Gemerlap lampu panggung perlahan meredup, menyisakan suasana penuh keheningan di dalam gedung pertunjukan Universitas Kristen Petra Surabaya, Sabtu (13/6/2026) sore. Di tengah riuh Surabaya yang dinamis, sore itu seolah melambat ketika imajinasi mulai mengambil alih ruang realitas. Hadir di tengah-tengah penonton, pejabat Konsulat Belanda di Surabaya Lily Jessica Tjokrosetio, juga perwakilan dari Universitas Kristen Petra Surabaya.
Seni pertunjukan yang digelar atas kerja sama Erasmus Huis Jakarta, Amadeus Enterprise Surabaya, dan Universitas Kristen Petra Surabaya tak sekadar menjadi tontonan visual yang lewat begitu saja; ia adalah jembatan emosional yang mengundang kita untuk menengok ke dalam diri sendiri, menemukan kembali serpihan identitas yang sering kali terabaikan.
Pertunjukan bertajuk “On a Lonely Island” hadir sebagai sebuah ode yang indah bagi para penjelajah dunia: mereka yang pemalu, antusias, impulsif, sekaligus taktis (atau mungkin sedikit kurang taktis).
Dengan pembawaan yang sangat enerjik, teatrikal, dan penuh humor, ketiga penari dari MAN || CO membawa penonton masuk ke dalam sebuah petualangan magis untuk menemukan jati diri melalui hamparan lanskap fantastis yang penuh warna.
Kisah ini mengalir tentang tiga orang asing yang tinggal bersama di sebuah pulau terpencil. Uniknya, pulau ini digambarkan secara absurd karena tidak memiliki pasir, matahari, ataupun laut sama sekali.
“Hai! Aku Yang Satu.”
“Hei, aku Yang Lain.”
“Dan kemudian, ada Yang Ketiga. Dan siapakah kamu?”
Namun, pertanyaan itu hanya bersambut keheningan yang mencekam.
Dalam momen tersebut, yang satu meraih tangan yang lain. Bersama-sama, mereka dengan gelisah menunggu sebuah jawaban: suasana terasa begitu intens, cemas, dan berdebar. Tepat sebelum kegembiraan mereka meledak layaknya air mancur, tiba-tiba mereka mendengar suara yang sangat pelan: “Bang, bang, bang.”
“Wow! Dari mana asal suara itu? Apakah kamu yang membuat suara itu? Kamu mulai terlihat berseri-seri!”
Seketika, ketegangan mencair menjadi sebuah pementasan yang penuh energi, teatrikal, dan kaya akan humor. Melalui dinamika tersebut, ketiga penari berhasil mengajak penonton berpetualang menemukan jati diri melewati lanskap fantastis yang kaya akan warna.
Saat pertunjukan usai, tepuk tangan riuh penonton perlahan mereda, digantikan oleh kehangatan yang tertinggal bagi penontonyang hadir. Lampu panggung kembali terang, namun atmosfer kontemplatif dari pulau tanpa pasir itu tampaknya enggan beranjak dari benak publik Surabaya.
Kiranya, pementasan ini meninggalkan sebuah perenungan mendalam: bahwa di dunia yang sering kali terasa asing dan membuat kita terisolasi, mengangkat kepala, saling meraih tangan, dan berani membuka diri adalah cara terindah untuk menemukan jalan pulang ke jati diri kita yang sejati.
Sekilas tentang MAN || CO
MAN || CO (@mancobewegingstheater) merupakan sebuah kolektif seni yang digawangi oleh empat penari berbakat: Lisa Feij (Goes, 1991), Susan Hoogbergen (Eindhoven, 1992), Roma Koolen (Utrecht, 1991), dan Vera Goetzee (Rotterdam, 1993). Namun, perlu diketahui bahwa untuk rangkaian tur pertunjukan di Indonesia kali ini, Lisa Feij tidak turut serta tampil di atas panggung.
Dikutip dari laman resmi mereka, MAN || CO terbentuk pada tahun 2015 di KunstENhuis, Westerpark, Amsterdam. Kehadirannya bermula dari keinginan kuat para pendirinya untuk menciptakan karya tari yang bersifat kolektif sekaligus komunikatif. Langkah ini diambil di tengah ekosistem seni tari masa itu yang masih didominasi oleh institusi-institusi hierarkis dengan hambatan masuk yang cenderung eksklusif.
Lantaran hal tersebut, mereka merasa terpanggil untuk membawa perubahan yang segar. MAN || CO mengusung misi besar untuk menghadirkan karya-karya yang mudah dinikmati guna membangkitkan antusiasme khalayak yang lebih luas terhadap genre seni tari.
Kolektif ini secara konsisten menciptakan dan memproduksi pertunjukan tari teatrikal yang memikat. Karena banyak terinspirasi oleh absurditas kehidupan sehari-hari, pertunjukan mereka yang penuh energi mampu menjelma menjadi jembatan yang menghubungkan dunia khayalan dengan realitas dunia nyata.
Sebagai sebuah kolektif, mereka merancang, memproduksi, dan menampilkan pertunjukan tari teatrikal dengan ciri khas yang puitis sekaligus menyenangkan. Karakteristik karya mereka selalu menonjolkan aspek fisik, teatrikal, dan energik.
Di samping itu, mereka juga kerap mengangkat tema-tema sosial-politik di atas panggung melalui karakter-karakter ekspresif yang bergerak secara absurd, namun tetap terasa dekat dan mudah dipahami oleh penonton.
Terkait esensi pementasan ini, Patrisna May Widuri selaku founder Amadeus Enterprise, menuturkan bahwa kisah tentang tiga orang asing di pulau terpencil tanpa arah ini merupakan cerminan nyata dari pencarian identitas yang sering dialami oleh anak-anak dan remaja di dunia modern.
“Dengan sangat cerdas pertunjukan ini menggambarkan bagaimana komunikasi dan kepekaan terhadap hal-hal kecil dapat mencairkan kecanggungan serta menyatukan perbedaan. Bagi anak-anak dan remaja, menyelami petualangan emosional ini sangat penting untuk melatih empati serta keberanian dalam mengekspresikan diri secara jujur,” lanjutnya.
Sementara itu bagi para orang tua, pementasan ini menjadi refleksi berharga agar lebih sabar dan jeli dalam mendengarkan ‘suara-suara kecil’ dari dinamika perkembangan anak mereka. Melalui bahasa gerak yang universal dan penuh humor, MAN || CO berhasil menyampaikan pesan mendalam bahwa di tengah rasa asing atau kesepian, kita selalu memiliki peluang untuk terhubung kembali dengan sesama, pungkas Patrisna.
Kini, MAN || CO terus melangkah untuk memberikan warna yang menyegarkan dan berkarakter pada ranah seni tari teatrikal. Karya-karya tersebut mereka dedikasikan secara luas untuk anak, remaja, hingga dewasa, baik melalui pementasan di gedung teater, kemeriahan festival, maupun kunjungan langsung ke sekolah-sekolah, serta ke negara lain.
Personil MAN || CO
Lisa Feij (Goes, 1991) | Artistiek Leider, acquisitie
Susan Hoogbergen (Eindhoven, 1992) | Dancer/Collective Member
Roma Koolen (Utrecht, 1991) | Artistiek Leider, educatie
Vera Goetzee (Rotterdam, 1993) | PR/Marketing
Referensi:
Biarkan Foto Bicara
MAN || CO: “On a Lonely Island”








































