“Iduladha”, Bukan “Idul Adha”: Hal Kecil dalam Merawat Literasi Bahasa

“Iduladha”, Bukan “Idul Adha”: Hal Kecil dalam Merawat Literasi Bahasa
Share this :

Di tengah derasnya arus komunikasi digital, masyarakat semakin mudah saling menyampaikan ucapan pada berbagai momen penting, termasuk hari-hari besar keagamaan. Ucapan selamat Iduladha kini hadir dalam beragam bentuk: poster digital, status media sosial, pesan singkat keluarga, hingga tajuk utama media massa.

Dalam hitungan detik, jutaan kalimat bertebaran melalui WhatsApp, Facebook, Instagram, Telegram, dan berbagai platform lainnya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ruang digital kini tak hanya menjadi sarana komunikasi, melainkan juga ruang penyebaran kebiasaan berbahasa masyarakat.

Namun, di balik semarak ucapan tersebut, ada satu hal sederhana yang sering luput dari perhatian, yakni ketepatan penulisan bahasa. Banyak orang masih menulis “Idul Adha” secara terpisah, padahal bentuk bakunya dalam bahasa Indonesia adalah “Iduladha”. Kesalahan kecil yang terus diulang akhirnya dianggap benar oleh sebagian masyarakat.

Bahasa, sesungguhnya tak sekadar alat komunikasi. Bahasa juga mencerminkan sikap, ketelitian, dan penghormatan terhadap pengetahuan. Oleh sebab itu, memahami penulisan yang benar bukan semata-mata persoalan teknis kebahasaan, namun juga bagian dari upaya merawat budaya literasi di tengah masyarakat.

Jika dicermati, berbagai ucapan selamat di media sosial maupun judul artikel di sejumlah media massa masih banyak menuliskan “Idul Adha” dengan dua kata terpisah. Penulisan tersebut tak baku dalam kaidah bahasa Indonesia.

Untuk memastikan bentuk yang benar, masyarakat dapat merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam laman KBBI Daring, https://kbbi.web.id/, ketika mengetik kata “idul adha” pada kolom pencarian, bentuk yang muncul adalah “Iduladha”, bukan “Idul Adha”.

Dalam entri tersebut dijelaskan bahwa Iduladha merupakan bentuk nomina, yang berarti hari raya haji, yang disertai penyembelihan hewan kurban, seperti sapi, kambing, domba, atau unta bagi yang mampu.

Secara etimologis, Iduladha berasal dari dua unsur kata bahasa Arab, yakni “’id” yang berarti hari raya, dan “al-adha” yang berkaitan dengan penyembelihan hewan kurban. Dalam proses penyerapan ke dalam bahasa Indonesia, kedua unsur tersebut kemudian ditulis serangkai menjadi “Iduladha”, sebagaimana bentuk baku yang telah ditetapkan dalam kamus dan pedoman bahasa Indonesia.

Hal serupa juga berlaku pada penulisan “Idulfitri”, bukan “Idul Fitri”. Meskipun dalam bahasa asalnya terdiri atas dua unsur kata, kaidah bahasa Indonesia telah menetapkannya sebagai satu kesatuan bentuk yang ditulis serangkai. Karena itu, penggunaan bentuk baku penting dipahami agar masyarakat terbiasa menggunakan bahasa Indonesia secara tepat dan konsisten.

Pada tahun 2026, Iduladha jatuh pada tanggal 10 Zulhijah 1447 Hijriah atau bertepatan dengan hari Rabu, 27 Mei 2026. Hari besar ini memiliki beberapa penyebutan lain, seperti Hari Raya Haji dan Hari Raya Kurban.

Disebut Hari Raya Haji karena bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci Makkah dan Madinah. Sementara itu, disebut Hari Raya Kurban karena pada hari tersebut umat Islam melaksanakan penyembelihan hewan kurban sebagai simbol ketakwaan, keikhlasan, dan pengorbanan kepada Allah SWT.

Dalam praktik sehari-hari, ucapan yang tepat misalnya: “Selamat Iduladha 10 Zulhijah 1447 Hijriah.” Setelah kata “selamat”, sebenarnya tak perlu ditambahkan frasa “hari raya”, sebab kata “Iduladha” sendiri telah bermakna hari raya.

Alternatif lain yang juga benar, misalnya:
“Selamat Hari Raya Kurban 10 Zulhijah 1447 Hijriah.”, atau “Selamat Hari Raya Haji 10 Zulhijah 1447 Hijriah.”

Ucapan yang baku maupun alternatif tersebut kemudian dapat dilengkapi dengan kalimat doa maupun harapan yang selaras dengan makna Iduladha, seperti: “Semangat berkorban untuk meningkatkan ketakwaan.”, atau “Semoga keberkahan Zulhijah menetap dalam kehidupan kita dan orang-orang tercinta.”

Kalimat-kalimat sederhana semacam itu tak hanya menjadi formalitas ucapan tahunan, namun juga pengingat bahwa Iduladha mengandung nilai kemanusiaan yang mendalam, yakni: keikhlasan, kepedulian sosial, serta kesediaan berbagi kepada sesama.

Di sisi lain, penggunaan bentuk baku dalam penulisan juga mencerminkan penghormatan terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Ketika masyarakat mulai terbiasa menggunakan ejaan yang benar, secara tak langsung mereka turut menjaga ketertiban berbahasa di ruang publik.

Apalagi pada era media sosial saat ini, sebuah tulisan dapat tersebar luas dalam waktu singkat dan dibaca ribuan orang. Kesalahan penulisan yang terus-menerus diulang berpotensi dianggap sebagai kebenaran baru. Karena itu, ketelitian dalam memilih kata menjadi penting, terutama pada tulisan-tulisan yang bersifat edukatif maupun konsumsi publik.

Masyarakat kini mengenal Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V sebagai bentuk pembaruan dari pedoman sebelumnya, yakni Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Pedoman tersebut menjadi rujukan agar penggunaan bahasa Indonesia tetap berkembang secara tertib, sistematis, dan sesuai kaidah.

Pada akhirnya, menulis “Iduladha” mungkin tampak sebagai perkara kecil. Namun, dari hal kecil itulah tumbuh kebiasaan besar untuk menghargai bahasa sendiri. Ketepatan berbahasa tak hanya soal benar atau salah, melainkan juga menunjukkan kedewasaan berpikir dan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan.

Sebagaimana makna Iduladha yang mengajarkan keikhlasan dan pengorbanan, ketelitian dalam berbahasa pun dapat menjadi bentuk tanggung jawab moral dalam ruang publik. Sebab bahasa yang dirawat dengan baik akan membantu menjaga kejernihan makna, memperkuat budaya literasi, sekaligus memperhalus cara masyarakat saling memahami satu sama lain. (Ali Muchson)

Referensi

  1. https://ejaan.kemendikdasmen.go.id/eyd/
  2. https://irtaqi.net/2017/09/02/mengapa-dinamakan-idul-adha/
  3. https://kbbi.kemdikbud.go.id/
  4. https://www.alisson.id/idul-adha-atau-iduladha-mana-penulisan-kosakata-yang-baku/

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *