Lebih Baik Terlambat daripada Tak Pernah Sampai Tujuan

Lebih Baik Terlambat daripada Tak Pernah Sampai Tujuan
Share this :

Sebuah Renungan bagi Para Pemudik

Jalan tol memanjang seperti pita mengular yang tak pernah putus, sementara jalan-jalan non-tol dipadati kendaraan yang bergerak melambat, tersendat, bahkan sesekali berhenti total. Itu menandai hari-hari puncak arus mudik Idul Fitri 1447 H., atau tahun 2026 M.

Di balik itu semua, ada satu hasrat dan perasaan yang sama bagi para pengendara, yakni keinginan untuk segera sampai. Sampai di rumah. Sampai di pelukan orang-orang tercinta. Sampai pada suasana hangat yang telah lama dirindukan.

Namun, di tengah hasrat itu, acapkali kita lupa satu hal penting bahwa perjalanan mudik bukan hanya tentang tujuan, pun tentang keselamatan, tentang silaturahmi, tentang merajut kembali rindu yang sekian lama tertimbun waktu.

Kenyataannya, masih ada pemudik tanpa sadar terjebak dalam logika terburu-buru. Mereka memacu kendaraan lebih cepat dari batas wajar, menyalip tanpa perhitungan, atau menekan tubuhnya sendiri untuk terus terjaga meski mata sudah lelah. Seolah-olah, semakin cepat tiba, semakin sempurna makna mudik itu sendiri. Padahal, kenyataannya tak selalu demikian.

Kelelahan adalah musuh yang sering diremehkan. Tubuh manusia memiliki batas ambang, dan ketika batas itu dilanggar, konsekuensinya bisa fatal. Mengemudi dalam kondisi lelah sama berbahayanya dengan mengemudi dalam kondisi tak sadar.

Mengapa demikian? Saya pikir, semua pasti bisa menjawab. Bahwa, refleks melambat, konsentrasi menurun, dan keputusan yang diambil menjadi tak rasional. Dalam hitungan detik, situasi bisa berubah dari aman menjadi mala petaka.

Selain kondisi tubuh, faktor kendaraan juga kerap luput dari perhatian. Rem yang tak optimal, ban yang mulai aus, atau mesin yang tak dalam kondisi prima bisa menjadi penyebab kecelakaan yang sebenarnya dapat dihindari.

Maka sejatinya, kendaraan itu, baik roda dua maupun roda empat, bukan sekadar alat untuk bergerak atau alat pengangkut, namun juga amanah yang harus dijaga kelayakannya. Perjalanan jauh menuntut kesiapan, bukan hanya mengandalkan keberanian.

Oleh sebab itu, di tengah-tengah kepadatan lalu lintas, ada beberapa hal sederhana yang sebenarnya dapat menjadi penyelamat. Mengatur kecepatan agar tak melebihi batas maksimum adalah langkah pertama yang sangat mendasar. Jalanan lengang bak arena pacu balap, adrenalin memuncak, justru di sini kerap terjadi kecelakaan.

Lebih Baik Terlambat daripada Tak Pernah Sampai Tujuan
Ruas jalan lengang bak arena pacu balap, justru kerap terjadi kecelakaan

Meski memacu kecepatan tinggi mungkin memberi ilusi efisiensi waktu, namun risiko yang dibawanya jauh lebih besar. Menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan, ruang itu bukan sekadar celah, melainkan kesempatan untuk bereaksi antisipatif ketika sesuatu yang tak terduga terjadi.

Di samping itu, memperhatikan kondisi jalan dan situasi lalu lintas jangan diabaikan. Setiap ruas memiliki karakter berbeda, yakni ada yang mulus, ada yang berlubang, ada yang padat, ada pula yang rawan. Kepekaan terhadap lingkungan sekitar adalah bagian dari kewaspadaan. Mengemudi bukan hanya soal mengendalikan kendaraan, namun juga membaca keadaan.

Pun yang tak kalah penting, perlu berhenti sejenak ketika lelah mulai terasa. Istirahat bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab. Mengambil waktu untuk meregangkan tubuh, memejamkan mata sejenak, atau sekadar minum dan makan dapat mengembalikan fokus yang sempat hilang. Tak ada urgensi yang sebanding dengan keselamatan jiwa.

Yang terjadi, acapkali memaksakan diri karena merasa dikejar waktu. Padahal, waktu yang kita kejar itu tak akan berarti apa-apa jika perjalanan berakhir di tengah jalan. Tak ada kebanggaan ketika sampai lebih cepat jika itu dilakukan dengan mempertaruhkan nyawa. Justru, bijak itu terletak pada kemampuan untuk menahan diri dan berkata, “Saya akan sampai, tapi dengan selamat.”

Yakinlah bahwa di ujung perjalanan, ada orang-orang yang menunggu. Orangtua yang berharap mendengar suara kita dari depan pintu. Anak-anak yang tak sabar berlari menyambut. Saudara dan sahabat yang telah lama menantikan kehadiran kita. Bagi mereka, kita bukan sekadar tamu yang datang tepat waktu. Kita adalah bagian dari kebahagiaan itu sendiri.

Coa bayangkan, andai kata yang datang dan sampai rumah itu bukan kita, melainkan kabar buruk. Betapa duka akan menggantikan harap, dan penyesalan datang terlambat. Semua itu hanya karena satu keputusan, yakni tergesa-gesa.

Yang pasti, mudik sejatinya bukan perlombaan adu cepat. Ia adalah perjalanan pulang, pulang secara fisik, sekaligus pulang secara batin. Dalam perjalanan itu, keselamatan adalah bagian utama dari makna yang tak bisa dipisahkan. Kita tak hanya membawa diri sendiri, namun juga harapan banyak orang.

Lantaran itu, marilah kita mengubah cara pandang. Tak apa-apa terlambat beberapa jam, bahkan beberapa saat. Tak ada yang benar-benar hilang dari keterlambatan itu. Justru, ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang kita jaga. Kehidupan.

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita tiba, melainkan apakah kita benar-benar sampai. Sampai dalam keadaan utuh. Sampai dengan selamat. Sampai untuk kembali memeluk orang-orang yang kita cintai. Sebab, lebih baik terlambat daripada kita tak pernah sampai tujuan. (Ali Muchson)

Lebih Baik Terlambat daripada Tak Pernah Sampai Tujuan
Lalu lintas padat merambat kerap orang jadi tak sabar

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *