Di tengah riuhnya takbir yang menggema dan pesan-pesan ucapan yang berseliweran di layar gawai, ada satu hal yang kerap luput dari perhatian kita, yakni cara menuliskan “Idulfitri”. Ia tampak sederhana, nyaris remeh, namun justru di situlah cermin kedisiplinan kita dalam berbahasa diuji. Di momen yang sakral, ketika kita kembali pada fitrah, bukankah sudah sepatutnya kita juga kembali pada ketepatan?
Setiap datangnya 1 Syawal, atau yang akrab disebut Lebaran (Jw), kita sering menjumpai beragam ucapan di media sosial, media massa, hingga baliho dan spanduk. Namun, yang lazim terlihat adalah penulisan “Idul Fitri”, bukan “Idulfitri”. Kebiasaan ini seolah telah diterima sebagai sesuatu yang benar, padahal dalam kaidah bahasa Indonesia, bentuk tersebut belum tepat.
Menurut pedoman kebahasaan yang berlaku, yakni Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), penulisan yang baku adalah “Idulfitri”, ditulis serangkai tanpa spasi.
Hal ini karena kata tersebut telah mengalami proses penyerapan dari bahasa Arab, yakni dari frasa “Īd al-Fiṭr”. Dalam bahasa asalnya, istilah tersebut memang terdiri atas dua kata. Namun, ketika masuk ke dalam bahasa Indonesia, terjadi penyesuaian bentuk, salah satunya melalui penggabungan.
Proses ini bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Indonesia, istilah yang telah menyatu secara makna cenderung ditulis sebagai satu kata. “Idulfitri” bukan lagi sekadar gabungan dua kata asing, melainkan telah menjadi satu kesatuan konsep yang utuh dalam konteks budaya dan bahasa kita. Karena itu, penulisannya pun mengikuti kaidah penyatuan.
Selain itu, kita juga sering menemukan frasa “Selamat Hari Raya Idul Fitri” yang digunakan sebagai pembuka ucapan. Sekilas tampak lengkap dan formal, namun sebenarnya mengandung pengulangan makna. Kata “id” dalam “Idulfitri” sendiri sudah berarti “hari raya”.
Dengan demikian, penambahan frasa “Hari Raya” menjadi tidak efisien dan berlebihan. Bentuk yang lebih tepat dan efektif adalah “Selamat Idulfitri”, yang secara makna sudah mencakup keseluruhan maksud, yaitu selamat merayakan hari raya fitri. Atau boleh menuliskan “Selamat Hari Raya Fitri”, tanpa “Idul” lagi.
Mungkin sebagian orang menganggap hal ini terlalu teknis, bahkan tidak penting. Namun, bahasa bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah identitas. Cara kita menulis dan bertutur mencerminkan cara kita menghargai warisan bersama. Ketepatan berbahasa bukan hanya soal benar atau salah, namun juga tentang kesadaran dan kepedulian.
Di hari kemenangan ini, ketika kita berupaya membersihkan hati dari prasangka dan kesalahan, barangkali kita juga bisa mulai merapikan hal-hal kecil yang selama ini terabaikan, termasuk dalam berbahasa. Sebab, dari hal-hal sederhana itulah, kecintaan pada jati diri bangsa perlahan tumbuh dan terjaga. Jika bukan kita yang memulainya, lalu siapa lagi? (Ali Muchson)
Featuring image: Source Google
