Di tengah kehidupan yang kian riuh oleh berbagai persoalan, manusia acap kali berhadapan dengan peristiwa yang menguras emosi. Sebagiannya menghadirkan kebahagiaan, sementara yang lain meninggalkan luka dan kegelisahan.
Fitnah, kebencian, pengkhianatan, kehilangan, hingga berbagai tekanan hidup seakan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan manusia. Namun, di balik semua itu, tersimpan pertanyaan penting: bagaimana menyikapi semua peristiwa tersebut agar tak menjauhkan diri dari ketenangan batin dan kedekatan dengan Allah SWT?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang mengemuka dalam sebuah obrolan santai bersama Bang Opick ketika Ustaz Farrel Muhammad Rizki, Ustazah Ellyta Agustina, Bang Karim, Bang Dian, dan saya berkesempatan berkunjung ke kediamannya, “Opick Tombo Ati”, pada Selasa (2/6/2026) petang.
Di tengah suasana santai yang penuh kehangatan dan keakraban, Bang Opick menyampaikan sebuah kalimat yang sederhana, namun mengandung makna yang cukup mendalam, yakni:
“Ketika kamu difitnah, dibenci, disakiti, bahkan ditinggalkan oleh seseorang sekalipun jangan sedih. Dengan kesendirianmu, kamu justru punya kesempatan bisa lebih cinta kepada Allah, lebih cinta kepada Nabi Muhammad.”
Kalimat tersebut terasa mengajak kita untuk melihat luka kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Apa yang selama ini dianggap sebagai kegelisahan bahkan penderitaan, bisa jadi justru merupakan ruang yang Allah sediakan agar manusia lebih dekat kepada-Nya. Saat manusia kehilangan sandaran pada sesama, sering kali ia justru baru sadar kembali menemukan jalan pulang kepada Sang Pencipta.
“Masa bodoh juga orang menjauh dari saya, biarkan saya dengan Allah dan Nabi Muhammad yang dekat,” kelakarnya.
Lebih lanjut, Bang Opick menyarankan agar kita belajar menjadi pemaaf. Konflik yang terus dipelihara hanya akan menjadi beban yang memberatkan hati. Dendam, kebencian, dan keinginan membalas acap kali menguras energi batin yang seharusnya dapat digunakan untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah.
Dengan memaafkan, hati menjadi lebih “plong” dan lapang. Dengan melepaskan pertikaian, jiwa menjadi lebih ringan. Bukan karena orang yang menyakiti telah benar, melainkan karena kita memilih berdamai dengan diri sendiri agar tak terus-menerus menjadi tawanan ego dan luka masa lalu.
Dalam hal ini, Bang Opick kemudian menggunakan sebuah analogi yang mudah dipahami. Sebagaimana kendaraan memerlukan “bensin” untuk mencapai tujuan. Demikian pula perjalanan spiritual manusia memerlukan “bahan bakar” agar mampu sampai pada tujuan tertinggi, yakni cinta Allah dan cinta Rasulullah SAW. Salah satu bahan bakar itu adalah sedekah, amal jariyah, dan lain-lain.
Menurutnya, banyak orang mendambakan kedekatan dengan Allah, namun kerap melupakan ikhtiar-ikhtiar sederhana yang dapat mengantarkan mereka ke sana. Sedekah,atau amal jariyah bukan semata-mata soal kuantitas atau jumlah, melainkan soal keikhlasan dan konsistensi.
“Barangkali saat ini hanya baru mampu bersedekah satu bata, ya bersedekahlah dengan satu bata terbaik. Terus tingkatkan volume sedekahnya. Jika baru mampu memberi satu kilogram beras kepada fakir miskin, duafa, atau yatim piatu, maka lain waktu tingkatkan jumlahnya atau perbanyak orang yang menerima manfaatnya,” tambahnya.
Pesan ini mengingatkan kita bahwa kebaikan tak harus menunggu kaya. Pun tak harus menunggu sempurna, atau berdalih dengan “nanti-nanti saja”. Yang terpenting adalah memulai dari kemampuan yang dimiliki hari ini, lalu terus bertumbuh sedikit demi sedikit, namu dilakukan secara istiqomah.
Selain sedekah, Bang Opick juga menyinggung pentingnya memperbanyak ibadah, tirakat, kontemplasi diri, dan bergaul dengan orang-orang saleh. Sebab, pada umumnya ibadah manusia sering kali masih dominan pada gerak badan. Padahal, perjalanan menuju kedekatan yang lebih dalam dengan Allah membutuhkan kesungguhan hati, latihan spiritual, dan lingkungan yang baik.
Dalam bahasa Jawa yang sederhana namun sarat makna, ia mengingatkan, “Kumpulono wong ingkang sholeh.” Berkumpullah dengan orang-orang yang taat menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya. Sebab, lingkungan sering kali menjadi cermin yang secara perlahan membentuk karakter dan arah hidup seseorang.
Pembicaraan kemudian menyinggung akar berbagai penyakit batin manusia, seperti iri hati, dengki, dan kesombongan. Menurutnya, setiap orang memiliki jalan hidup, peran, dan keistimewaan masing-masing. Karena itu, tak ada gunanya membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain. Jadilah diri sendiri.
Lalu, ia mengajak mencermati fenomena kehidupan dari tetumbuhan. Pohon mangga misalnya, ia berbuah namun tak menikmati buahnya buat dirinya sendiri. Ia memberi manfaat kepada makhluk lain. Demikian pula manusia, keberadaannya akan lebih bermakna ketika mereka mampu memberi manfaat kepada sesama.
Dengan gaya khasnya yang jenaka, Bang Opick juga menyampaikan perumpamaan, pohon beringin tak perlu iri kepada bunga mawar yang dikagumi banyak orang karena harumnya. Sedangkan dirinya banyak dihuni oleh “gendruwo” atau makhluk astral lainnya.
Sebab setiap ciptaan memiliki fungsi dan keindahannya masing-masing. Demikian juga, apa yang tampak kurang menarik di mata sebagian orang, bisa jadi justru ia memiliki manfaat yang lebih besar bagi kehidupan yang lain.
Perbincangan petang itu kemudian mengalir pada hakikat kehidupan manusia yang tak pernah lepas dari dua keadaan, yakni: senang dan sedih. Ketika berada dalam kesenangan, manusia diingatkan agar tak terlena dan lupa diri. Sebab, tak sedikit orang yang justru terjatuh saat sedang berada di puncak kenikmatan.
Sebaliknya, ketika sedih, manusia juga tak boleh berputus asa. Kesedihan bukan akhir dari segalanya. Menurut Bang Opick, salah satu bentuk kesedihan yang paling rendah adalah rasa khawatir yang berlebihan. Kekhawatiran acap kali membuat seseorang kehilangan kemampuan melihat hikmah yang tersembunyi di balik sebuah peristiwa.
Padahal, tak jarang apa yang hari ini dianggap musibah justru menjadi pintu datangnya kebaikan di masa depan. Apa yang hari ini dianggap kehilangan, bisa jadi merupakan cara Allah mengarahkan manusia menuju sesuatu yang lebih baik, menuju pada cinta kepada-NYA.
Karena itu, apa pun yang dialami, manusia patut bersyukur. Segala sesuatu telah berada dalam qadha dan qadar Allah SWT. Tugas manusia bukan menolak atau merekayasa kenyataan, melainkan menjalani kehidupan dengan ikhtiar terbaik, kesabaran, dan prasangka baik kepada-Nya.
Menjelang akhir pertemuan, Bang Opick juga menyinggung situasi bangsa dan dunia yang tengah menghadapi berbagai tantangan, kondisi yang sedang tak baik-baik saja. Kondisi ekonomi, sosial, dan politik yang penuh teka-teki memerlukan kewaspadaan sekaligus kebijaksanaan dalam menyikapinya agar kita selamat.
Di tengah berbagai ketidakpastian, ia mengajak kita untuk tak kehilangan harapan. Doa tetap perlu dilangitkan. Ikhtiar tetap harus dilakukan. Sebab perubahan yang baik tak hanya lahir dari kebijakan dan kekuatan manusia belaka, namun juga dari campur tangan Yang Maha Kuasa.
Maka kesadaran kolektif untuk kembali memperbaiki diri perlu diwujudkan. Ulama, umara, dan seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab sesuai perannya masing-masing. Ketika setiap pihak menjalankan amanah, menjaga akhlak, memperkuat kepedulian sosial, dan mendekatkan diri kepada Allah, maka harapan bersama agar terhindar dari musibah atau bencana global akan terwujud.
Petang itu, obrolan berlangsung santai bukan dalam sebuah forum resmi, tanpa panggung, hanya dalam ruang tamu rumah “Opick Tombo Ati” yang luas, yang tanpa penyekat jarak. Namun justru dari percakapan sederhana itu terselip banyak pelajaran kehidupan. Bahwa luka tak selalu harus diratapi. Kesendirian tak selalu berarti kehilangan. Kesedihan tak selalu menjadi tanda kegagalan.
Nah, kadang-kadang Allah menjauhkan kita dari keramaian dan kebisingan dunia agar kita dapat lebih jelas mendengar panggilan-Nya. Pun kadang-kadang, Allah membiarkan manusia harus melewati jalan yang sunyi agar mereka menemukan kembali arah pulangnya.
Di tengah dunia yang semakin gaduh, mungkin itu suatu pesan yang perlu terus diingat, yakni: jangan biarkan hati dipenuhi kebencian. Sebab hati yang lapang lebih mudah menerima cahaya kebaikan, lebih mudah bersyukur, dan lebih mudah menemukan jalan menuju cinta Allah dan Rasul-Nya. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
Obrolan Petang Bersama Bang Opick





