Puluhan siswa mengikuti ‘historical field trip’ untuk mengenal jejak kolonial
dan kawasan religi Surabaya secara langsung.
Pagi itu, sekitar pukul 09.00, matahari mulai terasa menyengat di kawasan Kota Lama Surabaya. Udara masih menyimpan lembab sisa hujan tadi malam. Sementara deretan bangunan kolonial berdiri kokoh seperti penjaga sunyi, menyimpan kisah masa lampau di balik lalu lalang laju lalu lintas. Di tengah suasana itulah, puluhan siswa sekolah dasar memulai sebuah perjalanan kecil yang sarat makna. Susuri jejak sejarah kota mereka, Selasa (10/3/2026).
Sebanyak 51 siswa kelas 4 dari SD Ciputra Surabaya mengikuti program belajar di luar kelas bertajuk “Historical Field Trip Kota Lama Surabaya & Kawasan Ampel” yang dilaksanakan pada tanggal 10–11 Maret 2026. Kegiatan ini dirancang sebagai walking tour edukatif yang membawa para siswa menjelajah situs-situs bersejarah di jantung kota lama dan kawasan Ampel.
Pada pagi itu, Selasa 10 Maret, kegiatan diikuti oleh 26 siswa, empat guru pendamping, serta seorang petugas keamanan. Sementara pada hari kedua, Rabu 11 Maret, sebanyak 25 siswa yang berbeda mengikuti kegiatan serupa dengan pendampingan tiga guru dan satu petugas keamanan. Meski terbagi dalam dua hari, semangat belajar para siswa sama, yakni penuh rasa ingin tahu.
Program ini menggandeng komunitas sejarah Surabaya, Roode Brug Soerabaia, yang selama ini dikenal aktif mengedukasi masyarakat, khususnya kaum muda dan pelajar Surabaya lewat drama teatrikal maupun seminar atau diskusi mengenai sejarah kota, utamanya peristiwa sekitar Pertempuran Surabaya 1945.
Di bawah bimbingan para narasumber komunitas tersebut, para siswa diajak menapaki jejak sejarah secara langsung, bukan hanya melalui buku pelajaran, melainkan melalui ruang terbuka dan bangunan yang pernah menjadi saksi peristiwa penting terkait perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Menyusuri Jejak Kota Lama
Perjalanan dimulai dari kawasan bersejarah di pusat Surabaya. Di setiap titik pemberhentian, para siswa berhenti sejenak untuk mendengarkan cerita yang menghidupkan kembali masa lalu.
Salah satu titik pertama yang dikunjungi adalah Monumen Mobil Brigadir Jenderal Mallaby. Di tempat ini, para siswa mendengar kisah tentang Brigadir Jenderal Mallaby dan peristiwa yang menjadi bagian penting dalam rangkaian sejarah Pertempuran Surabaya 1945.
Tak jauh dari sana, rombongan melanjutkan langkah menuju Gedung Internatio. Bangunan bergaya kolonial ini berdiri megah di kawasan kota lama. Di sinilah para siswa mendengar kisah mengenai peran strategis gedung tersebut dalam peristiwa-peristiwa sejarah masa revolusi.
Perjalanan kemudian membawa mereka ke salah satu bangunan keuangan paling bersejarah di kota ini, yaitu De Javasche Bank. Dari sini, siswa belajar bahwa Surabaya sejak lama merupakan pusat perdagangan penting, tempat bertemunya berbagai bangsa dan budaya.
Tak lengkap rasanya menjelajah kota lama tanpa mengunjungi Jembatan Merah, sebuah ikon sejarah dengan sebutan “Roode Brug Soerabaia” dalam bahasa Belanda, atau ‘Jembatan Merah”, yang begitu melekat dalam ingatan kolektif kota. Di bawah lengkungan jembatan inilah para siswa mendengarkan kisah heroik perjuangan para pejuang dan rakyat Surabaya.
Langkah kecil para siswa kemudian berlanjut menuju kawasan Pecinan atau China Town, yang dikenal dengan Kya-Kya Kembang Jepun. Di sini mereka belajar bahwa Surabaya sejak dahulu adalah kota multikultural, tempat berbagai etnis hidup berdampingan dan membentuk identitas kota yang unik.
Perjalanan juga membawa mereka ke Gedung Radar Surabaya serta rumah tua yang dikenal sebagai Rumah Abu Han. Di setiap lokasi, kisah yang disampaikan membuat para siswa semakin menyadari bahwa bangunan-bangunan tua bukan sekadar arsitektur lama, melainkan bagian dari memori kolektif kota.
Belajar dari Jejak Migrasi di Kampung Ampel
Setelah menjelajah kawasan kota lama, rombongan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Kampung Ampel di Kecamatan Nyamplungan, yakni kawasan yang berada di Surabaya belahan utara.
Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat permukiman etnis Arab di Surabaya sekaligus destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah. Di jantung kawasan tersebut berdiri Masjid Ampel, salah satu masjid bersejarah yang berkaitan dengan penyebaran Islam di Jawa.
Di sini suasana terasa berbeda. Gang-gang sempit dipenuhi toko-toko kecil yang menjual kurma, minyak wangi, kitab, hingga aneka kuliner khas Timur Tengah. Aroma rempah-rempah dan makanan khas memenuhi udara.
Para siswa tak hanya mendengar cerita sejarah, namun juga belajar tentang perjalanan manusia, tentang bagaimana para pendatang dari berbagai wilayah datang ke Surabaya, menetap, lalu membawa tradisi dan budaya mereka.
Inilah yang menjadi inti dari kegiatan field trip tersebut. Saat ini para siswa sedang mempelajari konsep perpindahan penduduk dalam pelajaran mereka. Mengapa orang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan bagaimana perpindahan itu memengaruhi kehidupan sosial serta budaya suatu kota?
Melalui kunjungan langsung ke Kampung Ampel, konsep tersebut menjadi lebih nyata. Para siswa dapat melihat sendiri bagaimana jejak migrasi membentuk identitas sebuah kawasan, yang menyimpan kearifan lokal dan keunikan tersendiri.
Antusiasme yang Menghidupkan Sejarah
Sepanjang perjalanan, rasa ingin tahu para siswa terlihat jelas. Hampir di setiap lokasi, tangan-tangan kecil terangkat saling berebut mengajukan pertanyaan.
“Mengapa bangunan ini masih dipertahankan?”
“Siapa yang dulu tinggal di sini?”
“Apakah dulu daerah ini juga seramai sekarang?”
Pertanyaan demi pertanyaan mengalir tanpa henti. Untungnya, para narasumber dari komunitas sejarah tersebut dengan sabar menjawab semuanya. Ady Setyawan, pendiri komunitas tersebut; bersama Sylvi Mutiara, sebagai pembina; dan Hamzah Bahanan, anggotanya; menjelaskan setiap kisah dengan cara yang mudah dipahami oleh anak-anak.
Cerita di ruang terbuka dari mereka bertiga membuat sejarah terasa hidup. Para siswa tak sekadar diajak menghafal angka tahun atau nama-nama tokoh dalam buku pelajaran. Namun dengan menyaksikan langsung maupun lewat media visual berupa gambar peristiwa atau gedung-gedung peninggalan, siswa diajak mengulik peristiwanya.
Belajar Sejarah di Ruang Nyata
Kegiatan Historical Field Trip ini memiliki beberapa tujuan utama, yakni: mengenalkan siswa pada landmark dan situs bersejarah Surabaya, mengajak mereka mempelajari situs tersebut secara lebih mendalam, serta membantu mereka memahami dampak sosial dan budaya dari perpindahan penduduk.
Namun lebih dari itu, kegiatan ini juga memberi pengalaman belajar yang berbeda.Di tengah langkah kaki yang menyusuri jalanan kota lama, para siswa belajar bahwa sejarah bukanlah sesuatu yang jauh dan abstrak. Sejarah ada di sekitar mereka, di bangunan tua, di jembatan yang mereka lintasi, di kampung-kampung yang dihuni oleh berbagai etnis.
Pada hari seperti ini, sejarah tak lagi terasa sebagai pelajaran yang beku di ruang kelas. Ia hadir sebagai petualangan kecil yang membuka mata dan imajinasi. Sebuah perjalanan singkat di jalanan Kota Lama Surabaya, namun mungkin akan meninggalkan jejak pengetahuan yang tinggal jauh lebih lama dalam ingatan mereka. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
Historical Field Trip Kota Lama Surabaya & Kawasan Ampel
Foto oleh Ali Muchson






























