La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan

  • EDUKASI
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
Share this :

Roode Brug Soerabaia Turut Hadiri Pameran
dalam Rangka Memperingati Hari Pahlawan 2026

SURABAYA — Sejarah tak selalu hadir melalui lembaran buku, monumen, atau cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Adakalanya, sejarah berbicara melalui goresan kuas, permainan warna, dan ekspresi yang tertangkap di atas kanvas. Dari sana, peristiwa masa lalu seolah hidup kembali, mengajak siapa pun yang memandangnya untuk berhenti sejenak dan menyelami makna sebuah perjuangan.

Suasana itulah yang terasa di lobby La Lisa Hotel by ARTOTEL, Jalan Raya Nginden 82, Surabaya. Menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November 2026, hotel ini menghadirkan pameran 15 lukisan karya Edi Marga bertajuk “Garis Demarkasi”, yang berlangsung pada 7–30 November 2026.

Berbeda dari pameran seni rupa pada umumnya, seluruh karya yang ditampilkan mengangkat tema perjuangan pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia. Beragam peristiwa historis divisualisasikan melalui lukisan, mulai dari adegan pertempuran melawan penjajah, situasi pengungsian, penangkapan Presiden Soekarno oleh Belanda, hingga suasana gencatan senjata.

Tajuk “Garis Demarkasi” diambil dari salah satu judul lukisan yang dipamerkan. Istilah tersebut sekaligus menghadirkan gambaran tentang batas wilayah dan situasi konflik pada masa perjuangan. Sebanyak 15 karya itu dikerjakan menggunakan beragam media. Sebagian besar memakai cat air, beberapa menggunakan cat akrilik, sementara lainnya berupa sketsa pensil.

Melalui pilihan objek dan pendekatan visual tersebut, Edi Marga tak sekadar menghadirkan kembali potongan-potongan peristiwa sejarah. Ia mengajak pengunjung menyelami suasana perjuangan, sekaligus mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati generasi sekarang lahir dari pengorbanan yang tak sedikit.

Bagi Edi Marga, mengangkat tema perjuangan merupakan salah satu cara untuk memberikan penghormatan kepada para pahlawan. Mereka telah mempertaruhkan jiwa, raga, dan segala yang dimiliki demi kemerdekaan bangsa dan negara. Pengorbanan itu semestinya tak berhenti sebagai cerita masa lalu, namun menjadi sumber kesadaran bagi generasi penerus.

Lobby Hotel sebagai Ruang Apresiasi Seni

Pameran “Garis Demarkasi” sekaligus menjadi bagian dari komitmen La Lisa Hotel Surabaya by ARTOTEL dalam mendukung perkembangan seni dan budaya lokal, khususnya karya para pelukis asal Jawa Timur. Melalui penyediaan area lobby sebagai ruang pamer, hotel ini berupaya memberikan kesempatan kepada seniman untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas.

Vida Frans, General Manager La Lisa Hotel by ARTOTEL, mengatakan bahwa inisiatif tersebut merupakan bentuk kepedulian hotel terhadap perkembangan ekosistem seni dan kreativitas lokal.

“Melalui inisiatif ini, La Lisa memberikan kesempatan kepada para pelukis lokal untuk memperkenalkan karya-karya terbaiknya kepada masyarakat luas. Sekaligus membuka ruang apresiasi seni bagi para tamu hotel, pengunjung, maupun pecinta seni yang datang ke La Lisa Hotel,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pameran kali ini merupakan penyelenggaraan yang keempat. Berlangsung pada 7–30 November 2026, La Lisa Hotel menghadirkan 15 lukisan karya Edi Marga dengan tema perjuangan, sebagai bagian dari upaya menyambut peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November.

Menurut Vida, pemanfaatan lobby sebagai ruang pamer bukan sekadar mempercantik area penyambutan tamu. Lebih dari itu, ruang tersebut diharapkan menjadi tempat pertemuan antara seni, budaya, dan hospitality. Dengan demikian, setiap pengunjung dapat menikmati karya seni sekaligus memperoleh pengalaman yang berbeda selama berada di hotel.

“Seni bukan hanya tentang keindahan sebuah karya, namun juga tentang cerita, identitas, dan ekspresi yang layak mendapatkan ruang untuk dikenal dan diapresiasi. Karena itu, La Lisa Hotel ingin menjadikan setiap kunjungan sebagai pengalaman yang lebih bermakna, sekaligus memberikan panggung bagi para seniman Jawa Timur untuk terus berkarya, berkembang, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Sebagai hotel yang mengedepankan kenyamanan dengan sentuhan seni dan kreativitas, La Lisa Hotel Surabaya by ARTOTEL berupaya membangun kolaborasi dengan komunitas kreatif dan potensi lokal di Jawa Timur. Pameran ini menjadi salah satu wujud nyata bahwa ruang hospitality juga dapat mengambil peran dalam kehidupan seni dan budaya masyarakat.

