Sorak tepuk tangan bergemuruh memenuhi Amphi Theater Gedung Q Universitas Kristen Surabaya, Sabtu (11/7/2026) sore. Cahaya lampu panggung menyorot puluhan remaja yang bergerak lincah dalam balutan koreografi yang energik, berpadu dengan harmoni vokal, musik, dan akting yang mengalir tanpa jeda.
Selama lebih dari sembilan puluh menit, penonton seakan diajak menembus lorong waktu menuju New York tahun 1899, menyaksikan semangat para penjual koran muda yang berani melawan ketidakadilan melalui pertunjukan musikal bertajuk Seize the Day.
“Pertunjukan yang sangat apik, kompak, dan rancak dalam setiap aksi dan gerak panggung yang ditampilkan anak-anak yang masih belasan tahun usianya,” ujar salah seorang penonton, Wildan Arif, yang duduk di sebelah kanan kursi saya.
Pertunjukan musik teatrikal yang diprakarsai oleh Amadeus Enterprise tersebut merupakan puncak proses pembelajaran para peserta Surabaya Musical Theatre Camp (SMTC) Class of 2026. Sebanyak 33 anak dan remaja dari berbagai kota di Indonesia menampilkan kemampuan menyanyi, berakting, dan menari yang mereka ditempa selama mengikuti “kawah Candradimuka” SMTC, menghadirkan sebuah pertunjukan yang memikat sekaligus sarat makna.
Kisah Seize the Day diadaptasi dari peristiwa nyata Pemogokan Penjual Koran (Newsboys Strike) di New York pada tahun 1899. Perjuangan anak-anak penjual koran tersebut kemudian diabadikan dalam film musikal Disney “Newsies” (1992) dan pertunjukan Broadway. Lagu legendaris “Seize the Day” pun menjadi simbol keberanian generasi muda untuk memperjuangkan hak, menumbuhkan harapan, dan meyakini bahwa perubahan selalu mungkin diwujudkan.
Patrisna May Widuri, Founder Amadeus Enterprise, menuturkan bahwa SMTC hadir untuk memfasilitasi anak-anak yang berani bermimpi. Menurutnya, sebelum menjadi “pahlawan” atau “pemenang”, setiap orang terlebih dahulu adalah seorang pemimpi. Sebelum mampu mengubah sesuatu, mereka harus percaya bahwa perubahan itu mungkin terjadi.
“SMTC menjadi wadah bagi setiap seniman muda, setiap pelajar, setiap penampil, dan setiap pemimpi yang memilih untuk terus percaya bahwa sesuatu akan berubah. Sesuatu akan menjadi prestasi yang gemilang jika diupayakan dengan semaksimal-maksimalnya,” pungkasnya.
Peserta SMTC of Class 2026, merekal yakni: Abrielle Rewadekyi Semesta, Adelaide Loo, Angela Jean Camino Purba, Annabelle Ryanti Mulianto, Bella Evelyn Tan, Cahayarani Teresa, Charlize Evangeline Tan, Danya Desideria, Daphne Gabriella Irawan, Darren Liem Limantara, Elaine Isabelle Jie, Estefania Celline Sutrisno, Ethne Muara Kilauel, Fauzan Ahmad Azzaki, Freya Venezia Bong, Geraldine Kenesha Primasunu.
Dan juga: Gerrard Salim Kawijaya, Helena Anindya Larasati, Javine Chiara Thamrin, Joyleen Soenarjo Lim, Kaycee Alexis Soetedjo, Latisha Bracha, Made Kamaratih Arianna Kumara, Muttaqin Aqjai Arjuno, Pradipabumi Yokanan, Queen Letitia Pruistine Prayogo, Renee Louise Jie, Richard Fernando S., Sofia Eudora, Shelomita Gasya Amory, Steven Ongkomihardjo, Sydney Alexis Soetedjo, dan Vivienne Richelle Wu.
Kisah di Balik Seize the Day
Sejarah perubahan sosial sering kali lahir tak dari ruang-ruang kekuasaan, melainkan dari keberanian orang-orang yang selama ini dianggap tak memiliki suara. Demikian pula yang terjadi di New York, Amerika Serikat, pada musim panas tahun 1899. Ungkapan “Seize the Day”, atau jika diterjemahkan secara bebas “rebut hari ini atau “raih hari ini” sebagai seruan membakar semangat.
Sekelompok loper koran, mayoritas anak-anak dari keluarga imigran miskin, membuktikan bahwa solidaritas dan keberanian dapat mengalahkan ketimpangan. Dalam waktu dua minggu, mereka berhasil memaksa dua raksasa media, milik Joseph Pulitzer dan William Randolph Hearst, mengubah kebijakan yang selama ini merugikan para penjual surat kabar.
Vincent DiGirolamo dalam Crying the News: A History of America’s Newsboys, menjelaskan bahwa para loper koran (newsboys) tak sekadar anak-anak penjual surat kabar, melainkan bagian penting dari sejarah sosial, ekonomi, dan budaya Amerika Serikat. Selama lebih dari satu abad, mereka menjadi penghubung utama distribusi pers sekaligus merepresentasikan dinamika kehidupan kelas pekerja, khususnya anak-anak dari keluarga miskin, imigran, dan penyandang disabilitas, serta kelompok masyarakat yang terpinggirkan (DiGirolamo, 2019).
Dalam pembahasannya, DiGirolamo juga mengangkat berbagai aksi kolektif para loper koran, termasuk Newsboys’ Strike of 1899 di New York City. Pemogokan tersebut diposisikan sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah gerakan buruh anak di Amerika, yang memperlihatkan bagaimana solidaritas, organisasi, dan keberanian para penjaja koran mampu menekan penerbit-penerbit besar untuk mengubah kebijakan yang selama ini membebani mereka (DiGirolamo, 2019).
Dilansir dari Wikipedia, peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Newsboys’ Strike of 1899 ini tak sekadar sengketa upah, melainkan simbol perjuangan kaum kecil melawan ketakadilan ekonomi. Kisahnya bahkan menginspirasi film musikal “Newsies” (1992) dan pertunjukan Broadway yang mulai dipentaskan pada 2012.
Pada pergantian abad ke-20, loper koran memegang peran vital dalam distribusi surat kabar. Jika edisi pagi banyak diantar langsung kepada pelanggan, maka penjualan koran sore hampir sepenuhnya bergantung pada anak-anak yang berjualan di jalanan.
Mereka, sebagian besar berasal dari keluarga imigran, yatim piatu, dan anak gelandangan yang hidup serba kekurangan. Sepulang sekolah, mereka membeli koran dari penerbit lalu menjualnya kembali di sudut-sudut kota demi membantu perekonomian keluarga.
Awalnya mereka membeli 100 eksemplar koran seharga 50 sen dan menjualnya satu sen per eksemplar. Namun ketika Perang Spanyol–Amerika pecah pada 1898, penerbit menaikkan harga menjadi 60 sen per seratus eksemplar karena tingginya permintaan. Setelah perang berakhir, sebagian besar penerbit mengembalikan harga ke tarif semula.
Sayangnya, New York World milik Joseph Pulitzer dan New York Evening Journal milik William Randolph Hearst tetap mempertahankan harga tinggi tersebut, sementara seluruh risiko koran yang tak laku tetap ditanggung para loper. Kebijakan inilah yang memicu kemarahan mereka.
Pemogokan dimulai pada 18 Juli 1899 ketika sekelompok loper koran di Long Island City membalikkan gerobak distribusi Journal. Sehari kemudian mereka menyatakan mogok terhadap dua surat kabar besar tersebut hingga harga kembali menjadi 50 sen per seratus eksemplar. Dalam beberapa hari, aksi itu menyebar ke Manhattan dan menduduki Jembatan Brooklyn.
Pada tahap awal, aksi dilakukan secara keras. Siapa pun yang tetap menjual World atau Journal dianggap sebagai pengkhianat, dikeroyok, dan korannya dirusak. Pihak penerbit bahkan menyewa orang dewasa untuk menggantikan para loper yang mogok dengan perlindungan polisi.
Namun para pemogok kerap berhasil mengalihkan perhatian aparat sehingga aksi mereka tetap berlangsung. Di sisi lain, perempuan dan anak perempuan yang berjualan relatif jarang menjadi sasaran kekerasan.
Selain aksi langsung, para loper juga membagikan selebaran dan memasang berbagai papan pengumuman di sudut-sudut kota. Mereka mengajak masyarakat menunjukkan solidaritas dengan tak membeli kedua surat kabar tersebut. Dukungan publik perlahan tumbuh karena banyak warga melihat perjuangan mereka sebagai tuntutan yang wajar.
Puncak gerakan terjadi pada 24 Juli 1899 melalui rapat akbar di Irving Hall yang disponsori Senator Negara Bagian New York, Timothy D. Sullivan. Sekitar 5.000 loper koran dari berbagai wilayah New York menghadiri pertemuan itu. Berbagai tokoh masyarakat menyampaikan pidato dukungan sebelum para pemimpin muda mengambil alih mimbar.
Ketua serikat, David Simmons, membacakan resolusi yang menegaskan bahwa pemogokan akan terus berlangsung hingga tuntutan dipenuhi, sekaligus menyerukan agar perjuangan dilakukan tanpa kekerasan.
Sejumlah pemimpin lain seperti “Warhorse” Brennan, Jack Tietjen, “Bob the Indian”, “Kid Blink”, “Crazy” Arborn, Annie Kelly, dan Ed “Racetrack” Higgins turut berpidato. Malam itu ditutup dengan lagu yang dibawakan Hungry Joe Kernan, sementara Kid Blink menerima rangkaian bunga berbentuk tapal kuda sebagai penghargaan atas pidato terbaik.
Seusai rapat besar tersebut, arah perjuangan berubah. Kekerasan mulai ditinggalkan dan digantikan dengan boikot yang lebih tertib. Dukungan masyarakat semakin kuat sehingga banyak warga secara sukarela menolak membeli World maupun Journal.
Para loper juga berencana menggelar pawai besar yang diperkirakan diikuti sekitar 6.000 anak, lengkap dengan iringan musik dan kembang api. Namun rencana itu gagal karena izin tak diperoleh.
Di tengah menguatnya gerakan, muncul cobaan serius. Beredar rumor bahwa dua pemimpin utama, Kid Blink dan David Simmons, menerima suap dari pihak penerbit sehingga bersedia menghentikan pemogokan. Meski keduanya membantah tuduhan tersebut, sebagian loper kehilangan kepercayaan.
Kid Blink bahkan sempat dikejar massa sebelum ditangkap polisi karena dianggap membuat keributan. Setelah membayar denda, ia dibebaskan, tetapi reputasinya telah terlanjur tercoreng. Demi menjaga persatuan, Kid Blink dan Simmons akhirnya mengundurkan diri dari posisi kepemimpinan.
Meskipun diterpa konflik internal, semangat para loper tak padam. Kepemimpinan memang berganti, tetapi perjuangan terus berjalan. Akhirnya, pada 1 Agustus 1899, pihak World dan Journal menawarkan jalan tengah. Harga koran tetap 60 sen per seratus eksemplar, tetapi penerbit bersedia membeli kembali koran yang tak terjual.
Dengan tawaran jalan tengah dari World dan Journal yang demikian, para loper tak lagi menanggung seluruh risiko kerugian dan tak harus berjualan hingga larut malam hanya untuk menutup modal.
Usulan tersebut diterima. Pada 2 Agustus 1899, pemogokan resmi diakhiri dan serikat pekerja dibubarkan. Meskipun tuntutan penurunan harga tak berhasil dipenuhi, kebijakan pembelian kembali koran yang tak laku menjadi kemenangan nyata yang meningkatkan kesejahteraan para loper.
Meski lebih dari satu abad telah berlalu, namun pemogokan loper koran tahun 1899 tetap menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering berawal dari keberanian mereka yang paling sederhana.
Anak-anak jalanan yang nyaris tak memiliki suara maupun kekuasaan mampu memaksa dua konglomerasi media terbesar pada zamannya untuk bernegosiasi. Kemenangan mereka tak hanya soal harga koran, melainkan pengakuan atas martabat para pekerja anak-anak.
Pada akhirnya, kisah ini mengajarkan bahwa keadilan tak selalu lahir dari kemenangan yang sempurna, tetapi dari keberhasilan mengubah sistem agar menjadi lebih manusiawi. Ketika keberanian bertemu solidaritas, bahkan suara anak-anak yang selama ini dianggap kecil pun mampu menggema dan mengubah arah sejarah.
Tokoh yang Berpengaruh
Louis “Kid Blink” Baletti
Louis “Kid Blink” Baletti menjadi ikon perjuangan berkat kepemimpinannya yang karismatik. Berusia 18 tahun itu dikenal karena rambut merah, pidato-pidatonya yang membakar semangat. Setelah pemogokan usai, ia bekerja sebagai kusir, membuka kedai minuman, ia meninggal karena tuberkulosis pada usia 32 tahun.
David Simmons
David Simmons, yang telah berjualan koran sejak berusia delapan tahun, dikenal sebagai organisator utama gerakan meskipun akhirnya terseret rumor pengkhianatan.
Ed “Racetrack” Higgins
Ed “Racetrack” Higgins tampil sebagai pemimpin baru yang piawai berpidato dan mampu menjaga semangat para loper setelah krisis kepemimpinan.
Morris Cohen
Morris Cohen disebut sebagai salah satu penggagas awal pemogokan di New York.
Henry “Major Butts” Butler
Henry “Major Butts” Butler memimpin wilayah Upper Manhattan hingga akhirnya ditangkap atas tuduhan pemerasan.
Annie Kelly
Annie Kelly menempati posisi istimewa. Sebagai salah satu sedikit loper koran perempuan, ia memperoleh penghormatan besar dari rekan-rekannya. Dalam pidato singkatnya di Irving Hall, ia mengajak semua orang tetap bersatu karena hanya dengan persatuan kemenangan dapat diraih.
Referensi
- DiGirolamo, V. (2019). Crying the news: A history of America’s newsboys. Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oso/9780195320251.001.0001
- Wikipedia. Newsboys’ Strike of 1899. Diakses pada 12 Juli 2026, pukul 19.51 WIB, dari Wikipedi. https://en.wikipedia.org/wiki/Newsboys%27_strike_of_1899
Biarkan Foto Bicara
Seize the Day: Kisah Mereka yang Berani Bermim



















































