Catatan Sehari Setelah Hardiknas: Kita Sekadar Merayakan, atau Menyembunyikan Realita Pendidikan?

Sehari Setelah Hardiknas: Kita Sekadar Merayakan, atau Menyembunyikan Realita Pendidikan?
Share this :

Tulisan Ini Didedikasikan untuk Para Guru Tercinta se Tanah Air

Setiap tahun, tanggal 2 Mei berlalu dengan cara yang hampir sama. Upacara digelar, pidato disampaikan, dan Ki Hajar Dewantara kembali dihadirkan lewat kutipan-kutipan yang terasa akrab di telinga. Kita menyebutnya Hari Pendidikan Nasional, sebuah penanda bahwa pendidikan adalah hal penting yang layak dirayakan.

Namun sehari setelahnya, ketika suasana kembali biasa dan simbol-simbol itu perlahan menghilang, tersisa satu pertanyaan yang jarang benar-benar kita jawab dengan jujur: apakah kita sungguh merayakan pendidikan, atau justru sedang menutup mata dari realitas pendidikan yang jadi salah satu problem di dalamnya?

Di ruang-ruang kelas yang tak ikut masuk dalam seremoni, ada pengalaman-pengalaman kecil yang kerap luput dari perhatian. Anak-anak yang belajar menahan suara, membungkam rasa tak percaya diri, atau sekadar berusaha tak terlihat berbeda. Di sanalah pendidikan tak lagi terasa sebagai ruang tumbuh, melainkan ruang yang diam-diam mengajarkan bagaimana bertahan.

Sebab berbicara tentang pendidikan tak cukup hanya dengan angka kelulusan, prestasi, atau kurikulum yang terus diperbarui. Pendidikan, pada dasarnya, adalah membangun pengalaman manusia. Ia menyentuh rasa, dan membentuk cara pandang.

Pun kadang ia meninggalkan jejak yang sering kali tak kasat mata. Maka, sulit rasanya membicarakan pendidikan tanpa mengingat bagaimana rasanya menjadi anak-anak yang pernah merasa tak cukup, merasa tak mampu, merasa terpinggirkan, atau bahkan tertinggal.

Konon, sekolah adalah ruang untuk bertumbuh. Tempat di mana anak-anak belajar mengenal diri, menemukan potensi, dan mengembangkan harapan. Namun bagi sebagian anak, ruang itu justru menjadi pengalaman pertama yang memperkenalkannya rasa malu, dan rendah diri.

Di sana, di depan mata mereka bahwa nilai bisa terasa lebih keras daripada empati, bahwa peringkat bisa lebih nyaring daripada harga diri. Mereka belajar diam, bukan karena tak mempunyai suara, namun lantaran merasa suaranya tak cukup berarti.

Dalam setiap perayaan pendidikan, kita sering lupa bertanya: berapa banyak anak yang benar-benar bertumbuh, dan berapa banyak yang sekadar bertahan? Mereka hadir di kelas, mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas, namun di dalam dirinya ada kegelisahan yang tak tersentuh.

Pada diri mereka ada gejolak rasa takut salah, takut dianggap kurang, atau takut tak sesuai dengan standar yang ditetapkan, bahkan takut ditertawakan dan di-bully oleh kawan-kawan mereka sendiri.

Padahal sejatinya, dalam pendidikan tak ada keberhasilan atau kegagalan yang mutlak. Yang ada hanya proses tumbuh yang terus berlangsung dinamis, unik, dan berbeda bagi setiap individu. Ia bukan garis lurus yang harus ditempuh dengan kecepatan yang sama oleh semua anak. Ia adalah perjalanan yang penuh liku, yang membutuhkan ruang untuk jatuh, bangkit, dan mencoba kembali.

Di dalam proses itu, ada murid yang belajar, dan ada guru yang membimbing. Namun hubungan keduanya bukan sekadar relasi yang kaku atau berjarak. Keduanya saling membentuk, saling memengaruhi, dan saling belajar.

Maka, seorang guru tak hanya mentransfer pengetahuan, namun juga menyerap pengalaman. Sementara seorang murid tak hanya menerima pelajaran, namun juga memberi makna baru bagi proses mengajar itu sendiri.

Karena itu, yang perlu kita lihat bukan semata hasil akhir, melainkan bagaimana proses itu dijalankan dan tumbuh. Apakah ruang belajar memberi kesempatan bagi anak untuk merasa aman? Apakah kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari pembelajaran, bukan sebagai aib? Apakah setiap anak diberi ruang untuk berkembang sesuai dengan ritmenya sendiri?

Jika pada peringatan ini kita ingin benar-benar jujur, maka mungkin sudah saatnya kita berhenti merayakan pendidikan jika hanya sebatas simbol. Pendidikan tak cukup dirayakan melalui upacara atau slogan-slogan kosong makna. Namun ia perlu dihidupi, dalam cara kita memperlakukan satu sama lain di dalamnya.

Memperbaiki pendidikan berarti memperbaiki cara kita memandang manusia. Artinya, kita mulai melihat anak bukan sebagai angka, melainkan sebagai individu utuh dengan cerita, luka, dan potensi yang berbeda. Kita belajar menghargai proses, bukan hanya hasil. Kita menggeser fokus dari sekadar pencapaian menuju pemberdayaan.

Di titik inilah semboyan Ki Hajar Dewantara menemukan maknanya yang paling dalam: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan. Sebuah filosofi yang menempatkan pendidikan sebagai proses pendampingan, bukan penekanan.

Akhirnya, pendidikan bukan sekadar sistem yang diatur oleh kebijakan semata dari para pengambil kebijakan, melainkan ruang hidup tempat anak-anak bertumbuh. Ia bukan hanya tentang apa yang diajarkan, namun tentang bagaimana seseorang diperlakukan. Bukan hanya tentang apa yang dicapai, namun tentang siapa yang terbentuk.

Pada Hari Pendidikan Nasional yang jejaknya telah membekas satu hari ini, mungkin yang paling penting bukan seberapa meriah kita merayakannya, melainkan seberapa dalam kita berani merefleksikannya. Sebab di balik setiap angka dan laporan bersifat administratif, ada anak-anak yang sedang berjuang memahami dirinya sendiri.

Pada akhhirnya, pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang tak hanya mencerdaskan pikiran belaka, namun juga memanusiakan manusia. Ia hadir sebagai ruang yang memungkinkan setiap individu merasa dilihat, didengar, dan dihargai sebagai dirinya yang utuh. Selamat berjuang bagi para guru tercinta, “pejuang pendidikan”, se Tanah Air. (Ali Muchson)

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *