
Meski membawa semangat sejarah, kegiatan ini berlangsung sederhana. Tak ada teatrikal maupun adegan pertempuran seperti yang kerap sebagaimana yang ditampilkan dalam kegiatan sejarah Roode Brug Soerabaia. Komunitas juga tak membawa unit replika senjata apa pun.
Sebagai gantinya, suasana pawai diisi dengan pembacaan puisi, pertunjukan musik lagu perjuangan secara langsung, serta pembacaan pidato Gubernur Soerjo. Pilihan tersebut justru memberi ruang bagi sejarah untuk disampaikan melalui kata, musik, dan suara. Bukan melalui dramatisasi pertempuran.
Ada sesuatu yang menarik dari cara sederhana itu. Sejarah tak selalu harus dihadirkan dengan kemeriahan. Kadang-kadang, ia cukup disampaikan melalui sebuah puisi, sepotong pidato, atau lagu yang membuat seseorang berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya pernah terjadi di tempat yang sedang ia lewati?
Jalan Tunjungan, misalnya, tak sekadar ruang kota yang dipenuhi pertokoan, kafe, pejalan kaki, dan aktivitas ekonomi. Ia merupakan bagian dari lanskap sejarah Surabaya yang menyimpan jejak perjalanan sebuah kota perjuangan. Ketika sebuah komunitas berjalan di sepanjang trotoarnya sambil membawa narasi sejarah, ruang kota seakan memperoleh kembali lapisan ingatannya.
Di situlah harapannya, pawai Agustusan Roode Brug Soerabaia menemukan maknanya. Ia tak sekadar kegiatan untuk mengisi kalender peringatan kemerdekaan, namun sebagai upaya kecil untuk mempertemukan masa lalu dengan kehidupan masyarakat hari ini.
Sebab, bangsa yang besar tak hanya bangsa yang mampu mengingat sejarah, namun juga bangsa yang mau terus menghidupkan ingatan tersebut. Bukan untuk terjebak di masa lalu, melainkan untuk memahami dari mana sebuah kemerdekaan berasal dan mengapa ia harus terus dijaga?
Pada akhirnya, pawai itu mungkin hanya berlangsung dalam beberapa jam. Para peserta berjalan dari Siola menuju Balai Pemuda, membaca puisi, memainkan musik, dan menggemakan kembali pidato seorang tokoh sejarah.
Namun, yang diharapkan tertinggal bukan sekadar jejak langkah mereka di trotoar, melainkan sebuah ingatan. Bahwa di kota ini, pernah ada generasi yang berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan segala yang mereka miliki. Dan selama memori kolektif itu terus dibangunkan, sejarah tak akan benar-benar menjadi masa lalu. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara






































































