Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita

Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Share this :

Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL) Turut Dampingi Menapak Jejak Arsitektur Kuno
di Surabaya

Pagi itu, Senin (3/11/2025), udara di kawasan Surabaya Kota Lama sudah terasa lembap namun sedikit panas. Tepat pukul 08.00 WIB, pelataran Gedung Internatio mulai ramai oleh rombongan mahasiswa dari dua negara, yakni dari Universitas Ciputra Surabaya dan Tunku Abdul Rahman University of Management and Technology (TAR-UMT), Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka datang bukan sekadar untuk berjalan kaki, melainkan untuk “mendengar” kisah yang disampaikan bangunan-bangunan tua melalui bentuk dan ragam arsitekturnya.

Sebanyak 100 mahasiswa TAR-UMT terbagi atas 10 grup tim dan didampingi oleh Mentor dan Lectures dari Architecture – School of Creative Industry, Universitas Ciputra, Urban Sketchers Surabaya, komunitas Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL). Para mahasiswa memulai walking tour, menelusuri lorong-lorong sejarah Kota Lama Surabaya.

Adapun rute yang dilalui secara melingkar, yakni dari pelataran Gedung Internatio, menuju Gedung Singa, Jalan Karet, Jalan Coklat, Jalan Slompretan, Jalan Kembang Jepun, Jalan Mliwis, hingga Jalan Glatik, lalu menyeberang ke Jalan Rajawali sebelum kembali ke titik awal.

Di setiap langkah, mereka tidak hanya melihat, tapi juga merekam: melalui kamera, sketsa cepat, dan catatan lapangan. Di antara riuh lalu lintas kota modern, mereka menemukan dunia lain—dunia yang bicara lewat lengkung jendela, warna kusen, dan detail ornamen yang mungkin telah dilihat ribuan mata, tetapi jarang benar-benar dipahami.

Kelenteng Hok An Kiong: Simbol Keberagaman yang Kokoh di Sepanjang Waktu

Berhenti di kawasan Kembang Jepun, rombongan menapaki halaman Kelenteng Hok An Kiong, salah satu kelenteng tertua di Surabaya. Kelenteng Hok An Kiong dibangun pada tahun 1830 oleh seorang insinyur asal Tiongkok bernama Hok Kian Kong Tik.

Bangunan ini merupakan contoh luar biasa dari arsitektur tradisional Tionghoa, atap melengkung berbentuk naga, tiang merah menyala dengan ukiran emas, serta aroma dupa yang seolah menjaga keheningan spiritual di tengah hiruk pikuk kota.

Para mahasiswa tampak terpesona memandangi detail ornamen dewa penjaga di pintu utama. Dari sini kita belajar bahwa fungsi arsitektur bukan hanya estetika, tapi juga nilai spiritual dan sosial, ujar Chrisyandi Tri Kartika, ketua PSL.

“Kelenteng ini, selain tempat ibadah, juga simbol keberagaman yang mengakar kuat di jantung Kota Pahlawan,” tambah pria Pustakawan di Universitas Ciputra Surabaya.

Rumah Perkumpulan Hwie Tiauw Ka: Sisa Gema Solidaritas Etnis Tionghoa

Beberapa meter dari kelenteng, mereka tiba di Rumah Perkumpulan Hwie Tiauw Ka, bangunan yang dulu menjadi tempat berkumpul komunitas Tionghoa untuk kegiatan sosial dan budaya. Dahulu, tempat ini adalah perkampungan yang dekat dengan kompleks makam.

Rumah yang dibangun pada tahun 1820 sebagai tempat persinggahan dan penginapan orang Hakka yang merantau. Dipilihnya lokasi di tempat ini sangat dekat dengan Pasar Bong yang dulunya merupakan makam China. Di berbagai sudut ruang, sejarah seakan berbisik bahwa arsitektur adalah juga saksi dari peradaban yang hidup dan berubah.

Gedung Radar Surabaya

Rute kemudian membawa mereka ke Gedung Radar Surabaya, bangunan zaman kolonial yang menampilkan karakter kuat gaya arsitektur Eropa. Gedung berlantai dua di Jl. Kembang Jepun (Handelstraat) No. 167 dibangun pada tahun 1880-an. Gedung yang dahulu bernama Unie Bank Voor Nederland en Kolonien ini digunakan hingga tahun 1926.

Pada tanggal 1 Juli 1947 Gedung ini kemudian digunakan sebagai kantor media cetak The Java Post yang didirikan pengusaha Tionghoa The Cung Sen alias Suseno Tejo. Namun pada 1 April 1982, The Java Post diakuisisi oleh PT. Grafiti Pers dan berganti nama menjadi Jawa Pos.

Setelah kantor Jawa Pos pindah pada tahun 1988, Gedung ini kemudian sempat ditempati oleh harian Memorandum dan kini menjadi kantor harian Radar Surabaya (Jawa Pos Group) sejak 1 Desember 2015.

Gedung Singa

Dilansir dari National Geographic, Gedung Singa ini pada mulanya didesain oleh arsitek bernama Marius J Hulswit (1862-1921). Tetapi proposalnya ditolak, lantas arsitek lain bernama Hendrik Petrus Berlage (1856-1934) ditunjuk sebagai perancangnya.

Berlage merupakan arsitek kelas dunia yang karya-karya saat itu sangat dikagumi. Bahkan beberapa bangunannya masih kokoh berdiri hingga saat ini dan terus dikagumi banyak orang, termasuk oleh para arsitek masa kini.

Sementara Gedung Singa, yang dikenal karena patung singa besar di depan pintunya, menyimpan jejak perusahaan asuransi yang beroperasi di masa Hindia Belanda. Kini, meski fungsinya berubah, bentuk bangunannya masih utuh, menjadi contoh konkret bagaimana arsitektur kolonial beradaptasi dengan konteks tropis: atap tinggi, ventilasi banyak, dan dinding tebal penahan panas.

Pabrik Limun Siropen: Manisnya Warisan Industri

Mahasiswa disambut aroma manis sirop yang masih diproduksi hingga kini, menandakan keberlanjutan tradisi yang tak lekang oleh zaman. Bangunan ini bukan hanya pabrik, tapi juga identitas kota yang mampu memadukan fungsi ekonomi dan nilai sejarah.

Di bagian atas pilar bangunan kuno tersebut masih terdapat tulisan asli “Pabrik Limoen J.C. van DRONGELEN & HELLFACH.” Itulah yang kini dikenal umum dengan Pabrik Sirop Siropen terkenal dengan nama Siropen Telasih. Sirop ini salah satu peninggalan Belanda yang bertahan hingga kini.

Didirikan oleh J.C. van Drongelen pada tahun 1923, pabrik sirup pertama di Indonesia. Bangunan pabrik ini sempat beberapa kali berpindah tangan. Pada tahun 1942 diambil alih oleh Jepang. Setelah pendudukan oleh Jepang selesai, pabrik dikuasai kembali oleh Belanda hingga ada program nasionalisasi 1958, yaitu semua perusahaan Belanda diambil alih oleh Indonesia. Walking tour berakhir di sini, kemudian menuju titik kumpul di pelataran Gedung Internatio.

Gedung Heritage PTPN I Regional 5: Arsitektur Zaman Kolonial yang Megah

Selepas itu, rombongan naik bus menuju Gedung Heritage PTPN I Regional 5 di Jalan Merak. Dibangun tahun 1901, gedung ini merupakan peninggalan kolonial Belanda, gabungan antara arsitektur Eropa klasik dan adaptasi tropis Nusantara. Pilar-pilar besar, langit-langit tinggi, dan bukaan lebar menjadi ciri utamanya.

Pemerintah kolonial Belanda kala itu memfungsikan gedung Heritage PTPN I Regional 5 sebagai kantor HVA (Haandels Vereeniging Amsterdam) Comodites Straat, atau juga disebut sebagai asosiasi pedagang Amsterdam. Di tempat ini 60 mahasiswa Architectur Universitas Ciputra bergabung dengan mahasiswa TAR-UMT.

Di sini, para mahasiswa mendapat tugas membuat basic sketch, sketsa dasar yang menangkap garis-garis fundamental dari bangunan tersebut. Mereka memperhatikan proporsi, ritme, dan keseimbangan antara massa bangunan dan ruang terbuka. Kegiatan ini menjadi latihan bukan hanya teknis, tapi juga reflektif, belajar melihat dengan mata dan hati.

Setelah sesi sketsa dan sambutan dari pihak manajemen PTPN I, acara dilanjutkan dengan makan siang bersama di ruang meeting di lantai tiga gedung PTPN I, dengan menaiki tangga klasik seolah ikut menjaga kisah lebih dari seabad lamanya.

Balai Pemuda Surabaya: Arsitektur, Seni, dan Jiwa Kota

Kunjungan terakhir berlangsung di Gedung Balai Pemuda Surabaya, bangunan peninggalan kolonial Belanda yang kini menjadi pusat kegiatan seni dan budaya. Sebelum masuk ruang bawah, ruang pameran, para mahasiswa mengelilingi gedung ini, mengamati setiap detail dari kubah, dinding melengkung, hingga langit-langit tinggi yang menampung gema musik dan tawa generasi muda.