Lukisan sebagai Mesin Waktu Visual

Lukisan perjuangan tak sekadar goresan cat di atas kanvas atau pajangan bisu di dinding museum. Lebih dari itu, karya seni dapat menjadi semacam mesin waktu visual yang menghidupkan kembali roh dan semangat perlawanan para pejuang bangsa.

Setiap warna, guratan kuas, dan ekspresi wajah yang tertangkap dalam lukisan menyimpan cerita tentang getirnya masa kolonialisme. Di dalamnya tergambar darah, keringat, dan air mata yang pernah tertumpah demi mempertahankan setiap jengkal tanah air.

Agus Koecink, seorang perupa, menuturkan bahwa melalui bingkai-bingkai sejarah tersebut, pengunjung diajak membayangkan kembali ketegangan di medan pertempuran: derap sepatu lars, dentuman meriam, hingga pekik perjuangan “Merdeka atau Mati!” yang membakar semangat para pejuang.

“Semua itu menjadi gambaran tentang keberanian dan pengorbanan dalam menghadapi kekuatan penjajah yang hendak kembali merampas kemerdekaan Indonesia,” tuturnya.

Melalui lukisan perjuangan, api nasionalisme itu dirawat agar tak pernah padam. Ia hadir untuk mengingatkan generasi hari ini bahwa kemerdekaan yang kita nikmati bukanlah hadiah, melainkan buah dari perjuangan yang sangat mahal harganya,” pungkas Agus Koecink, yang juga penulis, sekaligus pengamat seni rupa.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa seni memiliki kekuatan melampaui keindahan visual. Ia dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan, merawat ingatan kolektif, dan menumbuhkan kesadaran sejarah. Apa yang mungkin terasa jauh dalam catatan buku sejarah, melalui lukisan dapat hadir lebih dekat, bahkan menyentuh sisi emosional orang yang melihatnya.

Ketika Suasana Perjuangan Hadir di Lobby Hotel

Ada pemandangan menarik dalam pembukaan pameran “Garis Demarkasi”. Di antara tamu hotel, undangan, dan pengunjung yang hadir, tampak rombongan reenactor dari komunitas Roode Brug Soerabaia. Mereka mengenakan kostum pejuang Indonesia dan seragam tentara Inggris, menghadirkan nuansa yang seolah membawa suasana perjuangan ke ruang pamer.

Kehadiran mereka bukan tanpa alasan. Selain memberikan dukungan kepada Edi Marga, yang juga merupakan anggota Roode Brug Soerabaia, para reenactor turut memperkuat atmosfer historis yang menjadi napas utama pameran tersebut.

Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia, mengatakan bahwa keterlibatan sebagian anggota komunitas merupakan bentuk dukungan terhadap karya sekaligus aktivitas seni yang mengangkat tema sejarah perjuangan bangsa.

“Pameran ini bisa menjadi media edukatif tentang sejarah perjuangan bangsa. Melalui lukisan, masyarakat dapat mengenal kembali peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi. Harapannya, generasi muda semakin memahami bahwa kemerdekaan lahir dari keberanian, persatuan, dan pengorbanan para pendahulu,” kata Satrio.

Kolaborasi antara seni lukis dan kehadiran reenactor tersebut memperlihatkan bahwa sejarah dapat disampaikan melalui beragam pendekatan. Tak hanya melalui narasi tertulis atau pertunjukan teatrikal, namun juga melalui bahasa visual yang memberi ruang bagi imajinasi dan perenungan.

Pada akhirnya, “Garis Demarkasi” bukan semata-mata tentang 15 lukisan yang dipajang di lobby hotel. Pameran ini menjadi pengingat bahwa sejarah tak seharusnya berhenti sebagai romantisme masa lalu. Ada nilai keberanian, ketulusan, persatuan, dan semangat pengorbanan yang perlu terus diwariskan.

Di tengah kehidupan yang terus bergerak, lukisan-lukisan Edi Marga seolah mengajak kita menengok kembali jejak perjuangan para pendahulu. Sebab, menghargai jasa pahlawan tak hanya dengan mengenang nama dan peristiwa, melainkan juga dengan menjaga nilai-nilai perjuangan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemerdekaan telah diperjuangkan oleh generasi terdahulu. Tugas generasi hari ini adalah merawat maknanya dan melanjutkan perjuangan melalui karya, kepedulian, serta pengabdian kepada bangsa dan negara.

Pembukaan acara diawali dengan tari Kreasi Nusantara yang dibawakan oleh Siti Nur Fitriati, sarjana pendidikan sendratasik, 2026. Tarian menyuguhkan gerak tari khas dari Sabang sampai Merauke. Melalui gerak dan penjiwaan yang menggambarkan keanekaragaman suku dan adat istiadat sebagai bentuk pemersatu bangsa. Sedangkan Tyo’ membacakan puisi karya Edi Marga berjudul “Bayangan Senja di Ujung Rel Kereta”. (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara

La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan
La Lisa Hotel by ARTOTEL Pajang 15 Lukisan Edi Marga: “Garis Demarkasi” Hidupkan Kembali Jejak Perjuangan

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *