Bulan Juni selalu memiliki tempat istimewa dan sakral dalam lembaran sejarah Bangsa Indonesia. Di bulan keenam inilah, ingatan kolektif kita senantiasa dibawa kembali pada sosok bapak bangsa, Ir. Soekarno. Tidak berlebihan jika Juni kemudian disematkan dan dirayakan secara luas sebagai “Bulan Bung Karno”.
Sebutan ini lahir bukan sekadar dari romantisme sejarah semata, melainkan karena bulan ini memuat tiga momen paling krusial yang mengiringi perjalanan hidup, perjuangan, serta pengabdian Sang Proklamator kepada ibu pertiwi.
Mari kita menengok sejenak pada tiga tonggak waktu tersebut. Pertama, 1 Juni 1945, yakni tanggal yang menjadi titik mula lahirnya falsafah dan ideologi bangsa. Pada hari itu, Soekarno menyampaikan pidato pertamanya di depan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), merumuskan lima dasar negara yang kini kita sebut Pancasila.
Kedua, 6 Juni 1901, yang menjadi tanggal kelahiran “Putra Sang Fajar”. Sebuah titik awal dari kehidupan yang kemudian mengubah nasib bangsa. Lalu yang ketiga, 21 Juni 1970, tatkala bangsa ini harus meneteskan air mata melepas kepergian Soekarno untuk selamanya. Ia berpulang, namun menyisakan warisan pemikiran dan nyala api semangat yang tak lekang oleh zaman.
Untuk merawat ingatan dan menghormati jejak langkah beliau, berbagai elemen masyarakat merayakan Bulan Bung Karno dengan cara yang beragam. Salah satu wujud penghormatan yang paling memikat dan sarat makna hadir dilakukan oleh 40 orang perupa.
Di Galeri Merah Putih (GMP) yang berlokasi di Kompleks Balai Pemuda – Alun-Alun Surabaya, Jalan Gubernur Soeryo 15, mereka mengambil peran penting untuk merajut kembali memori tentang Bung Karno melalui medium visual. Mereka menggelar pameran lukisan yang bertajuk “Soekarno dalam Goresan”, yang berlangsung pada 20 hingga 27 Juni 2026.
Pameran ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan teknis, melainkan sebuah ruang refleksi batin yang melibatkan 40 pelukis profesional. Tidak hanya seniman asal Surabaya yang ambil bagian, para perupa dari berbagai sudut kota di Jawa Timur turut hadir menyumbangkan karya terbaik mereka. Melalui sapuan kuas dan perpaduan warna di atas kanvas, mereka menerjemahkan sosok Soekarno ke dalam berbagai corak, gaya, dan ekspresi seni.
Ada karya yang menonjolkan ketegasannya saat berorasi di podium, ada yang menangkap sisi humanis dan kehangatannya saat berinteraksi dengan rakyat jelata, hingga lukisan kontemporer yang merepresentasikan gejolak pemikiran revolusionernya. Setiap goresan seolah bernapas, mengajak para pengunjung pameran untuk berdialog langsung dengan sang pemimpin besar melintasi batas waktu.
Suasana pembukaan pameran pada Sabtu (20/6/2026) sore terasa begitu hangat, akrab, dan penuh antusiasme. Sedianya, perhelatan seni ini akan diresmikan secara langsung oleh Staf Khusus Menteri Kebudayaan (Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual), BRA. Putri Woelan Sari Dewi, S.H., M.Kn. Namun, karena beliau berhalangan hadir.
Sebelum dibuka, acara diawali dengan pembacaan puisi bertema Soekarno oleh Denyta, dosen Sendratasik STKW Surabaya, yang berkolaborasi dengan seni deklamasi. Pembacaan puisi tersebut cukup membangun suasana, menggugah, dan menyentuh rasa.
Prosesi peresmian akhirnya dibuka oleh Manajer Galeri Merah Putih Syaiful Anis, tokoh penggerak seni yang akrab disapa Pak Gentong. Meski terjadi perubahan, hal tersebut sama sekali tidak menyurutkan khidmat dan semaraknya acara. Dengan gayanya yang membumi, Pak Gentong membuka pameran ini melalui pesan yang menggugah tentang pentingnya menjaga warisan sejarah melalui napas kesenian.
Pada akhirnya, pameran “Soekarno dalam Goresan” adalah wujud nyata dari upaya estafet nilai-nilai kebangsaan dari generasi pendahulu kepada generasi penerus. Di tengah arus zaman yang terus bergerak cepat, menatap wajah Soekarno dalam goresan kanvas mengingatkan kita kembali pada akar, jati diri, dan tujuan kita bernegara.
Bulan Juni akan terus datang dan pergi setiap tahunnya, namun melalui dedikasi para seniman di Galeri Merah Putih, gagasan dan cita-cita Soekarno akan terus dihidupkan, abadi dalam ingatan, dan bergelora di setiap detak jantung Indonesia. (Ali Muchson)
Featured image: Edi Marga
Biarkan Foto Bicara
Goresan Kuas Merawat Sejarah: “Soekarno dalam Goresan”