Gedung Balai Pemuda Surabaya dibangun tahun 1907. Dirancang oleh arsitek Belanda Westmaes. Letaknya di jantung kota tepat dipojok (pojok Jl. Pemuda dan Yos Sudarso) .Gedung tersebut milik suatu perkumpulan orang-orang Belanda yang bernama “De Simpangsche Sociёteit”. Pusat tempat rekreasi bagi orang-orang Belanda. untuk pesta ria, dansa, juga sebagai tempat bowling, dan rekreasi lainnya.

Karena dirasa terus kekurangan ruang , maka pada tahun 1929 di dalam komplek balai pemuda tersebut dibangun sebuah bangunan lagi lepas dari bangunan yang terletak disebelh barat gedung lama, dengan gaya arsitektur modern, sehingga kontras kehadirannya dengan bangunan lama. Gedung baru ini dirancang oleh biro arsitek Job & Sprey dari Surabaya.

Pada tahun 1945 Gedung ini kemudian dikuasai oleh Arek-arek Suroboyo yang tergabung dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI),sekaligus merupakan MARKAS PEMUDA Arek-arek Suroboyo. Dengan perlawanan yang sengit dari tentara Belanda, maka Arek-arek Suroboyo mundur dan akhirnya gedung ini dikuasai oleh tentara Belanda.

Mereka kembali membuat sketsa, kali ini dengan suasana yang lebih santai namun sarat makna. “Balai Pemuda adalah ruang di mana arsitektur dan kehidupan urban saling berdialog. Tepat pukul 16.00 WIB, kegiatan walking tour pun berakhir, namun semangatnya masih menggema di hati setiap peserta.

Belajar dari Dinding yang Bercerita

Kunjungan menapak jejak arsitektur kuno di Kota Surabaya ini bukan sekadar tugas kuliah lintas negara, namun sekaligus belajar dari dinding yang berbicara. Ini adalah perjalanan intelektual dan emosional, menelusuri warisan arsitektur yang masih berdiri tegak di tengah arus modernisasi.

Dari kelenteng tua hingga pabrik limun, dari gedung kolonial hingga balai seni, semua mengajarkan satu hal: bahwa arsitektur bukan hanya tentang bangunan, melainkan tentang manusia, nilai, dan waktu.

Surabaya Kota Lama, dengan segala pernak-perniknya, menjadi ruang belajar terbuka, yakni tempat generasi muda arsitek, yaitu belajar mendengar suara masa lalu agar bisa merancang arsitektur masa depan yang baik dan berakar.

Sumber

  1. Antara News. (2023, Juli 23). Gedung PTPN XI Surabaya jadi jujugan turis delapan negara. Antara News Jawa Timur. [https://jatim.antaranews.com/berita/716859/gedung-ptpn-xi-surabaya-jadi-jujugan-turis-delapan-negara]
  2. Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya. (n.d.). Balai Pemuda Surabaya. [https://disbudporapar.surabaya.go.id/adinda/portaldata/cagarbudaya/detail/balai-pemuda-surabaya]
  3. Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya. (n.d.). Pabrik Limun dan Sirup Telasih. [https://disbudporapar.surabaya.go.id/adinda/portaldata/cagarbudaya/detail/pabrik-limun-dan-sirup-telasih]
  4. Good News From Indonesia. (2023, Juni 8). Kilas sejarah Gedung Singa, cagar budaya dari arsitektur terbaik di Belanda. [https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/06/08/kilas-sejarah-gedung-singa-cagar-budaya-dari-arsitektur-terbaik-di-belanda]
  5. Kompas.com. (2022, Februari 1). Sejarah Hok An Kiong, kelenteng tertua di Surabaya yang miliki 22 patung. [https://surabaya.kompas.com/read/2022/02/01/121208478/sejarah-hok-an-kiong-kelenteng-tertua-di-surabaya-yang-miliki-22-patung]
  6. Tourism Surabaya. (n.d.). Gedung Singa. [https://tourism.surabaya.go.id/destination/bbcac049-1075-49e7-9bb0-31750eed4c5a]

Biarkan Foto Bicara
Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita

Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Mentors & Lectures
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Mentors & Lectures
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Mentors & Lectures
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita
Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita

You may also like

1 thought on “Menapak Jejak Arsitektur Kuno di Kota Lama Surabaya: Saat Mahasiswa Dua Negara Belajar dari Dinding yang Bercerita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *