30 September; Film Pengkhianatan G30S/PKI Tak Lagi Wajib Diputar Sejak Era Reformasi

  • EDUKASI
Poster film Pengkhianatan G30S/PKI
Share this :

Sejak peristiwa reformasi mengubah kembali arah sejarah bangsa Indonesia. Selang empat bulan setelah lengsernya Presiden Soeharto, 21 Mei 1998, Departemen Penerangan memutuskan tidak lagi memutar film Pengkhianatan G30S/PKI pada peringatan peristiwa 30 September 1965.

Muhammad Yunus Yosfiah, adalah sosok Letnan Jenderal (Purn) TNI, di balik penghentian kewajiban memutar film Pengkhianatan G30S/PKI itu. Akibatnya, film Pengkhianatan G30S/PKI tak lagi wajib diputar di TVRI sejak Orde Reformasi.

Yunus Yosfiah adalah Menteri Penerangan pada era Pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie.Dialah sebagai orang yang pertama membuat aturan bahwa film Pengkhianatan G30S/PKI tak lagi wajib diputar.

Dilansir dari tribunnews.com, arsip pemberitaan Harian Kompas 30 September 1998 menyebutkan, kala itu, Departemen Penerangan beralasan, film ini sudah terlalu sering ditayangkan.

“Karena terlalu sering diputar, filmnya juga sudah kabur,” ucap Dirjen RTF Deppen Ishadi SK.

Bahkan Menteri Penerangan Yunus Yosfiah berpendapat, pemutaran film yang bernuansa pengkultusan tokoh, seperti film Pengkhianatan G30S/PKI, Janur Kuning, dan Serangan Fajar tidak sesuai lagi dengan dinamika reformasi.

Film produksi Perum Produksi Film Negara (PPFN) tahun 1984 ini disutradari dan ditulis oleh Arifin C Noer. Produksi film menghabiskan waktu dua tahun untuk menggarap film itu dan menghabiskan anggaran Rp 800 juta.

Pada periode kepemimpinan Presiden Soeharto, film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI atau dikenal Pengkhianatan G30S/PKI wajib diputar di seluruh bioskop dan stasiun televisi Tanah Air. Bahkan wajib menonton bagi siswa dari SD hingga SMA.

Film berdurasi 271 menit itu lalu ditayangkan dan diputar secara terus menerus menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila selama 13 tahun. Oleh televisi pemerintah maupun beberapa televisi swasta.

30 September Tak Hanya G30S/PKI, Peristiwa Lain Pun Perlu Dikenang

Setiap mengenang 30 September selalu melekat seolah-olah hanya peringatan G30S/PKI yang ada. Pemberitaan kekejaman PKI di negeri ini terkesan dengan nuansa bumbu-bumbu hiperbola, seolah tak ada peringatan lain pada tanggal tersebut.

Padahal banyak kenangan di hari itu. Seperti ditulis Wikipedia, 30 September adalah hari kelahiran almarhum Glenn Fredly (30 September 1975), Wahyu Sardono atau dikenal sebagai Dono Warkop (30 September 1951), dan hari kelahiran Olivier Giroud (30 September 1986), pesepak bola asal Prancis.

30 September adalah hari ke-273 dalam kalender Gregorian. Berikut peristiwa penting lain yang terjadi pada tanggal tersebut :

1744 – Prancis dan Spanyol mengalahkan kerajaan Sardinia.
1861 – Heinrich Louis d’Arrest menemukan galaksi NGC 1.
1895 – Madagaskar menjadi wilayah protektorat Prancis.
1965 – Gerakan 30 September (G30S PKI): enam jenderal dan perwira menengah TNI-AD serta seorang prajurit Polri diculik, lalu dibunuh dan dibuang di Lubang Buaya, Jakarta, Indonesia.
1966 – Seretse Khama menjadi presiden pertama Botswana setelah wilayah protektorat Bechuanaland meraih kemerdekaan dari Inggris.
1991 – Presiden Haiti Jean-Bertrand Aristide dikudeta dan digantikan oleh Jenderal Raoul Cédras.
2005 – Surat kabar Denmark Jyllands-Posten memuat karikatur Nabi Muhammad yang mengundang reaksi keras dari umat muslim seluruh dunia.
2009 – Gempa bumi berkekuatan 7,6 SR mengguncang Sumatra Barat.

Sebagian saja warga yang mengibarkan benbera setengah tiang. (foto dok. T.A. Permana)
Sebagian saja warga yang mengibarkan benbera setengah tiang. (foto dok. T.A. Permana)

*

Meski tidak wajib, bukan berarti tidak boleh atau dilarang. Sebagaimana ditulis dalam cuitan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, memberi tanggapan terkait polemik pemutaran film Pengkhiatan G30S/PKI di akun twitternya, @mohmahfudmd, Minggu (27/9/2020).

Menurut Mahfud, tidak ada pihak yang melarang masyarakat untuk menonton film G30S/PKI. Tidak ada pula larangan bagi stasiun televisi untuk menayangkan film yang disutradarai Arifin C. Noer tersebut. Masyarakat yang ingin menonton film tersebut di Youtube ada, bisa kapan saja.

Peringatan peristiwa 30 September mesti tetap penting untuk diperingati dengan mengibarkan bendera setengah tiang sebagai simbolis mengenang tragedi yang terjadi saat itu. Jangan sampai ada warga masyarakat yang bertanya,

“Ada peringatan apa, koq tidak ada pengumuman?”

Sebagaimana dituturkan via WhatsApp oleh sahabat saya, A. Hadi, saat dia memasang tiang bendera di depan rumahnya pagi tadi ada seorang bertanya demikian.

Wah, sayang sekali jika sebagian masyarakat sudah tak ingat peristiwa tersebut, padahal peristiwa itu adalah bagian dari sejarah bangsa kita.

#featured image : dok. wikipedia

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *