Ramadan 1447 Hijriyah menjadi momentum istimewa bagi komunitas kesejarahan Roode Brug Soerabaia. Di tengah atmosfer bulan suci, mereka menggelar kegiatan bertajuk “Ampel Historical Track Season II”. Bukan sekadar wisata jalan kaki, kegiatan ini merupakan ikhtiar membaca ulang jejak sejarah Islam di kawasan Ampel, ruang yang sejak berabad silam menjadi simpul penting penyebaran Islam di Jawa Timur, Minggu (1/3/2026).
Didampingi Hamzah Bahanan dari Pokdarwis Kawasan Ampel, para peserta diajak menelusuri lorong-lorong sempit yang menyimpan kisah panjang peradaban. Setiap sudut kampung seperti membuka halaman demi halaman narasi lama tentang ulama, saudagar, hingga tokoh pergerakan yang pernah hidup dan memberi warna bagi Surabaya.
Ketua Roode Brug Soerabaia, Satrio Sudarso, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar napak tilas. Ia menyebutnya sebagai perjalanan relegi, ruang untuk mengenang sekaligus memaknai kembali kontribusi para pendahulu dalam membangun peradaban Islam dan struktur sosial-politik pada masanya.
“Sejarah tak berhenti sebagai catatan masa lampau. Ia hidup, memberi inspirasi, dan mengandung pesan untuk generasi kini, terutama kalangan muda agar semakin sadar akan pentingnya merawat warisan sejarah dan budaya,” tegasnya.
Rute Ampel Historical Track dimulai dari Jalan Nyamplungan, tepat di sisi Gerbang Ampel. Dari sana, rombongan bergerak menuju kompleks Masjid Ampel, menyusuri kawasan yang arsitekturnya masih memancarkan jejak masa silam. Bangunan-bangunan tua berdiri sebagai saksi perjalanan panjang Islam di Surabaya.
Destinasi awal rombongan singgah di kompleks makam Mbah Soleh, sosok murid Sunan Ampel yang dikenal karena dedikasinya menjaga kebersihan masjid. Di samping Masjid Ampel, terdapat sembilan makam yang dipercaya sebagai makam Mbah Soleh. Cerita tutur masyarakat menyebutkan bahwa setiap kali ia wafat, sosok serupa muncul kembali untuk membersihkan masjid ketika dibutuhkan.
Rombongan bergeser ke makam K.H. Mas Mansoer, tokoh nasional sebagai Ketua Muhammadiyah ke-4. Lahir dari keluarga ulama terkemuka Surabaya, Kiai Mas Mansoer tak hanya berperan dalam pengembangan dakwah Islam, namun juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Ketokohannya diakui negara dengan gelar Pahlawan Nasional pada 1964. Jejak keluarganya terhubung erat dengan tradisi keulamaan Ampel, termasuk relasi genealogis dengan Hasan Gipo.
Perjalanan berlanjut ke makam K.H. Hasan Gipo, Ketua Umum pertama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Lahir dengan nama Hasan Basri Sagipodin, ia berasal dari keluarga saudagar terpandang yang masih memiliki garis keturunan dengan Sunan Ampel. Kiprahnya bersama K.H. Hasyim Asy’ari menjadi fondasi penting bagi perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Di antara titik-titik penting kawasan religius ini berdiri Gapuro Limo, lima gapura bersejarah yang sarat makna simbolik. Mulai dari Gapuro Munggah di Jalan Sasak, Gapuro Poso dekat tempat wudhu, Gapuro Mengadep dengan ornamen cengkeh, Gapuro Ngamal, hingga Gapuro Paneksen yang berada paling dekat dengan makam Sunan Ampel. Setiap gerbang seperti merepresentasikan tahapan spiritual: naik, berpuasa, menghadap, beramal, hingga bersaksi.
Selain ziarah makam, peserta juga mengunjungi Langgar Gipo dan Musala Bafadhol, dua bangunan ibadah yang masih aktif dan menyimpan nilai historis sekaligus arsitektural. Jejak sejarah kemudian ditutup di Makam Sentono Botoputih, tempat peristirahatan sejumlah tokoh penting Surabaya tempo dulu. Di sana terdapat makam Sunan Botoputih dan Maulana Mohammad Syaifuddin, Sultan Banten ke-17 yang wafat pada 11 November 1899.
Yang menarik, kegiatan ini diikuti peserta lintas agama. Kehadiran peserta non-Muslim menegaskan bahwa sejarah bukan milik satu kelompok, melainkan warisan bersama. Dalam suasana Ramadan yang hangat, nilai toleransi terasa nyata. Bagi peserta Muslim, kegiatan ini memperkaya dimensi spiritual. Sementara bagi peserta non-Muslim, pengalaman ini menjadi jendela budaya yang memperluas wawasan dan pemahaman tentang sejarah Islam Surabaya.
Chrisyandi Tri Kartika, pustakawan Universitas Ciputra Surabaya sekaligus Ketua Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL), menyoroti pentingnya kegiatan semacam ini sebagai ruang edukasi publik. Ia mengingatkan bahwa kawasan Ampel dihuni mayoritas keturunan etnis Arab, disusul etnis Jawa, Madura, dan kelompok lainnya, sebuah mosaik sosial yang membentuk karakter unik wilayah tersebut.
“Beberapa peserta bahkan menyempatkan diri berziarah ke Maulana Mohammad Syaifuddin, Sultan Banten ke-17 yang wafat pada 11 November 1899. Jejak-jejak kecil ini semakin menegaskan bahwa Ampel adalah ruang pertemuan banyak sejarah: Islam, etnisitas, perdagangan, dan dinamika sosial Surabaya.
Akbar (11), peminat cilik tentang sejarah yang menjadi salah satu dari 50 peserta Ampel Historical Track Season II, membagikan kesannya dengan wajah berbinar. Baginya, kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu di bulan Ramadan, namun juga mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan.
“Alhamdulillah, saya merasa senang sekali. Selain bisa mengisi waktu Ramadan dengan kegiatan yang bermanfaat, saya juga mendapat banyak tambahan wawasan tentang Sunan Ampel, sejarah Masjid Ampel, Gapuro Limo, Langgar Gipo, Musala Bafadhol, hingga Sentono Botoputih. Ternyata setiap tempat punya cerita sejarah yang menarik untuk dipelajari,” tutur Akbar antusias.
Sementara itu, Nana Yustina (35), teknisi Stasiun TVRI Surabaya, mengaku kegiatan ini memberinya perspektif baru tentang kawasan yang sebelumnya terasa biasa saja baginya. Beberapa kali berkunjung ke Ampel, ia baru kali ini benar-benar memahami lapisan sejarah yang tersimpan di dalamnya.
“Senang sekali bisa ikut kegiatan ini. Sudah beberapa kali jalan-jalan ke Ampel, tetapi rasanya biasa saja. Kali ini berbeda, karena mendapat penjelasan langsung dari narasumber. Jadi, saya tahu kawasan Ampel ternyata sangat kaya nilai sejarah, terutama terkait Masjid Ampel, dan tokoh-tokoh penting yang berperan dalam perkembangan Islam di Surabaya. Kalau ada historical track objek yang lain, ingin ikut lagi. Menarik!” ungkap perempuan asal Solo tersebut.
Menjelang Maghrib, langkah kaki yang sejak siang menapak gang-gang Ampel dan jalan di sekitasnya penuh penjaja jajanan dan menu khas Timur Tengah yang menggiurkan selera. Kegiatan ditutup dengan kebersamaan berbuka puasa usai mendengarkan azan dikumandangkan dari Menara Masjid Ampel. Nasi biryani yang kaya rempah, kue kamer yang manis, dan minuman segar menjadi pelengkap suasana.
Di antara obrolan reflektif peserta, perjalanan sore ini bukan hanya menyusuri ruang, namun juga waktu. Pun Ampel mengajarkan bahwa sejarah tak sekadar romantisme masa lalu. Ia bisa meneguhkan sikap: sejarah harus dipahami, dirawat, dan dijadikan sumber inspirasi. Ramadan menjadi latar yang tepat, tak hanya mengajarkan pengendalian diri, namun juga perenungan mendalam atas perkembangan perjalanan umat dan peradaban manusia. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
“Susuri Jejak Islam di Ampel dan Spirit Sejarah dalam Hangatnya Ramadan 1447 H”




















































