Osigawa MERR: Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda

Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Share this :

Refleksi “Jumat Pagi Berkah, Jumat Sehat”
di kediaman Rusmadiharjo dan Rustini Sriwulan

Di tengah kehidupan kota yang bergerak serba cepat, manusia modern sering kehilangan satu hal sederhana namun berharga, yakni kebersamaan. Kesibukan, usia, rutinitas keluarga, hingga persoalan kesehatan perlahan membuat banyak orang berjalan sendiri-sendiri dalam kehidupannya.

Padahal, pada usia yang mulai menapaki senja, yang paling dibutuhkan bukan semata obat-obatan atau aktivitas fisik, melainkan ruang untuk merasa ditemani, didengar, dan dihargai keberadaannya.

Barangkali itulah makna yang diam-diam hidup dalam komunitas kecil bernama Osigawa MERR, singkatan dari “Obahe Sikil Gawe Waras”. Sebuah kumpulan pejalan pagi di kawasan frontage road depan Universitas Terbuka (UT) Surabaya, di MERR (Midle East Ring Road), atau Jalan Dr. Ir. H. Soekaro, kawasan Pandugo, Surabaya.

Osigawa, sebuah diksi layaknya dari bahasa Jepang yang dicetuskan oleh Diet Soekadi (alm.) tahun 2018 an, terdengar sederhana, bahkan jenaka. Namun di baliknya tersimpan filosofi yang dalam: bahwa tubuh yang digerakkan dengan tulus akan membantu jiwa tetap “waras” atau sehat dan hati tetap bahagia.

Pada awalnya Osigawa bergiat di Area Parkir di seberang Graha YKP Pandugo, Kelurahan Penjaringansari, Kecamaran Rungkut, Surabaya. Lantaran Covid-19, dan untuk menghindari kerumunan, sebagian anggota pindah jalan kaki di frontage road tersebut, dengan nama “Osigawa MERR”.

Komunitas ini mulai terbentuk sekitar tahun 2020 an, saat pandemi Covid-19 mengubah banyak kebiasaan manusia. Saat itu, sekitar 30 orang perempuan dan laki-laki berusia 50 hingga 80 tahun rutin berjalan pagi bersama. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, namun dipersatukan oleh satu kebutuhan yang sama, menjaga kesehatan sekaligus merawat hubungan sosial.

Setiap pagi, langkah-langkah kaki mereka bukan hanya olahraga biasa. Di sela jalan kaki, ada obrolan ringan tentang keluarga, kesehatan, cucu, masa muda, hingga cerita-cerita kecil yang justru membuat hidup terasa hangat. Jalan pagi menjadi ruang pelepas penat sekaligus pengingat bahwa manusia tak diciptakan untuk hidup sendirian.

Namun waktu, sebagaimana kehidupan, terus bergerak. Perlahan sebagian anggota mulai jarang terlihat. Ada yang berpindah lokasi olahraga karena pertimbangan jarak dan waktu. Ada pula yang beralih pada jenis aktivitas lain seperti senam, yoga, atau kesibukan keluarga yang tak lagi memberi ruang untuk berkumpul rutin.

Lingkaran yang dahulu akrab perlahan merenggang oleh keadaan. Meski demikian, persahabatan yang pernah tumbuh rupanya tak benar-benar hilang. Sebab ada kenangan dan kebersamaan yang diam-diam tetap tinggal di hati masing-masing.

Kerinduan itulah yang kemudian menggerakkan keluarga Rusmadiharjo dan Rustini Sriwulan untuk menginisiasi sebuah pertemuan bertajuk “Jumat Pagi Berkah, Jumat Sehat”. Sebuah temu kangen sederhana usai olahraga pagi di kediaman mereka. Bukan acara mewah, tak pula formalitas. Namun dalam kesederhanaan, terasa kehangatan tak bisa dibeli oleh apa pun, Jumat (8/5/2026) pagi.

Pertemuan ini juga tak lepas dari peran Sherly dan Lies yang dengan penuh semangat terus menghubungi dan mengajak teman-teman lama untuk kembali berkumpul. Ada semangat saling merangkul agar ikatan yang pernah terjalin tak putus dimakan waktu.

Bahkan suasana menjadi semakin akrab karena beberapa anggota turut membawa makanan dan minuman secara ‘potluck’, sebuah bentuk kecil gotong royong yang membuat kebersamaan terasa lebih hidup.

Sebagai keluarga asli tanah “Warok Ponorogo”, Rusmadiharjo dan Rustini Sriwulan menyuguhkan hidangan khas yang segera membangkitkan selera sekaligus nostalgia: nasi “Pecel Ponorogo” lengkap dengan pernak-pernik lauknya. Aroma bumbu kacang yang khas berpadu dengan hangatnya pagi bulan Mei menciptakan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Tak hanya itu, dahaga usai berolahraga juga ditemani aneka sajian penyegar seperti dawet cendol kecebong, teh hangat, kopi, air mineral, hingga hidangan lain yang menambah semarak meja kebersamaan. Barangkali makanan memang bukan sekadar soal rasa, melainkan juga medium untuk menyampaikan perhatian atas kebersamaan.

Yang paling berkesan sesungguhnya selain menu yang disajikan, pun pada suasana yang tercipta. Gelak tawa kembali pecah setelah sekian “bulan purnama” tak saling bertemu. Gurauan lama kembali hidup. Cerita-cerita baru saling bersahutan. Wajah-wajah yang sempat lama menghilang kini hadir lagi bersemuka dengan senyum yang sama hangatnya.

Pada momen-momen seperti itulah usia terasa kehilangan batasnya. Mereka yang rambutnya mulai memutih mendadak kembali muda oleh rasa bahagia. Sebab ternyata kebahagiaan tak selalu lahir dari hal-hal besar. Kadang ia hadir lewat secangkir kopi hangat, sepiring pecel sederhana, dan pertemuan dengan orang-orang yang mempunyai frekuensi sama, saling berterima.

Osigawa MERR pada akhirnya bukan sekadar komunitas jalan pagi. Ia adalah pengingat bahwa kesehatan sejati selain dibangun dari tubuh yang aktif bergerak, juga dari hati yang tetap terhubung dengan sesama sahabat. Di usia yang semakin menua, manusia justru semakin membutuhkan ruang-ruang hangat untuk berbagi cerita, tertawa bersama, dan saling menguatkan.

Sebab hidup yang panjang tanpa persahabatan akan terasa sunyi. Langkah-langkah kecil yang dijalani bersama, sering kali mampu membuat usia senja terasa lebih bermakna dan membahagiakan. Di situlah, rahasia menjaga tetap waras: tetap bergerak, tetap bersyukur, dan tetap memiliki orang-orang yang membuat hidup terasa hangat dan penuh arti. (Ali Muchson)

Biar Foto Bicara
Osigawa MERR: Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda

Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”
Osigawa MERR: “Menjaga Waras, Merawat Persahabatan di Usia Tak Lagi Muda”

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *