Padi Reborn dan Roode Brug Soerabaia: Obrolan Santai Merajut Benang Merah antara Sejarah dan Harmoni Musik

"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
Share this :

Ada pertemuan-pertemuan yang tak sekadar mempertemukan orang, namun mempertemukan makna. Bukan hanya tentang siapa berbicara dengan siapa, melainkan tentang gagasan apa yang saling bersinggungan, nilai apa yang saling menguatkan, dan semangat apa yang diam-diam menyala di antara percakapan yang tampak sederhana.

Giat bertajuk “Obrolan Santai Merajut Benang Merah antara Sejarah dan Harmoni Musik” antara komunitas Roode Brug Soerabaia dan Padi Reborn adalah salah satu di antara sebuah ruang temu antara sejarah dan musik, antara ingatan dan rasa, antara masa lalu dan masa kini. Obrolan santai di kediaman Sylvi Mutiara, Kompleks Pakuwon City Surabaya, Minggu (29/3/2026) siang.

Ketua Roode Brug Soerabaia Satrio Sudarso mendampingi Sylvi Mutiara, Pembina Roode Brug Soerabaia sekaligus sebagai penggagas dan tuan rumah dalam acara ini. Sedangkan Padi Reborn (2017-sekarang), sebelumnya bernama Padi (1998-2011), grup musik pop rock Indonesia terdiri atas Ari Tri Sosianto, Andi Fadly Arifuddin, Surendro Prasetyo atau Yoyo, Rindra Risyanto Noor, dan Satriyo Yudi Wahono atau Piyu. Pada waktu obrolan santai Piyu tak bisa hadir.

Mengawali obrolan santai dibuka dengan dilontarkan pertanyaan oleh Sylvi Mutiara kepada keempat personil Padi Reborn tersebut tentang seputar objek sejarah yang masih mereka ingat. Mengingat pula, band Padi ini lahir di Kota Surabaya pada tahun 1998, semasa mereka kuliah di kota ini. Berbagai jawaban cukup menandai bahwa memori kolektif mereka tentang Surabaya masih tersipan baik dalam ingatan.

Mengapa ada ide obrolan santai bagi keduanya? Nah di satu sisi, Roodebrug Soerabaia hadir sebagai penjaga ingatan. Mereka bukan sekadar komunitas yang menyukai sejarah, namun sekelompok orang yang merasa “gelisah” ketika jejak masa lalu perlahan dilupakan, tertimbun oleh kesibukan demi mengejar ambisi masing-masing warga masyarakat.

Bagi mereka, sejarah bukan sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa yang mati di dalam buku pelajaran, melainkan denyut hidup yang masih terasa di sudut-sudut kota. Jembatan Merah, bangunan tua, arsip-arsip yang mulai lapuk, semuanya adalah fragmen yang jika dirangkai akan membentuk kesadaran kolektif tentang siapa kita.

Apa yang mereka lakukan sesungguhnya sederhana, namun sarat makna: menggali, merawat, dan menceritakan kembali. Namun di balik itu, tersimpan satu keyakinan yang dalam, mengenal sejarah tak hanya kewajiban intelektual, melainkan kebutuhan spiritual. Sebab tanpa memahami asal-usul, kita mudah kehilangan arah. Tanpa mengenal perjalanan, kita rawan tersesat dalam identitas.

Satrio Sudarso menjelaskan bahwa keberadaan Roode Brug Soerabaia merupakan komunitas kesejarahan Surabaya, khususnya seputar peristiwa Pertempuran Surabaya 1945, sudah cukup berumur, lahir 16 tahun lalu. Sudah malang melintang bergiat menginspirasi masyarakat Surabaya dan sekitarnya, khususnya kaum muda, lewat kegiatan bermakna.

“Dalam kurun waktu tersebut, kami bergiat melalui aksiteatrikal terjadwal oleh Disbudporapar Pemkot Surabaya, historical walking tour, seminar, pelatihan, Surabaya Parade Juang, aksi Insiden Bendera di Hotel Majapahit. Selain juga kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi, instansi, maupun organisasai lain, seperti LVRI, dan lain-lain,” pungkas dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Sedangkan di sisi lain hadir Padi Reborn, sebuah nama yang telah lama hidup dalam ingatan “Sahabat Padi”, baik dalam maupun luar negeri. Musik mereka tak hanya hadir sebagai hiburan, pun sebagai ruang refleksi. Lirik-liriknya berbicara tentang cinta, kehilangan, harapan, dan tak jarang, tentang kegelisahan sosial yang kita rasakan bersama. Dalam setiap nada, ada cerita. Dalam setiap lagu, ada pesan yang ingin disampaikan.

Yang menarik, Padi Reborn menunjukkan bahwa musik bukan sekadar bunyi yang enak didengar, melainkan medium yang mampu menyentuh kesadaran. Ia bisa menjadi suara bagi yang tak terdengar, menjadi pengingat bagi yang mulai lupa, dan menjadi penggerak bagi yang hampir kehilangan semangat. Musik, dalam konteks ini, bukan hanya seni, ia adalah bentuk perjuangan.

Ketika dua medium ini bertemu kita menyadari, perbedaan medium tak pernah menjadi penghalang untuk berbagi tujuan. Roodebrug Soerabaia bekerja dengan arsip, ruang, dan narasi sejarah. Padi Reborn berkarya dengan lirik, nada, dan rasa. Namun keduanya berjalan di jalur yang sama yakni menjaga nilai, merawat identitas, dan menyalakan kembali semangat kebangsaan di tengah arus zaman yang terus berubah.

Di sinilah benang merah itu menjadi nyata, yakni semangat perjuangan. Perjuangan, acapkali kita bayangkan sebagai sesuatu yang besar, heroik, dan penuh pengorbanan fisik seperti dalam kisah para pahlawan. Dalam konteks hari ini, perjuangan menemukan bentuknya yang baru. Ia hadir dalam kerja-kerja sunyi, dalam dedikasi yang konsisten, dalam upaya kecil yang dilakukan berulang-ulang tanpa banyak sorotan.

Fadly, yang nama lengkapnya Andi Fadly Arifuddin, mengungkapkan bahwa keberadaan Roode Brug Soerabaia ini dapat menginspirasi lahir dan tumbuhnya komunitas sejarah di kota-kota lain di Indonesia. Surabaya salah satu kota perjuangan di negeri ini, tetapi sebutan sebagai Kota Pahlawan tak duanya. Hanya Surabaya.

“Kita semua bisa bayangkan, andai tidak ada yang peduli menghidupkan sejarah perjuangan bangsanya, bagsa ini akan tercerabut dari akarnya. Hadirnya Roode Brug Soerabaia, semoga menjadi inspirasi bagi kota lain untuk menggali sejarah kearifal lokalnya sehingga masyarakat mengenal, mencintai, dan menjaga kotanya,” lanjut vokalis yang akrab dipanggil Opa Fadly.

Komunitas sejarah yang terus menghidupkan masa lalu adalah bentuk perjuangan. Musisi yang menyuarakan nilai dan sentuhan rasa melalui karya adalah bentuk perjuangan. Seperti halnya juga pada seorang guru yang mendidik dengan sepenuh hati, penulis yang menyebarkan gagasan, bahkan individu yang berusaha menjadi lebih baik setiap hari, semuanya adalah bagian dari perjuangan itu sendiri, pungkasnya.

Berangkat dari obrolan santai tersebut, kita belajar bahwa sejarah dan musik memiliki kekuatan transformasi. Keduanya mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap dirinya dan bangsanya. Sejarah memberi wawasan, sementara musik menghadirkan rasa. Sejarah mengajak kita berpikir, sementara musik mengajak kita merasakan. Ketika keduanya bertemu, lahirlah kesadaran yang utuh, identitas tak hanya untuk dipahami, namun juga untuk dihayati.

Pun kita juga diingatkan bahwa perjuangan tak pernah terbatas pada satu medium. Tak ada satu cara yang paling benar untuk mencintai bangsa ini. Setiap orang memiliki jalannya sendiri, sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing-masing. Justru di situlah keindahan itu muncul, dari keberagaman cara yang semuanya menuju pada tujuan yang sama. Ingin ada perubahan.

Dan pada akhirnya, harapan itu tertuju pada generasi muda. Mereka yang akan melanjutkan obrolan ini. Mereka yang akan menentukan apakah sejarah tetap hidup atau hanya menjadi catatan usang. Mereka yang akan memutuskan apakah musik hanya menjadi hiburan sesaat atau menjadi suara perubahan. Generasi muda bukan hanya pewaris, namun juga penulis bab berikutnya dalam ‘kitab perjalanan’ bangsa ini.

Namun harapan tak cukup hanya disampaikan, maupun sekadar sebuah wacana. Ia harus ditularkan, dihidupkan, dan diperlihatkan melalui contoh dan aksi nyata. Dan pertemuan seperti ini, antara komunitas sejarah dan musisi, adalah salah satu bentuk nyata dari upaya itu.

Oleh sebab itu, memalui obrolan ini mengajarkan kita satu hal sederhana namun mendalam, yakni kita semua memiliki peran. Tak harus besar, tak harus terlihat, namun perlu tindakan nyata. Bahwa menjadi bagian dari perjuangan tak selalu berarti berada di garis depan, namun cukup dengan tetap berjalan di jalur yang benar, jalur masing-masing.

Semoga dari percakapan dan obrolan yang hangat ini, kita tak hanya menjadi pendengar, namun juga pelaku. Tak hanya terinspirasi, namun juga bergerak dan bergiat. Karena bangsa ini tak dibangun oleh satu kelompok saja, melainkan oleh banyak tangan, banyak suara, dan banyak hati yang bekerja bersama, dengan caranya yang berbeda.

Maka selama benang merah itu tetap kita jaga, antara sejarah, musik, dan kesadaran diri, maka api perjuangan itu akan terus menyala, tak lekang oleh waktu. Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah bangsa tetap hidup bukan hanya sejarah yang dikenang, namun juga nilai-nilai yang terus diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah, kita semua diam-diam sedang menulis sejarah kita sendiri. (Mbah Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara
Obrolan Santai Merajut Benang Merah antara Sejarah dan Harmoni Musik

"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"
"Padi Reborn dan Roodebrug Soerabaia: Obrolan Santai"

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *