Reka Ulang Pertempuran Kedung Cowek oleh Komunitas Roode Brug Soerabaia
Langit Surabaya pagi itu sebenarnya cerah. Namun, dari panggung teatrikal di Lapangan Tugu Pahlawan, gumpalan asap mesiu seolah kembali membelah udara. Dentuman meriam terdengar. Pekik perjuangan menggema.
Derap kaki para pejuang berbaur dengan gesekan biola, sementara sejarah yang telah lewat delapan dekade seperti dipanggil pulang untuk sejenak hadir di hadapan penonton. Begitulah sejarah bekerja ketika ia tidak hanya dibaca, namun dimainkan kembali.
Minggu, 4 Oktober 2026, Roode Brug Soerabaia menghadirkan teatrikal kolosal “Pertempuran Kedung Cowek: Gumpalan Asap Mesiu Menggantung Langit Surabaya”. Pementasan ini menjadi bagian dari agenda rutin program publik Museum Sepuluh Nopember yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Pemerintah Kota Surabaya.
Sebuah puisi karya Edi Marga, Bayangan Senja di Ujung Rel Kereta, membuka pertunjukan. Deny Tri Aryanti, S.Sn., M.Hum., dosen Jurusan Teater Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya, membacakannya. Gesekan biola Arul Lamandau mengalun di antara bait-bait yang membawa ingatan kepada garis-garis pertempuran Surabaya.
“Di front Tanjung Perak, Bubutan, Kapasan,
Pegirian hingga Kedung Cowek.
Bertempur habis-habisan melawan angkara murka.
Menorehkan jejak-jejak kegigihan dan pengorbanan ksatria bangsa.”
Dari salah satu di antara bait-bait puisi itulah kisah bergerak. Dari puisi menuju ingatan sejarah. Dari panggung menuju sebuah benteng di ujung utara kota yang pernah menjadi salah satu titik keras perlawanan Surabaya.
Kedung Cowek bukan sekadar nama tempat. Di sana, pada November 1945, keberanian diuji bukan dengan kata-kata, melainkan dengan dentuman meriam dan kemungkinan kematian yang setiap saat berada di depan kelopak mata.
Setelah Jepang menyerah, sejumlah bekas anggota Heiho kemudian membentuk kekuatan baru. Di antaranya Batalion Sriwidjaja di bawah pimpinan Kapten Jansen Rambe dan pasukan yang bertahan di kawasan Benteng Kedung Cowek.
Mereka diperkuat para pemuda kampung, bekas pasukan KNIL yang memiliki kemampuan mengoperasikan meriam, TKR Laut, serta tentara pelajar. Mereka tahu kekuatan yang akan dihadapi bukan lawan ringan.
Surabaya sedang berada di ambang badai. Ultimatum tentara Inggris telah terdengar. Ancaman serangan dari berbagai arah semakin nyata. Dalam teatrikal itu, Kapten Jansen Rambe mengumpulkan para pejuang.
“Saudara-saudara, saat ini situasi Surabaya sudah mulai genting setelah kita mendengar ultimatum tentara Inggris. Esok mereka akan menyerang, membumihanguskan Surabaya dari segala arah. Kita tidak boleh tinggal diam.”
Kalimat itu mungkin hanya dialog di atas panggung. Namun delapan puluh tahun silam, kegentingan semacam itu bukanlah dramaturgi. Ia adalah kenyataan. Dan ketika pagi 10 November 1945 datang, Surabaya benar-benar diserang.
Pasukan Inggris menggempur kota dari darat, laut, dan udara. Kapal-kapal perang mulai melepaskan tembakan. Sekitar pukul 11.00, meriam-meriam kapal Inggris membombardir sejumlah posisi pertahanan. Di bawah komando Captain R.C.S. Garwood, tembakan meriam diarahkan ke jantung pertahanan Surabaya.
Kedung Cowek pun menjawab. Dari balik benteng, meriam pantai yang telah dimodifikasi menjadi senjata antipesawat digunakan untuk melawan. Dentuman demi dentuman membelah udara. Asap mesiu menggantung di langit. Pertempuran tidak lagi berupa ancaman, melainkan kenyataan yang menggetarkan tubuh dan pikiran.
Serangan Inggris datang dari udara. Pesawat pemburu dan pesawat pengebom turut menggempur pertahanan. Beberapa pesawat berhasil dirontokkan dan jatuh di sekitar kawasan timur benteng. Bahkan pesawat yang membawa Brigadir Jenderal Guy Loder Symonds jatuh pada hari pertama pertempuran.
Perlawanan dari Kedung Cowek menjadi kejutan bagi Inggris. Mereka semula mengira pasukan Indonesia tidak memiliki kemampuan mengoperasikan meriam. Namun perkiraan itu patah di hadapan perlawanan para pejuang.
Di medan perang, kemampuan kadang lahir bukan dari kelengkapan persenjataan, melainkan dari keberanian untuk menggunakan apa yang tersedia. Namun, keberanian bukan berarti tanpa kehilangan. Menelan korban, banyak yang gugur.
Para pemuda kampung dan tentara pelajar yang belum pernah mengalami perang harus berhadapan dengan wajah perang yang sesungguhnya. Bau amis darah bercampur pekat asap mesiu. Tangis dan kengerian menyatu dengan ledakan. Dinding pertahanan koyak. Tubuh-tubuh bergelimpangan.
Bagi sebagian dari mereka, itulah perang pertama. Dan sekaligus menjadi perang terakhir.
Batalion Sriwidjaja akhirnya dipaksa mundur. Sebagian rekan seperjuangan mereka tertinggal sebagai korban, gugur tanpa sempat dievakuasi.
Benteng yang dibangun pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1900 itu akhirnya jatuh ke tangan Inggris pada 17 November 1945. Dalam catatan Inggris yang tersimpan dalam arsip ISUM, 27 November, Public Record Office, disebutkan bahwa di dalam kawasan benteng ditemukan sekitar 400 ton amunisi meriam yang belum sempat ditembakkan.
Angka itu terdengar dingin. Empat ratus ton. Namun di balik angka sebesar itu terdapat manusia yang bertempur, menunggu, ketakutan, berani, gugur, dan mungkin tidak pernah sempat mengucapkan salam perpisahan kepada keluarganya.
Setelah pertempuran mereda, tugas kemanusiaan belum selesai. Mayat-mayat para pejuang yang berserakan di sekitar benteng diurus oleh laskar putri dan gadis-gadis Palang Merah. Mereka berjalan di antara tubuh-tubuh yang telah kehilangan nyawa. Dengan bendera Merah Putih, jasad para pejuang ditutup.
Di tengah kehancuran perang, bendera itu menjadi selimut terakhir. Barangkali di situlah makna kemerdekaan menemukan bentuknya yang paling sunyi: bukan dalam pekik kemenangan, melainkan dalam penghormatan kepada mereka yang telah memberikan seluruh hidupnya.
Kini, delapan dekade telah berlalu. Kota berubah, namun Benteng Kedung Cowek masih menyimpan jejak pertempuran. Benteng yang berada di sebelah timur Jembatan Suramadu itu berdiri di atas lahan sekitar 71.876 meter persegi.
Sebanyak 11 bangunan di dalam kawasan tersebut, dengan luas keseluruhan sekitar 1.925,44 meter persegi, telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/261/36.1.2/2019 tanggal 31 Oktober 2019.
M.T. Agus dari UPTD Pengelolaan Museum dan Gedung Seni Budaya menyebut teatrikal Pertempuran Kedung Cowek sebagai bagian dari agenda rutin program publik Museum Sepuluh Nopember. Konsep yang dibawa adalah edutainment, yakni sejarah disampaikan melalui tontonan yang menarik sekaligus tuntunan yang memberi pengetahuan kepada masyarakat.
Sementara itu, Satrio Sudarso, Ketua Roode Brug Soerabaia, berharap pementasan tersebut dapat membangun memori kolektif masyarakat Surabaya, terutama generasi muda. Mereka perlu mengenal sejarah kotanya, mencintainya, lalu menjaganya.
Sebab sebuah kota bukan hanya kumpulan belantara beton, jalan-jalan yang lebar, dan angka pertumbuhan, serta hiruk pikuk kehidupan masyarakat yang sebagian mulai tipis rasa tolenrasinya. Kota juga dibangun oleh ingatan. Dan ingatan akan mudah hilang apabila tidak dirawat.
Benteng Kedung Cowek yang pasti suatu hari akan semakin tua. Rumput dan semak belukar bisa kembali menutup jejak-jejak pertempuran. Bahkan benda-benda sisa perang yang sesekali muncul dari tanah pada musim kemarau mungkin perlahan akan lenyap dimakan waktu.
Namun kisahnya tidak boleh ikut terkubur. Sebab di balik dinding benteng yang renta itu tersimpan pertanyaan sederhana untuk generasi hari ini: “Apa arti kemerdekaan jika kita tidak lagi mengenal siapa yang pernah mempertaruhkannya?”
Maka teatrikal itu bukan sekadar menghidupkan kembali perang. Ia menghidupkan ingatan. Dan dari ingatan itulah kita belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti menang. Kadang keberanian berarti tetap berdiri ketika tahu bahwa kemungkinan untuk kalah, bahkan kehilangan nyawa, ada di depan mata.
Kedung Cowek mengajarkan satu hal yang barangkali sederhana, namun penting, yakni bahwa sejarah bukan masa lalu yang selesai. Ia adalah cermin. Kita hanya perlu cukup lama memandangnya untuk menyadari bahwa di balik gumpalan asap mesiu yang pernah membelah langit Surabaya, ada harga kemerdekaan yang dibayar dengan keberanian, air mata, dan darah.
Kini giliran kita menjaga warisannya, bukan hanya bentengnya, namun juga nilai perjuangan yang pernah membuatnya menjadi saksi. Sebab sejarah akan tetap hidup apabila ingatan tentang keberanian dan pengorbanan itu terus diwariskan kepada generasi yang datang di kemudian hari. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara


























































