Mbok Lindu, Selamat Jalan. Lelahmu Selama 100 Tahun Terlunasi Kini

Mbok Lindu, Selamat jalan....
Share this :

Usai Salat Subuh pagi ini, Senin (13/7/2020), membuka grup WhatsApp, seorang teman mengirim share link berita dari detik news yang memberitakan “Kabar Duka, Mbah Lindu Penjual Gudeg Legendaris Yogya Meninggal”

Mengutip detikNews, kabar meninggalnya Mbah Lindu dibenarkan oleh pihak keluarga almarhumah, Mudiati (62), bahwa Mbah Lindu meninggal Minggu (12/7/2020) pukul 18.00 WIB. Penyebabnya usia sudah tua. Usianya sudah 100 tahun lebih. Jenazah Mbah Lindu rencana dimakamkan Senin (13/7/2020) sekitar pukul 11.00 WIB di makam Klebengan, Sleman.

Membaca berita tersebut sontak saya teringat pernah dua kali “ngandhok” atau makan di tempat Mbok Lindu berjualan gudegnya di pos kampling depan Hotel Grage Ramayana, Jalan Sosrowijayan, kawasan Malioboro Yogyakarta. Pertama kali pada 14 November 2011 dan keduanya pada 1 Februari 2014.

Mbok Lindu, Selamat Jalan....
Mbok Lindu, 1 Feruari 2014

Urip Semeleh lan Narimo ing Pandum

Ada pembelajaran hidup yang sempat saya petik ketika sempat berdialog dengan beliau sambil melayani gudeg saat ngandhok yang kedua kalinya. Kebetulan saat itu pembeli belum seberapa ramai karena baru saja Mbok Lindu buka lapaknya.

Saat itu usia Mbok Lindu sekitar 95 tahun. Usia 95 tahun bukan sebagai penghalang baginya untuk tetap semangat bekerja. Hidup tetap berjalan, sejalan dengan setiap hembusan nafasnya. Wanita yang melahirkan 5 anak, memiliki 15 cucu dan 8 buyut saat itu, baginya hidup tak mau menggantungkan nasib pada belas kasihan anak-anaknya.

“Mbok, punopo resepipun kagem awet sehat lan umur panjang puniko?”, (Mbok apa resepnya untuk bisa awet sehat dan panjang umur itu?), tanya saya saat itu.

“Semeleh lan Narimo. Urip kedah semeleh lan narimo ing pandum, Nak”, jawab singkat Mbok Lindu di sela-sela melayani beberapa pelanggan.

Mbok Lindu, Selamat Jalan....
Mbok Lindu, 1 Februari 2014

Urip semeleh lan narimo ing pandum, atau yang bisa juga diartikan hidup penuh berserah diri dan bersyukur menerima pemberian Tuhan dengan hati yang ikhlas, adalah falsafah orang Jawa yang cukup sederhana tetapi dalam maknanya.

Falsafah urip semeleh lan narimo ing pandum adalah menempatkan hati dengan penuh rasa ikhlas dalam menerima apa pun keadaan yang sedang dialami. Namun tetap berusaha untuk selalu menambah kebaikan, dan rasa syukur akan karunia Tuhan pada masa lalu, kini dan masa yang akan datang.

Semangat dan keceriaan Mbok Lindu yang tergurat di sela-sela senyumannya saat melayani pembeli. Rupanya itulah pancaran dari falsafahnya, urip semeleh lan narimo ing pandum.

Mbok Lindu, Selamat Jalan....
Mbok Lindu, 14 November 2011

Urip semeleh lan narimo ing pandum, sebuah ungkapan pembelajaran hidup yang sangat mengispirasi datang dari seorang yang tak pernah mengenyam bangku sekolah, namun baginya kenyang akan manis dan pahitnya kehidupan.

Jika Mbok Lindu, yang bernama asli Setya Utomo, masih bersemangat, gigih dan pantang menyerah pada usia renta untuk menaklukkan liku-liku hidup ini, lantas bagaimana dengan kita?

Selamat jalan Mbok Lindu, lelahmu telah terlunasi, janjimu kepada anak cucu cicitmu telah engkau bayar selama 100 tahun lebih. Semoga jalanmu menghadap Sang Pencipta lapang dan terang benderang.

Mbok Lindu, semoga lelahmu mendapat ganjaran dengan husnul khatimah.
Aamiin….

Mbok Lindu, Selamat Jalan....
Mbok Lindu, 14 November 2011

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *