“Juk Ijak-Ijuk”: Sepuluh Orang, Satu Gerbong Commuter Line, dan Mbolang Dadakan
Ada kalanya perjalanan yang paling menyenangkan justru lahir tanpa perencanaan panjang. Tak ada itinerary yang disusun berhari-hari, tak ada rapat menentukan tujuan, bahkan tak ada kepastian sejak awal hendak pergi ke mana. Cukup satu pesan WhatsApp: “Gabut, arep menyang endi?” Dari obrolan kecil itulah perjalanan bisa tiba-tiba menemukan arah.
Lho, mengapa mBangil, bukan Bangil? Pengucapan kata Bangil sering terdengar menjadi mBangil dalam percakapan umum sehari-hari sebagian masyarakat Jawa. Hal itu, lantaran adanya proses fonologis yang disebut nasalisasi (penambahan bunyi sengau/nasal ‘em’). Seperti pula: Bandung diucapkan mBandung, Bojonegoro – mBojonegoro, Bali – mBali, dan lain-lain.
Begitulah Mendadak mBangil, sebuah perjalanan dadakan memanfaatkan hari libur Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriyah, Selasa (25/8/2026). Bermula dari saling kirim pesan WhatsApp antarperson karena sama-sama sedang gabut, obrolan kemudian melebar ke beberapa teman. Tanpa banyak basa-basi, terkumpullah sepuluh orang yang sepakat untuk mbolang dadakan ke Bangil.
Bagi mereka, spontanitas semacam ini bukan sesuatu yang asing. Mereka sudah terbiasa dengan prinsip sat set wat wet: ada ide, cocok, langsung berangkat. Tak perlu terlalu banyak pertimbangan yang justru sering membuat rencana berhenti sebagai wacana.
Blusukan bagi mereka bukan soal seberapa matang perjalanan dirancang, melainkan seberapa jauh kaki mau melangkah dan seberapa terbuka mata melihat sesuatu yang selama ini mungkin luput dari perhatian.
Yang membuat perjalanan ini terasa ringan adalah karakter para pelakunya. Semuanya easy going, tak pernah rewel, dan relatif mudah diajak ke mana saja. Mau naik apa pun, oke. Naik sepur ekonomi yang lutut bertemu lutut, naik angkot, naik becak, bahkan jalan kaki tak menjadi persoalan. Pun istilah naik juk ijak-ijuk, duduk seadanya, berhimpitan, yang penting sampai tujuan. Justru ini menjadi bagian dari keseruan perjalanan.
Padahal, beberapa di antara mereka sudah terbiasa bepergian dengan montor muluk atau kapal mabur, atau kendaraan pribadi yang tentu lebih nyaman. Namun ketika kali ini diajak naik Commuter Line Supas kelas ekonomi, tak ada yang mengeluh. Tak ada pula yang sibuk mencari kenyamanan berlebihan. Sebab, inti perjalanan bukan kendaraan yang digunakan, melainkan pengalaman yang diperoleh sepanjang perjalanan.
Prinsip itu berlaku pula terhadap cuaca. Panas menyengat, berangkat dengan jalan kaki. Dingin pun, tetap berangkat. Begitu juga urusan makan. Mau makan di restoran, ayo. Kalau harus makan ngemper kaki lima di pinggir jalan, juga tak masalah. Tak ada standar khusus yang membuat perjalanan menjadi rumit.
Bahkan soal pakaian pun tak ada ketentuan harus kenakan dress code tertentu: model, warna, dan lain-lain, yang kerap berpotensi membuat anggota pusing. Datang dengan pakaian masing-masing, bertemu, lalu jalan. Sederhana. Justru kesederhanaan semacam itulah yang membuat kebersamaan terasa lebih cair.
Akhirnya, sepuluh orang berangkat menuju Bangil menggunakan Commuter Line Supas. Perjalanan pulang-pergi Surabaya–Bangil hanya Rp12.000,00. Kereta berangkat dari Stasiun Surabaya Gubeng pukul 07.27 WIB dan tiba di Stasiun Bangil pukul 08.46 WIB.
Mereka yang ikut dalam perjalanan ini adalah Stefanus Nuradhi, Sylvi Mutiara, Yoshi W. Sujoso, Chrisyandi Tri Kartika, Ratri Saraswati, Citra Rachman, Rimbun Vidi Tahman, Sakuntala Verlista, Agris Syah, dan Ali Muchson.
Begitu keluar dari Stasiun Bangil, perjalanan mbolang dadakan pun dimulai dengan jalan kaki dengan udara Bangil yang sangat terik di bulan Agustus. Tak ada target muluk-muluk. Yang penting menyusuri kota, melihat apa yang menarik, menikmati suasana, mencicipi kuliner, dan tentu saja mengabadikan perjalanan dengan memotret subjek foto yang menggoda mata lensa.
Tujuan pertama dan utama adalah sarapan. Sebab, blusukan dengan jalan kaki tanpa mengisi perut tentu bukan keputusan yang bijaksana. Pilihannya pun yang dicari bukan menu makanan kekinian, atau menu ala resto, melainkan kuliner yang lekat dengan identitas setempat, Nasi Punel. Salah satu kekayaan kuliner kearifan lokal khas Kota Bangil.
Dari meja makan, jalan kaki kemudian bergeser menjadi perjalanan menelusuri jejak kota. Sebagai bagian dari PSL (Pernak-Pernik Surabaya Lama), komunitas yang memiliki perhatian terhadap arsitektur dan bangunan-bangunan lama, mata tentu tak hanya tertuju pada suasana jalan. Bangunan tua, detail arsitektur, jejak sejarah, serta perubahan wajah kota menjadi bagian yang menarik untuk diamati.
Beberapa tempat yang sebelumnya direkomendasikan oleh teman-teman pun menjadi tujuan. Ada Losmen Sampeian, Studio Foto Merapi, Toko Tembakau Boeket Djaya, Alun-Alun Bangil, bekas Pengadilan Negeri Bangil, hingga Taman Makam Pahlawan.
Terik matahari dan debu-debu yang diterbangkan angin dan asap kendaraan bemotor tak mengendorkan nyali masing-masing. Perjalanan juga membawa langkah rombongan menuju Gereja GPIB Emanuel. Setelah itu, blusukan berlanjut ke Makam Syarifah Khadijah yang dikenal pula sebagai Mbah Ratu Ayu Ibu.
Sosok yang dimakamkan di tempat tersebut dikenal dalam kepercayaan tradisi setempat sebagai cucu Sunan Gunung Jati. Dari kawasan ini, perjalanan menyusuri pula jejak eks halte yang kini telah berubah menjadi kawasan kuliner, dan berlanjut mampir di Kantor Pos Bangil.
Satu hal yang menarik dari perjalanan semacam ini adalah kemampuan sebuah kota untuk menyimpan banyak lapisan cerita. Kadang-kadang sejarah tak hadir dalam bentuk prasasti besar atau bangunan megah. Ia bisa bersembunyi di balik fasad rumah tua, papan nama toko, bentuk jendela, gang sempit, makam, tempat ibadah, atau bahkan sebuah ruas jalan yang dilalui warga setiap hari.
Karena itu, jalan kaki menyusuri Jalan Mujaer menjadi pengalaman tersendiri. Di sepanjang jalan tersebut masih dapat dijumpai sejumlah rumah dengan arsitektur lawas. Rumah-rumah itu seolah menjadi penanda bahwa kota selalu memiliki ingatan. Hanya saja, ingatan tersebut tak selalu terbangun apabila kita terburu-buru melintas.
Blusukan membuat perjalanan menjadi berbeda. Berjalan kaki, berhenti, mengamati, memotret, bertanya, kemudian berjalan lagi. Tak ada keharusan untuk selalu mengejar destinasi. Justru perjalanan menjadi ruang untuk menikmati detail-detail kecil yang sering terlewat ketika seseorang hanya melihat kota dari balik kaca kendaraan.
Setelah cukup berkeliling, rombongan kemudian menuju Coffee House RO. Di tempat ini, langkah yang sejak pagi terus bergerak diberi kesempatan untuk berhenti sejenak. Ngopi, ngobrol, mengendorkan kaki, sekaligus mengevaluasi perjalanan sebelum kembali menuju Stasiun Bangil.
Waktu pun bergerak menuju sore. Commuter Line Supas dijadwalkan berangkat dari Stasiun Bangil pukul 15.16 WIB. Kereta membawa rombongan kembali ke Surabaya dan tiba di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 17.13 WIB.
Namun perjalanan belum benar-benar selesai. Begitu keluar dari Stasiun Gubeng Lama, mereka masih menyempatkan diri mampir ke Warung Biru Sederhana. Perut kembali perlu diisi sebelum masing-masing pulang ke rumah. Terima kasih buat Agris Syah, nota pesanan di Coffee House RO Bangil dan Warung Biru Sederhana di pojok luar Stasiun Gubeng Lama, pembayarannya ia borong semua. Semoga #KabulKajate!
Mendadak mBangil pada akhirnya tak sekadar perjalanan sepuluh orang dari Surabaya ke Kota Bangil dan kembali lagi pada hari yang sama. Ia menjadi semacam pengingat bahwa perjalanan tak selalu membutuhkan rencana yang rumit. Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanyalah teman seperjalanan yang tepat, waktu yang tersedia, dan kemauan untuk berangkat.
Guyupnya dapat. Kulinerannya dapat. Blusukannya dapat. Pengalaman dan dokumentasi pun dapat. Bahkan lebih dari semuanya, perjalanan dadakan itu menghasilkan sesuatu yang mungkin justru lebih penting: mempertemukan kita dengan cerita, orang, tempat, dan gagasan yang sebelumnya tak pernah direncanakan. Pun percakapan baru tentang ke mana dan kapan orang-orang ini akan melangkah blusukan selanjutnya.
Dan Mbolang Dadakan mBangil pagi hingga sore itu menjadi salah satu persinggahan kecil yang meninggalkan cerita menarik, yakni sebuah perjalanan boleh saja dimulai dengan perasaan gabut. Namun jika itu dijalani bersama orang-orang yang tepat, dan waktu yang tepat pula, maka ia bisa berubah menjadi kenangan yang layak diceritakan kembali. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
































































