Yukk, Kembali ke Fitri!

Yukk, Kembali ke Fitri
Share this :

Sebuah Refleksi Menyongsong Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriyah

Malam ini gema takbir, tahmid, dan tahlil berkumandang di masjid dan musala se jagad Nusantara, menandai malam Idulfitri tiba. Kalimat ini “Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illā Allāh, wallāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamdu.” merupakan pesan spiritual mendalam, wujud rasa syukur atas kemenangan Ramadan, seraya mengagungkan asma Allah SWT.

Terasa berbeda malam ini. Udara seperti membawa sesuatu yang tak kasatmata, ringan, namun penuh makna. Setelah tiga puluh hari perjalanan relegi yang riuh di dalam diri, kini kita tiba pada sebuah titik yang disebut kemenangan. Namun, benarkah ini akhir dari sebuah perjuangan, atau justru awal dari perjalanan yang lebih senyap dan lebih panjang?

Puasa telah ditunaikan. Lapar dan dahaga telah dilalui. Sejatinya, Ramadan tak semata tentang menahan makan dan minum. Ia adalah ruang pendadaran, tempat manusia belajar menundukkan dirinya sendiri. Sebab yang paling sulit dikalahkan bukan dunia di luar sana, melainkan gejolak di dalam dada. Ego, amarah, keserakahan, dan keinginan-keinginan yang tak pernah merasa cukup.

Dalam hari-hari yang panjang itu, kita dipaksa untuk berhenti sejenak. Ritme hidup yang biasanya tergesa menjadi lebih pelan. Ada sahur yang sunyi, ada doa yang lirih, ada waktu-waktu ketika kita diam dan tanpa sadar bertanya pada diri sendiri. “Sudah sejauh mana hidup ini dijalani dengan benar?”

Maka kehadiran Ramadan menghadirkan jeda. Dan dalam jeda itu, acapkali kita menemukan sesuatu yang selama ini hilang. Kesadaran. Yakni, kesadaran bahwa kita pernah salah. Kesadaran bahwa kita pernah lalai. Pun kesadaran bahwa hidup tak selamanya akan memberi kesempatan untuk memperbaiki.

Ketika paruh malam, ketika dunia terasa lebih hening, ada ruang terbuka antara manusia dan Tuhannya. Ada pengakuan disadari tanpa suara, dan air mata menjadi bahasa yang paling jujur. Ada dosa yang diingat, ada penyesalan yang mengendap, namun juga ada harapan yang diam-diam tumbuh. Semoga masih diberi kesempatan lebih panjang untuk menjadi lebih baik.

Di samping itu, Ramadan mengajarkan kita tentang orang lain. Tentang mereka yang lapar bukan karena memilih, namun karena keadaan. Tentang mereka yang hidup dalam kekurangan, yang selama ini mungkin hanya kita lihat sepintas tanpa benar-benar kita rasakan. Dari situ empati tumbuh, tangan mulai terulur melalui zakat, sedekah, dan kepedulian yang lebih tulus.

Lantas tibalah malam ini. Gema takbir menggema di langit dan di hati. Kalimat yang sama dilantunkan serempak berkali-kali, seakan ingin mengingatkan sesuatu. Sering kita lupa bahwa sebesar apa pun usaha manusia, tetaplah Allah SWT , Tuhan yang Maha Akbar, dan manusia hanya makhluk kecil yang penuh kelemahan, pun keterbatasan.

Idulfitri hadir sebagai sebuah penanda. Banyak orang menyebutnya hari kemenangan. Namun, kemenangan seperti apa yang sebenarnya kita rayakan? Apakah kita telah benar-benar menang atas diri sendiri? Ataukah kita hanya berhasil melewati sebuah rutinitas tahunan, sekadar menggugurkan kewajiban?

Nah, kembali ke fitri tak sekadar mengenakan pakaian baru, bersalaman, lalu saling mengucapkan maaf. Lebih dari itu, ia adalah sebuah proses kembali, yakni kembali pada keadaan hati yang bersih. Hati yang tak lagi menyimpan dendam. Hati yang mampu melepaskan luka. Hati yang tak mudah berprasangka.

Namun, kiranya di sini letak tantangannya. Membersihkan hati dalam suasana Ramadan terasa lebih gampang. Lingkungan mendukung, suasana menguatkan, dan kebiasaan baik seolah mengalir begitu saja. Setelah semuanya berlalu, ketika hari kembali normal, ketika kesibukan mengambil alih, ketika godaan datang tanpa sekat, apakah kita masih mampu menjaga kejernihan hati?

Sebab sejatinya, ujian yang paling berat tak terjadi selama Ramadan, melainkan setelahnya. Ketika tak ada lagi dorongan kolektif. Ketika tak ada lagi suasana yang menahan kita. Ketika kita benar-benar diuji dalam kesendirian pilihan dalam keseharian perjalanan hidup.

Maka, pada titik ini makna kemenangan diuji. Bukan pada meriahnya perayaan, aneka menu disajikan, namun pada keteguhan menjaga perubahan. Apakah kita tetap jujur ketika tak diawasi? Apakah kita tetap sabar ketika diuji? Apakah kita tetap peduli ketika tak ada yang melihat?

Maka kembali ke fitri adalah perjalanan yang tak selesai dalam satu hari. Ia bukan peristiwa, melainkan proses yang terus berlangsung. Setiap hari adalah kesempatan untuk kembali membersihkan hati. Setiap ada kesalahan, ada peluang untuk memperbaiki. Pun setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah bagian dari menjaga kemenangan itu sendiri.

Yang pasti, kita tak akan pernah menjadi sempurna. Mungkin suatu saat kita masih akan jatuh, masih akan khilaf. Namun fitrah itu selalu ada, seperti kompas yang tak pernah benar-benar hilang dari perjalanan, hanya kadang tertutup oleh debu kehidupan.

Oleh sebab itu, kembali ke fitri tak berarti menjadi manusia tanpa dosa. Melainkan menjadi manusia yang terus sadar, terus berusaha, dan tak pernah lelah untuk kembali. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana kita merayakan kemenangan.

Namun, yang penting bagaimana kita menjaganya dalam diam, dalam pilihan-pilihan kecil, dan dalam kehidupan sehari-hari yang acapkali luput dari perhatian. Pun di sinilah makna sejati dari Idulfitri, yakni tak sekadar merayakan kemenangan, namun terus berusaha untuk tetap kembali ke fitri. Insyaallah.

“Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illā Allāh, wallāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamdu.” Surabaya pada malam takbir songsong Idulfitri, Jumat (20/3/2026) pukul 11. 39 PM. “Selamat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriyah. Mohon maaf lahir dan batin.” (Ali Muchson)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *