Perwakilan Roode Brug Soerabaia Turut Dukung Teatrikal
SURABAYA — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya menggelar peluncuran buku Bung Karno: “Aku Arek Suroboyo” karya Purnawan Basundoro, Samidi, Kukuh Yudha Karnanta, dan Yayan Indrayana di Balai Budaya Kompleks Balai Pemuda Surabaya, Kamis (25/6/2026) siang.
Acara tersebut dihadiri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji, Puti Guntur Soekarno, Prof. Purnawan Basundoro selaku ketua tim penyusun buku, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Surabaya, serta sejumlah tamu undangan dari berbagai kalangan.
Peluncuran buku ini tak sekadar menjadi agenda literasi dan sejarah. Lebih dari itu, ia menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, tempat ingatan kolektif tentang Bung Karno dihidupkan kembali melalui narasi, refleksi, dan ekspresi seni.
Dalam pidatonya yang disampaikan tanpa teks, Puti Guntur Soekarno menegaskan bahwa Surabaya bukan sekadar kota tempat Bung Karno dilahirkan. Bagi dirinya, Surabaya adalah ruang sejarah yang membentuk karakter, cara berpikir, serta semangat nasionalisme sang Proklamator.
Menurut Puti, perjalanan hidup Bung Karno tak dapat dipisahkan dari Surabaya dan lingkungan yang membesarkannya. Ada alasan historis yang sangat penting mengapa Soekarno muda kemudian dititipkan kepada H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Kota inilah yang menjadi salah satu tempat utama pembentukan watak dan kesadaran politiknya.
Dalam kesempatan itu, Puti juga mengingatkan tentang tiga tonggak sejarah penting yang sama-sama berada pada bulan Juni dan memiliki keterkaitan erat dengan Bung Karno.
Pertama, 1 Juni 1945, hari ketika Soekarno menyampaikan pidato monumental di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada momen itulah lahir rumusan lima dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila, fondasi ideologis bangsa Indonesia.
Kedua, 6 Juni 1901, tanggal kelahiran Bung Karno yang kemudian dikenal sebagai “Putra Sang Fajar”. Sebuah awal perjalanan hidup yang kelak membawa perubahan besar bagi sejarah Indonesia.
Ketiga, 21 Juni 1970, saat bangsa Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Soekarno berpulang, namun meninggalkan warisan pemikiran, semangat perjuangan, dan cita-cita kebangsaan yang hingga kini tetap hidup dalam denyut perjalanan bangsa.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa buku Bung Karno: “Aku Arek Suroboyo” akan didistribusikan ke sekolah-sekolah di Surabaya. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkenalkan sejarah kepada generasi muda, khususnya mengenai kota tempat sang Proklamator dilahirkan dan bagaimana gagasan-gagasannya dapat menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan mereka.
“Anak-anak harus mengenal sejarah kotanya, mengenal tokoh yang lahir dari kota ini, dan memahami nilai-nilai perjuangan yang diwariskan kepada bangsa,” pungkas Walikota Eri.
Sebelum peluncuran buku berlangsung, suasana Balai Budaya terlebih dahulu diselimuti nuansa reflektif melalui pementasan puisi teatrikal “Aku Arek Suroboyo” karya Heri Lentho. Pertunjukan ini menjadi pembuka yang memikat sekaligus menghidupkan suasana kebangsaan di tengah para hadirin.
Berikut adalah sinopsis deskriptif dari naskah puisi teatrikal “Aku Arek Suroboyo” karya Heri Lentho. Naskah tersebut dibawakan oleh enam pembaca puisi yang memerankan tokoh-tokoh penting dalam perjalanan hidup Bung Karno.
“AKU AREK SUROBOYO”
Puisi Teatrikal Enam Pembaca Puisi
Karya Heri Lentho
Tokoh
Koesno: Kevin Fitrah Al Kareem
Ibu, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben: Utami Budiati
Ayah, Raden Soekemi Sosrodihardjo: M. Jalaludin Elfandani
H.O.S. Tjokroaminoto: Rozaq Thoha Muchtar
Sukarno Remaja: Ahmad Rizky Maulana
Generasi Muda Indonesia: Fasya Almeera Chandra Kurniawan
Sinopsis
Pertunjukan ini tak sekadar menghadirkan kisah sejarah, melainkan sebuah dialog lintas zaman yang menghubungkan masa kelahiran Koesno dengan cita-cita Indonesia hari ini. Melalui perpaduan narasi, puisi, pencahayaan, dan penghayatan para pemeran, penonton diajak menelusuri perjalanan seorang anak Surabaya yang kelak menjadi pemimpin bangsa.
Adegan demi adegan bergerak dari suasana fajar kelahiran Koesno, kasih sayang orang tua yang menanamkan nilai kehidupan, proses pendidikan dan pembentukan karakter, hingga masa ketika Soekarno muda digembleng di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Peneleh.
Yakni, rumah sederhana itu divisualisasikan sebagai “dapur nasionalisme”, tempat lahirnya kesadaran bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan melalui ilmu, keberanian berpikir, dan keberpihakan kepada rakyat.
Ketika tokoh Sukarno Remaja mengambil alih panggung, suasana menjadi semakin bergelora. Melalui suara yang lantang dan penuh keyakinan, ia menggambarkan kegelisahan terhadap ketakadilan yang dialami rakyat. Dari panggung itu pula bergema identitas yang kemudian menjadi judul pementasan: “Aku Arek Suroboyo”.
Bagian paling reflektif hadir ketika sosok Generasi Muda Indonesia memasuki panggung. Penonton diajak merenungkan bahwa meskipun penjajahan fisik telah lama berakhir, bangsa ini masih menghadapi berbagai tantangan baru berupa kemiskinan pikiran, krisis jati diri, polarisasi sosial, serta lunturnya semangat kebersamaan.
Pesan yang disampaikan sangat jelas: generasi muda tak cukup hanya mengagumi Bung Karno sebagai tokoh sejarah. Mereka harus mewarisi keberanian berpikir, semangat pengabdian, serta kesediaan untuk bekerja bagi kepentingan bangsa.
Pementasan mencapai klimaks ketika seluruh pemeran berdiri bersama di atas panggung. Suara mereka saling bersahutan, membentuk harmoni kebangsaan yang menggema di seluruh ruangan. Surabaya dan Peneleh disebut sebagai gerbang sejarah yang melahirkan salah satu tokoh terbesar bangsa Indonesia.
Di penghujung pertunjukan, keenam pemeran mengikrarkan komitmen untuk menjaga nilai-nilai Pancasila, menghidupkan semangat gotong royong, dan memperjuangkan keadilan sosial. Pekik “AKU INDONESIA!” menggema bertingkat, lalu memuncak pada seruan “MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!”
Sesaat kemudian panggung menjadi gelap. Namun, gaung pesan yang disampaikan pertunjukan itu seakan tetap bergema di hati para penonton.
Turut serta perwakilan Roode Brug Soerabaia mendukung teatrikal, mereka adalah Edi Marga, Azzahrah Salsabila Wahyu Putri, Pradika Anugerah Ramadhan, Garti Haningsih, Kalingga Rafky Abyan, Dendy Pangestu, Budi Sarwoko, Hamzah Bahanan, dan Soepriadi.
Pada akhirnya, “Aku Arek Suroboyo” bukan hanya sebuah buku ataupun puisi teatrikal tentang Bung Karno. Ia adalah pengingat bahwa sejarah tak pernah benar-benar selesai. Sejarah hidup melalui ingatan, diwariskan melalui pendidikan, dan menemukan maknanya ketika nilai-nilai perjuangan diteruskan oleh generasi berikutnya.
Dari Surabaya, kota yang membentuk seorang Koesno menjadi Bung Karno, kembali mengalir pesan yang sama: bahwa Indonesia akan tetap menyala selama generasi mudanya berani bermimpi, berpikir merdeka, dan bekerja untuk bangsanya. (Ali Muchson)
Biarkan Foto Bicara
Peluncuran Buku Bung Karno: “Aku Arek Suroboyo”
