Magelang Tempo Doeloe 2026: Merawat Jejak Sejarah, Menyalakan Inspirasi Masa Depan

Magelang Tempo Doeloe 2026
Share this :

Perwakilan Roode Brug Soerabaia Turut Serta Ramaikan Acara

Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus mengubah wajah kota-kota di Indonesia, upaya merawat ingatan kolektif menjadi semakin penting. Sejarah bukan sekadar catatan tentang masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk jati diri suatu masyarakat.

Kesadaran itulah yang kembali dihadirkan melalui Festival Magelang Tempo Doeloe (MTD) 2026, sebuah perhelatan budaya tahunan yang telah menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Magelang.

Festival Magelang Tempo Doeloe 2026 sukses digelar pada 5–7 Juni 2026 di kawasan Alun-Alun Kota Magelang. Mengusung tema “Sang Legenda”, kegiatan ini mengajak masyarakat menelusuri kembali jejak tokoh, peristiwa, dan warisan budaya yang telah membentuk perjalanan panjang Kota Magelang hingga memasuki usia ke-1.120 tahun.

Perhelatan tersebut tak hanya menjadi ruang nostalgia bagi masyarakat, namun juga menjadi wadah edukasi sejarah yang menarik bagi generasi muda. Dalam suasana yang penuh semangat kebersamaan, ribuan pengunjung memadati kawasan alun-alun sejak malam pembukaan pada Jumat (5/6/2026).

Cahaya lampu yang menerangi area festival berpadu dengan nuansa tempo dulu yang dihadirkan melalui berbagai dekorasi, kostum, dan pertunjukan budaya, menciptakan pengalaman yang membawa pengunjung seolah kembali menyusuri lorong waktu.

Beragam sajian menarik turut memeriahkan festival tersebut. Pameran benda-benda antik dan foto-foto bersejarah menjadi magnet bagi para pecinta sejarah. Deretan mobil serta sepeda motor klasik yang tertata rapi menghadirkan pesona masa lalu yang memikat perhatian pengunjung dari berbagai kalangan.

Tak hanya itu, pementasan ketoprak oleh kelompok Gading Budoyo turut menyemarakkan suasana dengan menghadirkan kisah-kisah tradisional yang sarat nilai budaya dan kearifan lokal. Setiap sudut festival seakan mengingatkan, sejarah dan budaya bukan sekadar warisan untuk dikenang, melainkan sumber inspirasi yang terus hidup dalam kehidupan masyarakat.

Dalam gelaran tersebut, Komunitas Roodebrug Soerabaia juga turut ambil bagian memeriahkan acara. Kehadiran komunitas yang selama ini aktif dalam pelestarian sejarah Pertempuran Surabaya 1945 itu diwakili oleh Cak Gepeng (Lim Kim Hau).

Di samping itu, tampak pula para reenactor hadir dari berbagai daerah, seperti dari Kota Malang: Cak Uki hariyanto dan Ning Maghfirotul Laily, adalah “bapak dan anak” yang juga pegiat “Musih Nyelentang”, datang secara pribadi untuk turut serta meramaikan acara Magelang Tempo Doeloe.

Partisipasi mereka yang datang dari luar Magelag menjadi wujud nyata sinergi antarkomunitas sejarah dalam upaya menjaga memori kolektif bangsa agar tetap hidup di tengah masyarakat. Kehadiran mereka sekaligus menunjukkan bahwa semangat pelestarian sejarah dapat menjembatani perbedaan daerah dan generasi dalam satu tujuan yang sama, yakni menjaga ingatan bangsa.

Lebih dari sekadar festival budaya, Magelang Tempo Doeloe memiliki misi edukatif yang kuat. Kegiatan ini menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah daerah dan kearifan lokal kepada generasi muda agar mereka tak tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Di tengah era digital yang serba cepat, pemahaman terhadap sejarah menjadi bekal penting untuk membangun karakter, identitas, dan rasa memiliki terhadap daerah tempat mereka tumbuh. Dengan mengenal sejarah dan kearifan lokal, generasi muda diharapkan mampu melangkah ke masa depan tanpa kehilangan pijakan terhadap nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu.

Selain aspek edukasi, festival ini juga memberikan dampak nyata bagi sektor ekonomi kreatif dan pariwisata. Ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) turut dilibatkan melalui berbagai gerai yang menawarkan jajanan jadul, kuliner tradisional, serta makanan khas legendaris Magelang.

Kehadiran para pelaku UMKM tak hanya menghidupkan suasana festival, namun juga membuka peluang ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat setempat. Sinergi antara pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat inilah yang menjadikan festival tersebut memiliki manfaat yang dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan.

Sebagaimana dikutip dari Magelang Ekspres, Wakil Wali Kota Magelang, dr. Sri Harso, saat membacakan sambutan Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, menegaskan bahwa sejarah merupakan dasar penting dalam pembangunan kota. Kemajuan fisik suatu daerah, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan upaya merawat warisan budaya yang diwariskan para pendahulu.

Ia juga menekankan, tema “Sang Legenda” tak dimaksudkan sekadar untuk memamerkan benda-benda lama yang telah dimakan usia. Lebih dari itu, festival ini bertujuan menggali nilai-nilai keteladanan dari tokoh maupun peristiwa masa lampau agar mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.

Pesan tersebut menjadi pengingat, sejarah sesungguhnya tak hanya milik masa lalu. Sejarah hidup melalui nilai-nilai yang diwariskan, kisah perjuangan yang terus diceritakan, dan keteladanan yang dapat diteladani lintas generasi. Ketika masyarakat mengenal sejarahnya dengan baik, mereka akan lebih memahami siapa dirinya, dari mana asalnya, dan ke mana arah yang hendak dituju.

Sementara Rifkhi Sulaksmono, Founder Komunitas Magelang Kembali, mengatakan bahwa tema “Sang Legenda” mengingatkan masyarakat untuk tak melupakan tokoh-tokoh dan peristiwa penting yang telah memberi warna dalam perjalanan sejarah bangsa. Menurutnya, setiap legenda tak hanya menyimpan kisah masa lalu, namun juga mengandung nilai perjuangan, keteladanan, dan semangat pengabdian yang tetap relevan hingga hari ini.

“Generasi muda dapat memandang sejarah bukan sebagai sesuatu yang usang, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih baik. Karena itu, kegiatan seperti Magelang Tempo Doeloe menjadi ruang penting untuk menjembatani warisan sejarah dengan semangat generasi masa kini,” harapnya.

Magelang Tempo Doeloe 2026 pada akhirnya tak sekadar sebuah festival tahunan. Ia merupakan ruang perjumpaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Di sana, sejarah tak hanya dipajang untuk dikenang, namun juga dihidupkan kembali untuk dipelajari dan dimaknai.

Dari jejak-jejak legenda yang dihadirkan, masyarakat diajak memahami bahwa kemajuan sebuah kota tak hanya diukur dari pembangunan fisiknya, melainkan juga dari kesungguhannya menjaga warisan budaya dan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi peradabannya. (Ali Muchson)

Featured image by: Gepeng

Biarkan Foto Bicara
Magelang Tempo Doeloe 2026

Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Rifkhi Sulaksmono
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Rifkhi Sulaksmono
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Rifkhi Sulaksmono
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Rifkhi Sulaksmono
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Rifkhi Sulaksmono
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Rifkhi Sulaksmono
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Gepeng
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Gepeng
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Rifkhi Sulaksmono
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Maghfirotul Laily
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Maghfirotul Laily
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Maghfirotul Laily
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Maghfirotul Laily
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Maghfirotul Laily
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Rifkhi Sulaksmono
Magelang Tempo Doeloe 2026
Foto: Rifkhi Sulaksmono

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *