Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu
Share this :

Roode Brug Soerabaia Turut Turun Tangan dalam Giat “Budhal Tok!”

Pagi itu, Surabaya belum sepenuhnya terjaga. Cahaya matahari perlahan merayap naik, membawa hangat yang mulai terasa terik di kulit, meski sebagian kota semalam hujan. Di antara dinding-dinding tua Benteng Kedung Cowek, kesunyian yang semula menggantung pelan tiba-tiba pecah oleh suara yang tak biasa, suara yang seperti datang dari lorong waktu.

“Udhug…, udhug…, udhug…, udhug…, udhug….”

Deru mesin tua itu tak sekadar bunyi motor roda dua. Ia berdenyut, bergetar, seolah membawa napas masa lalu yang lama terpendam waktu. Suara itu memanggil, lirih namun tegas, mengajak siapa saja yang mendengarnya untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, dan mengingat kembali sejarah yang pernah hidup, bergerak, dan berjejak di kota ini.

Di balik suara itu, ada sekelompok orang yang setia menjaga denyut waktu. Mereka tergabung dalam PEMUDI’S (Penggemar Montor Udhug Indonesia Soerabaia), sebuah perkumpulan pecinta otomotif motor antik yang kendaraan mereka masuk dalam kategori Undang-Undang Cagar Budaya Nomor 11 Tahun 2010.

Sebagian besar koleksi mereka adalah motor-motor produksi Eropa dari masa Revolusi Industri Inggris, kendaraan yang dahulu bukan hanya alat transportasi, melainkan bagian dari peradaban yang bergerak.

Bagi masyarakat Jawa tempo dulu, motor-motor ini akrab disebut “udhug”, sebuah nama yang lahir dari suara mesinnya sendiri. Di masa kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang, “udhug” bukan sekadar kendaraan; ia menjadi saksi bisu mobilitas militer dan pemerintahan di Surabaya.

Kini, di tangan para anggota PEMUDI’S, ia hidup kembali, bukan untuk berperang, melainkan untuk merawat ingatan. Memasuki usia ke-44 pada tahun 2026, PEMUDI’S menggelar sebuah kegiatan bertajuk “Budhal Tok!”

Yakni, sebuah gathering silaturahmi yang mempertemukan para penggemar sekaligus pelestari kendaraan cagar budaya di Surabaya dan sekitarnya. Namun, sebelum roda-roda tua itu benar-benar melaju dalam semangat kebersamaan, ada satu langkah awal yang sarat makna, merawat ruang sejarah itu sendiri.

Minggu pagi (19/4/2026), langkah-langkah kaki dan sabit, parang, sapu serta alat-alat kebersihan yang lain mulai bergerak membabat terumputan dan semak belukar di kawasan Benteng Kedung Cowek, yang juga dikenal sebagai Gudang Peluru Kedung Cowek.

Di tempat inilah kegiatan bersih-bersih cagar budaya menjadi pembuka rangkaian acara “Budhal Tok!”. Dinding-dinding tua yang menyimpan jejak masa lalu perlahan disentuh kembali, bukan oleh waktu yang mengikis, melainkan oleh tangan-tangan yang peduli. Kegiatan ini sebagai persiapan gathering akbar ulang tahun ke-44 PEMUDI’S pada 25-26 April 2026, mempertemukan sekitar 1000 motor udhug.

Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen, di antaranya: anggota PEMUDI’S, jajaran KAPALDAM V Brawijaya, komunitas Roode Brug Soerabaia, hingga para relawan. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, namun dengan tujuan yang sama, menjaga agar sejarah tak sekadar menjadi cerita, namun tetap hadir dalam ruang yang nyata.

Di sela-sela aktivitas, percakapan ringan dan tawa mengalir. Ada yang bercerita tentang motor kesayangannya, ada pula yang berbagi kisah tentang Surabaya tempo dulu. Semua berkelindan dalam suasana yang hangat, seolah membuktikan bahwa merawat sejarah tak selalu harus kaku dan formal, ia bisa hadir dalam kebersamaan yang sederhana.

Benteng Kedung Cowek pagi itu bukan hanya dibersihkan dari rerumputan, semak belukar, dan sampah, namun juga dihidupkan kembali sebagai ruang ingatan kolektif. Setiap sudutnya seakan bangkit lagi, menjadi saksi bahwa masih ada yang peduli, masih ada yang ingin menjaga.

“Budhal Tok!” pada akhirnya tak sekadar ajakan untuk berangkat atau berkumpul. Ia adalah simbol bahwa perjalanan merawat sejarah harus terus dimulai, lagi dan lagi. Bahwa suara “udhug” yang dahulu mengiringi langkah-langkah masa lalu, kini berubah menjadi pengingat. Waktu boleh berlalu, namun jejaknya tak boleh hilang.

Dan ketika matahari telah meninggi di atas ubun-ubun, suara mesin tua kembali terdengar, kali ini bukan sebagai gema masa lalu semata, melainkan sebagai tanda bahwa sejarah masih berjalan, bersama mereka yang memilih untuk tak melupakannya. (Ali Muchson)

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!”
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu


Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

Biar Foto Bicara
Dari Suara “Udhug” ke Jejak Sejarah: “Budhal Tok!” 
dan Cara PEMUDI’S Merawat Masa Lalu

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *