Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan

Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Share this :

BlusukanEdan Bersama Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL)

Pagi belum terlalu tinggi ketika kereta meninggalkan Stasiun Gubeng Lama. Sembilan orang duduk di dalam gerbong Commuter Line Jenggala, membawa tujuan sederhana: Mojokerto. Tak ada koper besar, itinerary berlembar-lembar, atau persiapan yang rumit. Yang dibawa cukup ransel atau tas kecil, topi, payung, air mineral, bekal seperlunya, serta handphone bagi yang ingin mengabadikan perjalanan.

Perjalanan seperti itu mungkin tampak sederhana. Namun, justru dari kesederhanaan itu cerita sering bermula. ‘Plesir’ tak selalu membutuhkan kendaraan pribadi, hotel, restoran, atau destinasi wisata populer. Untuk sekadar mengisi waktu luang dan mencari pengalaman baru, perjalanan bisa dimulai dengan cara yang jauh lebih sederhana: naik kereta, jalan kaki, melihat kota, dan menikmati apa saja yang ditemui sepanjang perjalanan.

Pengalamannya Tak Murahan

Perjalanan bisa dilakukan ke mana saja. Tak harus keluar kota. Dalam kota pun bisa menjadi petualangan ketika kita mau melihatnya dari sudut pandang berbeda. Jika ingin sedikit lebih jauh, perjalanan antarkota atau antarkabupaten menggunakan transportasi umum juga dapat menghadirkan pengalaman yang tak kalah menarik.

Kuncinya adalah teman seperjalanan dan keluwesan bersikap. Bepergian bersama lima hingga sepuluh orang membutuhkan kawan yang memiliki frekuensi sama. Tak gampang mengeluh atau rewel, diajak berjalan kaki oke, makan di warung kaki lima ayo, mampir ke warkop siap, sesekali masuk kafe atau restoran pun tak masalah.

Naik commuter line, tak keberatan. Menumpang bus bumel, boleh. Bahkan naik becak pun bisa menjadi bagian dari cerita. Sebab, dalam perjalanan murah, ada modal yang kadang lebih penting daripada uang: kemampuan menikmati perjalanan apa adanya.

Bagi pehobi fotografi, perjalanan semacam itu justru membuka ruang eksplorasi. Tak perlu selalu memburu objek monumental. Wajah orang-orang di pasar, aktivitas pedagang, anak-anak bermain, bangunan tua, sudut gang, hingga pemandangan sepanjang perjalanan menggoda mata lensa dan menjadi cerita dalam bingkai kamera.

Begitu pula bagi penyuka arsitektur lawas. Blusukan ke kampung-kampung tua membuka kesadaran bahwa sejarah tak selalu tersimpan di museum. Ia bisa berdiam di balik pintu kayu, jendela lama, tembok yang mulai kusam dan keropos, ornamen keramik, atau rumah yang masih bertahan di antara belantara bangunan baru.

Pencinta kuliner pun memiliki medan jelajah sendiri. Tak selalu harus mencari restoran mahal. Jajanan sederhana, warung pinggir jalan, makanan khas, dan menu yang menjadi bagian dari kearifan lokal justru sering meninggalkan kesan rasa yang lebih menggila.

BlusukanEdan Menemukan Cerita di Mojokerto

Pengalaman semacam demikian itu yang acap kali dilakukan oleh anggota Komunitas Pernak-Pernik Surabaya Lama (PSL) melalui perjalanan bertagar #BlusukanEdan. Yakni, jalan-jalan sambil mengamati, menanyakan, dan mengabadikan bangunan lawas, maupun kulineran khas setempat.

Pada 8 September 2026, sembilan orang berangkat dari Stasiun Gubeng Lama menuju Mojokerto dengan menumpang kereta api Commuter Line Jenggala pukul 09.33. Mereka tiba di Mojokerto pukul 11.09. Matahari siang Mojokerto serasa sudah di atas ubun-ubun. Panas mengengat.

Dari stasiun, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri Jalan Majapahit hingga kawasan Alun-Alun Kota Mojokerto. Tak ada destinasi wisata besar yang secara khusus diburu. Justru dari langkah-langkah kecil itu berbagai objek menarik ditemukan.

Yakni beberapa bangunan kuno, seperti: pabrik karet, bangunan tak berpenghuni, toko bernuansa lawas, Museum Wayang, bangunan bekas kantor pengairan, hingga SMP Negeri 2 Kota Mojokerto.

Di sela perjalanan, seperti kebiasaan anggota PSL dalam setiap #BlusukanEdan, mereka juga berupaya menghidupkan napas UMK. Belanja seperlunya dilakukan dengan membeli produk tradisional, jajanan, ‘andhok’ makan menu khas, maupun membeli barang yang ditemui sepanjang perjalanan.

Ketika dirasa cukup, rombongan kembali berjalan kaki menuju Stasiun Mojokerto. Sore hari, perjalanan pulang dengan menumpang kereta api juga, namun berbeda dengan ketika berangkat. Yaitu menumpang Commuter Line Jenggala berangkat pukul 18.00 dan tiba di Surabaya pukul 19.08.

Rp78.000 dan Sejumlah Cerita

Tiket kereta pergi-pulang Mojokerto – Surabaya hanya Rp10.000. Setelah ditambah makan, minum, camilan, dan kebutuhan kecil selama perjalanan, pengeluaran pribadi tak sampai Rp100.000. Bagi saya, seluruh perjalanan itu bahkan cukup dengan sekitar Rp78.000.

Angka tersebut memang bukan patokan untuk semua perjalanan. Namun, ia menunjukkan bahwa menikmati perjalanan tak selalu harus identik dengan menguras dompet. Dengan transportasi umum, berjalan kaki, memilih tempat makan secara bijak, dan tak menjadikan belanja sebagai tujuan utama, sebuah perjalanan sederhana tetap dapat menghadirkan pengalaman unik.

Pengalaman serupa pernah dilakukan sebelumnya. Pada 25 Agustus 2026, sepuluh orang juga ‘mbolang’ ke Bangil menumpang Commuter Line Supas. Tiket pergi-pulang Bangil – Surabaya hanya Rp12.000. Ditambah menikmati nasi punel dan membeli air mineral, pengeluaran pribadi sekitar Rp58.000.

Dari Mojokerto dan Bangil, terlihat satu hal sederhana: murah bukan berarti murahan. Nilai sebuah perjalanan tak semata-mata ditentukan oleh berapa banyak uang yang dikeluarkan, melainkan oleh apa yang ditemukan, dirasakan, dan pengalaman yang dibawa pulang.

Ketika Jarak Bertambah, Perhitungan Berubah

Tentu, tak semua perjalanan dapat dilakukan dengan biaya serupa. Semakin jauh tujuan, semakin banyak pula hal yang harus diperhitungkan: transportasi, konsumsi, akomodasi, tiket objek wisata, hingga kebutuhan perjalanan lainnya.

Pada Oktober mendatang, misalnya, #BlusukanEdan PSL berencana menuju Probolinggo dengan 33 peserta. Skala perjalanan yang lebih besar tentu membutuhkan persiapan berbeda. Biaya transportasi, konsumsi, objek yang dikunjungi, serta kebutuhan perjalanan lainnya harus dihitung lebih matang.

Sebagaimana sbelumnya, langkah-langkah kecil #BlusukanEdan juga telah membawa anggota PSL ke berbagai kota, antara lain Gresik, Pasuruan, Malang, Jombang, Madiun, Ngawi, Lasem, Pati, Jepara, Kudus, Semarang, Yogyakarta, hingga Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Artinya, murah bukan berarti tanpa perencanaan. Justru semakin jauh perjalanan, semakin diperlukan perencanaan yang baik. Prinsipnya bukan mencari perjalanan semurah mungkin, melainkan menyesuaikan perjalanan dengan kemampuan dan tujuan yang ingin dicapai.

Di Balik Blusukan, Ada Jejak Soekarno

Salah satu tempat yang menarik perhatian rombongan di Mojokerto adalah SMP Negeri 2 Kota Mojokerto. Sekilas, sekolah di Jalan Ahmad Yani itu mungkin tampak seperti bangunan pendidikan biasa. Namun, tempat tersebut menyimpan jejak penting dari masa kecil Soekarno.

Menurut Suara Mojokerto, pendidikan Soekarno di Mojokerto dimulai di Inlandsche School, sekolah setingkat SD yang juga menjadi tempat ayahnya, Soekemi, mengajar sekaligus sebagai mantri guru. Sekolah ini dikenal pula sebagai Tweede School atau Sekolah Ongko Loro, yang saat itu diperuntukkan bagi anak-anak pribumi dan hanya memiliki lima tingkat pendidikan.

Mulib, M.Pd., Kepala SMP Negeri 2 Kota Mojokerto, menambahkan bahwa belum ditemukan data tertulis mengenai sejak kelas berapa Koesno, nama kecil Soekarno, mulai bersekolah di Ongko Loro. Namun, ketika akan naik dari kelas IV ke kelas V, Soekemi menginginkan putranya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Lulusan Ongko Loro saat itu tak memiliki jalur untuk melanjutkan ke sekolah tingkat berikutnya. Soekemi kemudian mengurus kepindahan putranya ke Europesche Lagere School (ELS) di Mojokerto, yang kini menjadi SMP Negeri 2 Kota Mojokerto di Jalan Ahmad Yani. Soekarno kemudian menyelesaikan pendidikan di ELS sebelum melanjutkan ke Hogere Burger School (HBS) di Surabaya, pungkas Mulib.

Temuan semacam inilah yang membuat perjalanan sederhana menjadi lebih berarti. Rombongan tak sekadar berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Mereka menemukan fragmen sejarah yang mungkin terlewat jika suatu kota hanya dilihat dari balik kaca kendaraan.

Pulang Membawa Kenangan dan Kesehatan

Keluar dari Stasiun Mojokerto, menyusuri kota dengan berjalan kaki, lalu kembali ke stasiun, rombongan menempuh sekitar enam kilometer. Kaki mungkin terasa lelah, namun setiap langkah meninggalkan cerita yang menjadi kenangan.

Cerita tersimpan dalam foto. Sebagian menjadi bahan obrolan di antara teman seperjalanan. Sebagian lainnya mungkin baru terasa nilainya ketika perjalanan itu telah lama berlalu. Tubuh pun mendapatkan manfaat sederhana dari aktivitas berjalan kaki. Bugar.

Barangkali di situlah hakikat sebuah perjalanan. Tak semata-mata tentang seberapa jauh tempat yang dituju atau berapa banyak uang yang dikeluarkan, melainkan tentang kesediaan meninggalkan rutinitas, membuka mata, dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk menemukan sesuatu yang baru.

Kadang kita tak selalu membutuhkan banyak uang untuk pergi. Cukup secukupnya. Hal lain yang juga diperlukan adalah teman seperjalanan yang menyenangkan, tubuh yang siap diajak berjalan, sedikit perencanaan, dan kemauan melihat sesuatu yang selama ini luput dari pandangan.

Sebab, yang dibawa pulang dari sebuah perjalanan bukan hanya oleh-oleh atau produk khas kearifan lokal. Ada sejumlah foto bersama, cerita, pertemanan, pengetahuan, kesehatan, dan kenangan yang tersimpan dalam benak masing-masing.

“Dan pengalaman seperti itu tak selalu harus mahal. Yang murah boleh ongkos perjalanannya, namun jangan sampai murahan pengalamannya.” (Ali Muchson)

Biarkan Foto Bicara

Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan
Trip Murah Tak Berarti Pengalaman Murahan

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *