SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan

  • EDUKASI
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
Share this :

Lalu-lalang pengunjung terlihat mewarnai ruang pameran bertajuk “Melukis: Mengingat, Mengenang, Mengabadikan” di lantai 25 Voza Tower, Jalan Mayjen H.R. Muhammad 31, Surabaya. Satu demi satu mereka berhenti di depan lukisan yang terpajang di dinding.

Ada yang sekadar mengamati dari kejauhan, namun tak sedikit yang mendekat, mencermati sapuan warna, komposisi, cahaya, dan objek yang hadir di setiap kanvas, Selasa (22/9/2026) sore.

Beberapa pengunjung tampak berpindah dari satu lukisan ke lukisan lainnya. Sesekali mereka berbincang pelan, menunjuk bagian tertentu dari sebuah karya, kemudian kembali diam untuk menikmati keseluruhan gambar.

Di antara lalu-lalang itu, terselip sebuah pengalaman batin yang tak selalu tampak di permukaan: bagaimana sebuah lukisan dapat menjadi pintu untuk memasuki ingatan, mengenang perjalanan, sekaligus memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Di ruang itulah karya-karya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hadir. Melalui lukisan, mantan Presiden Republik Indonesia itu tak hanya menyampaikan ekspresi artistik, namun juga menghadirkan sebagian perjalanan hidupnya: tentang kehilangan, kenangan, alam, pengalaman, dan rasa syukur. Pameran digelar 16 – 29 September 2026, pukul 10:00 – 21:00 WIB.

“I love art and beauty. To me, painting can bring peace and happiness into my heart,” demikian SBY pernah mengungkapkan pandangannya tentang seni lukis.

Kalimat tersebut terasa memiliki makna yang lebih dalam ketika ditempatkan dalam perjalanan hidupnya. Kepergian Hj. Kristiani Herrawati Yudhoyono atau Ibu Ani pada 1 Juni 2019 meninggalkan ruang kehilangan yang tak sederhana.

Setelah puluhan tahun menjalani kehidupan bersama, berbagi suka dan duka, serta melewati perjalanan panjang dalam keluarga maupun kehidupan kenegaraan, SBY harus menghadapi hari-hari berikutnya tanpa sosok yang selama ini menjadi bagian penting dalam setiap langkahnya.

Duka tak selalu dapat diselesaikan dengan kata-kata. Ada kalanya seseorang membutuhkan ruang untuk diam, merenung, dan menemukan kembali dirinya. Bagi SBY, salah satu ruang itu kemudian hadir melalui kanvas. Melukis.

Melukis, yang sebenarnya pernah menjadi minatnya sejak remaja, kembali menemukan tempat dalam kehidupannya. Ketertarikan tersebut sempat lama tersisih oleh pendidikan militer, pengabdian sebagai prajurit, tugas kenegaraan, dan dinamika politik yang menyita sebagian besar perjalanan hidupnya. Namun, setelah kehilangan Ibu Ani, minat lama itu seperti menemukan jalan untuk pulang.

Dari sana, melukis berkembang bukan semata sebagai kegiatan mengisi waktu, melainkan menjadi bagian dari proses kontemplasi. Kanvas menyediakan ruang bagi SBY untuk menata perasaan, mengekspresikan pengalaman, dan berdamai dengan perjalanan hidup yang telah dilaluinya.

Perjalanan itu dimulai kembali secara otodidak. Ia mempelajari teknik melukis dari berbagai sumber, mulai dari buku, video, hingga materi pembelajaran lainnya. Dari sebuah studio sederhana di kediamannya di Cikeas, aktivitas yang semula menjadi ruang personal tersebut perlahan berkembang menjadi keseriusan artistik. Studio kemudian diperluas, disertai galeri yang memungkinkan karya-karyanya tersimpan dan dinikmati oleh lebih banyak orang.

Semangat untuk terus belajar juga membawanya memperluas pengalaman di luar negeri. Sejumlah program seni di Amerika Serikat diikutinya, termasuk kursus seni kontemporer dan masterclass melukis. Pengalaman tersebut tak hanya menambah pengetahuan teknis, namun juga membuka wawasan mengenai cara melihat karya, mengolah ekspresi, serta memahami dunia seni dalam konteks yang lebih luas.

Salah satu pengalaman yang kemudian memperkaya proses kreatifnya adalah teknik plein air, yakni melukis secara langsung di ruang terbuka. Di alam, seorang pelukis berhadapan dengan cahaya yang terus berubah, warna yang bergerak mengikuti waktu, serta suasana yang tak mungkin sepenuhnya direka di dalam studio. Di situlah melukis menjadi sebuah perjalanan melihat.

Alam tak sekadar dipindahkan ke atas kanvas sebagai objek visual. Cahaya, langit, pepohonan, laut, pegunungan, maupun suasana sebuah tempat dapat menjadi pengalaman yang diolah melalui rasa. Apa yang ditangkap mata kemudian diterjemahkan kembali melalui warna, garis, komposisi, dan sapuan kuas.

Bagi SBY, setiap kanvas agaknya memiliki cerita yang lebih panjang daripada sekadar apa yang terlihat. Di balik warna terdapat pengalaman. Di balik cahaya terdapat suasana. Dan di balik sebuah pemandangan mungkin tersimpan kenangan tentang suatu tempat, suatu waktu, atau seseorang yang pernah hadir dalam perjalanan hidup.

Karena itu, melukis bagi SBY bukan hanya persoalan menghasilkan karya seni. Ia menjadi cara untuk menyimpan sesuatu yang tak ingin hilang begitu saja. Ingatan manusia memiliki keterbatasan. Waktu terus bergerak, wajah berubah, tempat dapat berganti, dan sebuah peristiwa perlahan menjauh dari ingatan.

Namun, sebuah lukisan dapat menjadi semacam penanda. Ia membekukan satu suasana pada suatu waktu, lalu memberinya kesempatan untuk terus berbicara kepada orang lain yang tak kan terbatas oleh ruang dan waktu. Dalam pengertian itulah, melukis menjadi aktivitas mengingat, mengenang, sekaligus mengabadikan.

Mengingat berarti menjaga agar pengalaman tak lenyap bersama berlalunya waktu. Mengenang berarti memberikan ruang kepada masa lalu untuk tetap memiliki arti pada hari ini. Sementara mengabadikan berarti menghadirkan kembali sesuatu melalui karya, agar keindahan dan pengalaman tersebut dapat diwariskan kepada orang lain.

Barangkali, di sinilah kekuatan seni: ia tak selalu memberikan jawaban atas kehilangan, namun dapat menyediakan ruang bagi manusia untuk menerimanya. Ia tak mengembalikan waktu yang telah berlalu, namun membantu manusia memandang kembali perjalanan itu dengan perspektif yang lebih tenang.

Para pengunjung yang lalu-lalang di ruang pameran mungkin datang dengan latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Mereka melihat lukisan yang sama, namun bisa jadi membawa pulang kesan yang berbeda pula.

Sebuah lanskap mungkin mengingatkan seseorang pada kampung halaman. Sebuah cahaya senja bisa membangkitkan kenangan tentang keluarga. Sementara sebuah hamparan alam dapat mengajak siapa pun berhenti sejenak dari kesibukan dan memandang kehidupan dengan lebih perlahan.

Pada akhirnya, lukisan tak hanya berbicara tentang apa yang dilihat mata. Ia juga berbicara tentang apa yang dirasakan hati. Dan melalui karya-karya yang dipajang di dinding Voza Tower itu, perjalanan SBY dalam melukis seperti mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang telah kita capai, melainkan juga tentang apa yang mampu kita rawat dalam ingatan.

Sebab, ketika waktu terus berjalan dan banyak hal perlahan meninggalkan kita, kenangan tetap dapat menemukan tempatnya, yakni: dalam hati, di dalam cerita, dan barangkali, di atas selembar kanvas.

Melukis, dengan demikian, bukan sekadar menciptakan gambar. Ia adalah cara untuk mengingat apa yang pernah hadir, mengenang apa yang pernah berarti, dan mengabadikan keindahan agar tak sepenuhnya hilang ditelan waktu. (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara

SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan
SBY: Melukis Itu Mengingat, Mengenang, dan Mengabadikan

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *